Islam Bajo: Agama Orang Laut

Chandra Sasadara

 

Membaca buku “Islam Bajo: Agama Orang Laut” Karya Benny Baskara seperti melihat cermin kecil dalam praktik besar Keagamaan Islam di Nusantara yang sudah mulai terkikis hilang. Kepercayaan kepada Allah yang bersumber dari Agama Islam berkelindan dengan kepercayaan kepada Mbo Ma Dilao (Penjaga Laut) yang telah mengakar urat dalam tradisi kepercayaan asli Bajo (indigenous belief).

islam bajo

Orang Bajo mengikuti ritual pernikahan dan sunatan secara Islam, tapi pada waktu yang bersamaan menggunakan tradisi asli ketika melakukan ritual kelahiran dan kematian. Masyarakat Bajo percaya bahwa ari-ari tersebut akan berubah menjadi Kuta (gurita) bagi laki-laki dan Tuli (buaya) bagi perempuan. Kepercayaan tentang ari-ari bayi tersebut akan berpengaruh terhadap ritual pengobatan kalau si bayi atau saat dewasa mengalami sakit.

Begitu juga tentang kematian. Bagi orang Bajo, mayat harus dimandikan dua kali. Mandi tobat (mandi salah) dan mandi jenazah. Mandi tobat adalah mandi yang ditujukan untuk permaintaan maaf dan pengakuan salah yang telah dilakukan oleh mayat saat hidup, kemudian mandi jenazah seperti dalam ritual mandi dalam kepercayaan Islam.

Buku ini sangat menarik lantaran Penulis menginformasikan sesuatu yang jarang diketahui oleh orang di luar suku mereka. Misalnya, orang Bajo sebenarnya tidak suka disebut “Bajo” sebab sebutan itu dulu digunakan oleh orang luar Bajo untuk mengejek. Mereka lebih senang di sebut “Orang Sama” sedangkan mereka menyebut orang darat (luar Bajo) sebagai “Orang Bagai”.

Hal lain yang tidak banyak diketahui banyak orang adalah tentang awal keislaman mereka. Masyarakat Bajo menerima Islam dari Malikusaleh. Sultan Aceh Abad ke-13 itu menolong moyang orang-orang Bajo saat terusir dari negerinya (Johor & Malaka). Mereka juga sangat berjasa pada pernyiaran Islam di Sulawesi (Bone, Gowa Buton dll). Orang-orang Bajo dipercaya oleh Malukusaleh untuk menjadi prajurit armada laut, mengantar pada penyiar Agama Islam ke pulau-pulau belahan timur dan menjadi awak perahu dan nahkoda para pedagang Islam. Pertemuan mereka dengan Sultan Malukusaleh, penyiar Islam dan pedagang Islam itu yang menjadikan orang Bajo menerima Islam sebagai kepercayaan bersanding dengan kepercayaan asli mereka.

Penulis buku ini juga memberikan perspektif yang tajam terhadap Ritual Duata. Upacara besar orang Bajo yang ditujukan untuk penyembuhan itu tergambar falsafah, tatanilai, pandangan hidup, adat dan seluk beluk hubungan antara makro dan mikrokosmos orang Bajo. Ritual Duata sendiri awalnya merupakan permintaan khusus kepada dewata. Setelah mereka menerima Islam, bacaan dalam ritual ini berganti menjadi bacaan tasbih, tahmid dan tahlil meskipun persyaratan ritual seperti jenis-jenis bunga, rumah-rumahan, bamboo dan ula-ula masih tetap ada.

Seperti nasib agama-agama Nusantara lainya. Islam Bajo juga terancam hilang akibat penetrasi para penyiar agama dari daratan yang dengan mudah menyebut keyakinan Bajo adalah bentuk kemuysrikan. Bukan hanya kepercayaan kepada Mbo Ma Dilao yang akan hilang, namun semesta kayakinan Bajo juga akan tergerus habis kalau tidak ada yang terlibat untuk melindungi mereka. Kekuatan Imam Kampuh (Penghulu Agama Islam), Sanro (Mangku Adat) dan Pak Desa (Kepala Desa) tidak akan mampu menahan laju gerakan para penyiar agama yang datang dari daratan.

Buku ini enak dibaca bagi yang suka informasi detil lantaran data dan pembahasan disajikan secara rinci dan renik.

 

 

8 Comments to "Islam Bajo: Agama Orang Laut"

  1. AMISBAH RAMLY  5 August, 2016 at 19:26

    DIMANA BISA DI DAPAT BUKUNYA? MHN KONFIRMASINYA PADA NMR . 0811401282. SANGAT BUTUH REFERENSI TENTANG BAJO.

  2. J C  13 July, 2016 at 10:00

    Buku apik iki!

  3. EA.Inakawa  2 July, 2016 at 09:22

    @ Chandra, terima kasih atas refrensi buku yang bagus ini, salam sehat

  4. Dj. 813  22 June, 2016 at 01:53

    Nah ya, dunia semakin modern . . .
    Banyak orang percaya yang mengundurkan diri .
    Tapi siapa yang bertahan sampai akhir, dia akan menang .
    Terimakasih dan salam ,

  5. aweosome  21 June, 2016 at 11:04

    menarik

  6. james  21 June, 2016 at 09:39

    ci Lani, salam sehat kombali, makacih absenannya

  7. Handoko Widagdo  21 June, 2016 at 08:53

    Salah satu ciri dari agama besar adalah upaya untuk penyeragaman. Penyeragaman dalam dogma, ritual dan budaya. Akankah agama-agama besar ini berhasil suatu saat? Atau malah mereka ditinggalkan karena tidak menghargai budaya setempat? Sejarah (yang juga diatur oleh Allah) akan membuktikannya.

  8. Lani  21 June, 2016 at 07:26

    Bacanya nanti ya……….

    Halo para kenthirs salam buat kalian semuanya

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *