Bersama Mas Pram

Handoko Widagdo – Solo

 

Judul: Bersama Mas Pram

Penulis: Koesalah Soebagyo Toer dan Soesilo Toer

Tahun Terbit: 2009

Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia

Tebal: viii + 504

ISBN: 978-979-91-0139-6

bersama pram

 

Siapkanlah teh panas. Sajikan juga kue-kue dan setoples kacang goreng jika ada. Selanjutnya duduklah dengan santai karena Koesalah Toer akan bercerita tentang dirinya dan kebersamaan dengan Pram, kangmasnya (abang) yang dikagumi. Koesalah adalah tuan rumah yang baik, yang dengan setia memenuhi keinginan tamunya sampai sang tamu menghilang dari pintu halaman terakhir buku ini. Sebagai seorang Jawa tulen Koeasalah sangat menghormati tamunya. Ia akan menyuguhkan apa saja yang diinginkan oleh tamunya. Bahkan kalau perlu ia akan meminjam dari tetangga supaya tidak mengecewakan tamunya. Ia bercerita secara kronologis dari saat ia berada di Blora, bersekolah di Jakarta dan tinggal di rumah Mas Pram, bahkan seranjang dengan Mas Pram dan istri barunya, serta hari-hari akhir Mas Pram. Sang adik, Soesila Toer melengkapi cerita tentang kebersamaannya dengan Mas Pram di akhir kunjungan kita di ruang tamu mereka.

Judul “Bersama Mas Pram” adalah sangat tepat untuk menggambarkan buku ini. Sebab cara bercerita Koesalah adalah cerita tentang dirinya saat bersama Mas Pram. Jadi, buku ini bukan tentang Mas Pram. Buku ini, seperti judulnya adalah tentang Koesalah Toer yang sedang bersama Mas Pram. Koesalah dengan sangat baik dan ceria menceritakan hal-hal kecil-kecil tetapi bermakna besar bagi pembaca. Kecintaan dan tanggungjawab Mas Pram terhadap keluarganya, bagaimana Mas Pram mendidik adik-adiknya, seperti apa karier Mas Pram dan bagaimana relasi Mas Pram dengan keluarganya dari Blora.

Saat bapaknya sakit, Mas Pram yang saat itu sudah bekerja di Jakarta menyempatkan datang ke Blora. Mas Pram berjanji untuk merehap rumah yang sudah mulai rusak karena kurang terpelihara. Maklum Toer, ayah Pramoedya, Koesalah, Soesila dan lima saudaranya yang lain (yang hidup) adalah seorang guru yang berjuang menghidupi sebuah sekolah peninggalan Budi Utomo yang terlantar. Sekolah ini bangkrut karena tidak mendapatkan dukungan baik dari Budi Utomo maupun dari Bupati Blora. Toer menghidupkan sekolah yang awalnya hanya dua kelas menjadi tujuh kelas dengan biasa dari kantongnya sendiri. Akibatnya Toer harus ‘mengabaikan’ keperluan lain, termasuk keperluan keluarganya guna menghidupi sekolah ini (hal. 260).

Pram adalah seorang yang halus jiwanya. Meski kelihatan keras, dia bisa juga terharu dan berdamai. Saat Pak Toer meninggal, Pram menjadi kepala keluarga yang baik. Ia mengucapkan “Allah hu Akbar” di telinga jazad bapaknya (hal. 41). Dia menerima tamu-tamu yang membaca surat Yasin di ruang tengah rumahnya yang besar. Dia mengatur masa depan keluarganya paska kepergian Pak Toer. Pram sangat terharu sampai menangis saat mengenang ibunya (hal. 413). Dalam kasus tanah di Blora yang dipakai oleh pemerintah untuk sekolah, dimana dia merasa dicurangi oleh pemerintah, akhirnya Pram bisa berdamai dan bahkan menyumbang buku kepada SMP 5 yang berdiri di tanah keluarganya (hal. 417).

Pram membawa tiga adiknya untuk disekolahkan di Jakarta. Is (Koesaiyah Toer) yang tidak naik kelas di kelas 1 SMP, Liliek (Koesalah Soebagyo Toer) yang baru lulus Sekolah Rakyat dan Coes (Soesila Toer) yang masih duduk di Sekolah Rakyat, ikut ke Jakarta untuk sekolah. Mereka bertiga tinggal di rumah Pram yang ditempatinya bersama istrinya Mbak Arvah dan mertuanya. Pram mengirim ketiga adiknya ke sekolah Taman Siswa. Karena kekurangan biaya, mereka bertiga harus ke sekolah dengan berjalan kaki sejauh 5 km. Pram selalu ketat mendorong adik-adiknya belajar. Ketika hasil belajar Liliek biasa-biasa saja, Pram meminta Liliek bukan saja mengulang pelajaran yang didapatnya di kelas, tetapi mendahului pelajaran yang akan diberikan oleh gurunya.

Cinta Pram ditunjukkan kepada adik-adiknya bukan hanya melalui pembiayaan ketiga adiknya. Salah satu adik perempuannya yang terserang TBC juga dibawa ke Jakarta untuk diobatkan. Meski upaya membantu pengobatan adiknya ini tidak tuntas karena suatu sebab yang Koes tidak tahu.

Kisah mengharukan disampaikan oleh Koesalah saat dia diusir oleh abang iparnya (Her, suami Is). Koes diterima di rumah kontrakan Pram yang saat itu baru saja menikah lagi setelah bercerai dengan istri pertamanya. Karena rumah kontrakan sempit, maka Koes – yang saat itu sudah SMA, tidur di kasur yang sama dengan pasangan pengantin baru ini. Istri Pram sering bertanya apakah Koes sudah tidur, dan Pram menjawab dengan agak keras: “Dia pura-pura tidur!” Kisah ini sungguh lucu, tetapi benar-benar menunjukkan betapa Pram mencintai adik-adiknya.

Pram mengajari adik-adiknya untuk percaya diri, tidak pesimis dan berperilaku elegan. Pram memarahi adiknya ketika menunduk di depan H. B. Jassin. Ia menganggap bahwa anak yang menunduk di depan orang lain adalah anak-anak yang tidak percaya diri (hal. 113). Pram menyindir Koesalah karena cerpen yang ditulis oleh Koes berakhir dengan sang pemuda mati karena serangan jantung akibat dari cinta yang tidak tergapai. “Tidak boleh pesimis. Tulis ulang,” kata Pram kepada Koes (hal. 127). Pram marah sampai menangis saat tahu adik-adiknya masuk rumah lewat jendela. Walaupun alasan adik-adiknya adalah supaya tidak mengganggu karena mereka pulang malam, tetapi perilaku masuk rumah lewat jendela adalah perilaku pencuri (hal. 108).

Dalam mengembangkan karier Koesalah, Pram mula-mula mengajarinya untuk membaca buku-bukunya, belajar mengetik, mengedit tulisan, menulis dan kemudian membantu menerbitkan tulisan-tulisan Koes. Pram juga mengenalkan Koes dengan teman-temannya seperti H. B. Jassin dan lain-lain. Koes dilibatkan dalam usaha agen penerbitan DUTA. Mula-mula Koes dijadikan sekretaris dan kemudian disuruh mengelola usaha pengagenan ini. Pram terus membimbing Koesalah saat Koesalah belajar di Moskow selama 5 tahun.

Karier Pram mula-mula adalah sebagai tentara Siliwangi. Namun dia berhenti setelah ditahan oleh Belanda. Pram kemudian menjadi pegawai di Balai Pustaka. Namun posisi di Balai Pustaka juga tidak lama dia jalani. Setelah lepas dari Balai Pustaka Pram mulai kariernya di kepenulisan. Mendirikan perusahaan agen penerbitan DUTA, menulis novel, cerpen dan menterjemahkan berbagai karya sastra dilakukannya.

Pram mulai tertarik ke dunia politik setelah dekat dengan Bintang Timur. Kecondongan Pram ke PKI ini membuat Koes, yang baru pulang dari Moskow menjadi serba salah. Sebab iparnya yang di Blora adalah seorang PNI. Koes menjadi rebutan antara Pram dan Wiek yang dekat dengan PKI di Jakarta dan Mas Di, iparnya yang menjadi tokoh PNI di Blora (hal 260). Pram aktif mendirikan Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra). Pram aktif melatih anak-anak dan pemuda dalam menyanyi dan menari serta melakukan pidato-pidato di berbagai daerah dalam rangka mendirikan cabang Lekra.

Saat terjadi pembunuhan 7 jenderal, Pram bertanya kepada adiknya, siapakah si Untung itu. Baik Pram maupun Wiek adiknya yang aktif di Lekra tidak tahu siapa si-Untung itu. Bahkan Pram nyeletuk: “Kalau berhasil hebat orang itu!” (hal. 271).

Pada tanggal 13 Oktober 1965, rumah Pram digerudug demonstran. Rumahnya dilempari batu dan para demonstran tersebut menuduh Pram sebagai pembunuh para jenderal. Kemudian Pram diamankan oleh tentara. Koes yang saat itu sedang menemani Pram ikut dibawa tentara. Dalam interogasi, Pram dipukul dengan popor senapan. Di sini Pram menunjukkan betapa dia cinta kepada adiknya. Saat siuman dari pingsan, Pram berkata: “Ngak apa-apa Liek, kalau tidak kau yang jadi korban.” Koes menunjukkan betapa keluarga sangat peduli saat Pram dan Wiek ditahan. Mereka saling membantu untuk mencari dimana mereka ditahan, membantu mengirimkan makanan dan kadang-kadang mencari upaya supaya kondisi mereka diringankan. Is dan suaminya Her menampung abang dan adik-adiknya saat mereka tidak punya tempat tinggal. Bagaimana keluarganya membantu supaya Pram bisa menikahkan anaknya meski dia masih di dalam penjara.

Empat dari lima laki-laki anak Toer ditahan karena dianggap terlibat pemberontakan PKI. Sedangkan Coek, adik lelaki bungsunya ‘menghilangkan’ diri. Setelah mereka keluar dari tahanan, kondisi ekonomi mereka begitu payah. Disini sekali lagi Koes menunjukkan bagaimana mereka saling membantu. Pram yang lebih awal membaik ekonominya adalah pihak yang banyak membantu adik-adiknya.

Apakah Pram berubah setelah keluar dari tahanan? Apakah dia menjadi penakut? Tidak. Pram malah menyampaikan kepada Koes bahwa dia harus lebih kuat dari sebelumnya (hal. 362). Pram tetap setia dengan pekerjaannya sebagai penulis yang kritis.

Buku ini secara apik menggambarkan kehidupan Pram dan keluarganya. Sosok Pram ditampilkan sebagai seorang manusia yang teguh pada keyakinannya sekaligus orang yang peduli kepada nasip keluarga besarnya. Namun sayang di halaman sampul belakang ada tulisan yang mengganggu saya. Tulisan di sampul belakang yang saya yakin dimaksudkan untuk promosi buku secara khusus menyampaikan: “Bersama Mas Pram mengungkapkan sisi-sisi kehidupan Pramoedya Ananta Toer, novelis terbesar Indonesia, yang jarang diketahui umum. Misalnya, tentang kehidupan seksualnya, …” (cetak tebal dari saya). Kalimat ini tentu saja kurang patut untuk menarik pembaca. Sebab dalam buku ini hanya disinggung tak lebih dari sepuluh kalimat tentang kehidupan seks Pram. Itupun bukan hal yang benar-benar berhubungan dengan perilaku seksual Pram. Masih banyak sisi-sisi lain yang menarik untuk disampaikan oleh penerbit untuk menarik pembacanya tentang Pram daripada isu seks-nya. Tanpa kalimat tersebut pun pembaca akan tetap tertarik membaca buku ini.

 

 

About Handoko Widagdo

Berasal dari Purwodadi, melanglang buana ke berpuluh negara. Dengan passion di bidang pendidikan, sekarang berkarya di lembaga yang sangat memerhatikan pendidikan Indonesia. Berkeluarga dan tinggal di Solo, kebahagiaannya beserta istri bertambah lengkap dengan 3 anak yang semuanya sudah menjelang dewasa.

My Facebook Arsip Artikel

12 Comments to "Bersama Mas Pram"

  1. J C  13 July, 2016 at 10:04

    Buku ini lumayan menarik, bukan pilihan utamaku tapi…

  2. Dj. 813  3 July, 2016 at 18:56

    Mas Handoko . . .
    Matur Nuwun mas .Sungguh sangat menarik .
    Salam,

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.