Donyane Wong Culika

Handoko Widagdo – Solo

 

Judul: Donyane Wong Culika

Penulis: Suparto Brata

Tahun Terbit: 2004

Penerbit:Narasi

Tebal: x + 537

ISBN: 979-7564-54-1

wongculika

 

Cobaan terberat bagi Orang Jawa adalah kedudukan, kekayaan dan kesenangan seksual. Siapa saja yang mengumbar nafsu untuk mengejar kenikmatan dalam hal kedudukan, kekayaan dan kesenangan seksual akan mendapatkan kutukan. Orang Jawa yang suka menipu atau bertindak tidak benar (culika) dalam meraih kedudukan, kekayaan dan kesenangan seksual akan mendapatkan celaka dalam hidupnya. Sebaliknya Orang Jawa yang setia dalam gugontuhon (kepercayaan tentang larangan hidup yang sudah turun temurun), yang setya tuhu, setia dalam hidupnya dan yang asih ing sapadha-padha, mengasihi sesamanya akan mendapatkan ketenangan hidup dan kedamaian.

Kisah cerita dalam novel ini mengambil latar belakang sekitar Oktober 1965 di sebuah desa di Purworejo. Bermula dari Darmin yang memilih untuk berhenti dari tentara karena sedih harus membunuh sesama bangsa saat pemberontakan PKI di Madiun. Darmin pindah ke Desa Njoso, Kecamatan Ngombol, Purworejo bersama anak perempuannya yang masih kecil bernama Mintarti. untuk menjadi petani. Dengan bantuan Guru Kardi, Darmin bisa memiliki sawah yang luas di Njoso. Sayangnya saat Darmin sudah mapan sebagai petani, gerakan PKI mulai marak di desa tersebut. Gerwani dan BTI mulai mempengaruhi orang-orang di desa tersebut.

Susmanto, seorang petugas Padi Sentra yang bertanggung jawab menjual pupuk kimia, yang kemudian menjadi ketua BTI berpacaran dengan Mintarti yang saat itu sudah SMP. Namun keinginannya ini ditolak oleh Darmin karena dianggap Mintarti masih terlalu kecil. Lagi pula Darmin tidak suka dengan PKI. Dalam sebuah peristiwa, Darmin dikeroyok oleh anggota BTI di sawahnya. Darmin meninggal dengan luka yang mengenaskan. Mintarti yang datang bersama Susmanto menyaksikan sendiri jazad bapaknya yang mengerikan. Mintarti kehilangan ingatan karena peristiwa tersebut. Masyarakat desa menggosipkan kematian Darmin adalah sebentuk balas dendam dari Susmanto. Selanjutnya Mintarti dipelihara oleh Guru Kardi dan Tukinem istrinya. Tukinem sangat berharap bahwa kekayaan Darmin akan menjadi miliknya jika suatu saat Mintarti sudah tidak ada lagi. Sebab Darmin memang tidak memiliki siapa-siapa lagi kecuali Mintarti anaknya yang sekarang sakit jiwa.

Setelah Oktober 1965, angin berbalik. Orang-orang PKI yang dulu sering unjuk kekuatan, sekarang banyak dibunuh. Termasuk Susmanto yang kemudian menghilang. Ada yang mengatakan bahwa mayat Susmanto ditemukan di pinggir desa dengan kepala yang sudah hilang. Ada yang menyampaikan bahwa mayat Susmanto diceburkan ke Sungai Bogowonto. Yang jelas Susmanto sudah tidak lagi berkunjung ke desa tersebut sejak jaman pembunuhan orang-orang PKI. Kasminto, yang saat mudanya bersekolah di SMP Budi Utomo pulang ke desa setelah tiga tahun meninggalkan desa.

Kasminto meninggalkan desa karena ikut kursus partai, setelah dikeluarkan dari sekolah karena memimpin demo para siswa. Kasminto, anak angkat Sali kembali ke desa setelah mencoba hidup di kota. Ia merasa bahwa pengetahuannya di kota bisa dipakai untuk membangun hidup di desa. Dengan pertolongan dari Guru Kardi, Kasminto bisa menggarap tanah milik Mbok Sali yang sudah dibeli oleh Darmin. Ia juga dibantu untuk menjadi pemborong kecil-kecilan.

Suatu hari ia bertemu dengan Pratinah, anak dalang Pratikno, teman sekolahnya dulu. Pratinah yang kelihatan lengket dengannya tiba-tiba menjadi lebih akrab dengan Guru Kardi. Kasminto menjadi cemburu dan mulai mencari cara untuk merenggangkan hubungan Guru Kardi dengan Pratinah. Pratinah memang suka dengan Guru Kardi sejak jaman sekolah dulu. Kasminto mulai menyebarkan berita bahwa Mintarti hamil. Ia membuat gosip (dan dipercaya oleh orang desa) bahwa Mintarti hamil dari Guru Kardi. Namun pada saat yang sama berita tentang munculnya hati Susmanto menyebar di desa. Hantu Susmanto sering terlihat di kuburan atau di sekitar rumah yang ditempati Mintarti.

Suatu siang, seorang pengemudi dokar memergoki Guru Kardi lari dari rumah Mintarti sambil membetulkan celananya. Setelah dilihat ternyata Mintarti sudah mati dalam keadaan telanjang. Orang kampung, digerakkan oleh Kasminto menggeruduk rumah Guru Kardi. Namun penduduk yang ingin menangkap Guru Kardi dihalangi oleh Tukinem istrinya. Tiba-tiba Koramil datang dan menangkap Kasminto. Kasminto ternyata adalah buron PKI yang kembali ke desanya. Saat ditangkap oleh Koramil, Kasminto baru ingat kembali nasihat dari Pak Sali, almarhum bapak angkatnya, bahwa jangan sampai tergiur oleh perempuan. Sebab perempuan adalah iblis yang bisa menghancurkan hidup. Kasminto menyesal mengapa harus tertarik kepada Pratinah dan tidak tekun membangun kehidupan ekonominya yang sudah mulai membaik.

Pratinah adalah anak dari Dalang Pratikno dengan Madusari, seorang penari serimpi dari keraton. Madusari melarikan diri dari keraton karena tertangkap basah sedang berduaan dengan seorang tentara, padahal dia sudah ditunangkan dengan Raden Jodi, seorang pangeran di keraton. Srimadu akhirnya melarikan diri ke Jogja dan Jakarta dan menikah dengan Dalang Pratik saat mereka bertemu di sebuah pagelaran wayang di Istana Negara. Karena Dalang Pratig tidak mau masuk LEKRA, maka dia tidak bisa lagi mendalang. Dalang Pratik kemudian menjadi petani.

Karena khawatir pergaulan Pratinah dengan Guru Kardi semakin menjadi, maka Pratinah disuruh meinggalkan desa dan mencari hidup di Jakarta. Pratinah memiliki kemampuan menyinden dan menari. Di Jakarta Pratinah membangun hidup dengan mendapat uang dari dokter Cina dan kemudian dengan Om Son, seorang pegawai negeri di Departemen Perdagangan. Namun uang yang didapatnya tersebut dipakai untuk kursus mengetik dan kursus bahasa asing. Pratinah juga aktif di kelompok band. Kehidupannya mapan dari penghasilan menyanyi dan menari.

Namun suatu hari ia kembali berhubungan dengan Om Son. Hubungannya dengan Om Son menyebabkan Pratinah terlibat dalam penggelapan uang milik departemen. Pratinah dipulangkan ke Purworejo dan mendepositokan uang curian Om Son. Saat pulang ke kampung inilah cinta Pratinah kepada Guru Kardi kembali bersemi. Suatu hari, Pratinah menjebak Guru Kardi di rumah Mintarti. Ia tahu bahwa saat siang hari biasanya Guru Kardi akan menengok Mintarti. Kesempatan tersebut digunakannya untuk bisa bertemu dengan Guru Kardi berdua saja. Mintarti diberinya obat tidur. Saat sudah berdua itulah Pratinah baru tahu bahwa Guru Kardi adalah seorang impotent. Ia mengejek Guru Kardi. Karena tersinggung, Guru Kardi mencekik Pratinah. Dalam keadaan hampir mati Pratinah ingat wejangan ibunya, bahwa mengumbar nafsu seks itu akan berakibat buruk. Pantangan mengumbar seks bukan hanya berlaku untuk lelaki, tetapi juga untuk perempuan. Guru Kardi yang ketakutan setelah membunuh Pratinah melarikan diri ke rumahnya. Ia sembunyi di kamar dan akhirnya gantung diri karena merasa berdosa.

Di akhir cerita, Suparto Brata memberikan info tentang siapa sesungguhnya Om Son. Om Son adalah Kapten Saksono yang dulu berselingkuh dengan Madusari, ibunya! Suparto Brata menjelaskan bahwa tindakan culika, tindakan yang mengumbar nafsu, seperti yang dilakukan para tokoh dalam novel ini adalah contoh orang Jawa yang tak mampu menguasai dirinya sendiri. Akibat tak mampu menguasai diri terhadap keinginan menguasai, harta dan birahi berakibat pada kegagalan hidup yang tragis.

Suparto Brata juga mengulas pemberontakan PKI sebagai sebentuk dari rasa teraniaya, tersingkirkan. Orang yang merasa teraniaya dan tersinggung, saat memiliki kekuatan akan merusak orang lain. Sebuah tindakan yang tidak benar dan tidak akan memberi hasil. Suparto Brata menyampaikan bahwa warga negara harus dididik melalui bacaan. Dengan membaca masyarakat akan jembar pikire luas pandangan hidupnya. Dengan demikian orang tidak akan mudah tersinggung dan bisa menerapkan tindakan yang mengasihi sesama. Bangsa ini akan terus menghadapi peristiwa-peristiwa tragis selama penduduknya tidak terdidik. Peristiwa tragis bisa dipicu oleh apa saja. Bisa dipicu oleh ideologi, ras dan juga agama. Dan. Satu-satunya cara untuk mencegah peristiwa-peristiwa tragis di masa depan adalah melalui pendidikan. Satu-satunya cara yang bisa ditempuh untuk mendidik bangsa adalah melalui membaca!

Ada cacat kecil di Novel ini. Di bab tentang Kasminto, disebutkan bahwa yang terbunuh adalah Mintarti. Bahkan beberapa orang telah melihat mayatnya. Sementara di bagian akhir, di bab tentang Pratinah, yang terbunuh dalam keadaan telanjang adalah Pratinah. Mintarti ditidurkan di kamarnya. Apakah karena tidak ada orang desa yang melihat kembali Mintarti sejak dia sakit jiwa, dan Pratinah adalah orang yang baru pulang dari Jakarta sehingga masyarakat tak bisa membedakan antara mayat Mintarti atau mayat Pratinah? Tetapi mengapa Kasminto juga malah mengobarkan kemarahan masyarakat dengan mengatakan Guru Kardi telah membunuh Mintrani? Bukankah Kasminto tahu dengan baik kedua perempuan tersebut? Bukankah Kasminto yang selama ini mengaku-aku sebagai Susmanto sehingga Mintarti hamil?

 

 

About Handoko Widagdo

Berasal dari Purwodadi, melanglang buana ke berpuluh negara. Dengan passion di bidang pendidikan, sekarang berkarya di lembaga yang sangat memerhatikan pendidikan Indonesia. Berkeluarga dan tinggal di Solo, kebahagiaannya beserta istri bertambah lengkap dengan 3 anak yang semuanya sudah menjelang dewasa.

My Facebook Arsip Artikel

6 Comments to "Donyane Wong Culika"

  1. Fatma K  7 April, 2019 at 03:23

    Terimakasih sudah bisa membaca . Tidak dengan membeli buku hanya dengan dul….
    Cerita yang bagus….bisa untuk koco brenggolo….

  2. J C  3 August, 2016 at 08:23

    Pak Hand, minggu depan pas pak Hand di Jakarta, aku usahakan ke situ dah…sekalian kirim buku yang aku janjikan dan pinjem yang bisa aku pinjem…hehehe…

  3. Dj. 813  16 July, 2016 at 21:49

    Dj. juga salah baca . . .
    Malah Dj. kita Doyane wong Culika . . .
    Dasar . . .
    Lupa kacamata . . .
    Maaaf mas Handoko .
    Sampai, mikir doyan opo kuwi wiong Culika . . . ? ? ?

  4. Sumonggo  16 July, 2016 at 06:56

    Saya awalnya salah baca judul, saya kira “dongane wong culika”, tapi wong culika juga berhak ndonga, bukan? Terserah Gusti Allah.

    Cerita saling licik-meliciki. Istilah sekarang adalah “uang jin dimakan setan”.

  5. awesome  15 July, 2016 at 14:49

    wow, plot twist yang menarik.

    terima kasih sudah berbagi Pak Han

  6. James  15 July, 2016 at 05:21

    1….hadir

    Menantikan Kenthirs lainnya

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.