Rusia – Sahabat Lama di Era Baru

Handoko Widagdo – Solo

 

Judul: Sahabat Lama, Era Baru – 60 Tahun Pasang Surut Hubungan Indonesia-Rusia

Penulis: Tomi Lebang

Tahun Terbit: 2010

Penerbit: Grasindo

Tebal: xx + 180 ISBN: 978-979-081-287-1

indonesia-rusia

 

Setelah terinterupsi lebih dari 30 tahun oleh Orde Baru, persahabatan antara Rusia dengan Indonesia kembali hangat. Hubungan Rusia-Indonesia yang pernah sangat dekat di era Sukarno itu tiba-tiba meredup karena perbedaan ideologi antara Rusia dan Orde Baru. Kebencian Orde Baru terhadap komunisme telah menyebabkan hubungan dengan Rusia – yang saat itu masih komunis menjadi hambar. Meski tidak bubar, tetapi Rusia menjadi tidak lagi ‘penting’ bagi Indonesia. Pada era Orde Baru tersebut kita dibanjiri dengan gambaran Uni Soviet yang sangat muram. Kita meneybutnya Negeri Tirai Besi, tertutup, tidak ada demokrasi, rakyat yang tertindas, memiliki senjata pemusnah massal dan memiliki kelompok intelejen yang sangat kejam yang bernama KGB. Hamid Awaluddin (Duta Besar Indonesia untuk Uni Soviet saat itu) menggambarkan dengan baik bagaimana pendapatnya tentang Soviet dan kenyataan yang dilihatnya saat beliau tinggal di negeri tersebut.

Kemesraan hubungan Soviet dengan Indonesia sudah diawali sejak jaman Indonesia belum lahir. Negeri yang saat itu masih bernama Hindia Belanda sudah bersahabat akrab dengan Rusia. Kemesraan itu diwujudkan dalam 54 alinea syair karangan Tan Teng Kie yang menyaksikan kunjungan Nikolai Alexandrovich (Nicolas II) pada tahun 1890 dan catatan Ukhtosky yang kemudian dimuat dalam buku berjudul The Images of Nusantara in Russia Literature. Kunjungan ini digambarkan dengan penuh kemesraan dan persahabatan. Nikolai berkunjung ke Garut untuk berburu macan (hal. xviii).

Sejak hubungan Soviet dengan Hindia Belanda terjalin, banyak peneliti Soviet yang datang ke Nusantara. Mereka melakukan penelitian sumber daya alam dan kemasyarakatan. Namun sejak Revolusi Oktober 1917, hubungan ini menjadi kurang harmonis karena Soviet yang kemudian menjadi komunis mulai mengubah tujuan penelitiannya. Penelitian Soviet tidak lagi melayani kepentingan ekspansi modal negaranya, tetapi untuk umat manusia di seluruh dunia, terutama bangsa-bangsa terjajah (hal. 3). Penelitian harus diabdikan pada kelas pekerja dan petani bangsa terjajah dalam kerangka perjuangan rakyat dunia melawan kolonialisme dan imperialisme. Salah satu ilmuwan yang melakukan studi tentang Indonesia adalah Alexander Huber. Huberlah yang pertama-tama menggunakan istilah “Indonesia” dalam karya ilmiah. Penelitian Huber ini memicu didirikannya Jurusan Indonesia di Institute Studi Bangsa-Bangsa Asia-Afrika di Universitas Moskwa (hal. 5).

Sejak perubahan arah penelitian Soviet inilah hubungannya dengan Hindia Belanda menjadi pecah. Bahkan Soviet mulai mendukung gerakan komunis di Hindia Belanda. Beberapa tokoh Hindia Belanda aktif dalam gerakan komunis internasional. Di antaranya adalah Tan Malaka, Semaun, Muso dan Alimin. Itulah sebabnya saat Partai Komunis akan melakukan pemberontakan pada tahun 1926, para tokoh ini berkonsultasi dengan Joseph Stalin (hal. 7). Meski Stalin tidak menyetujui pemberontakan ini, tetapi pemberontakan terjadi secara spontan di jawa dan di Sumatra Barat dan akhirnya gagal.

Di era Sukarno, hubungan Indonesia yang baru merdeka dengan Soviet terjalin dengan sangat mesra. Sambutan yang meriah saat Sukarno datang ke Moskow dan sebaliknya saat Kruschev berkunjung ke Indonesia. Kruschev juga mendapat sambutan yang luar biasa. Hasil dari hubungan ini adalah angkatan laut Indonesia yang menjadi sangat kuat, beberapa bangunan seperti Tugu Monas, Lapangan Olah Raga Senayan, Tugu Tani dan Rumah Sakit Persahabatan. Sebaliknya, bagi Soviet, Masjid Biru yang sejak tahun 1942 telah dijadikan gudang kembali diaktifkan atas permintaan Presiden Sukarno. Selain dari bidang militer dan pembangunan, Indonesia juga banyak mengirimkan Mahasiswa Ikatan Dinas (Mahid) ke Soviet.

Namun hubungan yang mesra ini sirna saat Suharto menjadi presiden Indonesia. Karena dianggap mendukung Partai Komunis Indonesia, maka hubungan diplomatic Indonesia – Soviet mendingin. Hubungan militer tidak lagi terjadi. Dukungan pembangunan tidak ada, hubungan perdagangan merosot. Yang lebih parah, mahasiswa yang sedang sekolah di Soviet dilarang pulang (hal. 32). Padahal tidak semua dari mereka para Mahid ini adalah beraliran kiri.

Hubungan baru pulih di era Megawati menjadi presiden. Pada tanggal 21 April 2003, Megawati memulihkan hubungan antara Indonesia dengan Rusia (hal. 74). Sebelumnya, Presiden Habibie telah memberikan amnesti kepada para Mahid yang berada di luar negeri. Megawati dalam kunjungannya ke Rusia sempat mengunjungi Masjid Biru, masjid yang dibuka atas permintaan bapaknya. Di era Megawati ini bantuan militer dari Rusia kembali didapat oleh Indonesia. Pesawat tempur Sukhoi dan helikopter Mi dibeli dari Rusia untuk memperkuat militer Indonesia. Promosi pariwisata gencar dilakukan oleh Indonesia di Rusia. Upaya Megawati ini diteruskan oleh Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono (hal. 53).

Membicarakan hubungan Soviet/Rusia dengan Indonesia tidak bisa dilepaskan dengan hubungan ideologi, sastra, pembangunan dan militer. Dukungan Soviet kepada partai komunis di Indonesia, sejak dari jaman Hindia Belanda tak bisa dilupakan begitu saja. Namun dalam era baru, hubungan ideology ini sudah tidak penting lagi. Sebab di Rusia sendiri komunisme sudah bangkrut.

Rusia banyak menerjemahkan karya sastra Indonesia. Pramoedya Ananta Toer, Utuy Tatang Sontani, Rendra, Abdul Muis, Marah Rusli adalah beberapa nama yang karya-karyanya diterjemahkan dan diterbitkan di Rusia. Sedangkan di Indonesia, nama Chekov, Tolstoy, Dostoyevsky dan Pushkin adalah nama-nama sastrawan yang tidak asing bagi kita. Dengan tidak adanya halangan ideologi dalam hubungan kedua negara, dan kebutuhan sumber energi baru, yaitu energi nuklir, dimana Rusia memiliki keahlian sementara Indonesia membutuhkannya, serta pasar yang besar yang bisa dimanfaatkan oleh Rusia dan Indonesia, maka hubungan kedua negara ini akan semakin meningkat ke depan.

 

 

About Handoko Widagdo

Berasal dari Purwodadi, melanglang buana ke berpuluh negara. Dengan passion di bidang pendidikan, sekarang berkarya di lembaga yang sangat memerhatikan pendidikan Indonesia. Berkeluarga dan tinggal di Solo, kebahagiaannya beserta istri bertambah lengkap dengan 3 anak yang semuanya sudah menjelang dewasa.

My Facebook Arsip Artikel

7 Comments to "Rusia – Sahabat Lama di Era Baru"

  1. J C  3 August, 2016 at 08:32

    Selalu menarik mengikuti hubungan Indonesia dengan negara-negara komunis…

  2. Lani  22 July, 2016 at 00:10

    James: salam kenthir selalu………….sori ngilang bbrp hari………….lagi liburan………kamu liburan kemana?

  3. EA.Inakawa  21 July, 2016 at 18:15

    Berkat SOEKARNO Indonesia adalah “Teman Sejati” Rusia, pastinya teman sejati untuk kepantingan Business antar kedua negara. Dulu berkat Rusia, Indonesia menjadi MACAN ASIA yang ditakuti….duluuuuuu

  4. Handoko Widagdo  19 July, 2016 at 17:59

    Terima kasih James, Jas dan Kangmas Djoko. Mari bangun persahabatan dengan siapa saja.

  5. Dj. 813  19 July, 2016 at 16:40

    3. hadir juga . . .

    Matur Nuwun mas Handoko .

  6. djasMerahputih  19 July, 2016 at 11:06

    (Indo+Ru)sia = Duet maut
    Sinergitas di segala bidang

    Hadir bang James..

  7. James  19 July, 2016 at 05:33

    1…….sahabat lama Kenthirs. Baltyra di era digital

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *