Nostalgia dalam Pusaran Amuk

Rieska Wulandari

 

Zaky Yamani membawa saya bernostalgia, itulah yang saya rasakan saat membaca karya novel keduanya, “Pusaran Amuk” yang baru saja diterbitkan oleh Kompas Gramedia. Novel yang menarik plot rentang dekade 1970-an hingga kekinian yang dituangkan dalam 32 bab setebal 421 halaman ini berhasil menyeret saya ke dalam pusaran memori, saat-saat saya masih duduk di bangku kuliah jurusan jurnalistik Fikom Unpad dan kemudian, magang, lulus dan menjadi wartawan.

pusaranamuk (1)

Ya memang, ada kedekatan psikologis antara buku karya Zaky dengan diri saya pribadi  karena saya sendiri jurnalis yang hidup pada masa-masa tersebut, sehingga membaca buku Zaky seperti merekatkan kepingan puzzle tentang nostalgia yang selama ini tercerai berai entah kemana, karena berbagai alasan.

Apa yang diceritakan penulis melalui penokohan anak-anak muda masa kini Jimmy dan Doddy sebenarnya adalah potret realitas manusia Indonesia yang justru tak terungkap karena orang Indonesia sibuk dengan bungkus menjaga imaji dan tak berani mengungkapkan situasi apa adanya dengan jujur. Penulis novel yang juga wartawan ini berhasil meramu semua bumbu natural, tanpa bahan pengawet dan tambahan bahan artifisial dalam sajian tulisan yang legit, bukankah bahan yang alamiah dan natural adalah rahasia makanan yang enak dan demikianlah novel ini, meramu semua bahan natural, yaitu sifat sifat dasar dan alamiah manusia.

Tak kurang, mulai dari cerita candaan humor anak muda, kisah romantis berbumbu skandal dengan latar belakang yang kompleks-serba bertolak belakang, drama tragedi keluarga, cerita tragis tentang kemiskinan, sentimen sosial dan amuk masa, amuk perang batin serdadu,  pergulatan etika awak media massa, konflik kekuasaan dan hukum bisa dirangkum dalam tarikan cerita yang membawa pembaca masuk ke alam mimpi, bernostalgia, merefleksi diri, menangis dalam derita bersama para tokoh dan gembira dalam luapan cerita asmara yang meski penuh skandal rasanya indah sekali.

Dibandingkan dengan novel-novel lain, novel ini mengisi ruang kosong yang selama ini saya rindukan. Novel yang bercerita tentang realitas meski pahit namun itulah intinya hidup. Bukan novel yang manis indah dan imajinatif, bukan pula tentang novel yang penuh optimisme dan gilang gemilang dalam kemenangan. Novel ini dengan berani dan tanpa jaim (jaga image), membeberkan perjuangan manusia dalam memenangkan hidup keluar dari kepahitan, kemiskinan, kebingungan, penindasan, kegamangan hanya untuk sekedar menjadi manusia normal yang hidup sewajarnya, bahagia dalam kesederhanaan.

Penulis lancar membubuhkan fakta dengan drama yang mengesankan di setiap babnya, kadang saat membaca saya terperanjat karena penulis berhasil mengait dan merangkai kejadian-kejadian yang tak terduga menjadi cerita yang sambung menyambung. Tiba-tiba puzzle A menggandeng puzzle S dan bukan puzzle B namun mereka sedemikian cocok sembari dalam hati, saya juga kagum, karena begitulah memang hidup manusia, serba tidak terduga dan jurnalis memiliki kemungkinan-kemungkinan hidup yang serba tidak terduga menurut saya sampai 100 persen.

Selain itu, Zaky juga memotret segala macam kegundahan dan hambatan yang dialami para jurnalis Indonesia, dari mulai isu etika, intervensi pemodal, intervensi pemasang iklan, persaingan tidak sehat dengan kolega, kebijakan redaksi yang terpecah antara mengungkapkan fakta atau melindungi awaknya sendiri dari serangan pihak yang tidak setuju, banyaknya ormas dan LSM yang punya agenda terselubung, belum lagi persaingan antar media dan ketidaksiapan nara  sumber dalam membeberkan fakta dan data ketika seluruh lembaga dituntut bersikap imbang dan professional.

pusaranamuk (2)

Situasi-situasi rumit berhasil dipetakan jelas oleh Zaky, konstelasi antara media massa dan berbagai lapisan dan lembaga yang kait mengait, jelas tanpa malu-malu, digambarkan gamblang. Menurut saya buku ini tidak sekedar bisa menjadi bacaan ringan untuk mengisi waktu luang, bacaan ini bisa menjadi bacaan pengantar bagi para siswa dan dosen kajian jurnalistik yang perlu penyegaran karena text book dan buku teori kadang membosankan bahkan tak jarang membingungkan.

Saya ucapkan selamat bagi Zaky Yamani, yang masih sempat menulis dan sedemikian produktif di sela-sela tugas hariannya sebagai jurnalis Pikiran Rakyat. Saya juga salut pada lembaga PIkiran Rakyat dan berhasil mengasah awak wartawan sehandal Zaky, yang kecakapannya di lapangan berhasil membuahkan berbagai penghargaan tingkat nasional dan Internasional. Tak banyak jurnalis yang demikian rajin menuliskan kisahnya dalam novel apalagi yang sedemikian berkualitas dan menarik. Jangan heran apabila usah membaca novel ini Anda terseret dalam mimpi. Mimpi indah nostalgia, tentang masa muda saat gejolak antara etika, profesionalsime, godaan skandal pada uang, nafsu dan kekuasaan begitu dekat dan menganga, menunggu kita terjebak di dalamnya dan ketika bangun Anda lega, sebab Anda adalah salah satu yang selamat dan tertawa karena menjadi sadar ada kekuatan lain yang maha dahyat di luar sana.

 

Milan, 27 Juni 2016

 

 

5 Comments to "Nostalgia dalam Pusaran Amuk"

  1. Lani  3 August, 2016 at 09:19

    James: aku sgt telat………….pd tanggal itu aku baru sj mendarat………jd kelewatan tdk sapa kamu balik

  2. J C  3 August, 2016 at 08:36

    Resensinya apik! Gaya resensi dan menulisnya asik!

  3. Handoko Widagdo  20 July, 2016 at 08:47

    Ini salah satu novel yang mengisi ruang kosong tahun-tahun orde baru.

  4. Dj. 813  19 July, 2016 at 16:37

    Tulisan yang berbobot . . .
    Terimakasih .
    Salam,

  5. James  19 July, 2016 at 15:25

    1…..hadir menunggu para Kenthirs lainnya

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.