Aku dan Nenek-nenek

Dewi Aichi – Brazil

 

  1. Nenek Julia

“Bom diaaaaaaa dona Julia!”  Senyumku mengembang begitu melihat siapa yang di koridor.

Pas banget membuka pintu apartemen, nenek Julia juga pas keluar pintu apartemennya. Kami tinggal di lantai yang sama yaitu lantai 8.

“Bom dia amor!” jawabnya.

Nenek Julia

Nenek Julia

Begitu biasa ia memanggilku. Mengenakan t’shirt warna merah dan celana panjang, nenek Julia bersiap akan melakukan manicure dan pedicure seperti biasa dilakukan setiap 2 minggu sekali. Usianya sudah 86 tahun. Tapi kulitnya ya ampun, bersih banget. Kukunya selalu berwarna, jari-jari kakinya juga terawat sangat indah. Saat keluar rumah, selalu dandan meski hanya bedak dan lipstik yang tipis. Wangi. Dan tampak segar.

Kami sering melakukan aktivitas bersama yaitu jalan- jalan. Entah itu ke supermarket, ke bank, atau sekedar jalan-jalan sore sambil ngobrol. Nenek Julia sangat senang ketika aku menawarkan diri untuk menemaninya.

Tinggal sendiri di apartemennya. Hanya ditemani seekor kucing berwarna coklat, tapi nenek Julia ini tak pernah merasa murung. Anak satu-satunya sudah menikah dan tinggal jauh. Hanya sekali-kali saja menengoknya, biasanya sebulan 2 kali. Nenek Julia ini mempunyai apartemen di pinggir pantai di wilayah Santos. Kadang Ia tinggal di apartemennya yang dekat pantai, ketika musim panas.

“Dona Julia, yuk kita foto bareng ya, nanti foto ini akan aku kirimkan ke ibuku yang tinggal di Indonesia!”

“O, iya wah…salam ya untuk ibumu di Indonesia !” begitu sambutan nenek Julia tetap sumringah berfoto bersamaku di koridor apartemen.

 

  1. Nenek Helena

Masih di apartemen tetapi lantai 2. Saya akrab sekali dengan nenek Helena karena cucunya teman akrab suami. Sama seperti nenek Julia, nenek Helena ini cantik, kulitnya bersih, dan selalu berpenampilan rapi. Kuku tangan dan kaki selalu di cat merah. Tampak bahwa nenek Helena juga rajin manicure dan pedicure.

“Nek, emang siapa yang biasanya antar ke salon?”

“Aku selalu undang Michelle untuk mani pedi ke rumah, jadi tidak usah keluar rumah”, kata nenek Helena menjelaskan.

Aku ikutan panggil nenek mengikuti cucunya hehe…

Nenek Helena

Nenek Helena

Nenek Helena sudah ngga pernah keluar pintu gerbang apartemen. Sudah tidak bisa melakukan perjalanan jauh, misalnya ke supermarket, atau ke rumah sakit. Jadi sangat tergantung cucunya, atau anaknya yang tinggal paling dekat.  Dan nenek Helena juga mempunyai apartemen lain di pinggir pantai. Biasanya nenek akan berada di apartemen satunya ini selama sebulan atau dua bulan, ditemani oleh orang yang bekerja membersihkan apartemen setiap minggunya.

Tadinya nenek Helena tinggal bersama cucunya yang telah berkeluarga dan punya anak balita. Jadi nenek Helena tidak merasa kesepian. Semua anaknya tinggal jauh, bahkan ada yang di USA. Cucunya inilah satu-satunya yang menemani nenek. Sayangnya, awal Januari tahun ini (2016), pindah apartemen, meski jarak dekat. Sekarang nenek Helena tinggal sendirian. Seminggu 2 kali ada orang yang membersihkan apartemennya dan juga setrika bajunya.

Nenek Helena juga kebetulan berusia 84. Bedanya, nenek Helena berjalan dengan tongkat meski jalannya normal. Tapi ini karena kebiasaan saja. Tidak ada masalah dengan jalannya. Aku sering mengirimi pasta bawang putih natural buatanku. Katanya pasta buatanku sangat enak, bisa untuk olesan roti menggantikan mentega. Kata nenek Helena, setelah rajin mengkonsumsi pasta bawang putih buatanku, diabetesnya turun terus, dan kondisi tubuh lebih enak. Begitu kata Nenek Helena lho ya…

Karena kami sering makan bersama maka aku sempatkan diri berfoto juga sama nenek Helena.

 

  1. Nenek Luiza

Nenek Luiza adalah mertuanya budhe Regina. Nenek Luiza aku kenal pada tahun 2009 ketika aku beberapa hari sampai di Brasil. Ketika itu pas ulang tahun nenek Luiza yang ke-83, dan ketika itu awal nenek Luiza tinggal bersama budhe Regina. Ceritanya panjang, kenapa nenek Luiza sampai ikut budhe Regina yang tidak lain adalah menantunya.

Nenek Luiza punya anak-anak laki dan perempuan . Salah satunya adalah suami budhe Regina. Anak kandungnya yang perempuan tidak mau kalau nenek Luiza tinggal di rumahnya. Alasannya sibuk. Padahal tidak bekerja apa-apa. Bahkan uang pensiun nenek Luiza ini yang menikmati ya anak perempuannya yang tidak mau merawatnya itu.

Nenek Luiza

Nenek Luiza

Hanya saja kondisi nenek di tahun pertengahan tahun 2014 menurun drastis. Sebelumnya, nenek masih bisa jalan ke sana-sini, tapi setelah kondisinya menurun, nenek Luiza sangat tergantung budhe Regina. Mandi, ambil makanan, ganti baju, ke toilet, dan segalanya. Sudah tidak bisa apa-apa hampir 9 bulan. Terkadang jika kondisi sangat kritis, dirawat inap di rumah sakit.

Kami sering berada di satu rumah jika sedang berada di kampung. Jadi bagiku, nenek Luiza ini sudah seperti keluarga satu rumah denganku. Karena kami sering nginep di rumah budhe Regina dalam waktu lama. Ketika kondisinya kritis, nenek Luiza sering ngomong apa saja tanpa arah. Sudah tidak ingat apa-apa , tidak kenal lagi anaknya alias suami budhe Regina. Tapi anehnya, jika aku masuk kamar untuk sekedar menemani atau menyuapi, nenek Luiza selalu bisa menyebutkan namaku.

“Nek…ini siapa?”, tanyaku sambil menunjuk budhe Regina.

Nenek langsung saja menjawab dengan suara lemah dan terbata-bata, “Itu Regina!” Nenek selalu mengatakan kepada semuanya yang menjenguknya, bahwa Regina satu-satunya orang yang merawatnya siang dan malam, tanpa mengeluh, tanpa capek. Nenek Luiza mengatakan itu semua sambil menggenggam tangan budhe Regina. Seakan tidak mau jika Regina pergi dari kamarnya.

Nenek Luiza kini telah tiada. Meninggal tahun lalu dengan usia 87.

 

  1. Nenek Maria

Nenek Maria adalah ibunya budhe Regina. Kulitnya putih bersih, wajahnya juga mulus. Wangi. Tetapi nenek Maria sudah berada di kursi roda. Sudah tidak bisa apa-apa. Matanya selalu tertutup. Usianya sudah 90 tahun.  Nenek Maria tinggal jauh sekali dari kota Sao Paulo. Butuh hampir 2 jam perjalanan dengan mobil. Nama kotanya Taubate.

Di sana nenek Maria tinggal bersama adiknya budhe Regina. Juga anak perempuannya bernama Thais. Thais selalu membantu ibunya menjaga neneknya. Memandikan, menyisir, mengepang atau menjepit rambut nenek. Ngobrol terus. Karena kami sering mengadakan kumpul keluarga, maka aku juga selalu ada di tengah-tengah keluarga ini. Makanya aku dan Thais sering duduk bersama menemani nenek sambil ngobrol. Thais ini orangnya nyablak, sering sekali menggoda neneknya. Kadang memasangkan kaca mata(tidak ada kacanya, hanya frame saja) ke nenek.

Nenek Maria

Nenek Maria

Lalu Thais bilang,”nek…nah kan cantik sekarang pakai pakai kaca mata!”

Nenek terkekeh-kekeh senang sekali. Thais meminta untuk membuka matanya. Lalu nenek Maria mulai membuka matanya. Tapi aku ngga tau apakah nenek bisa melihat atau tidak. Biasanya kalau sedang sibuk semua, agar tidak kesepian, Thais memberikan hp nya yang dipasang aplikasi yang jika si nenek bicara, aplikasi itu akan menirukan suara nenek. Nenek pendengarannya sangat tajam…suaranya yang memantul dari hp dijawabnya sendiri. Pertanyaan sendiri dijawab sendiri. Kadang nenek terkekeh-kekeh sendirian.

Apalagi jika nenek sudah memanggil-manggil bapaknya(sudah meninggal) , melapor bahwa ibunya(juga sudah meninggal), bersama pria lain. Lalai Thais yang jail itu menyahut sambil teriak dari entah dapur, atau ruangan lain, “papamu sudah di surga nek, ngapain manggil-manggil!” Si nenek ya bisa aja jawabnya,”ngga….papaku lagi di sini!”

Yah…begitulah nenek Maria, kami bertemu terakhir bulan Oktober di rumah budhe Regina.

 

  1. Nenek Sarah

Adalah neneknya suami. Usianya paling muda dibanding nenek-nenek yang aku ceritakan di atas. Nenek Sarah baru 81 tahun. 82 di bulan Januari 2016 ini. Tetapi nenek meninggal pada tanggal 30 November 2015. Sebulan menjelang ulang tahunnya.

Memang sudah sejak Mei 2015 nenek sudah sakit-sakitan. Suka teriak-teriak. Agresif. Suka mukul siapa yang didekatnya. Beruntung tante-tantenya suami sabar merawatnya. Beberapa bulan di rawat di rumah sakit. Neneknya suami ini selain punya uang pensiun, juga mendapatkan banyak pemasukan dari beberapa rumahnya yang disewakan. Sehingga untuk biaya hidupnya tidak pernah bergantung pada anak-anaknya.

Hanya saja semenjak sakit, jelas salah satu anaknya yang mengurus nenek Sarah yang mengatur uang masuk milik nenek. Neneknya suami selalu memberi jatah kepada orang-orang sekitar yang membutuhkan yaitu sembako (cesta basica). Tiap bulannya, nenek belanja sejumlah cesta basica . Di Brasil, cesta basica itu biasanya dibutuhkan oleh orang yang pendapatannya minim. Dalam cesta basica terdiri dari beras 5kg, terigu, gula, minyak, kacang merah, kopi, spagetti, pasta tomat, kadang ada beberapa jenis camilan.

Nenek Sarah

Nenek Sarah

Nah begitulah nenek Sarah. Baik banget, sama aku selalu memeluk. Aku sering menemani berdoa di gereja ketika nenek masih sehat. Selalu memperingatkan suamiku agar jangan sampai membuatku sedih haha…nenek memang begitu. Berkali-kali memberikan wejangan kepada suami.

Ketika nenek Sarah masih sehat, kami sering masak berdua. Duduk berdua sambil menemani nonton TV. Kadang aku cerita tentang keluargaku di Indonesia. Di rumah nenek selalu banyak tersedia makanan enak. Di meja makan, banyak sekali menu terhidang, termasuk buah-buahan selalu lengkap.

“Selamat beristirahat ya nek!”

 

 

About Dewi Aichi

Berasal dari Sleman Jogjakarta, saya blasteran (antar kelurahan maksudnya), happily married to a Brazilian guy. Dari Jogja merambah dunia. Pernikahan lintas benua adalah pilihannya. Setelah beberapa tahun di Distrik Aichi, Jepang, sekarang tinggal di Brazil bersama keluarga tercintanya. Tingkat sudrunnya setara dengan saudara-saudara sepersudrunannya seperti Nur Mberok, Elnino, Fire dan jelas Lani van Kona. Di sini saya bukan siapa-siapa dan bukan apa-apa, saya hanya sekedar menulis apa yang saya rasakan, apa yang saya alami, dan apa yang menarik buat saya untuk ditulis. Jika ini bermanfaat untuk diri saya sendiri dan juga untuk teman-teman, saya sangat bersyukur

My Facebook Arsip Artikel Website

Share This Post

Google1DeliciousDiggGoogleStumbleuponRedditTechnoratiYahooBloggerRSS

20 Comments to "Aku dan Nenek-nenek"

  1. J C  3 August, 2016 at 09:03

    Persiapan pentulis jadi nenek ke 6…(kabuuuurrrr… )

  2. EA.Inakawa  29 July, 2016 at 08:21

    @ Mbak DA : aamiin mbak DA, saya pun punya impian bertemu dengan para senior saya era KOKI 2006 dan para sesepuh Baltyra lainnya, semoga Tuhan me Ridhoi niat ini (sayangnya penerbangan saya terlalu jauh untuk transit ketempat mbak DA, saya masih diseputar Afrika) salam sehat

  3. Lani  26 July, 2016 at 23:33

    Welah cilaka…….trs japriku minggat nang endi? pie kabarmu msh mloya-mlayu dan sibuk trs?

  4. Dewi Aichi  26 July, 2016 at 18:52

    Terima kasih pak EA…akan lebih senang lagi kalau saya suatu saat bertemu pak EA di manapun berada..

  5. Dewi Aichi  26 July, 2016 at 18:50

    Laniiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii…muachh muachh…still miss you…aku ora entuk japri kok..entuk supri haha..endi, ngga ada kok email masuk…skypeku sementara off…belum aku install lagi….

  6. Dewi Aichi  26 July, 2016 at 18:49

    James….ya nanti saya tulis dunia kakek-kakek, ngga usah cemburu gitu ya haha

  7. EA.Inakawa  21 July, 2016 at 14:06

    Mbak DA, senang nya melihat para nenek di luar sana mereka selalu energik menjalani hari harinya, salam sehat

  8. Lani  21 July, 2016 at 08:55

    James: mmg dimana-mana sama krn penduduk wanita lebih banyak didunia ini, di senior club yg aku jd member 95% anggotanya nenek2 kakeknya hanya 5 org

  9. Lani  21 July, 2016 at 08:54

    DA: kowe iki jiaaaaaaaan……aku ngirim japri seprono-seprene ora ono jawaban………spt ngomong sama tembok

  10. James  21 July, 2016 at 08:32

    seru nih dunia nenek-nenek sayang gak ada dunia kakek-kakek nya

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *