Why NOT Indonesia

Nia

 

Tidak sekali dua saya dibilang jadi anak tidak tahu diri. Egois. Tidak sayang orang tua. Dll. Dll. Semua hanya karena saya memilih untuk tinggal dan bekerja di luar negeri (Singapore).

Alasan uang bisa dipatahkan mereka. Toh banyak juga yang seumuran dan kerja di Indonesia dengan gaji yang sama bahkan lebih besar dari yang saya dapat di Singapore. Kalau beralasan malas berurusan dengan birocrazy dibilang saya sok. Lahir dan besar di Indonesia harusnya sudah terbiasa dan bisa maklum dengan urusan-urusan yang melibatkan pemerintahan.

indonesia-map

Waktu saya bilang karena alasan keamanan (dan ketentraman) malah diceramahi asal tidak begini tidak begitu ya bakal aman-aman saja. Di mana-mana kalau lagi apes ya apes aja. Begitu kata mereka.

Bertahun-tahun setelah bapak saya meninggal, saya memutuskan untuk back for good (sementara) untuk menemani ibu saya. Waktu bapak saya masih hidup saya tidak meluangkan waktu yang cukup untuk menemani. Rasa menyesal itu masih menghantui saya. Dan saya tidak mau menyesal lagi kalau sampai tidak sempat menemani ibu saya. Ya tidak selamanya sih. Tapi saya mau menyediakan waktu untuk ibu saya.

So, kemarin saya kembali ke Indonesia. Landed di bandara A Yani semarang jam 5 sore. Dari bandara dijemput teman untuk menginap di rumahnya di daerah Tanah Mas Semarang. Paginya saya keluar rumah untuk mencari toko yang menjual kartu perdana. Tidak jauh dari rumah teman ketika mata saya meleng-meleng membaca plang nama-nama toko ada pemotor mepet saya. Tiba-tiba tangannya meraih payudara kiri saya.

Saya lari mengejar pemotor itu sambil teriak-teriak minta tolong. Karena bawa ransel berat saya tidak bisa lari kencang. Tapi yakin seyakin-yakinnya kalau teriakan saya kencang banget. Dua orang bapak-bapak yang ada di depan saya hanya menatap seperti saya itu tidak ada. Tidak ada perempuan yang teriak-teriak minta tolong sambil lari mengejar pemotor brengsek itu. Bahkan ketika saya berada di depan mereka dan bilang kalo pemotor tadi melecehkan saya, mereka hanya diam dan melihat saya seperti kalau saya itu temannya anak tetangga yang mau dolan.

Beberapa teman WNA tanya apakah saya yakin dengan keputusan saya untuk meninggalkan pekerjaan (dan hidup enak) di Singapore dan pulang ke Indonesia. ‘Indonesia tidak aman.’ Kata mereka. Saya tahu hal seperti ini besar kemungkinan terjadi. Tapi yang benar-benar bikin saya kecewa adalah sikap kedua orang itu yang hanya diam.

 

 

About Nia

Don't judge the book by its cover benar-benar berlaku untuk Nia ini. Posturnya sama sekali tidak menggambarkan nyalinya. Blusukan sendirian ke seluruh dunia dilakoninya tanpa gentar. Mungkin hanya North Pole dan South Pole yang belum dirambahnya. Catatan perjalanannya memerkaya wawasan bahwa dunia ini benar-benar luas dan indah!

My Facebook Arsip Artikel

Share This Post

Google1DeliciousDiggGoogleStumbleuponRedditTechnoratiYahooBloggerRSS

7 Comments to "Why NOT Indonesia"

  1. J C  3 August, 2016 at 08:48

    Nia: listen to your heart (malah nyanyi lagune Roxette)

  2. Linda Cheang  23 July, 2016 at 17:09

    ekstra waspada aja, Nia.

    aku aja baru beberapa tahun terakhir aja nyadar, bahwa inilah Indonesia, bukan negeri-negeri kayak di luar Indonesia yang lebih tahu artinya manner

  3. James  21 July, 2016 at 08:39

    percaya masih ada orang Indonesia yang baik2 hanya berapa persen dari populasinya ?

    bukan hanya ratusan kali atau ribuan kali lagi tapi sudah tidak memikirkan untuk kembali ke Indonesia meski tanah kelahiranku

    uah begitulah Indonesia justru pengalaman2 spt itu yang membuat mengambil keputusan untuk loncat keluar Indonesia karena tidak adanya Human Right sama sekali dan menjadi second citizen doang

  4. Dj. 813  21 July, 2016 at 01:58

    Mbak Nia . . .
    Terimakasih untuk ceritanya .
    Hal serupa , tapi tak sama, pernah Dj. alami saat pulang pertama kali dari England 1974 .
    Ada mobil Jeep tentara mundur masuk halaman rumah kami .
    Dj. teriaki agar berhenti, karena roda mobil sudah menginjak tanaman .
    Dia turun dan malah marah-marah .
    Lha yang salah , malah galaknya ditunjukin .
    Kalau ingat juga jengkel, tapi lucu juga , sama sekali tidak ada aturan .

    Salam manis dari Mainz .

  5. Ivana  20 July, 2016 at 14:09

    Paragraph pembuka itu… miriiip banget sama pengalaman saya. Dan sampai sekarang pun tetep terdengar…
    Memang kalo pulang ke Indonesia, harus lebih was-was. Karena terbiasa dengan keamaanan di Singapura, jadi kadang2 sedikit meleng juga…
    Take care!

  6. Lani  20 July, 2016 at 12:34

    MISS NGAING-NGAING: nah dr pengalaman yg menimpa dirimu……..utk balik hrs dipikirkan ratusan kali…………..klu perlu ribuan kali……….mmg begitulah sebagian para buaya darat di negeri ini. Wanita korban pelecehan………..

  7. awesome  20 July, 2016 at 11:58

    welcome back Nia … Indonesia banget. tapi kalau sudah waktunya, nggak sedikit koq orang Indonesia yang baik2 … yang (maaf) brengsek kaya gitu memang bukannya ga ada.

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *