Bahasa Bakul Jamu

Wesiati Setyaningsih

 

Ada rencana akan ada film tentang Kartini yang diperankan oleh Dian Sastro. Bagi penggemar Dian yang cantik itu mungkin bakalan suka. Saya tak akan membahas bahwa Dian kayanya terlalu cantik untuk memerankan Kartini yang agak jenong, khas perempuan Jawa masa lalu. Cuma, saya penasaran apakah dia bisa memerankan Kartini dengan baik, terutama masalah bahasa.

kartini

Jujur saya muak dengan film dan sinetron Indonesia yang malas melakukan riset dan latihan buat para pemerannya sehingga masalah bahasa daerah begini jadi disamaratakan. Pokoknya ada bahasa Jawanya, sudah. Beres segala persoalan. Ada sih film yang memperhatikan masalah dialek ini, tapi nggak banyak. Film yang cukup bagus dengan memperhatikan setting dan dialek salah satunya adalah film “Tanda Tanya” dengan sutradara Hanung Bramantyo. Selain dia, hampir nggak ada film yang peduli dengan detil bahasa.

diansastro-kartini04

Bahkan yang menyedihkan ketika seorang teman menandai bahasa Jawa dengan, “oh, yang kaya bahasa bakul jamu itu?”

Wait. Jadi menurut dia bahasa Jawa itu cuma yang dipake oleh bakul jamu di sinetron-sinetron itu? Walah. Inilah busuknya sinetron Indonesia. Mereka bukan hanya gagal memberikan pendidikan bagi penontonnya, namun juga menyesatkan.

diansastro-kartini01

Dari pengamatan saya, dialek bahasa Jawa itu terbagi banyak. Dengan posisi saya di Semarang, bahasa Jawa ke arah barat: Kendal, Batang, Pekalongan, Tegal, Brebes, memiliki kemiripan yang mana semakin ke barat semakin kental. Sementara ke arah timur : Demak, Kudus, Pati, Lasem, Rembang hingga ke Surabaya, memiliki beberapa kemiripan, semakin ke timur (yang paling dikenal orang adalah dialek Surabaya) semakin kental. Di daerah tengah, ada bahasa Jawa dialek Jogja dan Solo yang halus dan terkenal masih memegang teguh bahasa Krama yang juga ada tingkatannya dari ‘madya’ sampai ‘inggil’. Dua kota ini ibarat pusat budaya Jawa, jadi masih asli. Lalu ke selatan, akan ada bahasa ngapak dari Purworejo, Kebumen dan Banyumas.

Di Semarang sendiri, kami menggunakan bahasa Jawa versi Semarangan yang sudah terpengaruh pendatang karena Semarang memiliki pelabuhan. Sebagai etnis pendatang, bahkan teman saya yang Cina Solo bisa sangat halus bahasa Jawanya, mengalahkan saya yang orang Semarang. Jawa Semarangan biasanya diucapkan dengan suara keras dan nada agak tinggi, meski belum seheboh Jawa Timuran (Surabaya).

Film Kartini versi Dian Sastro ini juga disutradarai oleh Hanung Bramantyo. Saya ingin melihat apakah Hanung berhasil membuat Dian bicara dengan bahasa Jawa Lasem dan Rembang, sementara melihat dari sisi wajah saja kita sudah heran, “kok Dian?” Karena pengabaian masalah bahasa membuat ada sebuah film perjuangan tentang peperangan 10 Nopember yang dikritik orang Surabaya habis-habisan karena enggak ada dialek Jawa Timuran-nya. Kan lucu. Lokasi di Surabaya kok dialeknya Jogja.

diansastro-kartini02

Orang Jakarta, dengan arogansinya, selalu menyebut kami yang di Jawa Tengah dan Jawa Timur sebagai “Jawa”. Seolah Jakarta adalah planet tersendiri yang lebih maju dan sophisticated. Entah kenapa ada keengganan untuk menyebut dari Semarang, Jogja atau Pekalongan, minimal menyebut propinsinya: Jawa Tengah atau Jawa Timur.

Hal ini merambah ke masalah perfilman dan sinetron, tiap kali mengangkat tokoh atau peristiwa dari Jawa, mereka tidak peduli Jawa bagian mana. Pokoknya Jawa ya semua sama. Enggak peduli setting tempat di Pekalongan, Semarang, Lasem, Surabaya, dialeknya sama semua: dialek Jogja. Ini menyedihkan.

Indonesia memiliki banyak kekayaan budaya yang harusnya kita pelajari dan lestarikan. Bahkan paduan suara anak-anak saya menang di tingkat internasional karena membawakan lagu daerah ‘Yamko rambe yamko’. Jadi, sebenarnya kita ini punya potensi budaya yang luar biasa.

Keengganan karena arogansi yang merupakan peninggalan jaman penjajahan, harusnya mulai ditinggalkan. Sayang sekali kalau masih tinggal di pulau Jawa tapi merasa enggak selevel dengan kami yang juga tinggal di pulau yang sama. Sedih lagi kalau bahasa daerah di sesama pulau kok sampai tidak tahu. semua semata karena sama sekali enggak peduli.

Sayang sekali.

 

 

About Wesiati Setyaningsih

Seorang guru yang tinggal di Semarang. Awalnya tidak ada niat untuk menjadi guru, tapi kemudian "kesasar" menjadi guru. Mencoba mendobrak "pakem baku" proses pengajaran, juga mendobrak ketidaklogisan pencekokan agama membabibuta di sekolah dan keseharian murid-muridnya. Sering dianggap "off-track" bahkan tidak jarang mendapat cap sesat karena sikapnya yang tidak seperti kebanyakan mainstream.

My Facebook Arsip Artikel

23 Comments to "Bahasa Bakul Jamu"

  1. Lani  4 August, 2016 at 06:06

    Al: hehehe………..jgn disamakan Purworejo dgn Purwokerto dunk! Soale boso Jowo dr Purworejo ndak pakai ngapak2…………

  2. Alvina VB  4 August, 2016 at 00:32

    Koreksi…..halah…kok salah, maaf mbakyu Lani…. maksudku Purworejo bukan Purwokerto…

  3. Alvina VB  4 August, 2016 at 00:30

    He..he….jadi mesem2 baca tulisan ini. Kl saya pribadi punya banyak temen di P. Jawa ttp saya selalu nyebut oh dia pake bhs Sunda, Surabayaan (padahal dari Jember, he..he…/Semarangan (padahal dari kota sekitarnya) krn kl didenger baik2 gak sama accent nya. Temen saya kebanyakan yg dari Solo bhs Jawanya memang halus tenan dan mbakyu Lani bhs Jawa asal Purwokerto pasti beda lagi ya?
    Lah ini si James sama mbakyu Lani malah bicarain makanan euy…., he..he….

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.