Melihat dengan Hati

djas Merahputih

 

Di jaman revolusi informasi saat ini sebuah bangsa dituntut untuk memiliki kecerdasan memilih dan memilah informasi. Informasi bukan lagi sekedar berita biasa, ia telah bertransformasi menjadi senjata berbahaya bagi musuh. Kesalahan membaca dan memahami sebuah informasi beresiko menimbulkan bencana pada sebuah negeri.

Untuk memahami sebuah informasi manusia mengandalkan akal. Akal manusia memiliki mekanisme standar dalam mengolah informasi sebagai bahan pertimbangan dalam mengambil keputusan. Kehati-hatian sangat dibutuhkan terutama pada pengambilan keputusan yang bersifat strategis dan mendesak. Sejarah mengajarkan pada kita bahwa penyesatan informasi (hoax) sudah sejak lama telah menjadi trik andalan untuk meraih kekuasaan. Modus Ken Arok merebut kuasa dari Tunggul Ametung serta konspirasi peralihan Orde Baru dari Orde Lama dapat dijadikan rujukan dalam memahami fenomena penyesatan informasi ini.

Hear no evil see no evil speak no evil post no evil

Sebagian besar informasi terserap melalui dua indra utama, yaitu mata dan telinga. Tuhan telah menciptakan indra penglihatan dan pendengaran manusia dalam format stereo. Masing-masing sepasang adanya. Artinya, Tuhan cukup tahu bahwa akurasi informasi yang melalui indra tersebut hanya dapat tercapai jika sepasang mata maupun telinga dapat berfungsi serta dipergunakan sebagaimana mestinya (secara wajar).

Selain mekanisme wajar, informasi bisa pula diperoleh melalui cara-cara tak wajar atau negatif. Contohnya adalah yang dikenal sebagai strategi kacamata kuda. Kacamata kuda merupakan salah satu bentuk negatif terhadap upaya memperoleh informasi akurat dari lingkungan sekitar. Cara ini mengeliminir keakuratan informasi sampai pada tahap tertentu yang dianggap perlu. Bagi seorang kusir, kacamata kuda merupakan pelengkap penting untuk mengendalikan kereta.

Arus utama informasi beredar melalui media massa. Ia bagaikan jalan raya bagi lalu lintas informasi di seluruh dunia. Itu sebabnya media massa menjadi hal penting bagi kekuasaan. Media menjadi kuda pacu untuk mengantarkan informasi ke setiap tempat. Kekuasaan menjadi kusirnya. Dan, dalam industri media, frame atau bingkai berita berfungsi sebagai kacamata kuda bagi arus informasi itu sendiri.

Posisi rakyat sebagai penikmat berita berada pada posisi tak berdaya. Mereka mau tak mau, suka tak suka harus rela menerima segala bentuk pemberian (informasi) yang diberikan oleh Sang Kusir (penguasa) kepadanya. Kini segalanya akan ditentukan apakah rakyat suatu bangsa merupakan sekumpulan individu-individu merdeka, atau sebaliknya, hanyalah serombongan rakyat pasif yang hanya bisa pasrah ke manapun pengembala menghela. Persis seperti bebek, sukanya jalan berbondong-bondong di pematang sawah.

Kemerdekaan ditandai oleh kehendak untuk memperoleh informasi seakurat mungkin, tidak hanya mengandalkan media massa mainstream yang ada. Setiap media tentu memiliki kusir sendiri. Individu merdeka tak akan menelan informasi mentah-mentah begitu saja. Ia akan menguji setiap informasi, baik dengan logika ilmiah maupun dengan berusaha mencari data pembanding untuk setiap kasus di depan mata. Wawasan dan pengalaman akan memegang peranan penting dalam hal ini.

Seperti disebutkan sebelumnya, akal manusia memiliki mekanisme standar dalam mengolah informasi. Salah satu di antara mekanisme standar itu adalah apa yang disebut sebagai mekanisme Asosiasi (pertalian). Asosiasi adalah kesimpulan yang diambil berdasarkan dua atau lebih informasi yang datang beriringan. Dalam matematika digambarkan sebagai;  a+(b+c)=(a+b)+c. Jika a=c otomatis (b+c)=(a+b). Asosiasi merupakan mekanisme paling mendasar bagi otak dalam merespon sebuah ancaman.

Anak kecil belajar mengasosiasikan api dan panas sebagai sepasang informasi. Setelah beranjak dewasa perlahan ditemukan bahwa panas tak hanya berasal dari api. Panas juga identik dengan bara, terik matahari, micro wave, setrika, knalpot motor atau air mendidih hingga suasana hati yang baru saja diputusin pacar. Wawasan dan pengalaman memperluas wilayah asosiasi tadi. Sementara, bingkai berita sendiri berfungsi untuk mereduksi dan membatasi ruang untuk perluasan itu.

 

 

About djas Merahputih

Dari nama dan profile picture'nya, sudah jelas terlihat semangat ke-Indonesia-annya. Ditambah dengan artikel-artikelnya yang mengingatkan kita semua bahwa nasionalisme itu masih ada, harapan itu masih ada untuk Indonesia tercinta. Tinggal di Sulawesi, menebar semangat Merah Putih ke dunia melalui BALTYRA.

My Facebook Arsip Artikel

20 Comments to "Melihat dengan Hati"

  1. djasMerahputih  26 July, 2016 at 16:59

    mBilung Sarawita:
    Hai.. Salam kenal. Dengan senang hati, semoga bermanfaat bagi lingkungan…

  2. djasMerahputih  26 July, 2016 at 16:57

    Awesome:
    Terkadang logis itu belum pasti akurat. Wawasan dan pengalaman (knowledge) akan menguji logika.

    Logika yg diasupi info sesat akan menghasilkan kesimpulan keliru.

    Thanks partisipasinya..

  3. Lani  26 July, 2016 at 12:11

    Wah pentulise urik…………no satu dikekepi dewe……….bikin James kecewa……….

    Aku setuju dgn komentar EA Inakawa

  4. Maryati  26 July, 2016 at 11:04

    Melihat dgn hati pasti lebih [email protected][email protected]

    [email protected][email protected]

  5. James  26 July, 2016 at 10:53

    fotonya 4 chimpansee, napa kagak ada artikel makanan mas DJ nih ? apa ketinggalan ? laperrrr……..

  6. James  26 July, 2016 at 10:41

    hadir bang Djas

  7. mBilung Sarawita  26 July, 2016 at 09:38

    sepakat …
    mohon ijin copy-paste dan share di Facebook

  8. EA.Inakawa  25 July, 2016 at 17:43

    Meniti hidup itu memang tidak mudah,tidak bisa dengan hanya melihat dengan mata kasat saja TAPI juga harus dengan Mata Hati……

  9. awesome  25 July, 2016 at 16:54

    ah … antara logika vs knowledge ya ….

  10. djasMerahputih  25 July, 2016 at 16:43

    1. Pentulise

    Tulisan pertama dari dua bagian. Sambungannya nyusul…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.