Hadji Murat

Handoko Widagdo – Solo

 

Judul: Hadji Murat

Penulis: Leo Tolstoy

Penterjemah: Hartono Hadikusumo

Tahun Terbit: 2015

Penerbit: Narasi dan Pustaka Promethea

Tebal: xii + 242

ISBN: 979-168-446-4

hadji murat

 

Selama ini saya tak pernah menemukan karya tulisan para penulis Rusia yang telah diterjemahkan dalam Bahasa Indonesia bertemakan Islam atau menulis seorang tokoh Islam. Tema-tema rakyat kecil, perjuangan buruh, keluarga kerajaan/Tsar, dan revolusi adalah tema-tema yang sering muncul dalam tulisan para penulis Rusia dalam Bahasa Indonesia. Kalaupun ada yang bertemakan agama, atau bersinggungan dengan agama, pastilah agama Kristen Ortodoks, Katholik atau Protestan. Maka, saat saya lihat judul aneh ini tersembul di antara buku-buku pada bazar buku Gramedia di sebuah mall di Solo, langsung saya sambar. Leo Tolstoy menulis tentang seorang haji? Aneh tapi memang benar-benar ada.

Hadji Murat adalah sebuah novel tentang peperangan. Novel yang menggambarkan betapa absurdnya peperangan. Peperangan adalah sebuah kekejaman yang tidak memiliki tujuan. Dalam novel ini Tolstoy mengungkap etnik, kekuasaan dan agama sebagai pengungkit perang. Etnik, kekuasaan dan agama adalah alat yang sering dipakai oleh para pemimpin yang bodoh untuk memicu perang. Perang sama sekali tidak menghargai kemanusiaan. Harapan sederhana dari orang-orang sederhana sering terabaikan. Bahkan orang-orang sederhana adalah korban yang tidak tahu apa-apa.

Hadji Murat adalah mantan gubernur Avar yang kemudian bergabung dengan Shamil, seorang ulama Chechnya yang memberontak. Hadji Murat adalah seorang tokoh pemberontak yang sangat ditakuti oleh Rusia. Karena alasan balas dendam dan membebaskan keluarganya yang ditawan oleh Shamil, Hadji Murat memilih untuk menyerahkan diri dan bergabung dengan tentara Tsar Nikolai.

Hadji Murat dengan empat anak buahnya menyerah kepada tentara Rusia di sebuah desa. Saat melarikan diri dari kejaran tentara Shamil yang akan membunuhnya, Hadji Murat dan empat temannya diterima oleh seorang penduduk desa yang mengaguminya. Sado dan keluarganya menerimanya dengan ramah. Istri Sado menyediakan makanan dan tempat tidur bagi Hadji Murat dan kawan-kawannya. Anak Sado yang masih muda begitu mengagumi Hadji Murat. Namun penduduk desa yang lain takut kepada Shamil dan mengejar Hadji Murat dengan setengah hati. Orang Chehcnya kebanyakan adalah orang gunung yang tidak suka perang. Namun mereka terjebak dengan peperangan yang menakutkan bagi mereka. Orang-orang ini ragu-ragu apakah harus mendukung Shamil atau mendukung Rusia. Sering sekali mereka mengalikan dukungan. Bukankah rakyat kecil seringkali terjebak dengan sebuah perang yang membawa korban begitu besar di pihaknya, tanpa tahu apa sesungguhnya tujuan perang tersebut?

Akhirnya Hadji Murat bisa bertemu dengan tentara Rusia dan menyerahkan diri. Ia diterima oleh Voronstov – seorang pimpinan tentara. Hadji Murat diterima dengan ramah dan diperlakukan dengan sangat baik.

Dalam proses penyerahan Hadji Murat, tentara Rusia diserang oleh orang desa secara serampangan. Dalam serangan ini seorang prajurit bernama Petrukha Avdeyev tertembak perutnya. Petrukha akhirnya meninggal. Tolstoy menggunakan kematian Petrukha ini sebagai alat untuk menggugat manfaat perang. Tolstoy menceritakan penyesalah ayah Petrukha yang harus kehilangan anak yang paling kuat bekerja untuk menghidupi keluarga. Penyesalah ayah Petruka disampaikan dalam percakapannya dengan anak sulungnya – abang Petrukha sebagai berikut: “Petrukha itu bodoh karena menggantikan tempatmu … dan dia nilainya lima kali nilai kamu kalau dia tinggal di rumah ini (hal 71).” Pemuda yang kuat lebih berguna bagi keluarga karena bisa menghasilkan tenaga yang lebih banyak daripada kalau dia menjadi tentara dan mati sia-sia.

Kisah kesia-siaan dan kejamnya perang juga digambarkan oleh Tolstoy melalui penyerangan tentara Rusia terhadap penduduk desa yang tidak berdaya. Penyerangan dan pembakaran desa itu telah membunuh anak-anak, termasuk anak Sado yang sangat mengagumi Hadji Murat. Tolstoy membuat narasi yang sangat mencekap sebagai berikut: Putranya, anak tampan dengan mata bersinar-sinar yang memandang Hadji Murat dengan kagum, dibawa ke masjid dalam keadaan tewas di atas sebuah kuda yang diselimuti jubah bulu. Dia telah dibayonet di punggungnya. Perempuan cantik yang telah melayani Hadji Murat ketia dia berada di sana kini berdiri memandangi putranya dengan bajunya terkoyak di dadanya…, dengan rambutnya tergantung awut-awutan, dia mencakari wajahnya sampai berdarah, terus menerus menjerit. Sado pergi bersama beberapa keluarganya membawa linggis dan sekop untuk menggali sebuah kuburan untuk putranya itu (hal 159).

Penyerahan diri Hadji Murat ini membuat pihak Rusia senang sekaligus hati-hati. Senang karena Hadji Murat sangat ditakuti oleh tentara Rusia. Hadji Murat adalah tokoh yang disegani para pemberontak Chechen. Ia mengetahui banyak rahasia tentara pemberontak. Maka kalau ia mau bekerja sama dengan Rusia maka pemberontakan Chechnya bisa segera dipadamkan. Namun di sisi lain, Rusia juga takut kalau-kalau penyerahan diri dari Hadji Murat adalah sebuat siasat saja. Voronstov harus mengirim surat kepada Tsar Nikolai melalui Chernyshov sang Menteri Perang. Nikolai setuju dengan usulan Voronstov untuk menggunakan Hadji Murat untuk memadamkan pemberontakan Shamil.

Untuk memanfaatkan Hadji Murat dalam memadamkan pemberontakan Chechnya, Hadji Murat diberi sepasukan Chosack untuk berperang, tetapi sekaligus untuk mengawasinya. Hadji Murat tidak boleh bepergian sendiri tanpa pengawalan prajurit Chosack ini. Proses pembebasan keluarga Hadji Muratpun berjalan sangat lambat, karena sesungguhnya Rusia tidak terlalu peduli dengan upaya ini. Akhirnya Hadji Murat tidak sabar dan berupaya untuk melarikan diri supaya bisa membebaskan keluarganya tanpa bantuan tentara Rusia. Namun upaya pelarian ini tidak berjalan mulus, karena tentara Chosack memergokinya. Hadji Murat akhirnya terbunuh dan kepalanya dipenggal (hal. 237).

Tolstoy menyisipkan kisah tentang keputusan Tsar Nikolai terhadap seorang mahasiswa keturunan Polandia yang melakukan penyerangan kepada profesornya karena tidak lulus. Profesor mengalami luka-luka kecil saja. Nikolai yang menganggap orang Polandia dan Katholik adalah orang jahat, menghukum mahasiswa ini dengan sangat berat. Meski Rusia tidak memberlakukan hukuman mati, namun Nikolai – karena kebenciannya terhadap orang Polandia Katholik, membuat hukuman yang membuat mahasiswa ini pasti tewas. Keputusan ini didasari pada perbedaan agama dan etnis. Hanya karena dia adalah Katholik dan keturunan Polandia maka dia harus dihukum seberat-beratnya (hal 142). Dalam kisah ini Tolstoy mau menggambarkan bahwa kebencian, stereotyping dan prasangka sering mendasari keputusan yang tidak berdasarkan nalar.

Tolstoy menggambarkan Nikolai sebagai seorang pemimpin yang sangat memuji diri sendiri. Nikolai merasa bahwa satu-satunya orang yang benar di Rusia adalah dirinya. Ia menganggap bahwa tanpa dirinya, Rusia akan hancur dimakan korupsi dan peperangan. Tahu bahwa Nikolai adalah orang yang suka memuji dirinya sendiri, para bawahannya suka menjilatnya. Menteri perangnya Chernishov menjilat dengan menjukkan sikap takjub akan keputusan Nikolai terhadap si mahasiswa (hal 147). Para pendeta memuji-muji Nikolai di gereja (hal. 147). Duta besar Prusia memuji strategi yang dipilihnya terhadap Nikolai, meski sebenarnya si Duta Besar menganggap bahwa strategi tersebut keliru (hal 149). Tolstoy mau mengatakan bahwa seringkali banyak pihak mempertahankan posisinya dengan cara menjilat pemimpinnya.

Dalam novel ini Tolstoy menyampaikan bahwa agama, kekuasaan dan etnis bisa menjadi penyebab perang yang tidak jelas tujuannya. Tujuan mulia, seperti menghidupi keluarga dengan bertani, hidup tenteram di desa dan upaya membebaskan anggota keluarga yang ditawan menjadi tidak penting demi agama, kekuasaan dan etnisitas. Kebodohan para pemimpin dalam ketiga hal tersebut telah memakan korban rakyat jelata yang ingin hidup tenteram.

Hartono Hadikusumo berhasil menterjemahkan karya Tolstoy ini dengan sangat baik. Kalimat-kalimatnya mengalir sehingga enak untuk dibaca. Sayang sekali buku yang bagus ini tidak diedit dengan baik. Kesalahan penggunaan tanda baca dan salah ketik yang sangat banyak benar-benar mengganggu dalam membaca. Semoga (kalau ada) edisi berikutnya kesalahan ketik sudah diperbaiki.

 

 

About Handoko Widagdo

Berasal dari Purwodadi, melanglang buana ke berpuluh negara. Dengan passion di bidang pendidikan, sekarang berkarya di lembaga yang sangat memerhatikan pendidikan Indonesia. Berkeluarga dan tinggal di Solo, kebahagiaannya beserta istri bertambah lengkap dengan 3 anak yang semuanya sudah menjelang dewasa.

My Facebook Arsip Artikel

8 Comments to "Hadji Murat"

  1. Widyastuti  18 September, 2018 at 06:51

    Sangat mengesankn meskipun tidak membaca bukunya langsung namun cukup memberikan pengetahuan. Terima kasih Pak Han saya sangat menyukai referensi Bapak.

  2. J C  3 August, 2016 at 09:39

    Yang ini bisa dipinjam juga?

  3. Handoko Widagdo  30 July, 2016 at 09:19

    E.A. Inakawa salam sehat selalu.

  4. EA.Inakawa  29 July, 2016 at 07:54

    Pak han : saya jd ingat ceritera lelucon dari Rusia yang paling melekat : ” Mati Ketawa Ala Rusia ” , sekarang ada lagi Hadji Murat, terima kasih pak han atas refrensinya, salam sehat

  5. Handoko Widagdo  28 July, 2016 at 13:05

    Awesome, juga selalu berwajah cerah seperti biasa.

  6. awesome  28 July, 2016 at 12:29

    selalu mencerahkan seperti biasa

    ijin share di fb ya

  7. Handoko Widagdo  27 July, 2016 at 10:21

    Salam hangat kembali sahabat.

  8. maryati-stg  27 July, 2016 at 10:18

    #1…Pak Handoko…@[email protected]

    Salam hangat..

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.