Memaknai Kesetaraan Gender

Wiwit Sri Arianti

 

Berbicara tentang gender, selalu dikaitkan dengan perempuan, padahal kesetaraan gender itu bukan hanya untuk perempuan namun untuk semua perempuan dan laki2 karena baik perempuan maupun laki2 mempunyai potensi untuk menjadi korban kekerasan dan juga menjadi pelaku kekerasan. Jadi, korban kekerasan itu tidak hanya perempuan tapi juga bisa laki-laki. Namun karena selama ini yang menjadi korban kebanyakan perempuan, maka banyak aksi dan kebijakan yang ditetapkan seolah-olah menguntungkan para perempuan.  Coba bayangkan, sejak kecil anak2 itu sudah dikonstruksikan untuk menjadi seperti yang diinginkan oleh orang dewasa. Bahwa laki2 itu harus kuat, pemberani, tidak boleh cengeng, dll dan untuk anak perempuan harus terlihat cantik, lemah lembut, penurut dll….yang semua itu pasti akan membebani mereka jika mereka tidak bisa seperti yang digambarkan oleh orang dewasa di sekitarnya.

Pagi itu teman-teman di kantor sedang ribut mendiskusikan tentang bus Transjakarta khusus perempuan, bus yang umumpun ada ruangan khusus untuk perempuan, dan gerbong kereta paling depan dan paling belakang dikhususkan untuk perempuan. Teman-teman yang laki-laki merasa mendapat diskriminasi dan sebel karena sudah antri dan nunggu lama di halte ternyata yang datang bus Transjakarta khusus perempuan dan mereka yang laki-laki tidak bisa naik.  Ketika mereka akhirnya dapat naik bus Transjakarta umum, tidak bisa duduk di ruang khusus perempuan meskipun masih ada tempat duduk kosong sementara banyak penumpang lelaki yang berdiri berhimpitan.

Barangkali kita perlu mengetahui dan memahami kenapa ada tempat khusus perempuan di dalam bus Transjakarta dan kereta api, bahkan ada bus khusus perempuan. Karena akhir-akhir ini, atau sebetulnya sejak dulu ada namun baru terungkap bahwa banyak terjadi kasus pelecehan seksual yang dialami oleh perempuan di kendaraan umum dan tempat-tempat fasilitas umum. Sehingga untuk melindungi dan mengantisipasi agar kejadian yang membahayakan perempuan itu tidak terulang lagi, maka pemerintah menyiapkan fasilitas umum bagi perempuan. Semua ini merupakan dampak dari perilaku negatif sebagian lelaki iseng dan tidak bertanggung jawab, sehingga merugikan semua lelaki termasuk yang bukan pelaku pelecehan.

Pagi ini aku berkesempatan naik bus Transjakarta baru dengan warna dominasi putih dan pink, kulihat dari jendela sopirnya seorang perempuan setengah baya, cantik dan berjilbab. Ketika bus berhenti, petugasnya berteriak “hanya wanita ya”. Setelah bus berhenti dan semua penumpang yang turun habis, aku segera naik dan berdiri di dalam bu karena semua kursi yang tersedia sudah penuh dengan penumpang yang semuanya perempuan. “Oh ini to bus yang kemaren dibicarakan oleh teman2 di kantor”, kataku dalam hati. Waktu itu diskusinya sangat seru sehingga membuatku penasaran untuk mengetahui lebih banyak terkait dengan bus baru ini. Penampilannya bagus juga, nyaman dan bersih, bus dengan warna dominan putih dan pink, bertuliskan “Habis Gelap, Terbitlah Terang”, pada salah satu sisi jendela. Tulisan ini pasti terinspirasi dari buku RA Kartini, pahlawan perempuan kita, dan pada bus yang lain terdapat tulisan “These Girls Are Smart”.

kesetaraangender01

“Bus Transjakarta khusus wanita, dengan dominasi warna yang cerah pink dan putih”

Bus ini diluncurkan pertama kali oleh Ketua Tim Penggerak PKK DKI, Ibu Veronica Tan, istri dari Gubernur DKI yang terkenal dan akrab disapa dengan Ahok, pada tanggal 21 April 2016 bertepatan dengan peringatan Hari Kartini. Bus Transjakarta gandeng ini memiliki 38 tempat duduk dan mampu mengangkut 80 penumpang total dengan yang berdidi. Dengar-dengar sih bus Transjakarta ini dirancang dengan tempat duduk menghadap ke depan, bukan ke samping seperti bus Transjakarta yang lain untuk mengantisipasipasi terjadinya pelecehan seksual. Bus-bus ini dioperasikan di jalur busway koridor I (Blok M-Kota) dengan pengemudi dan awak bus semuanya perempuan.

kesetaraangender02

“Pengemudi bus Transjakarta khusus perempuan juga seorang perempuan”

kesetaraangender03

“Bentuk tempat duduk di bus Transjakarta khusus perempuan”

Di lain kesempatan, dalam perjalanan ke kantor menggunakan bus Kopaja kebetulan kondekturnya seorang ibu setengah baya, badan termasuk kecil dengan kulit yang hitam terpapar matahari. Badannya yang kecil memudahkan beliau untuk loncat turun naik bus ketika menurunkan dan menaikkan penumpang. Sama dengan kondektur bus pada umumnya, ibu kondektur ini juga bersuara keras melengking untuk menawarkan jurusan bus dan memberikan aba2 pada pengemudi untuk berhenti atau berjalan lagi bahkan ketika berhimpitan dengan kendaraan lain maka beliau akan berteriak memberikan peringatan untuk menghindar atau mempercepat laju kendaraannya.

Melihat ibu ini jauh dari gambaran tentang konstruksi sosial seorang perempuan yang harus bersikap lemah lembut dan berbicara pelan dan sangat sopan. Sebagai seorang kondektur bus ekonomi membuat dirinya harus menyesuaikan dengan tuntutan pekerjaan yang harus lincah dan bicara keras supaya dapat membantu pengemudi menjalankan kendaraannya dengan aman. Karena alasan ekonomi dan persoalan rumah tangga lainnya sehingga memaksa ibu harus ikut berjibaku mencari penghasilan untuk memastikan keluarganya terutama anak-anaknya dapat terpenuhi tumbuh kembangnya dengan baik. Di bawah ini foto ibu kondektur bus Kopaja yang lincah.

kesetaraangender04

Tidak hanya di sektor transportasi yang selama ini dikuasai oleh para lelaki menjadi berseger diambil alih oleh para perempuan. Pada saat kami sedang ada acara di salah satu hotel berbintang di Jakarta, kutemui seorang ibu berjualan nasi di dekat hotel bersama dengan para penjual makanan dan minuman yang lain sampai tengah malam. Di tempat-tempat lain yang disebut sebagai pedagang kaki lima memang banyak juga penjualnya para perempuan, namun ada yang menarik dari ibu ini, beliau berdagang sambil membawa buku dan menyempatkan diri dengan membaca di sela-sela melayani pelanggannya. Ini salah satu kelebihan dari para perempuan, multi tasking kira-kira begitu istilahnya.

kesetaraangender05

“Ibu Belajar sepanjang hayat dimana saja”

Ketika kutanyakan membaca buku apa dan kenapa ibu masih menyempatkan diri untuk membaca, apa tidak capek? Beliau menjawab macam-macam buku yang dibacanya untuk menambah pengetahuan supaya bisa membantu anaknya belajar, karena anak sekarang pintar-pintar, dan yang terpenting supaya otaknya tidak beku, jadi membaca bisa mencegah kepikunan. Jadi apa yang dilakukan oleh perempuan meskipun sama-sama bekerja seperti lelaki, namun perempuan masih memikirkan banyak hal, dengan bekerja dia mendapat penghasilan untuk keluarganya, namun dia juga memikirkan dirinya supaya tetap berpengetahuan dan tidak cepat pikun, juga memikirkan pendidikan anaknya. Subhanallah…..

Masih segar dalam ingatan kita sebagai bangsa Indonesia, ketika Presiden melantik anggota kabinetnya, ada 8 (delapan) perempuan yang terpilih dalam jajaran Menteri Kabinet Kerja. Dalam sejarah, ini jumlah terbanyak bahwa Presiden melibatkan perempuan sebagai anggota kabinet pemerintahannya di  Republik tercinta ini. Kita juga masih ingat kehebohan media dan masyarakat ketika diketahui salah satu Menteri perempuan dengan pendidikan SMA tidak tamat namun justru kinerjanya sangat luar biasa. Beliau memiliki komitmen yang tinggi pada kepentingan rakyat dan berani “melawan” para pengusaha yang tidak beres yang bersinggungan dengan kementeriannya, yang selama ini tidak ada yang berani mengusik karena mungkin mereka adalah para kroni pejabat. Ini bukti komitmen perempuan jika diberikan tanggung jawab akan bekerja dengan total dan memiliki keberpihakan pada mereka yang termarginal (baca lemah). Lihatlah ekspresi kegeramannya pada kasus illegal fishing yang dilakukan oleh nelayan Tiongkok di wilayah Indonesia.

kesetaraangender06

“Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti menggelar konferensi pers terkait isu-isu kelautan dan perikanan di kantor KKP, Jakarta Pusat, Selasa (21/6). (Foto: MerahPutih/Yohanes Abimanyu)”

Tentu kita juga masih ingat ketika Presiden Joko Widodo (Jokowi) memilih sembilan “Srikandi” untuk menjadi Panitia Seleksi (Pansel) KPK 2015. Seperti biasa, waktu itu juga terjadi komentar pro kontra tentang keputusan Presiden tersebut. Banyak yang mengapresiasi dan tidak sedikit pula yang meragukan kemampuan para perempuan tersebut dapat malaksanakan tugas ini dengan baik. Sejak terpilihnya Sembilan Pansel KPK 2015, masyarakat/publik sangat berharap Sembilan Srikandi ini dapat memilih orang-orang yang jujur, berintegritas, dan berani melawan koruptor demi masa depan KPK dan kesejahteraan masyarakat seluruh Indonesia.

Mereka sudah membuktikannya, anggota KPK yang terpilih nampak berkualitas dan sudah mulai memberikan bukti kemampuannya dengan beberapa gebrakannya menangkapi para koruptor. Di bawah ini foto sebagian dari Sembilan Srikandi Pansel KPK 2015.

kesetaraangender07

“Sebagian Pansel KPK–Foto: MTVN/Dheri Agriesta”

Para perempuan di Republik ini juga berperan aktif dan menjadi garda terdepan dalam memerangi korupsi. Coba perhatikan demo-demo yang mempunyai agenda melawan koruptor, pasti banyak perempuan yang terlibat dan berada pada barisan paling depan, seperti yang dapat kita lihat pada foto di bawah ini.

kesetaraangender08

Kita juga pernah memiliki Presiden perempuan dan banyak posisi penting yang selama ini dikuasai oleh para lelaki, sudah mulai bergeser dan diperankan juga oleh perempuan, seperti pilot, dokter, astronot, rektor, dan lain sebagainya. Terlepas dari semua pergeseran tersebut, sebetulnya para lelaki tidak perlu kuatir, karena setiap orang pasti dikaruniai kelebihan dan kekurangan, sehingga laki-laki bisa bekerjasama dengan perempuan untuk saling melengkapi. Karena banyak pekerjaan yang selama ini dilakukan oleh perempuan, sebetulnya bisa juga dilakukan oleh laki-laki, seperti pekerjaan-pekerjaan yang berhubungan dengan urusan domestik. Hanya saja banyak laki-laki yang merasa gengsi karena adanya konstruksi sosial yang dibangun oleh masyarakat bahwa urusan seputar dapur, Kasur dan sumur itu menjadi tugas perempuan, sehingga membatasi peran laki-laki di ranah domestik.

Masih banyak pemahaman yang tidak pas di masyarakat terkait dengan isu gender. Ada ungkapan di masyarakat seperti misalnya: Kodratnya perempuan itu mengasuh anak, memasak di dapur, mencuci pakaian, belanja ke pasar, dan lain-lain semua urusan yang terkait domestik.  Padahal semua tugas tersebut bisa juga dilakukan oleh laki-laki, sehingga mengasuh anak, memasak di dapur, mencuci pakaian, belanja ke pasar, semua itu bukanlah kodrat. Karena semua peran tersebut bisa dilakukan oleh perempuan dan laki-laki. Jadi apa dong yang disebut kodrat?

Menurut ahli gender, yang disebut kodrat itu adalah peran dan fungsi reproduksi perempuan dan laki-laki yang melekat dan ditetapkan sejak lahir dan tidak bisa dipertukarkan antara perempuan dan laki-laki. Perempuan memiliki vagina, indung telur, rahim untuk mengandung, payudara untuk menyusui,  menstruasi, dan melahirkan. Sedangkan laki-laki memiliki penis, testis, jakun, mimpi basah, dan membuahi. Jadi semua urusan domestik  yang selama ini dibebankan pada perempuan bukanlah kodrat perempuan.  Demikian juga semua urusan publik / non domestik yang selama ini dibebankan pada laki-laki seperti mencari nafkah, memimpin, dll juga bukan kodrat laki-laki. Namun semua itu merupakan peran, sifat, posisi, atau status perempuan dan laki-laki yang dibentuk/dikonstruksi oleh masyarakat tertentu dan dalam kurun waktu tertentu, itulah yang disebut dengan gender.  Jadi para lelaki tidak perlu malu atau gengsi untuk mengerjakan pekerjaan domestik, dan sejauh itu disepakati bersama antara laki-laki dan perempuan, maka tidak akan ada masalah.

Kesetaraan gender akan menjadi masalah jika terjadi perbedaan akses, partisipasi, kontrol, dan manfaat antara perempuan dan laki-laki. Mungkin aku termasuk perempuan yang beruntung karena memiliki pasangan hidup yang berkesadaran gender sehingga aku bisa bekerja di luar rumah bahkan di luar kota  karena adanya pemahaman dan kesepakatan pembagian peran yang jelas sejak awal membangun kehidupan bersama. Dan yang sangat menyenangkan karena pasanganku juga merasa beruntung memiliki pasangan seorang perempuan yang mandiri dan memahami perannya dalam membangun kehidupan keluarga yang indah dan membahagiakan, sepertiku hehehe… GR sedikit tidak apa-apa to, ;-)

Jadi kuncinya ada di komunikasi dan pembagian peran yang jelas dan disepakati bersama antara perempuan dan laki-laki di berbagai aspek kehidupan. Kalau dua hal tersebut sudah dilakukan maka insha Allah tidak akan ada lagi masalah kehidupan yang terkait dengan kesetaraan gender. Hidup akan menjadi lebih berwarna dan indah. Oh ya, akhir-akhir ini ada gerakan “Laki-laki baru” yang sudah gencar disosialisasikan dimana-mana. Apa itu laki-laki baru, silahkan menunggu tulisan berikutnya ya…atau tanya mbah Google dulu deh…

 

 

25 Comments to "Memaknai Kesetaraan Gender"

  1. Wiwit  8 August, 2016 at 14:08

    Betul mas J C,…setuju banget….

  2. Wiwit  8 August, 2016 at 14:06

    Iya betul Pak Dj…. Wanita yang suka melemahkan dirinya sendiri itu berarti tidak menghargai anugerah Tuhan yang sudah memberikan potensi tapi tidak digunakan.

    Dj said: Dari dulu sampai sekarang, keputusan yang diambil para suami ( laki-laki ) ,
    biasanya adalah sarang atau pendapat istri ( wanita ). Itu menegaskan pepatah bahwa; di balik laki2 yang hebat itu pasti ada istrinya yang hebat, hehe…

  3. Wiwit  8 August, 2016 at 13:59

    Mbak Alvina…kok 101% to? hehehe….
    Ibu Ferial Hadi yang mana ya, ada nama lain gak? nama panggilan or nama beken misalnya? or tolong kirim fotonya, karena kadang kalau sudah lihat fotonya baru ngeh, oh iya, kenal.

  4. Wiwit  8 August, 2016 at 13:55

    Mbak Itsmi….aku gak setuju dengan pendapat kalau emansipasi wanita itu terjadi karena pemberian pria. Sebetulnya wanita bisa memilih, apakah dia mau dikendalikan pria atau tidak, dan setiap pilihan itu mengandung konsekuensi. Kalau aku memilih yang tidak mau dikendalikan pria, sehingga setiap keputusan yang diambil adalah berdasarkan hasil diskusi kedua belah pihak.
    Pengalamanku waktu anak2 masih kecil, ketika ada yang sakit dan butuh ditunggu, tidak selalu harus aku yang ijin tidak masuk kerja. tapi dipilih berdasarkan diskusi, siapa yang hari itu jadwalnya bisa ditinggalkan, sehingga dialah yang harus di rumah alias ijin tidak masuk kerja untuk menunggu anak yang sakit.
    Keputusan tersebut bukan karena lebih mementingkan kerjaan dari pada menunggu anak sakit, tapi kebaikan bersama dan karena kesetaraan peran gender rumah tangga.

  5. Wiwit  8 August, 2016 at 13:42

    Trimakasih Wusi…gimana kabarmu?

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *