Jaman dan Waktu

Anwari Doel Arnowo

 

Semua orang amat menyadari bahwa apapun yang ada di dunia telah, sedang dan akan tetap teruus menerruuus berubah. Tanpa henti biar dalam satu detikpun. Bentuk fisik benda, alam semesta, makhluk, apapun juga dan tidak melupakan juga cuaca serta iklim. Perubahan itu kecepatannya tidak sama. Saya berubah terus menerus perlahan-lahan sejak terjadinya tubuh saya yang janin wujudnya, kemudian terlahir dan berubah menjadi bayi pada 78 tahun yang lalu. Menurut cerita waktu itu, katanya, saya menangis dengan suara yang kuat sekali. Semua yang menyaksikan tidak ada satupun  menangis, malah tersenyum dan berseri-seri karena saya menangis. Itu karena ternyata saya menangis merasakan sakit yang untuk pertama kali saya rasakan, oleh karena udara awal mulai masuk ke dalam paru-paru saya.

jaman dan waktu

Proses masuknya udara ke dalam paru paru itu penting sekali karena merupakan pertanda bahwa saya telah berubah menjadi bayi yang hidup, bukan bayi yang tidak berhasil hidup.

Kemudian setelah beberapa saat mulailah, sekali lagi ini kata orang, saya tampak lucu dan semua orang gemes senang bila melihat saya. Sama sekali lain dengan saat sekarang, yang tampak penuaan saja dimana-mana yang tertampil di seluruh tubuh saya.

Sekarang saya tampak lain malah telah bertambah dengan sedikit rambut jenggot pendek di leher saya bagian depan. Itupun fungsinya hanya untuk menutupi benjolan daging sebesar kelereng di sebelah kanan jakun. Ditutupi dengan rambut bukan untuk keperluan agar terlihat tampan akan tetapi daya upaya saya dalam  menghindarkan semua pertanyaan orang lain yang ingin tau mengapa ada segumpal daging bertumbuh di mana saya lakukan pembiaran tumbuhnya rambut di situ. Biasanya saya langsung diberi nasihat mengoperasinya. Padahal sudah tiga orang dokter yang memberi nasihat yang berlawanan: jangan dioperasi. Saya tentu saja mengikut nasihat dokter. Apalagi saya meyakini bahwa saya ini telah menerima dengan ikhlas bahwasanya  secara faktual saya memang menjadi tua. Itu kan cuma umur dan angka saja, sedikit sekali persoalan warna rambut. Kalau diperhatikan lebih jauh kan rambut saya masih tampak didominasi oleh warna hitam dan saya masih sanggup melakukan ritual harian jalan kaki.

Bisa sendiri atau bersama anjing saya berkelamin jantan jenis Golden Retriever umur 9 bulanan (terlahir tanggal 24 Oktober 2015).

Berat badannya mencapai 20 kilogram dan saya sudah tidak bisa dengan mudah hanya untuk menggendongnya, yaitu bilamana ingin menimbang beratnya. Saya menamakan dia Raden Mas Boku yang juga bertambah tua setiap detiknya, seperti halnya umur saya. Tetapi dia bertambah kuat sehingga sering saya sudah amat kurang mampu mengendalikannya bila sedang berjalan karena tarikannya yang makin kuat.

Ini makhluk yang cerdik serta pandai sehingga dia mampu mengenali kondisi saya yang tidak sekuat sebelumnya. Dia sering menunjukkan toleransinya dengan cara bertingkah-laku yang lebih lunak, terutama sekali bila terlihat akan ada sepeda motor mau melintas. Anda tentu maklum bahwa bangsa Indonesia yang terkenal disebut sebagai bangsa yang ramah tamah dan sopan santunnya terpuji, tetapi bisa berubah total sewaktu mengendarai sepeda motor dengan gerakan seakan dia itu super hero, yang berjalannya seperti superman atau spiderman Itu semua perubahan manusia yang antara lain adalah diri saya sendiri juga. Tidak lupa perubahan hewan, yang adalah peliharaan saya ini. Benda juga berubah seperti cuaca dan iklim. Benda yang seperti gunung yang tingginya kurang dari 500 meter maupun yang  +8000 meter seperti Himalaya di Asia atau Kilimanjaro di Afrika.

Semua berubah akan tetapi perubahannya tidak sama, karena biasanya  memerlukan pengamatan yang ribuan tahun. Tidak seperti cuaca dan iklim yang hanya dalam hitungan detik / menit saja bisa berubah.

Lunak berubah menjadi ganas / amat merusak porak poranda. Menurut pengamatan yang teliti, yang tidak mau berubah itu adalah manusia yang terlalu enak dan nyaman bahwa perubahan itu tidak terlalu perlu. Untuk apa pula berubah  toh tidak bisa pasti kearah yang lebih baik? Misalnya seseorang yang sudah terlalu kaya, merasa nyaman dan hampir semua keperluan duniawinya mudah terpenuhi, tentu enggan beralih dari tempat nyamannya. Itu sifat manusiawi. Tetapi tidak semua yang manusiawi itu bisa melawan perubahan seperti halnya menjadi tua dan menjadi kurang sehat dan tentu saja kemudian, siapapun dia, pasti meninggal dunia. Proses seperti itu cepat atau lambat dialami oleh siapapun dia, manusia manapun. Hewan tidak terkecuali.

Tidak ada satupun orang, yang sakti mandra gunapun setidaknya sampai saat ini, yang bisa menghentikan waktu, agar kita bisa berada di zona nyaman lebih lama atau apalagi seterusnya. Demikian soal waktu maka demikian pula soal jaman. Yang terjadi dalam masalah ini setelah sampai di titik nadir pasti gerak kehidupan akan menanjak naik dan sebaliknya juga terjadi ketika sampai di titik kulminasi.

Setiap hari saya merasakan dengan jelas dan segera dengan sigap, saya harus bereaksi cepat menyelaraskan diri sehingga tidak akan terlindas perubahan, yang biasa terasa dahsyat bagi orang seumur sebaya saya.

Saya mensyukuri, apapun yang bisa saya gunakan untuk beradaptasi dengan berakhirnya sebuah era, yang harus diganti dengan era mutakhir.

Bila saya tidak mampu dan tak bersedia untuk adaptasi, maka saya akan di”telan“oleh jaman. Saya juga akan mengalami tekanan pola pikiran yang berujung stress setara gangguan kejiwaan. Yang seperti ini sudah banyak bisa dilihat bahwa pada hari tuanya, sudah banyak yang membutuhkan perawatan hospice dan palliative care ketika menghadapi saat kematian. Dua jenis perawatan itu hanya mengurangi penderitaan tetapi tidak mampu menyembuhkan.

Sebagian besar dari mereka yang membutuhkan perawatan seperti ini adalah mereka yang kurang berusaha atau memang tidak mampu mencari keseimbangan pola hidupnya, ketika grafik kehidupannya sedang terjal menurunnya. Sudah cukup lama saya ikut memerhati masalah penuaan di dalam diri saya, akan tetapi ada saat-saat saya juga mengalami penurunan pada kondisi fisik dan juga mental. Dengan sepenuh daya saya upayakan agar saya bisa selaras dengan apa yang terjadi di sekeliling saya dan tidak melupakan kondisi diri sendiri. Sudah menjauhi pergaulan dengan beberapa yang sebelumnya adalah teman, tanpa rasa sesal. Itu adalah keputusan seorang yang sudah berumur demi untuk membawa suasana menyenangkan kehidupan diri sendiri. Kehidupan yang tidak akan lama lagi pasti akan berakhir. Yang saya utamakan saya juga tidak ingin membuat orang lain susah.

Tetapi bilamana hanya ada dua piihan, pastilah saya akan mengutamakan diri saya sendiri terlebih dahulu dan akan menghindarkan konfrontasi frontal.

Yang saya hindarkan ini ada yang paling ampuh telah saya pakai berkali-kali, yakni: mengampuni kesalahan sebagian besar, sebanyak mungkin, semua orang yang pernah berbuat kesalahan kepada saya. Saya ampuni mereka tanpa pemberi-tauan kepada mereka. Ada yang masih bisa bertemu dengan saya, secukupnya berbicara terbatas dan tertawa juga. Tetapi dengan berbuat seperti itu, saya tidak perlu banyak-banyak menyimpan dendam berupa-apapun, karena itu pasti menggerogoti fisik dan mental sendiri. Biasanya berakibat ringanlah rasa di hati.

 

Anwari Doel Arnowo  –  13 Juli, 2016 

 

Sekedar catatan kecil:

Bilamana anda sudah yakin kebenaran yang anda anut itu amat benar, maka anda sudah memasuki area di mana orang lain adalah salah. Pernahkah anda berpikir bahwa orang lain itu juga bisa memakai pola pikiran yang sama seperti anda, di mana anda adalah menjadi orang yang tidak benar? Ini circa yang tidak ada solusinya.—  A N W A R I

 

 

6 Comments to "Jaman dan Waktu"

  1. J C  3 August, 2016 at 09:43

    Sangat mencerahkan, as usual and as always, pak Anwari…

  2. Dj. 813  2 August, 2016 at 23:22

    Cak Doel . . .
    Nangis saat lahir didunia karena kaget .
    Ternyata dunia tidak seindah yang cak Doel bayangkan .
    Jadi kecewa dan nangis .
    Hahahahahahahaha . . . ! ! !
    Salam Sejahtera dari Mainz .

  3. Lani  2 August, 2016 at 06:36

    Akhirnya kenthir no 3 mencungul………

  4. James  2 August, 2016 at 05:51

    Wuih panjangnya., padshal sy sdg melalui masa2 ini

    Hadir Al meski telat dikit

  5. Alvina VB  1 August, 2016 at 22:29

    Ikutan menyimak sambil nungguin para kenthirs muncul.

  6. idm  1 August, 2016 at 16:58

    Pencerahan yg teramat sangat cerah. Makasih abah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.