Ritual Bantengan

Nyi EQ – di antara kepul asap kemenyan

 

Langit gelap, mendung menggantung tampak berat. Hujan sudah turun sejak beberapa jam sebelumnya bahkan beberapa hari sebelum-belumnya. Sungguh cuaca basah dan dingin. Kota Batu, Malang, Jawa Timur, bagaikan sebuah kulkas besar. Kabut sesekali turun menyelimuti kota yang basah kuyub dan menggigilkan tulang. Hujan dan angin merupakan pemandangan sehari-hari. Sinar matahari muncul sebentar pada pagi hari, kadang agak lama hingga siang, seperti sekedar mengingatkan keberadaannya. Lalu hujan mengambil bagiannya lebih lama. Dan udara malam benar-benar membekukan bulan yang pucat.

Di antara udara dingin berembun es, saya duduk nyaman dengan teman-teman di dalam sebuah rumah yang hangat namun mempunyai aura mistis yang sangat kuat. Kopi hitam pahit mengepulkan asapnya di antara cangkir-cangkir kopi yang lain, menambah kuat aura ghaib dalam rumah itu. Beberapa kepala banteng berhiaskan kain beludru hitam bersulam emas nampak memandang tajam padaku. Tak heran, rumah tersebut adalah milik mas Agus Riyanto, seorang jendral atau pawang utama ritual Bantengan dari kota Batu, Malang, yang sekaligus juga seorang perupa. Beberapa lukisan menghiasi dinding rumahnya.

Malam itu saya, mas Agus, mas Bagus, Nila, Abu (ketiganya adalah penari), Diyos dan mas Putut (keduanya adalah musisi etnography yang datang bersama saya dari Jogja) ngobrol banyak tentang festival ritual yang tengah digelar di kota Batu, Malang. Obrolan ngalor ngidul kian kemari, sampai pada obrolan tentang ritual Bantengan dan bagaimana para kepala banteng itu dibuat. Mas Agus juga seorang pembuat kepala banteng yang digunakan dalam ritual tersebut. Mas Agus sudah membuat ratusan kepala banteng. Dan semuanya melalui perjalanan panjang yang tidak mudah.

Menurut kisah mas Agus, setiap kepala banteng dibuat dari bahan kayu yang mati secara alami, bukan karena ditebang atau dibakar. Kayu-kayu tersebut berasal dari pohon yang sudah sangat tua hingga mati, tapi tidak lapuk. Kayunya masih sangat keras. Tanduk bantengnya juga diambil dari banteng yang mati tua, bukan mati karena dibunuh atau mati karena sakit.

Beberapa kepala banteng berisi tengkorak banteng asli. Cara memperoleh kayu dan tanduk bantengnya pun melalui “laku”, yaitu ritual khusus seperti puasa dan menjalani beberapa meditasi khusus. Wangsit akan datang dalam bentuk mimpi atau bisa juga dalam bentuk manusia yang datang memberitahu keberadaan pohon atau banteng yang mati secara alami tersebut. Tak jarang ada yang harus menunggu selama bertahun-tahun untuk bisa mendapatkan bahan yang cocok dan “benar”. Salah satu kepala banteng yang ada di rumahnya, yang selalu memandang tajam padaku, setiap kali aku datang berkunjung ke rumah mas Agus, dibuat dalam waktu 5 tahun (waktu yang diperlukan untuk menemukan bahan yang pas).

Kepala-kepala banteng bikinan mas Agus Banteng. Yang paling depan adalah kepala banteng yang sedang dalam proses, kepala dan tanduknya berasal dari banteng asli (tengkorak bantengnya sebelum dibungkus kayu).

Kepala-kepala banteng bikinan mas Agus Banteng. Yang paling depan adalah kepala banteng yang sedang dalam proses, kepala dan tanduknya berasal dari banteng asli (tengkorak bantengnya sebelum dibungkus kayu).

Salah satu dari dua kepala banteng yang ada di belakangnya (kepala yang sebelah kanan) adalah kepala banteng yang selalu memandang tajam kepadaku ketika saya berada di rumah mas Agus.

Setiap kepala banteng yang sudah berhasil dibuat akan diberi hiasan dan dimandikan dengan air bunga disertai sesaji yang terdiri dari kemenyan, kopi hitam pahit serta doa-doa khusus.

Selain sebagai pawang banteng, mas Agus juga senang menolong orang, mengobati banyak penyakit, terutama penyakit yang timbul akibat ilmu hitam. Percaya tidak percaya, namun saya sendiri merasakan aura mistisnya, saya juga mampu melihat sosok banteng berkekuatan besar yang bersemayam dalam kepala banteng terbesar yang ada di rumah mas Agus, terutama ketika saya datang ke rumah itu untuk pertama kalinya (kebetulan kopi yang selalu saya minum adalah kopi hitam pahit tanpa gula, konon kabarnya kopi seperti itu adalah kopi yang digunakan dalam ritual-ritual khusus, sementara bagi saya kopi yang saya sukai dan yang bisa saya minum memang kopi hitam tanpa gula).

Menurut mas Bagus, yang dikuatkan oleh mas Agus, di kota Batu ada komunitas yang disebut sebagai masyarakat Bantengan, yaitu masyarakat yang terdiri dari para pemain ritual Bantengan. Baik sebagai pawang-pawangnya, pemainnya (yang memakai kepala banteng), pemain pendukung (yang berada di bagian ekor) dan para pengawalnya (yang memegang setiap banteng dengan tali, setiap banteng dipegang oleh minimal 2 orang). Jumlah anggota masyarakat Bantengan ini ribuan. Konon kepala banteng yang dimiliki oleh masyarakat Bantengan berjumlah 3600 kepala, sehingga asumsi jumlah masyarakatnya berkisar antara 5000-6000 orang. Banyak sekali! Mas Agus Riyanto adalah pimpinan dari semua pawang banteng yang ada di Jawa Timur. Beliau terkenal dengan sebutan Agus Banteng.

Sebagian dari masyarakat Bantengan sedang mengadakan kirab/pawai

Sebagian dari masyarakat Bantengan sedang mengadakan kirab/pawai

Sosok mas Agus Banteng pun tampak kokoh. Selalu berpakaian serba hitam. Rambutnya yang panjang berombak tergerai menambah kesan keangkerannya. Tubuhnya tidak terlalu tinggi, gempal dan tampak kuat. Senyumnya sesimpul, matanya setajam mata banteng. Cara bicaranya pelan, santun, tegas. Tidak terlalu keras tapi juga tidak terlalu pelan. Di usianya yang hampir mencapai 50 tahun, beliau tampak bugar dan sumarah.

Saat sedang menjadi pawang, mas Agus selalu melengkapi dirinya dengan dua cambuk utama, yang satu cambuk besar, panjang dan (ternyata) sangat berat, gagangnya dibungkus dengan warna merah garis-garis putih. Sedangkan cambuk satunya lebih kecil dan lebih pendek, serta tidak berat, berwarna putih mulai dari pangkal hingga ujungnya. Kadang kala ia juga memegang tiga cambuk sekaligus. Cambuk-cambuk tersebut jika dilecutkan ke udara akan menimbulkan suara menggelegar seperti petir, sangat keras.

Tak jarang muncul percikan api di udara seperti kembang api, saking kuatnya lecutan diayunkan. Tidak semua pawang bisa menimbulkan percikan api, namun yang jelas suara cambuk-cambuk mereka sangat keras dan tajam. Saya pernah mencoba melecutkannya, dan hanya bisa tertawa ketika suara yang ditimbulkan tak lebih seperti suara desisan angin saja. Tak ada suara cetar membahana. Teman-teman saya yang juga mencobanya, mendapatkan hasil yang sama denganku, padahal cambuk yang kami pakai adalah cambuk yang kecil.

Mas Bagus, Nila dan Abu sudah sangat lama mengenal mas Agus, bahkan sudah seperti anaknya sendiri. Mas Putut, teman saya dari Jogja juga sudah lumayan lama mengenalnya. Hanya saya dan Diyos yang baru pertama kali itu bertemu dan berkenalan. Meskipun demikian hubungan kami cepat menjadi erat dan hangat. Bahkan saya diminta untuk ikut berkolaborasi menari dalam acara penutupan ritual Bantengan bersama dengan mereka. Tentu saja ini tawaran yang tidak saya sia-siakan.

ritualbantengan (3)

Sosok mas Agus “Banteng” Riyanto saat sedang menjadi pawang Banteng

ritualbantengan (4)

Mas Agus “Banteng” Riyanto dengan tiga pecut (cambuk) saktinya

Sekilas mengenai ritual Bantengan, seni tradisional Bantengan adalah sebuah seni pertunjukan budaya tradisi yang menggabungkan unsur sendra tari, olah kanuragan, musik, dan syair/mantra yang sangat kental dengan nuansa magis. Pelaku Bantengan yakin bahwa permainannya akan semakin menarik apabila telah masuk tahap “trans” yaitu tahapan pemain pemegang kepala Bantengan menjadi kesurupan arwah leluhur Banteng (Dhanyangan).

Seni Bantengan telah ada dan dikenal sejak jaman Kerajaan Singasari  (situs  candi  Jago–Tumpang) dan  sangat  erat kaitannya dengan Pencak Silat. Walaupun pada masa kerajaan Ken Arok tersebut, bentuk kesenian bantengan belum seperti sekarang, yaitu berbentuk topeng kepala bantengan yang menari. Karena gerakan tari yang dimainkan mengadopsi gerakan Kembangan pencak silat.

Tidak  aneh memang,  sebab  pada  awalnya  Seni  Bantengan  adalah  unsur hiburan  bagi  setiap  pemain  Pencak  Silat  setiap  kali  selesai melakukan  latihan  rutin. Setiap grup Bantengan minimal mempunyai 2 Banteng seperti halnya satu pasangan yaitu Bantengan jantan dan betina.

Walaupun berkembang dari kalangan perguruan Pencak Silat, pada saat ini Seni Bantengan telah berdiri sendiri sebagai bagian seni tradisi sehingga tidak keseluruhan perguruan Pencak Silat di Indonesia mempunyai Grup Bantengan dan begitu juga sebaliknya.

Perkembangan kesenian Bantengan mayoritas berada di masyarakat wilayah pinggiran kota di daerah lereng pegunungan se-Jawa Timur. tepatnya Bromo-Tengger-Semeru, Arjuno-Welirang, Anjasmoro, Kawi dan Raung-Argopuro, juga di kota-kota lain seperti kota Mojokerto dan Batu, Malang, yang merupakan kota-kota di lereng pegunungan.

Permainan  kesenian  bantengan  dimainkan  oleh  dua orang  yang berperan  sebagai  kaki  depan  sekaligus  pemegang  kepala banteng dan pengontrol gerak banteng serta kaki belakang yang juga berperan sebagai ekor bantengan. Kostum bantengan biasanya terbuat dari kain hitam dan topeng yang berbentuk kepala banteng yang terbuat dari kayu serta tanduk asli banteng.

Bantengan ini selalu diiringi oleh sekelompok orang yang memainkan musik khas bantengan dengan alat musik berupa gong, kendang, dan lain-lain. Setiap satu banteng dimainkan oleh dua orang laki-laki, satu di bagian depan sebagai kepalanya, dan satu di bagian belakang sebagai ekornya, biasanya, lelaki bagian depan akan kesurupan, dan orang yang di belakangnya akan mengikuti setiap gerakannya.

Tak jarang orang di bagian belakang juga kesurupan. tetapi, sangat jarang terjadi orang yang di bagian belakang kesurupan sedangkan bagian depannya tidak. Pemain bantengan dibantu agar kesurupan oleh orang (laki-laki) yang memakai pakaian serba merah yang biasa disebut abangan dan pakaian serba hitam yang biasanya di sebut irengan, orang-orang inilah yang lazim disebut pawang bantengan.

Bantengan juga selalu diiringi oleh macanan. kostum macanan ini terbuat dari kain yang diberi pewarna (biasanya kuning belang oranye), yang dipakai oleh seorang lelaki. macanan ini biasanya membantu bantengan kesurupan dan menahannya bila kesurupannya sampai terlalu ganas. Namun tak jarang macanan juga kesurupan.

Ornamen yang ada pada Bantengan yaitu:

-Tanduk  banteng

-Kepala banteng yang terbuat dari kayu (waru, dadap, miri, nangka,  loh, kembang, dll)

-Mahkota Bantengan, berupa  sulur wayangan dari bahan kulit atau kertas

-Klontong  (alat bunyi di  leher)

-Keranjang penjalin, sebagai badan (pada daerah tertentu. Seperti yang ada di kota Batu, Malang, milik mas Agus Banteng) hanya menggunakan kain hitam sebagai   badan penyambung kepala dan kaki belakang)

-Gongseng (kaki)

-Keluhan  (tali kendali)

Dalam setiap pertunjukannya yang disebut “gebyak”, setiap banteng didukung oleh beberapa orang, yaitu:

-Dua orang Pendekar pengendali kepala bantengan (menggunakan tali tampar)

-Pemain Jidor, gamelan, pengerawit, dan sinden. Minimal 1 (satu) orang pada setiap posisi

-Sesepuh atau pawang, yaitu orang yang dituakan. Mempunyai kelebihan dalam hal memanggil leluhur Banteng (Dhanyangan) dan mengembalikannya ke tempat asal

-Pamong dan pendekar pemimpin yang memegang kendali kelompok dengan membawa kendali yaitu Pecut (Cemeti/Cambuk)

-Minimal ada dua Macanan dan satu Monyetan sebagai peran pengganggu bantengan.

Lahirnya kesenian bantengan ada dua versi, yaitu :

  1. Berasal dari Batu
  2. Berasal dari Cleket (Made) dan berkembang pesat di daerah Pacet

Menurut catatan yang bersifat dari mulut ke mulut, dimulai dari seorang tua bernama Pak Saimin berasal yang dari Batu, seorang pendekar yang membawa kesenian ini dan bergabung dengan Pak Saman (kelompok Siliwangi) dari Pacet dan berkembang di Pacet sampai sekarang ini.

Sementara itu kisah sejarah yang berasal dari Pacet menyebutkan bahwa menurut cerita dari Pak Amir anak dari Mbah Siran yang menghidupkan kesenian Bantengan ini sampai sekarang di Claket. Akhirnya kesenian ini hidup subur sampai sekarang di Pacet dan Claket.

Suatu ketika Mbah Siran dari Claket itu menemukan bangkai banteng yang tergeletak di tepi sungai Kromong tepi hutan. Konon kabarnya ini terjadi karena perkelahian dua ekor banteng. Seekor kalah dan mati menjadi bangkai. Supaya tidak mubazir oleh Mbah Siran bangkai banteng ini diambil khusus kepalanya (tengkoraknya) dibersihkan dan dibawa pulang.

Kalau kepala menjangan untuk hiasan rumah, sampai sekarang masih banyak terdapat di rumah-rumah lama sebagai lambang atau simbol keberadaan seseorang, tetapi tengkorak banteng yang berkesan gagah dan berwibawa ini mengilhami Mbah Siran untuk melengkapi kesenian Bantengan yang tidak menarik lagi. Awalnya tengkorak itulah yang langsung diambil untuk dipakai sebagai “topeng” Bantengan melengkapi seni pencak silat dan akhirnya karena menarik, hanya Bantengan saja yang lestari sampai sekarang. Bantengan berdiri sendiri tanpa pencak silat lagi. Pada masa sekarang, pencak silat diganti oleh tari-tarian, seperti yang ada pada kelompok bantengan mas Agus “Banteng” Riyanto.

Kedua versi itu sulit dilacak kebenarannya, mana yang lahir lebih dulu. Tetapi jelas sekali tempat-tempat/wilayah yang terus melestarikan kesenian Bantengan ini adalah Pacet dan Batu (sering mengadakan Festival Bantengan dan upacara tetap setiap memperingati hari kemerdekaan RI), cara swasembada layaknya kesenian tradisional lainnya di Indonesia.

Kedua versi itu masuk akal kalau dihubungkan dengan geografi kedua kawasan tersebut. Masih banyak terdiri dari hutan belantara dan gunung. Sudah tentu Bantengan itu identik dengan hutan, asal muasal tempat hidup aslinya para banteng.

Menurut cerita mas Agus Banteng dan beberapa tokoh bantengan yang lain, seni Bantengan ini asal mulanya dari seni persilatan yang tumbuh subur di surau-surau atau langgar (mushollah).

Kesenian Bantengan awalnya untuk beladiri bagi pemuda di surau-surau. Tetapi akhirnya menjadi kegiatan seni untuk merayakan upacara perkawinan, sunatan atau bersih desa bahkan saat sekarang ini kesenian ritual bantengan menjadi ajang event nasional. Mas Agus Banteng pernah membawakan ritual kesenian bantengan ke Sydney dan Malaysia beberapa tahun yang lalu, namun tentu saja beliau tidak membawa ratusan banteng, hanya sekitar 20 banteng (atau sama dengan 50 pemain) dan 15 penari.

Hari terakhir Festival Ritual, mas Agus Banteng menurunkan sekitar 200 banteng ke lapangan tempat acara diselenggarakan. Dan itu berarti sekitar 500 orang masyarakat Bantengan hadir di sana. Hujan yang seharian turun selama berhari-hari, hujan yang gagal ditolak oleh para pawang hujan yang disewa panitia festival, mendadak berhenti selama acara bantengan berlangsung. Seolah-olah hujan turut khidmat menyaksikan ritual bantengan.

ritualbantengan (5)

Kedatangan “para banteng” di lapangan Kusuma Agro, Kota Batu, Malang dalam acara Festifal Ritual Artnival

ritualbantengan (6)

Para pawang duduk di panggung menanti upacara dimulai, salah satu pawang ternyata masih sangat muda, usianya baru 8 tahun, merupakan pawang termuda, ayahnya juga seorang pawang dan juga pemain bantengan.

ritualbantengan (7)

Para pawang duduk di panggung menanti upacara dimulai, salah satu pawang ternyata masih sangat muda, usianya baru 8 tahun, merupakan pawang termuda, ayahnya juga seorang pawang dan juga pemain bantengan.

Ritual Bantengan dimulai dengan upacara sesajian. Kemenyan dibakar, air bunga-bunga disebarkan, mantra dibacakan. Banteng-banteng dijajarkan untuk diurapi oleh para pawang, dengan puncaknya oleh mas Agus.

ritualbantengan (8)

Beberapa banteng yang berjajar di bawah panggung menunggu untuk diurapi oleh pawang

ritualbantengan (9)

Beberapa banteng yang berjajar di bawah panggung menunggu untuk diurapi oleh pawang

ritualbantengan (10)

Masyarakat Bantengan duduk bersama para bantengnya siap untuk diurapi

ritualbantengan (11)

Mas Agus Banteng sedang mengurapi para banteng

Tetabuhan mulai terdengar rampak dan rancak, terdiri dari beberapa jenis gamelan, kendang dan voices, mirip seperti kuda kepang, jathilan atau reog, namun yang ini lebih bersifat kolosal.

Banteng-banteng yang siap dilepas ke lapangan

Banteng-banteng yang siap dilepas ke lapangan

Setelah upacara pengurapan selesai, banteng-banteng tersebut satu persatu dilepas ke lapangan. Satu persatu pula mereka mulai “ndadi” atau possesed/trance atau kesurupan. Tingkah lakunya seperti banteng, sebab roh yang dipanggil adalah roh banteng. Menurut yang saya dengar, sebagian adalah roh-roh dari banteng yang diambil untuk dibuat kepala banteng. Ada beberapa banteng yang galak dan menyerbu stage lalu menubrukkan kepalanya dengan sangat keras hingga stage yang begitu besar dan menjulang itu tergetar.

ritualbantengan (13)

Banteng ini menyeruak menubruk stage. Tanduknya begitu panjang dan tajam

ritualbantengan (14)

Setiap satu banteng dikawal oleh minimal 2 orang, supaya tidak kabur. Para pengawal banteng ini juga dibekali kekuatan tenaga dalam, untuk bisa menguasai banteng yang liar dan kadang-kadang mengamuk

ritualbantengan (15)

Pemain bantengan yang sudah kesurupan tapi masih “jinak”

Saya mondar-mandir di lapangan bersama teman-teman yang lain, menonton dengan penuh semangat sekaligus takjub dan takut. Bagi mata indigo seperti saya, lapangan tersebut sangat penuh dengan spirit yang bentuknya macam-macam. Sebagian besar spirit banteng, ada di antaranya yang terlihat sangat besar, mungkin 10x besar gajah, dengan tanduk yang amat sangat besar dan mata merah menyala, mondar-mandir di antara keramaian. Udara tidak lagi dingin.

Langit bersih dan terang. Sisa-sisa air yang tersimpan di rerumputan memberikan efek fantastis ketika cambuk-cambuk yang diayunkan turun menyentuh tanah basah. Energi yang menguar sangat besar. Saya sendiri hampir menjadi sesak nafas karena besarnya energi yang sesekali berbenturan dengan energi saya, yang secara otomatis membentuk semacam pertahanan diri. Saya diberi minum air putih yang sudah diberi doa oleh mas Agus Banteng, katanya untuk membuat saya lebih kuat dan tidak terpengaruh oleh banyaknya spirit yang berkeliaran di lapangan saat itu.

Tetabuhan mengalunkan bebunyian yang bernada ritmik, membuat suasana mistis makin kuat. Sesekali terdengar suara seruan berbahasa Arab, semacam doa-doa yang ditembangkan oleh laki-laki dalam suara yang dalam, seperti keluar dari tempat yang sangat jauh.

Beberapa kali ada banteng-banteng yang berlari dan mengitari kami, ada juga yang tiba-tiba ambruk di hadapan kami, lalu dengan segera dibangunkan oleh para pengawalnya dan dibawa pergi. Kami agak dag dig dug juga, tapi tetap tidak ingin meninggalkan lapangan hingga acara selesai. Di sela-sela para banteng yang berkeliaran, ada pemain yang kesurupan roh monyet (pemain ini memang sengaja dibuat kesurupan dengan roh monyet, dan berfungsi sebagai pengganggu banteng), orang tersebut mampu memanjat menara panggung yang tinggi dengan lincah dan cepat, sehingga terlepas dari kejaran sang banteng, namun hal tersebut membuat bantengnya marah dan menubrukkan kepalanya ke arah kaki-kaki penyangga panggung, sehingga harus ditarik dan dijauhkan oleh kedua orang pengendalinya. Adegan yang berlangsung tak lebih dari 5 menit itu cukup membuat panik beberapa kru panggung.

Durasi masing-masing pemain berbeda-beda. Ada yang bermain lama, ada yang bermain singkat. Para pawang mengetahuinya dengan pasti. Setiap kali ada yang kelelahan karena (mungkin) rohnya begitu berat, maka seorang pawang akan membantunya dan mengeluarkan roh banteng dari tubuhnya. Jika rohnya terlalu kuat, maka mas Agus akan dipanggil untuk menanganinya.

Pemain yang sedang ditangani oleh pawang dan mas Agus, mengeluarkan roh banteng dari tubuhnya

Pemain yang sedang ditangani oleh pawang dan mas Agus, mengeluarkan roh banteng dari tubuhnya

Para pemain yang sudah dibebaskan dari roh banteng akan diistirahatkan sampai dia siap untuk bermain kembali. Mereka tidak akan berhenti hingga ada seruan panggilan yang mengisyaratkan bahwa acara sudah harus diakhiri. Biasanya akan berakhir tepat sebelum adzan maghrib. Durasi keseluruhan acara bantengan hari itu sekitar 4 jam, dari jam 2 siang hingga jam 6 sore. Lengkap dari awal hingga akhir.

Yang mengherankan adalah ketika acara bantengan selesai, hujan turun perlahan tapi pasti, mulai dari rintik-rintik hingga deras. Saat hujan menjadi deras, masyarakat bantengan beserta para bantengnya sudah lenyap dari lapangan. Kami istirahat, makan malam dan memperisapkan acara penutupan, yaitu kolaborasi tari, musik dan pertunjukan lanjutan bantengan, tapi kali ini tidak menurunkan para banteng, melainkan para penari (termasuk saya) dan penari api. Lagi-lagi hujan yang turun begitu deras mendadak berhenti saat acara kolaborasi mulai dipersiapkan. Bahkan udara pun menghangat.

Kolaborasi ini terdiri dari tari garapan (saya, Nila, mas Bagus dan Abu), penari-penari api yang dikendalikan oleh cambuk mas Agus, diiringi tetabuhan dari berbagai macam alat musik, mulai dari gamelan lengkap yang berkolaborasi dengan sasando Timor (pemainnya adalah Ganzer Lana dari Flores), flute barat (pemainnya adalah Memet Chairul Slamet dari Madura-Jogja), biola Jepang (pemainnya adalah Junichi Usui, dari Jepang), seruling-seruling Timor, dengan voices yang melantunkan tembang-tembang mantra. “Konser” ini dipimpin oleh Joko Porong, seorang komponis, musisi dan conductor handal dari Surabaya. Secara keseluruhan kolaborasi ini sangat ciamik, mengingat kami tidak melakukan latihan sama sekali. Semuanya terjadi apik dan harmonis langsung, fresh from the stage!

ritualbantengan (17)

Para musisi yang bermain dalam acara kolaborasi

ritualbantengan (18)

Para penari api sedang beraksi

ritualbantengan (19)

Saya dan para penari sedang menari sambil membawa semacam dupa panjang di kedua belah tangan kami

ritualbantengan (20)

Saya dan para penari sedang menari sambil membawa semacam dupa panjang di kedua belah tangan kami

ritualbantengan (21)

Ritual tarian (kolaborasi) yang menutup ritual bantengan

Ritual tarian ini memang (harus) selalu diadakan setiap kali acara Bantengan selesai digelar. Ritual tarian adalah sebagai pengganti pencak silat yang pada masa lalu selalu mendampingi tradisi bantengan (seperti yang telah disebutkan di atas). Berbeda dengan reog maupun jaran kepang atau jathilan yang menampilkan ritual tarian sebelum acara dimulai.

Dalam Bantengan, ritual dibuka dengan mempersiapkan seluruh pemain dan banteng, menggunakan berbagai macam sesaji dan doa-doa disertai semacam “uji coba” cambuk yang dilecutkan dan diputar-putar diudara oleh para pawang, dan ditutup dengan ritual tarian. Dalam hal ini ritual tarian tidak mempunyai bentuk baku. Biasanya mengambil salah satu bentuk ritual Jawa dan diolah sendiri oleh para penarinya. Seperti misalnya dalam ritual tari penutup kali ini, yang merupakan kolaborasi para seniman musik dan tari, ritual yang diambil adalah ritual “pecah endhog”, yaitu pecahnya telur yang dilakukan pada saat ada upacara penikahan adat Jawa. Namun yang pasti apapun tema tariannya, yang harus ada adalah penari-penari api, yang terdiri dari 2 kelompok.

Kelompok pertama terdiri dari 3 orang gadis yang membawa semacam holahop besi dengan api-api disekelilingnya (saya tidak tahu bagaimana caranya mereka memegang holahop tersebut), diputar-putar di udara sambail sesekali dilecut oleh cambuk putih mas Agus Banteng. Kelompok kedua terdiri dari 5 orang laki-laki muda yang membawa tongkat besi dikedua belah tangannya. Tongkat besi tersebut menyala-nyala pada kedua ujungnya. Sesekali mereka akan menyemburkan api dan memutar-mutar tongkatnya.

Hampir jam sembilan malam ketika acara ritual tersebut berakhir. Kostum saya sebagian basah oleh rumput yang menyimpan air hujan, kaki telanjang saya basah dan kotor oleh tanah lapangan. Hawa tidak terlalu panas pada saat menari, tapi begitu selesai, baru terasa udara mulai menjadi dingin. Kami cepat-cepat kembali ke tenda untuk berganti pakaian. Dan lagi-lagi, begitu kami selesai, hujan mulai turun rintik-rintik. Saat kami kembali ke hotel, hujan sudah menjadi deras. Mandi air panas dan secangkir kopi panas serta nasi goreng adalah hal ternikmat saat itu. Dengan dikelilingi teman-teman dan obrolan asyik, kami menutup hari dengan semangat para Banteng.

 

Foto dari berbagai sumber :

Foto koleksi pribadi mas Agus Riyanto

Foto oleh Junichi Usui

Foto oleh bapak Herry

Foto oleh bapak Memet Chairul Slamet

Foto oleh Sekar

 

 

12 Comments to "Ritual Bantengan"

  1. Lani  2 August, 2016 at 14:08

    EQ: aku jd diingatkan sama kang Anoew……….dimana dia skrng ya ndak pernah mencungul! Memang itu kerjaan si akang mlayu bukannya menjauh tp malah mendekat………..hahaha

  2. Lani  2 August, 2016 at 12:12

    KANG DJAS: sdh seharusnya begitu sesama kenthirs harus kompak, sehati dan setujuan hahaha………

  3. Lani  2 August, 2016 at 12:11

    EQ, AKI BUTO: grombyaaaaaaaaang…….aku nganti kejengkang soko kursiku.

    Aku ndak heran lurah gemblung jelas paling sregep mengomentari hal2 yg spt ini.

    Tidak hanya banteng/kebone lari tunggang langgang lintang pukang krn kesambet akan ttp krn wedi lurahe komat-kamit melebihi semua kesaktian yg digelar diacara bantengan……

  4. EQ  2 August, 2016 at 11:10

    wuahahahhaha…kalo Nyai Kona dan Nyi EQ kompak kesurupan sing jelas ki banteng e dho bubar tapi tetep ana sing datang mendekat malahan, kang Saru Anung bakal terbirit-birit mendekat dengan sarung ndol-ndol…kowar-kawir nungsang jempalik

  5. J C  2 August, 2016 at 11:05

    Nyai EQ, kalau kowe ora mungkin kesurupan. Seluruh penghuni dunia halus wis keder ndredeg liat dirimu…apalagi kalau Mahagurumu yang dari Kona sana itu…wis semua banteng ditanggung mlayu bubar, terbirit-birit, lintang pukang tunggang langgang njempalik jungkir liat Nyai Kona datang dengan bikini kiwir-kiwirnya…

  6. EQ  2 August, 2016 at 09:45

    Halooo…apa kabar semua…semoga semua sehat dan tidak ada yang ikut kesurupan hahhahaha….

    mbak Alvina, ritual bantengan-nya mas Agus Banteng ini pernah ditanggap di Sydney tahun 2014, yang datang buanyaaaaak dan konon kabarnya seru juga…karena kepala banteng yang dibuat khan gak make mbunuh-mbunuh banteng, mereka mengambil kepala dan tanduk banteng yang udah mati karena tua atau sakit, jadi malah seperti memelihara mereka untuk tetap “hidup” hehehehhe
    Kalo untuk urusan kesurupannya yaa….hahhaha…gak tau juga. Saya cuma nari thok, mbak….ngeri juga kalo sampai kesurupan hiiii

    James, ini beda lho dengan torero itu…gak ada unsur bunuh2annya hehehhe…

    mbak Lani, hehehhe…aku sebenarnya juga gak terlalu berani sih, tapi karena ada pawang yg kukenal, jadi yakin aja hahhaha….

    DjasMerahputih, hahhaha…para sudrun kenthir memang selalu kompak…itu pasti

  7. djasMerahputih  2 August, 2016 at 07:29

    Liputan yang seru dan mistis. Hujanpun ikut berkolaborasi. Sangat kompak, sekompak para Kenthir..

  8. Lani  2 August, 2016 at 06:32

    EQ: Buatku nonton yg ada acara kerasukan roh, roh apapun aku merasa ngeri……..

    Akhirnya dua kenthir menguncul…………yg dr OZ dan Can. Ada jug sih animal right di Hawaii, kemungkinan bs ada demo klu ada acara semacam ini atau malah sebaliknya mereka pd nonton krn sesuatu yg beda, inik dan nyentrik………..

  9. James  2 August, 2016 at 05:59

    Tambah seru kalau ada ritual Torero nya

  10. Alvina VB  1 August, 2016 at 22:40

    EQ: Thanks buat liputan ritual bantengan di Malang. Pernah denger ceritanya duluuuu, ttp ceritanya di sini lengkap euy…EQ ikutan kesurupan gak? he…he….atau cuma jadi penari aja?
    Kl ritual bantengan terjadi di sini, itu para ‘animal rights’ udah pasti demo di jln dah…gak tahu di Kona/Aussie ada gak kel. ‘animal rights’?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.