Melihat dengan Hati (2)

djas Merahputih

 

Bingkai berita tak lain adalah kacamata kuda dari Sang Kusir kepada kuda penghela kereta. Bingkai berita menggiring opini sehingga asosiasi terhadap panas hanyalah, sekali lagi hanyalah, api. Jika api itu panas maka segala sesuatu yang panas sudah pasti bersumber dari api. Tak lain tak bukan..!!

Mekanisme asosiasi dalam otak manusia sangat rentan dimanipulasi melalui penyesatan informasi, melalui framing atau pembingkaian berita. Contoh kecil bisa kita amati saat peristiwa bom Sarinah yang dibingkai menjadi berita tentang sepatu bermerek. Tafsir setiap orang tentu berbeda-beda. Hanya saja, membahas potongan kecil sebuah kasus secara berulang dan terus-menerus, sampai kapan pun tak akan mampu memberikan informasi akurat tentang peristiwa apa yang sesungguhnya terjadi di hari itu.

Asosiasi logis yang direduksi dan dibingkai untuk tujuan tertentu juga bisa kita temukan pada dua peristiwa yang disebutkan sebelumnya. Ken Arok meminjamkan keris Mpu Gandring kepada Kebo Ijo. Setelah asosiasi/pertalian keris dan Kebo Ijo terbentuk, maka siapapun yang mengeksekusi keris Mpu Gandring pada tubuh seseorang, seluruh khalayak akan meyakini bahwa pelakunya sudah pasti Kebo Ijo. Di sini, perangkap asosiasi bekerja sangat sempurna, apalagi di jaman itu belum ditemukan teknologi penginderaan seperti CCTV.

Dalam kasus PKI dan pembunuhan para kiyai/umat Islam malah terjadi serentetan asosiasi logis yang bersumber dari framing berita saat itu. Beberapa di antaranya adalah; PKI = Faham Komunis, Atheis = Anti agama. Karena PKI membantai kaum agama (Islam) maka PKI = Atheis. Karena PKI = Atheis maka Faham Komunis = Faham Atheis. Asosiasi liar nyatanya berkembang hingga pada kesimpulan prematur bahwa PKI = Sukarno.

Bagi yang memiliki data bahwa pemberontakan dilakukan oleh hanya segelintir aktifis PKI dan bahwa faham komunis bermula dari pemberontakan kelas pekerja kepada kaum modal; sama sekali tak berkaitan dengan urusan Tuhan; maka mengaitkan Atheisme dan Komunisme tentu merupakan hal yang menyimpang dari logika. Namun, fakta sejarah memberi pelajaran bahwa mekanisme asosiasi dalam otak manusia merupakan titik paling rentan untuk dimanipulasi. Asosiasi adalah jalan pintas yang mengabaikan alur logika dalam otak manusia. Mekanisme asosiasi, hingga hari ini, nyatanya masih mendominasi proses pengambilan keputusan bagi setiap individu yang miskin wawasan dan minim pengalaman.

Di tengah kendali informasi yang tak menentu, rakyat sebagai tujuan akhir alur informasi berada pada situasi rentan dan semakin tak berdaya. Jaringan informasi alternatif yang mandiri menjadi satu-satunya harapan untuk memperoleh berita akurat tentang berbagai hal. Namun tetap saja, pesan berantai masih akan membuka ruang bagi reduksi maupun penyimpangan informasi tanpa sengaja di setiap titik sambung alur penyampaian berita. Kesalahan ketik satu hurufpun sudah berpotensi mengaburkan eksistensi sebuah data.

Kita mungkin akan pesimis melihat kenyataan ini. Namun kesadaran bahwa Tuhan, selain menciptakan akal bagi manusia, juga melengkapi sebuah organ penting bagi makluk paling sempurna ciptaanNya ini, maka sikap pesimis nampaknya harus segera dibuang jauh-jauh. Organ itu bernama hati (non fisik).

Di sanalah setiap informasi bersemayam. Informasi yang bersumber dari hati akan menyasar ke hati. Segala yang berasal dari hati akan sampai ke hati. Apalagi hati pada setiap orang juga memiliki mata, itulah mata hati. Mata hati/bathin mampu meneropong informasi apapun hingga ke sumber-sumber utamanya.

Jika berita atau informasi tentang suatu peristiwa begitu gaduh dan juga membingungkan, sementara wawasan dan pengalaman pun kita tak punya, maka kita masih bisa mengandalkan mata bathin kita masing-masing sebagai pedoman. Di sanalah kebenaran informasi sesungguhnya akan nampak. Disanalah pula keyakinan untuk memutuskan pilihan akan muncul dengan tegas.

Pertanyaannya hanyalah; apakah mata hati kita masih mampu melihat? Apakah kita tak tergolong manusia-manusia yang dibutakan hatinya? Atau, apakah debu yang menutupi hati itu masih senantiasa kita bersihkan melalui doa dan ritual kerohanian kita masing-masing?

Sila dijawab sendiri. Semoga jawaban kita masih bisa mengundang senyum kebahagiaan, senyuman dari generasi para penerus bangsa ini. Yah, paling tidak senyum dari Maudy Ayunda sajalah..!

 

 

About djas Merahputih

Dari nama dan profile picture'nya, sudah jelas terlihat semangat ke-Indonesia-annya. Ditambah dengan artikel-artikelnya yang mengingatkan kita semua bahwa nasionalisme itu masih ada, harapan itu masih ada untuk Indonesia tercinta. Tinggal di Sulawesi, menebar semangat Merah Putih ke dunia melalui BALTYRA.

My Facebook Arsip Artikel

13 Comments to "Melihat dengan Hati (2)"

  1. djasMerahputih  4 September, 2016 at 16:58

    Yaaah… Maudy Ayunda ngga jadi senyum dong..

  2. J C  3 September, 2016 at 09:54

    Sayangnya sekarang semakin banyak yang tidak punya hati…

  3. djasMerahputih  16 August, 2016 at 07:22

    Inakawa:
    Betul banget. Mata hati itu indikator kesadaran manusia sebagai hamba Sang Pencipta.

    Makasih sudah mampir.

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.