Cerpen-cerpen China Paska Revolusi Kebudayaan

Handoko Widagdo – Solo

 

Judul: Kisah Lelaki Tua dan Seekor Anjing

Penyunting: Zhu Hong

Penterjemah: Iwan Fridolin

Tahun Terbit: 1991

Penerbit: Yayasan Obor Indonesia

Tebal: xxx + 270

ISBN: 979-461-077-1

lelakituadananjing

 

Kesusasteraan memiliki peran yang sangat penting di China. Peran kesusasteraan di China sering berhubungan dengan kebijakan negara sehingga kerap kali bersinggungan dengan masalah politik. Keberanian para cendekiawan – dalam hal ini termasuk sastrawan, sudah terbukti dalam sejarah panjang bangsa China. Sastrawan dan cendekiawan sering menjadi korban sebuah rezim karena dianggap sebagai pembangkang. Ratusan sarjana Kongfusianis dibunuh oleh Qinshi Huangdi karena tidak mau tunduk dengan aturan baru. Banyak cendekiawan dan sastrawan yang dipenjarakan saat Mao membuat kebijakan “Lompatan ke Depan”. Bahkan sampai sekarang, masih ada sastrawan China yang harus dipenjara atau hidup di negeri lain di luar China karena karyanya dianggap tidak sejalan dengan kebijakan politik negara. Sastra China selalu menggambarkan apa yang sebenarnya terjadi di kalangan rakyat.

Kumpulan cerpen ini adalah karya-karya yang dihasilkan di era Deng Xiao Ping memimpin China. Cerpen-cerpen dengan latar belakang pasca era “Lompatan ke Depan” Mao dari wilayah barat China. Era ini ditandai dengan berubahnya genre penulisan sastra, yaitu hilangnya romantisme yang berlebihan, tokoh sosialis positif yang digantikan dengan tokoh-tokoh baru dari kalangan petani dan pertentangan antara modernisasi dengan kearifan lokal. Era ini juga ditandai dengan kemiskinan, irasionalitas dan absurditas petani. Pada umumnya karya-karya di era ini menunjukkan akibat yang buruk Revolusi Kebudayaan kepada para petani di pedesaan.

Ciri lain adalah sikap hati-hati dari para sastrawan dalam melihat manfaat, terutama di pedesaan dari perubahan politik di era Deng Xiaoping. Wilayah barat yang lebih terbuka dan kurang pengawasan membuat pelaksanaan aturan-aturan negara tidak terlalu ketat, meski aturan tersebut sampai juga di sana. Wilayah barat menjadi tempat berseminya warna baru sastra di awal era Deng Xiao Ping. Di wilayah inilah perjumpaan kebijakan politik dengan tradisionalitas masyarakat pedesaan China menemukan bentuknya yang unik.

Kumpulan cerpen ini mula-mula diterbitkan dalam Bahasa Inggris untuk para pembaca Barat. Baru kemudian diterbitkan dengan Bahasa Indonesia untuk pembaca Indonesia. Prakata yang diberikan oleh Zhu Hong dan pengantar dari A Dahana sangat membantu memahami tentang delapan cerpen yang terkumpul dalam buku ini. Zhu Hong membabarkan mengapa dia memilih delapan cerpen ini. Ia menyampaikan kriteria-kriteria yang dia pakai untuk memilih cerpen-cerpen yang dikumpulkannya dalam buku ini. Sedangkan pengantar dari A Dahana mengurai tentang hubungan sastrawan dan penguasa di China. Uraian yang cukup detail tentang kebijakan Deng dalam membangun China, serta bagaimana kehidupan di wilayah barat memberikan konteks lahirnya cerpen-cerpen ini. Pengantar A Dahana sangat membantu kita sebagai pembaca berbahasa Indonesia untuk memahami cerpen-cerpen ini.

 

Sejauh Mana Manusia Bisa Bertahan – Jia Pingwua

Cerita pertama yang berjudul “Sejauh Mana Manusia Bisa Bertahan” menceritakan tentang petani muda bernama Guangzhi. Guangzhi telah dijodohkan sejak dalam kandungan, seperti kebiasaan yang ada di kabupaten tersebut. Sayangnya jodohnya tersebut terlahir laki-laki, sehingga mereka gagal menikah dan sepakat untuk menjadi saudara. Dalam kemiskinannya mereka hidup berdua dari penghasilan mengebiri babi. Suatu saat banjir melanda sungai. Seperti penduduk lainnya, mereka menjaring apa saja yang hanyut di sungai dari perkampungan yang ada di hulu. Guangzhi dan Lamao – yang menjaring di tempat yang lebih hulu, malah mendapatkan seorang perempuan hanyut.

Perempuan itu ditolongnya dan tinggal beberapa malam di rumah mereka. Lamao yang mabuk meminta jasa pelayanan seks kepada perempuan yang ditolongnya. Adalah sebuah kewajaran bahwa si perempuan memberikan apa saja kepada orang yang telah menyelamatkan nyawanya. Sayangnya saat mereka sedang berdua di ranjang, Guangzhi pulang dan memergoki mereka. Karena kecewa Guangzhi pulang ke kampungnya. Lamao yang menyesal menyusul Guangzhi ke kampungnya. Akibat penghinaan halus yang diterimanya dari Guangzhi, Lamao akhirnya bunuh diri dengan cara menggantung. Guangzhi menyesal atas tindakannya menghina Lamao. Maka sejak itu Guangzhi memutuskan untuk tidak lagi peduli dengan perempuan.

Namun suatu hari ada perempuan yang datang ke kampungnya dan tinggal di kuil. Perempuan ini mencari makan dengan cara mencuri gandum orang-orang kampung. Si perempuan dicurigai sebagai mata-mata kota. Oleh sebab itu para pemuda dan pemimpin brigade produksi berupaya mengusirnya. Suatu malam si perempuan datang ke rumah Guangzhi dan minta untuk dinikahi. Si perempuan yang bernama Baishui itu telah diperkosa oleh para pemimpin brigade produksi. Si perempuan hamil. Guangzhi merasa kasihan dan akhirnya menikahi si perempuan tersebut. Guangzhi hidup bahagia dengan istri dan anak dari istrinya yang diberinama Si Harimau. Namun suatu hari suami si perempuan datang dan mengambil Biashi tetapi meinggalkan Si Harimau. Guangzhi membesarkan Si Harimau sendiri.

Nasip buruk Guangzhi belumlah berakhir. Suatu hari datang seorang mak comblang yang menjodohkan seorang perempuan dengannya. Si perempuan itu ternyata adalah Liangliang, perempuan yang ditolongnya dengan Lamao dari hanyut di sungai dulu. Liangliang telah menjadi gemuk. Ia baru saja keluar dari tahanan. Saat itu Liangliang sedang berupaya untuk melakukan tuntutan atas kasusnya dan ayahnya yang dianggap sebagai salah tangkap karena situasi politik Lompatan ke Depan Mao. Upaya yang gigih dari Liangliang akhirnya mendapatkan hasil. Nama baiknya dipulihkan dan dia diangkat menjadi guru di kota kabupaten. Liangliang tinggal bersama Si Harimau di kota kabupaten, sementara Guanzhi tetap tinggal di desa.

Nasib jelek masih terus menimpa Guangzhi. Karena kelelahan Liangliang akhirnya meninggal. Si Harimau tidak mau pulang ke desa dan memutuskan untuk melanjutkan sekolah di asrama. Giangzhi menjadi kesepian dan membenamkan diri dalam kerja pertanian. Sampai suatu hari dia melihat seorang anak gadis yang sangat kurus mencuri di ladangnya. Si anak gadis yang mencuri itu mirip sekali dengan wajah Lamao dan Liangliang. Ia teringat cerita Liangliang bahwa hasil persetubuhan Lamao dengan Liangliang telah menghasilkan bayi perempuan yang dititipkannya kepada seseorang. Guangzhi sejak itu berupaya mencari si anak gadis kemana saja supaya bisa dinikahkan dengan Si Harimau.

Melalui tokoh-tokohnya Ji Pingwua menunjukkan perjuangan orang kota yang berbeda dari orang desa. Orang desa yang sederhana dan hidup untuk memenuhi kebutuhan makan dan memenuhi tradisi, sementara orang kota (Liangliang) berupaya untuk menuntut hak, yaitu posisi sosialnya. Orang desa bekerja keras untuk menghasilkan pangan. Sementara orang kota bekerja keras untuk menegakkan status sosialnya. Upaya keras Liangliang dan Guangzhi untuk menabung mula-mula dihargai oleh orang desa. Sebab dengan bekerja keras maka keluarganya akan sejahtera. Namun setelah tahu bahwa mereka bekerja keras untuk menabung supaya bisa pergi ke Beijing untuk menuntut hak Liangliang, orang desa mulai mencemooh mereka. Orang-orang desa tidak bisa mengerti kenapa Guangzhi mau menikah dengan perempuan gemuk yang sudah tidak bisa memberinya anak dan kelakuannya aneh. Liangliang dianggap tidak peduli kepada suami dan keluarganya karena lebih sibuk dengan urusan perjuangan status sosialnya.

Ji Pingwua merasa gamang menentukan mana yang lebih baik; apakah nilai-nilai tradisional atau nilai-nilai modern. Terjadi pertentangan pandangan tradisional orang desa dengan pandangan modern orang kota yang menjadi akibat dari berubahnya situasi politik negara. Ji Pingwua tidak memilih menutup cerpennya dengan pilihan bahagia. Ia bisa menutup cerpennya dengan membiarkan Guangzhi berbahagia tinggal di kota bersama Liangliang yang sudah menjadi guru, atau Liangliang memilih untuk pindah ke desa dan menjadi guru desa, sehingga kehidupan keluarga ini berbahagia. Ji Pingwua malah memilih untuk membunuh Liangliang dan membiarkan Guangzhi kembali ke desa dengan kemuraman. Ji Pingwua lebih senang menutup cerpennya dengan upaya absurd Guangzhi yang mencari anak Lamao untuk memenuhi tradisi. Apakah dia pesimis dengan manfaat gerakan Deng Xiaoping?

 

Hikayat Desa Pohon Murbei – Zhu Xiaoping

Cerpen Hikayat Desa Pohon Murbei berkisah tentang seorang pelajar yang dikirim untuk dididik kembali oleh petani di desa Pohon Murbei. Tokoh aku yang merasa dikerjai oleh Pemimpin Brigade Produksi bernama Jindo. Jindo dianggap telah menipu sejak saat pertama bertemu, yaitu saat menjemput tokoh si aku yang baru datang dari kota untuk belajar dari rakyat jelata. Saat ditraktir makan pagi, Jindo mengambil kupon gandum dan hanya membeli sup saja. Demikian juga saat pembagian kerja, Jindo memberi kerja yang seharusnya dilakukan oleh petani profesional. Namun tokoh Aku merasa tidak paham dengan Jinbo yang suka menipu tapi sekaligus bekerja keras membantu dirinya dan penduduk desa. Apakah Jindo orang jahat, orang baik atau orang cerdik?

Pada masa lompatan ke depan, petani harus menyetor hasil panen untuk memberi makan semua rakyat (orang kota). Dalam menentukan berapa banyak yang harus disetor, akan datang rombongan penaksir. Kalau taksiran panen tinggi, maka setoran hasil panen harus banyak. Itulah sebabnya orang-orang kampung berupaya menjamu para penaksir sehingga setoran hasil panen bisa sesedikit mungkin. Para petani yang sudah bekerja keras rela menyembelih kambing dan menyediakan makanan mewah lainnya untuk menyenangkan para penaksir. Makanan-makanan enak yang selama hidup tidak pernah dinikmati oleh petani sendiri. Pada proses penaksiran hasil panen di Desa Pohon Murbei terjadi kekacauan. Penaksir menentukan taksiran panen yang terlalu tinggi. Upaya Jinbo untuk menurunkan nilai taksiran malah membuat gusar penaksir. Si penaksir yang tersinggung memukul Jinbo. Tokoh aku membela Jinbo dan menyerang si penaksir. Setelah terjadi perkelahian, para penaksir meninggalkan desa begitu saja. Entah mengapa, akhirnya taksiran hasil panen di Desa Pohon Murbei rendah. Semua penduduk berterima kasih kepada si tokoh aku.

Namun seorang petani tua yang dulunya adalah orang kota mengatakan bahwa sesungguhnya apa yang terjadi tadi adalah cara cerdik Jindo untuk mengatasi masalah peliknya penaksiran. Jindo tahu bahwa pelajar dari kota tidak akan diam saja melihat aparat pemerintah mengakali petani. Jadi dia menempatkan si Aku untuk berhadapan dengan penaksir. Tokoh si Aku merasa ditipu, tetapi dia sadar bahwa semua tipuan yang dilakukan oleh Jindo kepadanya adalah berguna untuk kebaikan orang-orang desa.

Saat si Aku kembali mengunjungi Desa Pohon Murbei, dia tidak menemukan Jindo. Jindo sudah tidak lagi menjadi Pemimpin Brigade Produksi. Jindo sekarang sibuk menanam pohon di bukit. Jindo berupaya mendapatkan sumber pendapatan baru dari pohon-pohon yang ditanamnya di bukit. Zhu Xiaoping mengungkapkan bagaimana orang-orang desa bisa bertahan. Bagaimana mereka melakukan tugas memberi makan seluruh rakyat dengan kerja keras. Zhu Xiaoping juga menyindir kebijakan mendidik kembali orang kota melalui percakapan tokoh Aku dengan Jindo sebagai berikut: “Apa yang ingin dilakukan oleh anak sekolah di lembah miskin ini?” “Untuk dididik kembali oleh para petani miskin dan petani kelas bawah!” Kataku bergurau. “Jangan meremehkan kami para petani miskin dan kelas bawah. Bukankahkami tahu bahwa kalian telah melakukan segala kekacauan di kota? Kalian telah menyakiti para penguasa; tampaknya, mereka tidak membalas dendam pada kalian, tetapi kenyataannya mereka mengirim kalian ke sini untuk menebus dosa-dosamu. Dan mengambil makanan dari mulut kami!” Bagi orang desa, gerakan mendidik kembali para pelajar ini adalah sebuah beban baru yang harus ditanggungnya. Di bagian lain Zhu menulis: “Ia adalah seorang petani. Ia mengolah tanah dan menabur benih serta memanen bidang-bidang tanah yang luas, tetapi dalam kehidupannya sehar-hari, ia harus mengukur pengeluarannya (butir) gandum demi (butir) gandung.” (Kata “butir” dalam kurung adalah tambahan dari saya.)

Zhu juga menggambarkan betapa pemecahan masalah yang ada di desa bisa diatasi oleh kecerdikan orang desa sendiri. Kecerdikan Jindo untuk menghadapkan pelajar kota dengan aparat pemerintah adalah contoh kecerdikan orang desa yang tak pernah diperhitungkan oleh para politisi.

 

Kisah Lelaki Tua dan Seekor Anjing – Zhang Xianliang

Cerpen ini berkisah tentang persahabatan seorang petani miskin bernama Xing Tua dengan seekor anjing kampung. Xing Tua adalah seorang petani dalam sebuah brigade produksi. Karena kerja kerasnya akhirnya Xing Tua cukup mampu untuk menikah. Namun ia hanya bisa menikahi seorang perempuan yang sakit-sakitan. Akhirnya istrinya yang dirawatnya siang malam itu mati juga. Sejak itu Xing Tua membenamkan diri dalam kerja pertanian bersama dengan brigade produksi di desanya.

Musim panen setelah kekeringan menyebabkan petani-petani kekurangan pangan. Bahkan beberapa kampung harus mengemis ke kampung lain untuk mencari makan. Saat Xing Tua sedang menyiapkan makan malam, tiba-tiba pintu rumahnya diketuk oleh seorang pengemis perempuan. Si pengemis yang kelaparan itu meminta makan kepada Xing Tua. Xing Tua memberinya makan. Ternyata perempuan tersebut sangat peduli kepada Xing Tua. Perempuan ini pintar masak dan rajin membersihkan rumah Xing Tua yang selama ini tidak dirawat. Para pemimpin brigade produksi dan warga desa mendorong Xing Tua untuk mengambil perempuan tersebut sebagai istri.

Setelah cukup lama tinggal di desa tersebut, pemimpin brigade produksi menyarankan supaya sang perempuan mengurus surat pindah domisili. Hal ini untuk menghindari masalah jika suatu saat ada pemeriksaan. Namun setiap kali Xing Tua membicarakan masalah kepindahan ini dengan istrinya, istrinya selalu menangis. Sampai suatu saat sang istri mengaku bahwa dia berasal dari keluarga petani kaya yang terpaksa mengemis. Kekeringan tersebut begitu kuat sehingga bahkan petani kaya tidak mampu menghidupi dirinya sendiri. Adalah sebuah aib bagi keluarga petani kaya untuk mengemis. Itulah sebabnya sang istri malu kalau harus mengurus kepindahannya. Ia tidak mau keluarganya mendapat aib karena ketahuan dia sudah pergi untuk mengemis.

Saat pulang dari mengambil pupuk ke, Xing Tua bertemu dengan seekor anjing kecil kurus. Anjing tersebut terus mengikutinya. Sayangnya saat ia sampai di desa, dia diberi tahu bahwa istrinya sudah pergi. Sia-sia Xing Tua mencari istrinya di kota terdekat. Akhirnya Xing Tua berteman dengan si anjing tersebut. Anjing tersebut adalah satu-satunya yang menghiburnya dari kehilangan istri yang dicintainya. Xing Tua tak memiliki cukup gandum untuk memberi makan si anjing. Namun si anjing yang mencari makan sendiri tersebut tetap saja setia tinggal bersama dengan Xing Tua.

Kemiskinan terus melanda. Suatu saat ada perubahan peraturan baru dari kabupaten dimana semua anjing harus dibunuh supaya gandum cukup untuk makan manusia. Padahal sebenarnya anjing-anjing tersebut mencari makan sendiri. Penduduk desa tidak pernah memberi makan anjing. Namun demi kepatuhan kepada peraturan kediktatoran proletar, maka orang-orang desa segera saja membunuhi anjing-anjing, kecuali Xing Tua. Xing Tua tidak peduli dengan peraturan tersebut. Namun karena Xing Tua merasa kasihan kepada Kepala Brigade Produksi, Xing Tua mengijinkan anjingnya dibunuh. Sejak si anjing mati ditembak, Xing Tua menjadi pemurung dan sakit-sakitan. Akhirnya Xing Tua mati pada malam yang sangat dingin.

Dalam cerpen ini Zhang Xianling menggambarkan betapa kemiskinan absolut melanda pedesaan saat kebijakan Lompatan ke Depan dijalankan. Zhang juga menunjukkan betapa petani memiliki konsistensi untuk mengatasi kemiskinan yang luar biasa tersebut. Di sisi lain Zhang menunjukkan bahwa feodalisme masih kuat dipegang oleh masyarakat desa. Status sosial sebagai petani kaya, meski sudah tidak mampu memenuhi kebutuhan makan sendiri tetap dipertahankan.

Manusia memang tidak bisa hidup sendiri. Ia butuh sesuatu untuk dicintai, meski itu hanyalah seekor anjing kampung. Kehilangan teman yang disayangi bisa membunuhmu.

 

Hikayat Keluarga Pembuat Mangkuk Kayu – Jia Pingwua

Cerpen Keluarga Pembuat Mangkuk Kayu adalah cerpen yang terang-terangan mendukung program Empat Modernisasi Deng Xiaoping. Cerpen ini berkisah tentang Huang Muda anak seorang pembuat mangkuk kayu bernama Huang Tua. Huang Muda yang terinspirasi oleh anjuran pemerintah untuk supaya orang desa tidak hanya bertani tetapi juga berusaha lainnya. Mula-mula Huang Tua dan Huang Muda membuat mangkuk kayu untuk dijual. Huang Tua adalah seorang ahli membuat mangkuk kayu saat mudanya. Usaha membuat mangkuk kayu terhenti karena adanya peraturan pemerintah yang berhubungan dengan Lompatan ke Depan. Namun penjualannya tidak terlalu laku karena orang lebih suka membeli mangkuk proselin.

Huang Muda akhirnya memelihara babi dan berhasil mendapatkan uang banyak. Karena usaha berhasil, maka penduduk desa lainnya mengikutinya. Setiap kali penduduk desa mengikuti usahanya, Huang Muda berganti usaha. Huang Muda selalu berhasil dalam usaha baru yang dirintisnya. Sampai suatu saat Huang Muda memiliki usaha bus yang melayani desanya dengan kota terdekat. Karena ada penduduk yang iri maka Huang Muda dilaporkan bahwa dia telah menjadi seorang kapitalis yang menyabot usaha bus milik negara. Semua bus milik Huang Muda disita. Namun Huang Muda tidak surut. Ia mengurusnya ke pengadilan dan menang. Sejak itu usaha Huang Muda semakin besar dan ia menjadi semakin kaya. Huang Muda berhasil membangun gedung sekolah dua lantai di desanya.

Cerita dalam cerpen ini jelas sekali menggambarkan bagaimana Deng Xiaoping ingin mengubah China. Deng mendorong masyarakat China berani berdagang dan memberikan pengakuan kepada kepemilikan individu, tetapi masih memegang teguh sosialisme. Pandangan Deng ini dengan sangat baik digambarkan melalui sosok Huang Muda yang berhasil sebagai wirausaha tetapi tetap berhati sosial.

 

Shorblac: Kisah Seorang Sopir – Zhang Xianliang

Shorblac artinya mata air yang pahit. Mereka yang telah mereguk air yang pahit adalah harta karun. Zhang Xianliang bercerita tentang nasip orang-orang pedalaman yag menghadapi kelaparan absolut. Satu-satunya kesempatan untuk mengubah hidup adalah dengan bermigrasi ke wilayah barat yang masih sepi dan tidak terlalu dipengaruhi oleh kebijakan negara. Dengan menggunakan teknik seseorang (spoir) bercerita kepada kawannya (seorang wartawan yang menumpang di truknya), Zhang mengungkapkan bagaimana pedihnya upaya untuk mencari kerja.

Sang sopir adalah seorang lulusan SMA yang dengan mudah diterima sebagai guru di Weiya di wilayah barat. Hanya dengan menunjukkan ijasah SMA-nya dia diterima tanpa harus melewati tes. Namun tiba-tiba posisinya dibatalkan begitu saja. Hal itu disebabkan karena dua perempuan yang berasal dari desa yang sama mengibul supaya bisa diterima sebagai guru juga. Dua perempuan ini mengaku bahwa mereka adalah kawan sekelas si sopir di SMA. Padahal dua perempuan tersebut hanya lulusan SD. Tentu saja saat dites untuk menjadi guru gagal total. Karena dua temannya gagal, maka si sopirpun tidak jadi diangkat menjadi guru. Meski masgul, si sopir tidak menaruh dendam kepada dua perempuan tadi. Dia malah menjual kemejanya untuk memberi sekedar uang saku kepada kedua perempuan tersebut.

Si sopir mendengar bahwa di Hami ada posisi akuntan, dengan menumpang truk yang sopirnya adalah orang dari kampungnya, si sopir menuju Hami. Namun dalam perjalanan dia memutuskan untuk mengikuti sopir truk sampai ke Umruchi. Selanjutnya ia magang sebagai sopir dan berkarier sebagai sopir.

Zhang bercerita tentang bagaimana penderitaan para perempuan di masa itu. Melalui kisah dua perkawinan si sopir Zhang menceritakan betapa beratnya menjadi perempuan di masa itu. Istri pertama sang sopir adalah perempuan yang baru datang dari desa. Ia ikut bibinya yang membuka warung. Si perempuan menjadi istri yang baik tetapi tak bisa menunjukkan cinta kepada suaminya. Sampai suatu waktu si sopir tahu bahwa sebenarnya istrinya sudah ditunangkan dengan seorang pemuda saat masih di desa. Si pemuda menjadi tentara di tempat yang jauh. Setelah selesai tugasnya sebagai tentara si pemuda mencari calon istrinya dan menemukannya. Tetapi calon istrinya ini sudah menjadi istri orang lain. Akhirnya si sopir merelakan istrinya membangun rumah tangga dengan kekasihnya.

Si sopir menikah lagi dengan seorang perempuan asal Shanghai yang ditolongnya dalam perjalanan. Perempuan yang membawa anak sedang menunggu tumpangan. Anak itu sakit. Hari sudah mulai gelap. Si sopir berhasil membawa anak yang sakit ke seorang dokter. Saat mereka sudah berbahagia, dan istrinya menjadi wakil kepala sekolah, revolusi kebudayaan selesai. Hak-hak orangtuanya dikembalikan. Si istri, seandainya dia masih warga Shanghai akan berhak menerima semua warisan. Namun si istri lebih memlih tetap tinggal di barat bersama suaminya yang adalah seorang sopir. Melalui cerpen ini Zhang mau menunjukkan bahwa ikatan kedaerahan begitu kuat melampaui kemiskinan dan kelaparan. Ia juga mau menunjukkan bahwa cinta antara lelaki dan perempuan dalam perkawinan bisa memberikan kebahagiaan yang lebih besar daripada harta dan status.

 

Anekdot-anekdot Ketua Maimaiti – Wang Meng

Cerpen ini bercerita tentang etnis Uighur yang menderita karena kebijakan revolusi kebudayaan. Cerita pertama adalah tentang pernikahan sepupu Maimaiti saat revolusi kebudayaan baru dimulai. Muming adalah seorang sekretaris partai di sebuah desa di Xinjiang. Paman Maimaiti ini segera mencukur jenggotnya dan mengubah penampilannya sehingga lebih mirip dengan orang Han daripada orang Uighur. Ia merasa bahwa perubahan penampilan tersebut sudah cukup untuk menunjukkan loyalitasnya kepada revolusi.

Masalah timbul saat petugas partai menyatakan bahwa perkawinan anaknya tidak bisa dilakukan dengan adat Uighur. Perkawinan gaya baru sama sekali berbeda dengan cara yang selama ini dilakukan oleh masyarakat Uighur. Tidak boleh ada pesta. Bahkan membaca Quran saat upacara pernikahan juga dilarang. Maka merekapun melaksanakan pernikahan dengan cara baru yang sangat sederhana. Upacara pernikahan diwarnai dengan menghormat kepada Ketua Mao dan saling bertukar buku merah. Akhirnya perkawinan dilakukan dengan cara baru.

Sepuluh hari kemudian perkawinan dengan gaya lama tetap dilakukan. Di sinilah kesalahan Maimaiti. Ia secara tidak sengaja menceritakan pernikahan dengan cara lama ini, sehingga diaa ditangkap. Maimaiti yang sejak muda ingin menjadi seorang penulis dimasukkan sebagai Golongan Hitam kontrarevolusi di jaman Mao. Ia ditahan bersama dengan para penulis yang sudah terkenal. Padahal sebenarnya Maimaiti belum sama sekali dikenal sebagai seorang penulis. Ia sempat digebuki oleh pemuda-pemuda revolusioner karena dianggap sebagai seorang penulis yang berbahaya. Justru dari proses penahanannya ini, Maimaiti mendapatkan julukannya sebagai seorang penulis.

Saat pembebasan tiba, Maimaiti menulis sebuah novel panjang tentang Revolusi Kebudayaan. Naskah novelnya dia kirim ke penerbit di Beijing. Namun naskah novel ini tidaklah terlalu bagus. Dengan alasan bahwa novel ini bisa mencegah orang untuk bunuh diri akibat dari penderitaan sebuah revolusi, maka naskah novel ini dipertimbangkan untuk diterbitkan.

Wang Meng secara terbuka mau menunjukkan betapa sebuah revolusi politik bisa membabibuta menggerus sebuah budaya. Namun revolusi politik tidak mampu menghilangkan budaya, meski berakibat pada penderitaan yang besar. Kemampuan memanfaatkan penderitaan adalah cara untuk menghindari bunuh diri.

 

Gerak Maju Mobil Patroli Militer – Tang Dong

Cerpen ini bercerita tentang perjalanan seorang perawat dengan sopir truk militer. Si perawat harus ke garis depan untuk menolong seorang komandan yang sedang sakit. Perjalanan ke garis depan adalah perjalanan yang sangat mengerikan. Mereka harus melewati Lembah Kematian dimana banyak orang dan hewan yang mati sejak jaman jalur sutera saat melewati wilayah ini. Mereka juga harus melalui wilayah para dewa yang penuh salju di ketinggian lebih dari 5000 mdpl. Dalam perjalanan yang awalnya menjengkelkan bagi si perawat, akhirnya justru membuat si perawat hormat kepada si sopir. Si sopir menceritakan mengapa dia berada di Xinjiang padahal ia berasal dari Shoozhou. Ia menceritakan bahwa ia dibuang ke Xinjiang karena dianggap kontrarevolusioner. Setelah era Mao surut, sebenarnya ia bisa pulang ke Soozhou, tetapi dia memilih untuk menjadi serdadu. Ia menceritakan bahwa ayahnya bersama adik lelakinya telah kembali ke Soozhou setelah semua hartanya dikembalikan oleh negara. Namun sesaipai di Soozhou ayahnya meningga.

“Aku tahu. Tekanan dan hidup keras selama puluhan tahun tak dapat membunuhnya, tetapi ia meninggal karena kekayaan dan kebahagiaan.” Ini adalah salah satu akibat yang ditimbulkan karena berakhirnya masa Lompatan ke Depan di era Mao. Para tahanan yang dibebaskan dan hak-haknya dikembalikan menjadi terlalu gembira dan malah meninggal dunia karena kebahagiaan yang meluap. Perjalanan yangs ulit itu akhirnya bisa dilalui meski mereka menghadapi berbagai bahaya, seperti arus sungai yang deras dan salju yang turun sangat lebat. Ternyata si pasien yang akan ditolongnya sudah mati sebelumnya. Si perawat sebenarnya didatangkan untuk upacara penguburan sang komandan yang sebenarnya mencintainya.

Tang Dong menggambarkan bahwa kebahagiaan yang tiba-tiba bisa membunuh orang. Kekayaan yang datang tiba-tiba bisa menghancurkan persahabatan dan persaudaraan. Adik si sopir bertengkar hebat dengan pamannya untuk memperebutkan sekantong uang yang ditinggalkan oleh ayahnya. Jadi apakah kesengsaraan lebih baik bagi manusia daripada kesejahteraan?

 

Putri Sungai Kuning – Wang Jiada

Wang Jiada berkisah tentang akibat dari kemiskinan. Nenek Dao (walau umurnya baru 25 tahun, tetapi dia sudah dipanggil nenek karena suaminya memang sudah tua) adalah seorang istri yang periang. Ia menikah pada saat umurnya baru enam belas tahun dengan pria yang umurnya dua puluh lima tahun lebih tua. Ia terpaksa menikah karena keluarganya membutuhkan uang untuk mengobati ayahnya yang terserang penyakit paru-paru.

Nenek Dao adalah seorang istri yang baik. Ia merawat suaminya dengan sangat baik. Namun dia dianggap sebagai perempuan yang berkelakuan kurang baik. Sebab dia dianggap berselingkuh dengan seorang pemuda miskin yang magang menjadi pengemudi sampan kepada suaminya.

Sebenarnya suaminya yang sudah tua tahu bahwa Nenek Dao berselingkuh dengan pemuda yang datang sebagai pengemis ke rumahnya itu. Namun suaminya bisa mengerti kebutuhan istrinya yang tidak bisa lagi diberikan olehnya. Perselingkuhan tersebut akhirnya terbongkar dan membuat Nenek Dao tenggelam di sungai saat dikejar oleh orang kampung. Mayat Nenek Dao dikubur di luar kampung karena dianggap sebagai orang yang tidak baik. Saat suaminya meninggal, suaminya berpesan supaya dia dikubur di samping istrinya, meski ada di luar kampung.

Si pemuda yang ternyata adalah seorang yang terpelajar, selalu datang setiap tahun untuk merawat kuburan kakek nenek tersebut. Pihak yang menerima akibat paling parah dalam sebuah kemiskinan adalah perempuan. Perempuan harus rela berkorban demi keselamatan keluarganya.

 

Cerpen-cerpen yang lahir di awal era Deng Xiaoping memiliki kesamaan tema, yaitu penderitaan rakyat jelata (dan juga orang kota) karena kesalahan kebijakan politik. Cerpen-cerpen ini juga memiliki kesamaan tokoh, yaitu petani-petani miskin. Kesamaan lain adalah kekuatan cinta yang bisa mengatasi segala penderitaan. Dan, perempuan adalah selalu menjadi korban pertama dan paling menderita dalam setiap kasus kemiskinan.

 

 

About Handoko Widagdo

Berasal dari Purwodadi, melanglang buana ke berpuluh negara. Dengan passion di bidang pendidikan, sekarang berkarya di lembaga yang sangat memerhatikan pendidikan Indonesia. Berkeluarga dan tinggal di Solo, kebahagiaannya beserta istri bertambah lengkap dengan 3 anak yang semuanya sudah menjelang dewasa.

My Facebook Arsip Artikel

14 Comments to "Cerpen-cerpen China Paska Revolusi Kebudayaan"

  1. Handoko Widagdo  3 September, 2016 at 09:59

    Ada di Jakarta kok. Saat ini masih dipinjam Mbak Wiwit. Paling minggu depan sudah selesai.

  2. J C  3 September, 2016 at 09:57

    Pak Hand, kapan bisa pinjem buku ini?

  3. Handoko Widagdo  12 August, 2016 at 09:21

    Mbak Wiwit, padahal maksud saya menulis resensi adalah untuk memprovokasi minat baca. Kalau demikian upaya saya malah membunuh minat baca ya?

  4. Wiwit  12 August, 2016 at 00:31

    Buku yang bagus, trimakasih mas Handoko…
    Seperti biasa….membaca resensi ini sudah seperti membaca bukunya karena rinci dan jelas

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.