Freddy Budiman = Nazaruddin. Bagaimana Kalau Benar?

Dhimas Ginanjar

 

Beberapa tahun lalu, ketika masih ngepos di KPK, salah satu kasus yang ramai dibicarakan adalah soal Nazaruddin. Kebetulan, dari dia dinyatakan sebagai tersangka, sampai dipulangkan paksa dari Kolombia, saya ikut meliput. Ketika Nazaruddin sampai Jakarta, Itu kali pertama saya melihat gedung KPK sampai kayak terminal. Full wartawan sampai gedungnya nggak cukup.

Beberapa waktu setelahnya, Nazaruddin mulai berkoar. Nyakot sana sini, nyebut berbagai dugaan korupsi yang dilakukan orang-orang tertentu. Termasuk Anas Urbaningrum yang lantas dinyatakan bersalah oleh pengadilan Tipikor, sampai menyebut Ibas, anak Presiden SBY saat itu juga bermain kasus.

Ketika Nazaruddin berkoar setelah tertangkap, banyak yang nyinyir ke dia. Kenapa Nazar baru buka semuanya setelah tertangkap. Meski, saat dalam pelariannya hingga Kolombia, dia sudah membuka beberapa data juga. Hingga akhirnya, banyak kader Demokrat dan orang-orang yang disebut Nazaruddin ikut menjadi pesakitan di KPK.

KPK memang tidak pernah menyebut kalau terbukanya berbagai kasus berasal dari Nazaruddin semata. Tapi, bisa diketahui kalau KPK tidak meremehkan berbagai informasi yang masuk. Tidak peduli kapan informasi itu masuk ke para penyidik.

Saat ini, hal serupa juga terjadi. Freddy Budiman melalui Haris Azhar memberikan pengakuan yang mengejutkan soal adanya suap kepada para polisi, BNN, sampai katanya menggunakan kendaraan petinggi TNI. Pola yang sama juga terjadi, lebih banyak yang suka mempermasalahkan kenapa Freddy Budiman atau Haris baru menyampaikan sekarang.

Haris tentu punya banyak pertimbangan, yang salah satunya disebut sebagai momentum. Dia bilang, kalau informasi diberikan sebelum eksekusi justru akan memberikan tekanan pada Freddy. Nanti, bos narkoba itu disebut hanya ingin menghindar dari hukuman mati. Sekarang, ketika disampaikan setelah eksekusi, katanya masa disuruh cari informasi dari orang mati.

Seharusnya, tidak perlu dipermasalahkan kapan informasi itu muncul. Tapi, bagaimana aparat yang disebut, dan aparat yang berwenang mencoba mengklarifikasi informasi itu. Betapa dahsyatnya ketika informasi itu menjadi kebenaran. Apakah karena Freddy sudah ditembak mati, lantas kesulitan mengusutnya?. Come on… itu alasan yang dibuat-buat bukan?

Informasi yang diberikan Freddy setidaknya kembali memberi tamparan kepada penegak hukum. Kebetulan, citra aparat di Indonesia memang susah membaik, dan sangat mudah dijatuhkan. Momen ini harusnya bisa membuat mereka memberikan bukti, bahwa instansinya clear. Bukan malah sibuk mempermasalahkan kenapa Freddy atau Haris membukanya sekarang.

Saya jadi ingat lirik lagu JKT48 yang berjudul River. Di situ dikatakan: Jika tak dicoba tak akan tahu. Ya, memang seperti itulah. Kalau aparat yang dituduh tidak pernah mencoba untuk membukanya, bagaimana mereka tahu kalau orang-orangnya bersih?. Atau, khawatir kalau mulai dicari tahu justru membuka borok yang sebenarnya?

Saya sepakat dengan apa yang dikatakan Haris baru-baru ini, bahwa instansi yang dituduh harus berani membuka diri. ”Kalau semua itu dibuka, perang terhadap narkotika memang akan jauh lebih efektif. Tidak lagi penuh dengan kecurigaan.” ujar Haris Azhar.

 

Note Redaksi:

Dhimas Ginanjar, selamat datang dan selamat bergabung. Terima kasih untuk artikel perdananya, ditunggu artikel-artikel berikutnya dan semoga betah dan kerasan di rumah BALTYRA ini. Terima kasih Dewi Aichi yang sudah mengajak Dhimas Ginanjar bergabung di BALTYRA.

 

 

10 Comments to "Freddy Budiman = Nazaruddin. Bagaimana Kalau Benar?"

  1. J C  3 September, 2016 at 09:57

    Never ending topic and never ending cycle…

  2. EA.Inakawa  11 August, 2016 at 07:57

    Betul Pak Handoko,Korupsi itu seperti siklus udara , mudah menyebar dan sulit terhindar dari hembusannya,Korupsi memiliki karakteristik bagaikan senjata kimia yg sesaat menelan jiwa, merusak sistem goverment, sosial dan budaya,menghancurkan betapapun kuatnya sebuah kepribadian, bisa jadi seiring perjalanan Korupsi akan menghancurkan Peradaban bangsa Indonesia, semoga saja salah

  3. EA.Inakawa  10 August, 2016 at 07:44

    Betul Pak Handoko,Korupsi itu seperti siklus udara , mudah menyebar dan sulit terhindar dari hembusannya,Korupsi memiliki karakteristik bagaikan senjata kimia yg sesaat menelan jiwa, merusak sistem goverment, sosial dan budaya,menghancurkan betapapun kuatnya sebuah kepribadian, bisa jadi seiring perjalanan Korupsi akan menghancurkan Peradaban bangsa Indonesia, semoga saja salah…….

  4. Handoko Widagdo  10 August, 2016 at 06:48

    Salam kenal Dhimas Ginanjar. Mari berbagi kehidupan di rumah Baltyra. Topik korupsi di negeri tercinta adalah salah satu topik yang mendapat banyak perhatian dari para Baltyran.

  5. Dj. 813  9 August, 2016 at 14:16

    K A L A U . . . ? ? ?

    Dj. sering dengar pertanyaan sebagai jawaban orang yang berkata “Kalau” .

    Yaitu . . .

    KALAU TIDAK KALAU . . . ? ? ?

    Lalu bagaimana . . . ? ? ?

    Karena ” Kalau ” itu tidak ada .
    Yang ada hanya ” YA ” atau ” TIDAK ”

    Selam kenal dari Mainz .

  6. EA.Inakawa  9 August, 2016 at 08:36

    Salam Kenal…..Selamat Bergabung Bung Dhimas,semoga betah dirumah kita “Baltyra” …… sampai pastinya KORUPTOR tidak akan pernah sirna sampai dunia berhenti, salam sehat

  7. djasMerahputih  9 August, 2016 at 07:30

    Met bergabung Dhimas Ginanjar.
    Kondisi Indonesia tau sama taulah. Semuanya bisa diatur.

    Kini malah jadi kagum sama sosok Duterte, presiden negeri tetangga. Tapi masih butuh waktu untuk pembuktiannya. Serius atau hanya Modus..?

    Nyusul para Kenthir…

  8. Lani  9 August, 2016 at 06:49

    Dhimas Ginajar: Salam kenal dan selamat bergabung di Baltyra. Bravo buat prof. Pakem yg sdh banyak merekrut para penulis baru utk menjadi keluarga dirumah ini.

    James: aku setuju dgn komentarmu, mmg begitulah bagaimana mau memberantas KORUPSI & KORUPTOR klu otak/pemimpin mrk ada didalamnya?

    Perlu keberanian utk membuka semuanya, dan diseret kepengadilan dan dihukum se-berat2nya baik dimiskinkan atau dimatikan, apakah presiden punya keberanian kearah itu tanyakan pada rumput yang bergoyang…….

  9. James  8 August, 2016 at 15:49

    lebih cenderung yakin benar !!! karena Bukti menyatakan Freddy masih dapat melakukan pekerjaannya dari Dalam Penjara dan tidak dapat di Bendung, berarti itu betul ada Back-up yang sangat Kuat dari Boss2 Mafianya

  10. James  8 August, 2016 at 15:47

    1….Petinggi2 di Indonesia itu Kebal Hukum.above the law semuanya, sulit sekali untuk Menyeretnya via KPK sekalipun, Presiden sekalipun belum tentu Berani menjatuhkan Hukuman Mati kepada Mereka semua yang Terlibat jadi Boss Mafia nya Freddy Budiman, jadi bagaimana Narkoba di Indonesia ? dapat dipastikan akan semakin subur dan meluas merusak Negara dan Bangsa termasuk Rakyatnya….contoh seperti Koruptor, apakah berkurang jera atau sebaliknya semakin luas, tidak ada satupun Koruptor merasa Sedih bila di Penjara Bui

    sambil menunggu komentar para Kenthirs lainnya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.