Obat Kuat ala Liberia Onigoo, Omagoo

Luigi Pralangga

 

Disclaimer: Ini hanya cerita sontoloyo pribadi saja, tidak mengandung unsur ilmiah dan secara klinis belum tentu bisa dibuktikan. Nah, kalau sudah faham marilah dimulai ceritanya…

 

Dalam kurun waktu 3 tahun semenjak mengawali penugasan di Liberia dulu pada periode 2004 – 2010, dalam beberapa kesempatan ngobrol dengan kawan lama saat cuti mudik di tanah air, dari beberapa chat session pada instant messenger itu, rekan-rekan pria selalu mengajukan kepada saya beberapa pertanyaan khas, kalau dikategorikan itu tidak jauh dari seputaran wanita, makanan dan (ini dia yang spesial) obat kuat. (Bener khan, pasti pembaca sedang tersenyum sekarang).

Entah mengapa ya, rasa ingin tahu kebanyakan pria selalu tertuju pada 2 (dua) dari 3 topik tadi, dan bagi karakter pria petualang dalam perihal ranjang, pertanyaan perihal keperkasaan di atas ranjang dan obat-obat/ramuan khas yang mendukung performa tidak luput menjadi pertanyaan kepada saya.

“Eh, men.. cariin gue dong obat kuat khas Liberia di sana yah.. nanti bawaain pas elu cuti mudik, oke!??”

Lalu ada lagi yang bertanya demikian:

“Men, gue denger viagra afrika itu paten punya, coba dong cari tau sepertiapa sih dan beliin yah buat testing nih – penasaran gue!”

Atau pertanyaan lainya kebetulan yang membuat saya ngakak lama berhentinya adalah dari seorang karib wanita via email menanyakan:

“Mas, yang gue denger titit orang ireng di sono gede-gede dan panjang-menggantung, itu mereka makan apa atu pake obat apa sih?”

(Yaolloo, dikiranya staff PBB yang bertugas di Liberia ini ikut-ikut memeriksa isi celana dalam mereka apa? – Kurang kerjaan banget, atuh!!)

Nah, dari pertanyaan-pertanyaan itu kadang dalam satu kurun waktu, kembali teringat dan saya sering senyum-senyum sendiri saat berkendara pulang dari bekerja, melintas di jalan dan melihat segerombolan orang-orang Liberia yang bekerja membongkar muat sebuah truk penuh dengan karung beras, dimana cukup jelas terlihat peluh itu mengucur deras dan tarikan urat pada otot mereka tergaris kentara gamblang akan faktanya bahwa kebanyakan pria-pria Liberia di sini masih banyak yang menghidupi diri dan keluarga mereka sebagai pekerja kasar.

onigoo (1) onigoo (2) onigoo (3)

Memang postur mereka kekar dan berotot, maka teringatlah kembali saya dengan pertanyaan si kawan itu yang menanyakan apakah si “terong” di dalam celananya besar dan panjang menggelayut. Rata-rata orang Liberia itu kecil-pendek posturnya, ketimbang orang Ghana, Senegal dan Nigeria.. meski demikian wallahualam untuk ukuran onderdil dalam-nya.

Thanks untuk pertanyaanmu, neng – nggak usah jauh-jauh ke Liberia, mungkin jawabanmu bisa dicari di seputaran wilayah Tanah Abang di Jakarta, karena tidak sedikit para saudagar hitam yang berbisnis di sana adalah dari kawasan negara-negara di Afrika Barat.

Pertanyaan selanjutnya ini yang mungkin agak bisa dicarikan jawaban-nya oleh saya.. Berbicara soal obat kuat dan tukang obat, saya teringat dengan kisah jaman masih duduk di bangku SD dulu, dimana dalam perjalanan pulang sekolah menuju terminal bus di Blok-M, Jakarta itu, saya selalu tertarik untuk menyimak si tukang obat itu cuap-cuap tiada cape di emper terminal bus sembari mempertunjukkan atraksi dengan seekor ular dan kalajengking, dan terlihat di sana sederet hewan liar seperti buaya dan biawak terikat di bawah kerangkeng rantai, lalu kemudian ditutup atraksinya dengan menyodorkan botol kecil minyak ramuan-nya dengan segudang khasiat kuat untuk ini dan itu kepada para penonton.

Nah, sensasi tukang obat kuat inilah yang cukup melekat pada ingatan, ditambah lagi pertanyaan kawan-kawan itu. Sejak 3 minggu lalu, saya selalu melihat dan melintas di kala hendak pergi makan siang bersama dengan rekan-rekan sekantor, seorang tukang obat di sisi jalan, mengapa kok saya bisa terpanggil perhatiannnya? Betapa tidak..? – illustrasi atau gambar yang tertera pada spanduk yang dipakainya sungguh mengundang tawa dan dimana penyakit-penyakit yang termasuk dalam spesialisasinya tergambar secara gamblang, lihat saja foto di bawah, pasti setuju dengan pendapat saya.

onigoo (4)

Tidaklah mudah untuk saya agar bisa mengambil foto dia sebegini dekat, tanpa harus berbincang-bincang dan mendengarkan ocehan-nya. Ya, lepas makan siang itu, saya berhenti sejenak, parkir agak jauh untuk tidak terlihat oleh para staff UN lain-nya kalau si sayah ini mampir di tukang obat kuat itu. Kamera ini juga belum dikeluarkan, takut kalau si tukang obat ini marah, yang ada disihir jadi kodok pun bisa terjadi, sebutlah dia namanya; Mas Kanjood Kamara, dari nama belakangnya ini orang sudah faham kalau si Mas Kanjood ini aslinya dari Republique du Guinea, tetangganya Liberia.

Waktu menunjukkan pukul 1:30 siang, kita berdua duduk di sebelah poster besar itu dia menjelaskan ini-dan-itu dengan bahasa Inggris yang di telinga ini terdengar seperti sapi yang sedang mengunyah rumput dan pake muncrat segala, ih sebel banget deh.

Dalam hati, saya harus dapet motret dia dengan poster culun-nya ini dengan proporsional dan jangan sampai aja ada orang kantor yang sempat melihat. Sudah kadung duduk dan ngobrol, mana di depan kita mulai banyak orang-orang lalu-lalang itu berhenti mulai nongkrong menonton kita berdua ngobrol. Mungkin di benak orang-orang itu berpikir:

“Hebat juga ini, ada orang asing yang minta alat vitalnya diperbesar sama si Mas Kanjood ini..”

Memang dasar tukang obat kuat yang satu ini, siasat marketing-nya harus diakui: Persistent! (Baca: Ngotot), dimana semakin lama semakin kencang dia promosi karena makin banyak orang yang nontonin kita, dalam hati mampus dah gua jadi kelinci percobaan di depan umum..!.

Mas Kanjood: “Mista, disis beri guud fo yo dong-dong…!” (sambil menaruh sikutnya di persis bagian retsleiting celananya dan melambai-lambai bak belalai gajah gitu!) Terjemahan: Mister, This is very good for your “dong-dong” (Mungkin artinya si Dongdong itu artinya si titit pria berbentuk terong itu, kali ya?)

Mas Kanjood: “Ee gi yu spesia pra’ – wong ondre”.. Terjemahan: I give you special price – one hundred!

Agar tidak memperpanjang pertunjukan gratis ini, akhirnya si sayah bilang sama dia bahwa saya akan beli si bubuk ramuan itu seharga Seratus Liberty (sekitar US$ 2 kurang) dengan syarat dia dan si posternya boleh saya foto. Maka terlihatlah senyum gigi kuning penuh karat teh dan tembakau itu terlihat melebar, artinya dia setuju, maka berlarilah saya ke mobil untuk mengambil kamera ini dan menyiapkan uang pas agar segera ngacir selepas transaksi dan pemotretat selesai. Diberikanlah selembar uang 100 Liberian Dollar (Liberty) itu kepada si Mas Kanjood, dan tanpa ba-bi-bu langsung menjepret dia tanpa aba-aba lagi. Selain sudah keringatan basah karena terik matahari maka bergegaslah kembali ke mobil, transaksi udah dilakukan foto sudah diambil dan langsung ngabur kembali menuju kantor.. eh, ketika saat mau menyalakan mesin, si Mas Kanjood mengetuk kaca jendela sambil mengangkat tangannya yang memegang satu sachet plastik, kaget benar saya dibuatnya.

Apalagi gerangan, dibayar sudah barusan… saat dibuka kaca jendela itu, tersenyumlah dia dan saya sudah mulai agak menyingkir sedikit, sebab saat dia bicara deras sekali itu muncrat ludahnya kesana-kemari. Sederet gigi kuning itu terlihat dan ia berkata:

Mas Kanjood: “Mista yu pae fo dis.. yu porgo tu brengge.. dis is Oniigooo – beri guu fo yo dong-dong.., ok? Bai-bai..” Terjemahan: Mister, you paid for this.. you forgot to bring it, this is “Oniigooo” very good for your dong-dong, Ok? Bye-bye..

Setibanya di rumah.. ditumpahkannya semua isi kantong kemeja dan celana itu ke dalam sebuah gelas besar di atas meja, dimana uang receh dan kertas bon/struk belanjaan disimpan. Keesokan harinya adalah hari Sabtu dimana itulah kesempatan saya untuk bisa santai dan memberikan “briefing” kepada si bedinde (Sarah Susune-Nangtung) di rumah beberes kamar termasuk itu membuang kertas-kertas di dalam gelas besar itu. Saat menyiapkan sarapan pagi, tidak lama kemudian si Sarah kembali sambil bertanya:

Sarah: “Boss, yu wou towey dis, tu?” Terjemahan: You want to throw away this, too? – sambil si Sarah mengibas-ibaskan sachet obat kuat yang didapat kemaren itu. Sachet itu seukuran sachet sampoo yang banyak dijual diwarung, bila diterawang seperti serpihan rumput kering atau mirip gabah halus.

Menjawab pertanyaan si Sarah, maka saya membalasnya: Yes, that thing can go, too – I have no intention to use it.. by the way, do you know what that is? tanya saya balik. Dengan mesem-mesem dia membalas:

Sarah: “Uhm..Uhm, yea ae no,.. is Oniigoo.. is ouke fo mi tu teyke?” Terjemahan: Uhm,..Uhm, Yes, I know – It’s Oniigoo.. is it OK for me to take it?

Seminggu berselang, akhinya pada hari Sabtu berikutnya saya tanyakan kembali kepada si Sarah tentang khasiat si Obat kuat itu, dia hanya senyum-senyum dulu barulah menjawab dengan ngakak, sebab dia bilang begini:

Onigoo..?? – ooomaaagoooo!!!

Besok hari Senin-nya pertanyaan perihal Onigoo pun saya tanyakan para rekan staff lokal pria Liberia, jawaban mereka juga sama yaitu: Ooniigo…?? – Omaaagooooo!!!

Seminggu kemudian, kepada staff lokal pria Liberian yang lain dengan aksen Inggris yang lebih jelas, saya tetep penasaran, dan dibisikkannya arti istilah bahasa Inggrisnya si Obat Kuat Onigoo ini, maka tertawalah kita berdua jadinya.

Oniigoo = Horny Goat,

Omagooo = Oh, My God! – Kebayang khasiat si Obat kuat itu seperti apa sekarang…

 

 

About Luigi Pralangga

Luigi Pralangga, currently serving for peace operations in Afghanistan - Previously lives and work in the Middle East, West Africa and New York - USA.

My Facebook Arsip Artikel

6 Comments to "Obat Kuat ala Liberia Onigoo, Omagoo"

  1. James  10 August, 2016 at 15:26

    lebih baik yang normal2 saja lah dari pada merusak diri sendiri

  2. Sumonggo  10 August, 2016 at 11:12

    Pantaslah Mak Erot tidak buka cabang di Liberia ….. ha ha ….

  3. EA.Inakawa  10 August, 2016 at 10:18

    Mas Luigi apa kabar ?…….oh omagooo, luar biasaaa Se X ceriteranya, salam dari Kinshasa

  4. EA.Inakawa  10 August, 2016 at 10:10

    Mas Luigi apa kabar ?…….oh omagooo, luar biasa, salam dari Kinshasa

  5. Lani  10 August, 2016 at 03:55

    Wakakakak………..ngakak sampai nibo tangi baca artikel ini. Jd kesimpulannya bener2 bikin “horny goat” hahaha…….lumrah krn bentuk bubuk ramuannya aja dikatakan spt rumput………hahaha

  6. Handoko Widagdo  9 August, 2016 at 21:46

    Wharakadah.. ada-ada saja.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.