Menelusuri Jejak Tsunami Aceh

Wiwit Sri Arianti

 

Provinsi Aceh yang dikenal dengan NAD (Nanggroe Aceh Darusalam), merupakan salah satu daerah yang tidak akan terlupakan karena aku memiliki pengalaman yang menguras emosi bersama-sama dengan para volunteer ketika merespon bencana tsunami tahun 2004. Aku pernah minum air Aceh, beberapa bulan sempat tidur di tenda seperti halnya para pengungsi, bertemu mayat di mana-mana dan menyaksikan wajah pilu para perempuan yang kehilangan keluarga, juga rintihan pedih anak-anak yang kehilangan orang tua dan terpaksa menjadi yatim piatu. Selama enam bulan bersama mereka menumbuhkan ikatan batin yang tidak mudah terhapus dari sanubariku. Maka ketika ada kesempatan lagi untuk datang ke Aceh, aku merasa seperti mengunjungi keluarga karena komunikasi dengan para volunteer masih terjalin indah hingga sekarang.

Beberapa jam sebelum kembali ke Jakarta, dengan diantar oleh sopir mobil rental, kusempatkan diri untuk datang ke Musium Tsunami Aceh dan Museum Kapal Apung yang pernah terseret gelombang tsunami dan terhempas di tengah perkampungan. Sejak museun tsunami diresmikan oleh Presiden RI ke enam, Susilo Bambang Yudhoyono pada tanggal 23 Februari 2008, atau tiga tahun lebih setelah tsunami, aku menyimpan rindu untuk datang ke Aceh dan mengunjunginya. Pucuk dicinta ulam tiba, Allah memberikan kesempatan padaku untuk kembali datang ke Aceh melalui pekerjaanku, sehingga aku benar-benar datang lagi ke Aceh dan bertemu dengan beberapa sahabat. Inilah sepenggal kisah tsunami yang terekpresikan melalui museum dan perbincanganku bersama sahabat dan petugas museum.

jejaktsunamiaceh01

“Museum Tsunami dilihat dari depan”

jejaktsunamiaceh02

“Narsis dulu ah, sebagai bukti kalau aku pernah datang“

Museum Tsunami Aceh ini terdiri dari museum, situs dan monumen tsunami yang dibangun di atas lahan seluas sekitar 10,000 meter persegi dan terletak di Ibukota provinsi Aceh, yaitu Kota Banda Aceh di Jl. Iskandar Muda, dekat simpang jam, di seberang lapangan Blang Padang. Persisnya di bekas kantor Dinas Peternakan Aceh sebelah pemakaman Belanda/Kerkhoff. Pembangunan museum ini merupakan hasil kerjasama yang sangat baik dengan berbagai pihak,  seperti misalnya lahan disiapkan oleh Pemerintah NAD; anggaran perencanaan, studi isi dan penyediaan koleksi museum serta pedoman pengelolaan museum disiapkan oleh Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), sedangkan anggaran untuk bangunan disiapkan oleh Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (BRR) NAD-Nias. Menurut keterangan dari petugas, museum ini dibangun dengan tiga alasan penting sebagai berikut:

  1. Sebagai media mengenang korban bencana tsunami.
  2. Sebagai pusat pendidikan bagi generasi muda tentang keselamatan bencana.
  3. Sebagai pusat evakuasi jika terjadi lagi bencana tsunami.

Museum ini ternyata dirancang dengan judul “Rumah Aceh Escape Hill” oleh M Ridwan Kamil, yang akrab disapa Kang Kamil, dosen Arsitektur ITB dan Ketua Bandung Creative City Forum, beliau sekarang menjadi Walikota Bandung. Kepercayaan tersebut diperoleh Kang Kamil karena beliau memenangkan sayembara lomba disain Museum Tsunami Aceh yang diselenggarakan oleh panitia dan dibantu oleh Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) cabang NAD dengan Thema “Nanggroe Aceh Darussalam Tsunami Museum (NAD-TM)”. Ridwan Kamil mendisain museum tersebut dengan memadukan beberapa aspek penting dalam perancangannya, yaitu tentang memori terhadap peristiwa bencana tsunami, analogi amuk gelombang tsunami, fungsionalitas sebuah bangunan museum/memorial, identitas kultural masyarakat rumoh Aceh (rumah bertipe panggung), cahaya Allah, estetika baru yang bersifat modern dengan taman terbuka berkonsep masyarakat urban.

Museum dibangun dengan mengandung beberapa filosofi, pada lantai dasar menceritakan bagaimana tsunami terjadi dan masing-masing ruangan memiliki filosofi yang mendeskripsikan gambaran memorial tsunami sebagai bencana besar yang melanda Aceh pada 26 Desember 2004 dan menelan korban jiwa sangat banyak, diperkirakan mencapai ratusan ribu jiwa. Berikut ini sahabat, filosofi dari disain lantai dasar Museum Tsunami Aceh.

  1. Space of Fear (Lorong Tsunami), lorong ini merupakan akses awal bagi kita sebagai pengunjung untuk memasuki museum, berupa lorong sepanjang 30 m dengan tinggi 19-23 m yang melambangkan tingginya gelombang tsunami. Air mengalir di kedua sisi dinding museum, terdengar suara gemuruh air, dengan cahaya remang-remang dan gelap, serta lorong yang sempit dan lembab, ini mendeskripsikan rasa ketakutan masyarakat Aceh pada saat tsunami terjadi.
  1. Space of Memory (Ruang Kenangan), setelah berjalan dalam lorong tsunami kita akan memasuki ruang kenangan (Memorial Hall). Ruangan ini dilengkapai dengan 26 monitor sebagai lambang tanggal terjadinya tsunami, dan setiap monitor menampilkan gambar, foto para koran, dan lokasi terjadinya bencana tsunami dalam 40 slide. Semua itu untuk mengingatkan kita agar tidak mudah melupakan bencana tersebut dan dapat mengambil hikmahnya. Berada di dalam ruangan ini dengan dinding kaca serasa berada di dalam lautan bergelombang tsunami, suasana ini mengandung filosofi dasar laut yang luas dan monitor-monitor yang ada di dalamnya menggambarkan bebatuan yang ada di dasar laut.
  1. Space of Sorrow (Ruang Sumur Doa), ruangan ini berbentuk silinder dengan ketinggian 30 m, disinari dengan cahaya remang-remang dan menyimpan sekitar 2.000 nama-nama koban tsunami disetiap dindingnya. Filosofi ruangan ini sebagai kuburan massal korban tsunami dan kita yang memasuki ruanga ini disarankan untuk mendoakan para korban menurut agama dan kepercayaannya masing-masing. Ruangan ini juga menggambarkan hubungan manusia dengan Tuhannya (hablumminallah), dengan tulisan kaligrafi Allah yang terletak di atas cerobong dengan cahaya mengarah ke atas, dilengkapai dengan lantunan ayat-ayat suci Al-Qur’an.
“Suasana di Ruang Doa untuk korban tsunami”

“Suasana di Ruang Doa untuk korban tsunami”

 

  1. Space of Confuse (Lorong Cerobong), lorong ini didisain dengan lantai yang berkelok dan tidak rata sebagai filosofi yang menggambarkan kebingungan dan keputusasaan masyarakat Aceh ketika tsunami. Mereka kebingungan akan arah tujuan, bingung mencari sanak saudara yang hilang, dan bingung karena kehilangan harta benda, sehingga lorong ini disebut space of confuse. Lorong gelap ini akan membawa kita menuju cahaya alami yang melambangkan adanya harapan masyarakat Aceh karena adanya perhatian dan bantuan dunia untuk pemulihan kondisi fisik maupun psikis di Aceh.
  1. Space of Hope (Jembatan Harapan), berjalan di atas jembatan ini kita bisa melihat hamparan kolam cantik di lantai satu yang dihiasi prasasti berupa 54 batu bulat bertuliskan kata “damai” dengan Bahasa masing-masing Negara yang membantu Aceh saat tsunami. Dan ketika melihat ke atas, kita juga dapat melihat 54 bendera dari 54 negara tersebut. Tulisan pada batu prasasti sebagai refleksi perdamaian Aceh dari peperangan dan konflik yang terjadi sebelum tsunami. Hikmah besar dari bencana gempa dan tsunami di Aceh ini telah menumbuhkan rasa kepedulian dari banyak Negara untuk mendukung perdamaian dan membangun Aceh kembali setelah bencana.
jejaktsunamiaceh04

“Jembatan Harapan”

jejaktsunamiaceh05

“Jembatan Harapan”

jejaktsunamiaceh06

“Di setiap batu ini tertulis kata damai dengan bahasa negara yang membantu Aceh”

jejaktsunamiaceh07

“Inilah 54 bendera dari 54 negara yang membantu Aceh”

Di lantai 2 ada ruang video yang menyajikan video tsunami selama 9 menit. Di sebelah nya ada ruangan display dan ruangan sains tentang tsunami dan gempa bumi, maaf tidak sempat motret-motret di lantai 2 karena dikejar waktu.

Hari ini masih ada satu tempat lagi yang ingin kudatangi sebelum aku kembali ke Jakarta, karena sesaat setelah tsunami aku sempat mendatangi tempat ini terkait dengan tugas “emergency response”. Tempat tersebut adalah PLTD Apung yang terdampar di perkampungan Gampong Punge, Blangcut, Banda Aceh karena amuk gelombang tsunami.

jejaktsunamiaceh08

Inilah PLTD Apung, kapal Apung yang berpindah tempat di tengah perkampungan ini sebagai bukti dahsyatnya tsunami pada 26 Desember 2004 silam. Kapal ini beratnya 2.600 ton terangkat oleh air dan terhempas di tempat lain, sungguh nyaris tidak masuk di akal. Sebelum tsunami, kapal apung ini sedang berada di pantai Ulee Lhee, Banda Aceh dan ketika terjadi tsunami, kapal terseret sejauh 5 km sampai di perkampungan Gampong Punge, Blangcut, Banda Aceh hingga saat ini dan menjadi bagian dari Museum Tsunami dengan tambahan berbagai fasilitas seperti jembatan, prasasti, hingga ruang dokumentasi. Sejak bulan April 2012 di sekeliling area kapal dipagari dengan besi setinggi 1,5 meter. Untuk menikmati museum ini, kita sebagai pengunjung tidak dikenakan biaya tiket, cukup menulis nama, alamat, dan tujuan kunjungan di buku tamu wisatawan serta mengisi kotak sumbangan sukarela.

Oh ya, PLTD Apung buka pukul 09.00-13.00 dan 14.00-17.00 WIB, jadi kita bisa mengatur waktu kira-kira akan berkunjung ke tempat ini jam berapa. Sama dengan tempat wisata lainnya, disini juga ada petunjuk arah seperti foto di bawah ini sehingga mempermudah kita dalam berkeliling dan menikmatinya.

“Petunjuk Arah untuk menikmati PLTD Apung”

“Petunjuk Arah untuk menikmati PLTD Apung”

Setelah mengisi buku tamu sebagai wisatawan, kita bisa lasung masuk dan disambut prasasti setinggi 2,5 meter di depan pos jaga.  Di bagian paling atas prasasti terdapat jam bundar yang menunujuk angka 07.55 WIB, ini sebagai tanda pengingat waktu terjadinya tsunami. Didalam prasasti bagian bawah terdapat daftar nama-nama desa dan korban jiwa akibat terdamparnya PLTD Apung ini. Berdekatan dengan prasasti terdapat relief terbuat dari tembaga yang berkisah tentang terdamparnya PLTD. Di bawah ini foto prasasti dan relief tersebut.

jejaktsunamiaceh11

Setelah melintasi prasasti, kita bisa langsung bertemu dengan kapal raksasa yang bagian bawahnya terbenam di tanah. Kondisi kapal masih utuh, ada beberapa undakan di kapal ini. Sisa-sisa tsunami masih terlihat jelas, ada rumput yang tersangkut di ban, ada pasir di dalam ruangan, ada juga kabel yang putus, dan jangkar nampak tergeletak berada di dek paling bawah.

“PLTD Apung dilihat dari taman”

“PLTD Apung dilihat dari taman”

Menurut informasi dari petugas, Kapal  PLTD Apung ini merupakan Kapal Pembangkit Tenaga Diesel lepas pantai yang berbobot berat 2.600 ton, panjang = 63 M, lebar = 19 M dan tinggi 4.3 M. Kapal ini mampu mensuply listik 10,5 MW untuk kebutuhan masyarakat Kota Banda Aceh dan sebagian Kabupaten Aceh Besar.

Setelah terdampar akibat tsunami, kapal masih berdiri kokoh, di puncak terdapat beberapa teropong untuk melihat jarak jauh. Jika teropong tersebut diarahkan ke utara, maka kita dapat melihat Samudera Hindia, ke selatan dan timur kita bisa melihat Kota Banda Aceh, dan ke arah barat ada kota dan perbukitan. Di bawah ini nampak rumah puing bekas tsunami yang sampai saat ini masih dibiarkan ikut bersaksi atas kedahsyatan tsunami waktu itu.

“Rumah Puing dilihat dari atas kapal”

“Rumah Puing dilihat dari atas kapal”

Secara keseluruhan, tempat ini nampak terawat, pagar besi keliling menjadi pembatas agar museum ini tetap terjaga dan dapat dinikmati oleh masyarakat luas dan menjadi media pembelajaran terkait dengan peristiwa tsunami di Aceh. Jika kita datang bersama anak-anak, ada taman dan alat permainan yang dapat dimanfaatkan oleh anak-anak sehingga menjadi penyeimbang antara kepentingan orang dewasa yang ingin menikmati museum dengan kepentingan anak untuk bermain.

Jika kita merasa haus dan lapar setelah berkeliling museum, kita bisa membeli minuman & makanan yang ada di sekitar halaman museun.  Dan sebelum pulang, jangan lupa membeli sovenir khas Aceh yang dijual oleh masyakat yang sebagian dari mereka adalah korban tsunami, dengan membeli sovenir mereka kita sudah ikut menyemangati mereka untuk terus berusaha dengan kemampuan yang masih tersisa. Sampai disini ceritaku tentang jejak tsunami, semoga dapat menginspirasi sahabat untuk mengunjunginya dan belajar tentang tsunami. Sampai jumpa dengan tulisan berikutnya tentang tempat-tempat menarik lainnya di Republik tercinta. Salam…

 

 

17 Comments to "Menelusuri Jejak Tsunami Aceh"

  1. Wiwit  16 September, 2016 at 15:42

    Betul mbak Hennie….pengalaman yang tak terlupakan dan ketika masuk ke museum tzunami jadi merasa seperti baru kemaren terjadi.

  2. HennieTriana Oberst  7 September, 2016 at 10:26

    Pasti ikatan batin mbak Wiwit kuat sekali dengan Aceh, pengalaman yang tak mungkin dilupakan seumur hidup. Teman saya di Shanghai, seorang jurnalis dari negara Swis juga menceritakan bagaimana menyanyatnya keadaan di sana setelah Tsunami dulu.
    Museumnya bagus dan terlihat megah.

  3. Wiwit  15 August, 2016 at 06:15

    Baik Bu Lain….siiip hehe…

  4. Lani  14 August, 2016 at 23:02

    Ditunggu jalan2 berikutnya…………..

  5. Herlani Herkamto  14 August, 2016 at 23:01

    Wiwit: terima kasih, tapi tdk usah di add krn yaitu aku sama sekali tdk aktif disana

  6. Wiwit  14 August, 2016 at 16:28

    Aamiin,…sama2 pak Dj…saya juga merasa banyak keajaiban yang terjadi bersamaan dengan tzunami di Aceh. Semoga kita semua dapat belajar dari pengalaman dan peristiwa yang menyedihkan tersebut tidak terulang lagi.
    Atau seandainya ada lagi, setiap orang sudah mempunyai pengalaman bagaimana harus menyelamatkan diri dan menolong yang lain.

  7. Wiwit  14 August, 2016 at 16:24

    Bu Lani…gpp..saya malah belum add dirimu di FB, tapi karena Bu Lani gak aktif, ya udah gak jadi tak add hehe..

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *