Kisah Penulis Tangguh dan Penjual Sapi

Nur Mursidi

 

Penulis –sejati– kerapkali diuji dua hal: kemiskinan dan pengkhianatan. Soal kemiskinan, aku akan bercerita di hari yang lain. Sebab, cerita itu bisa panjang –berseri, mirip cerita bersambung (cerbung) atau bahkan bisa jadi buku cerita yang berjilid-jilid. Tapi, karena panjang aku yakin kayaknya tidak ada yang sanggup membaca tuntas. Masih untung jika ada yang mau baca, walau sedikit, bagaimana jika tidak? Wah, aku bisa rugi dua kali. Sudah capek menulis, tak dapat uang lagi. Jadi, siang ini aku memutuskan untuk menulis cerita “penulis yang diuji pengkhianatan”.

Cerita ini aku dapatkan dari seorang teman. Temanku itu dapat cerita tersebut dari temannya. Temannya itu dapat dari temannya lagi. Temannya lagi dapat dari temannya lagi, hingga total ada sembilan perawi. Saat mendengar “cerita” ini, aku pun tidak begitu saja percaya. Aku lalu melakukan penelusuran, dan ternyata cerita ini valid dan bisa dipercaya.

Teman-teman yang kenal dekat dengan penulis satu ini menyebutnya penulis lucu. Sebagian lagi menyebutnya penulis yang kurang cerdas. Tapi bagiku, penulis ini tergolong tangguh dan mungkin layak dinobatkan sebagai penulis jujur. Soal pendapatku yang bisa beda dengan yang lain ini (kenapa aku menyebutnya penulis tangguh dan jujur), kalian akan mendapat jawabannya nanti di akhir cerita. Jadi, mohon sabar!

Dari cerita yang aku gali, penulis ini sudah menekuni dunia tulis-menulis selama sepuluh tahun. Dia menulis cerpen di koran, kadang menulis opini, kadang jika ada tawaran proyek dari departeman atau kementerian, dia diajak oleh temen-temennya –semata-mata bukan karena layak dipilih, tapi karena kasihan saja. Tapi tulisan yang dihasilkan, kerap kali kurang memuaskan oleh temen-temennya. Akhirnya, salah satu temannya harus kerja 2 kali –mengedit habis-habisan, atau bahkan membongkar ulang. Reputasi kepenulisan penulis ini di media (rubrik cerpen dan opini) pun, cukup menyedihkan. Dari sepuluh cerpen yang ditulis, biasanya hanya satu atau dua yang dimuat. Itu pun di koran kecil atau lokal. setali tiga uang dengan opini yang ditulis.

Sebagian besar temannya pernah menasehati, atau lebih tepatnya meledek. “Sudahlah berhenti saja jadi penulis, mending jualan gorengan. Itu lebih praktis dan menguntungkan!”

Tapi, penulis itu diam. Dia pergi tanpa meninggalkan sepatah kata pun. Tentu, teman-temannya kaget, dan merasa ucapan itu menyakiti hatinya. Setengah jam kemudian, lucunya dia datang membawa bungkusan plastik. Teman-temannya kaget, lebih kaget lagi saat bungkusan itu dibuka, ternyata isinya gorengan (ada tempe, tela, pisang goreng dan lain-lain). Sontak, gorengan itu pun diserbu. Dalam sekejab, gorengan itu habis.

“Apa yang tersisa dari gorengan ini?” tiba-tiba penulis itu melontarkan secuil pertanyaan yang membuat temannya hanya bisa melongo. Tak menjawab apa pun, karena habis. Ludes. Tak tersisa. “Paling-paling hanya bisa mengganjal perut kalian satu, atau dua jam. Setelah itu, kalian pergi ke toilet dan buang hajat. Hilang apa yang sudah kalian makan. Jadi, kalian ini ingin aku membuat karya yang tak meninggalkan kesan dan kenangan?”

Semua diam. Peristiwa itu seharusnya membuat teman-temannya sadar, bahwa penulis ini memang gigih dan tak patah arang walau dia belum menjadi penulis terkenal. Tapi, sejak peristiwa itu, teman-temannya menjuluki penulis satu ini penulis lucu.

Dia pernah sekali menulis buku. Tapi semua penerbit yang disodori naskahnya, menolak dengan “kasar”. Tanpa basa-basi. Akhirnya, untuk menghibur diri, dia menerbitkan buku secara indie –dijual ke teman-temannya, juga orang lain lewat facebook dan twitter. Lagi-lagi, teman-temannya membeli lantaran kasihan, bukan karena buku itu bagus. Tapi, dia tidak pernah berhenti belajar menulis. Hingga suatu hari, dia mendapatkan tawaran menulis buku biografi seorang tokoh. Dia pun menerima tawaran itu lantaran proyek itu kelak diharapkan bisa menjadi jembatan yang mengantarkannya jadi terkenal. Tetapi tragis, tawaran itu tak ada kelanjutannya. Padahal, dia dijanjikan akan dikasih uang lelah 15 juta.

Dia merasa dikhianti. Tapi, hal itu tak membuatnya patah hati. Dia justru menaikkan tarifnya. Sekarang jika ada orang yang minta menulis buku biografi, aku akan pasang tarif 30 juta. Itu keputusan yang ia ikrarkan. Tak selang lama, ada tawaran menulis buku biografi seorang pengusaha. Tapi tragisnya, kembali dikhiati. Tak ada kelanjutannya. Uang 30 juta itupun tinggal kenangan. Tapi bukan penulis tangguh jika ia menyerah. Dia justru menaikkan tarif jasa penulisan menjadi 60 juta. Jadi setiap kali dia dikhianati ia menaikkan dua kali lipatnya. Dia dikhianati lagi, kemudian menaikkan tarif menulis buku biografi yang digarap menjadi 120 juta.

Saat aku mendengar cerita ini, aku geleng-geleng kepala. Dia ini benar-benar penulis tangguh dan jujur. Kisah penulis ini mengingatkanku pada sebuah kisah pada zaman Nabi Musa tentang seorang pemuda jujur yang menjual sapi. Satu hari, ibu dari pemuda itu meminta anaknya menjual sapi dengan harga 3 dinar. Tapi, di pasar sapi itu malah ditawar 6 dinar. Anak itu tak mau melepas walau harganya 2 kali lipat lebih mahal. Dia pulang. Esoknya, ibunya meminta lagi sapi tersebut dijual. Tapi kali ini dengan harga 6 dinar. Tapi di pasar, sapi itu ditawar 2 kali lipat lebih mahal; 12 dinar. Pemuda itu tidak melepas karena dia mematuhi pesan sang ibu; untuk menjual 6 dinar.

Harga sapi itu terus naik, hingga kemudian diputuskan akan dijual jika ada orang yang menawar sepadan dengan kepingan dinar (emas) yang memenuhi kulit sapi tersebut. Itulah buah manis dari kisah pemuda yang jujur dan berbakti kepada ibunya. Ia akhirnya mendapatkan harga jual sapi sepadan kepingan dinar yang memenuhi kulit sapi.

Apakah di akhir cerita, penulis yang tangguh itu akan mengalami nasib mujur sebagaimana kisah penjual sapi pada zaman Nabi Musa -seperti kisah di atas? Sudah lama, aku tak mendengar kabar tentang penulis tangguh satu ini. Jadi aku mencari tahu dengan berbagai cara dan akhirnya mendapatkan kabar tentang nasib penulis tangguh tersebut.

Jujur, ingin rasanya aku menceritakan “kisah akhir” dari perjuangan penulis tangguh tersebut. Tapi, saat aku berjuang mau melanjutkan cerita tentang nasib penulis tangguh satu ini tiba-tiba perutku terasa melilit-lilit. Seperti ada jari-jemari dari sepasang tangan yang merayap pelan, menggaruk-garuk ususku. Aku melongok jam dinding. Pukul 15.00. Pantes saja, perut-ku keroncongan. Aku baru sadar, jika dari tadi pagi aku belum sarapan.

Jadi maaf…. karena lapar aku mau keluar dulu untuk makan. Kebetulan, di dekat kantor kelurahan Halim Perdanakusuma, ada warung pecel (Jawa Timur) yang enak. Aku ingin pergi ke sana, makan dulu, mengisi perutku. SOal cerita akhir dari penulis satu ini bisa aku lanjutkan nanti, atau besok jika aku tak sibuk ya! Mohon sabar! Soalnya, setelah makan nanti, aku langsung ke Pasar Kramat Jati untuk mengurus produksi baju. Hidup ini indah untuk menikmati cerita yang bisa membuat hari esok masih memiliki harapan. Selamat makan siang, dan aku sarapan dulu.

 

Cililitan, 31/07/2016

 

 

About Nur Mursidi

Cerpenis kelahiran Lasem, Jawa Tengah. Beberapa cerpennya telah dimuat di sejumlah media massa seperti Kompas, The Jakarta Post, Suara Pembaruan, Seputar Indonesia, Sinar Harapan, Republika, Jurnal Nasional, Suara Karya, Tabloid Nova, Majalah Femina, Majalah Anggun, Kedaulatan Rakyat, Minggu Pagi, Tribun Jabar, Batam Pos, Radar Surabaya, Surabaya Post, Surya, Lampung Post, Bengawan Post, Solo Post, Inilah Koran, Suara Merdeka, dan Tabloid Cempaka. Dia bekerja sebagai wartawan sebuah majalah di Jakarta. Karya terbarunya: Tidur Berbantal Koran (Elex Media: 2013).

My Facebook Arsip Artikel

8 Comments to "Kisah Penulis Tangguh dan Penjual Sapi"

  1. David Banurea  18 August, 2016 at 21:04

    sangat menginspirasi….
    terima kasih telah berbagi!

  2. Alvina VB  17 August, 2016 at 01:20

    ha..ha,,,,penulisnya bikin org penasaran euy…. ditunggu lanjutan ceritanya, semoga ada kemajuan.
    Banyak pengalaman penulis yg berusas-susah dulu dan bersenang-senang kemudian, salah satunya spt yg kita tahu J.K. Rowling, penulis Harry Potter.

  3. Dj. 813  16 August, 2016 at 16:45

    Mas Nur Mursidi . . .

    *** Wah, aku bisa rugi dua kali. Sudah capek menulis, tak dapat uang lagi. ***

    Nulis di Baltyra juga tidak dapat uang lho . . .
    Hahahahahahahahaha . . . ! ! !
    Tapi sampai sekarang tidak ada yang merasa rugi . . .

    Selamat Berkarya dan salam,

  4. djasMerahputih  16 August, 2016 at 07:16

    Lain kali, penulisnya minta DP 50% sebelum nulis biographi, biar ngga kebobolan lagi..

    Nyusul para Kenthirs bersaudara.

  5. Anik cahyanik  15 August, 2016 at 20:57

    Lanjutkan ceritanya..lanjutkan ceritanya… *demo di depan rumah penulis*

  6. Handoko Widagdo  15 August, 2016 at 14:12

    Cerita si Mas ini memang selalu tak tertebak. Semoga si penulis sedang tidur berbantal koran.

  7. james  15 August, 2016 at 10:45

    ci Lani, makasih dah di sapa happy Monday

  8. Lani  15 August, 2016 at 10:04

    Menyapa dulu sesama sodara kenthirs………bacanya nanti

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.