Satu (lagi) Tahap Terlewati

Dian Nugraheni

 

Aku sedang memberikan pelajaran buat Alma, agar dia mau “berhubungan” dengan dunia luar secara wajar, berkaitan dengan sifat diemnya yang agak abnormal itu.

Maka “terapi-terapi” aku berikan, misalnya, membeli satu item barang di groseri. Nanti kapan lagi, beli dua item, tiga item, dan seterusnya.

one-step-further

Lalu aku suruh jalan-jalan kek, sama temen-temennya. Itu juga sudah dilakukan, mereka anak-anak remaja itu ketemuan di terminal, lalu berangkat dan pulang bareng ke mall. “Cuma liat-liat dan beli roti aja..,” katanya.

Nahh, kalau di Amrik, data diri anak sekolah, di antaranya ada dicantumkan, no. telpon Parent/Guardian (telpon rumah, mobil, tempat kerja), nomer telpon sibling (saudara kandung), plus satu lagi, nomer telpon orang lain yang bisa dihubungi, dan dia statusnya apa untuk anak tersebut. Dalam hal ini kami mencantumkan nomor telepon seorang teman dekat yang sering dan mudah bertemu dengan keluarga kami.

Kami nggak punya telpon rumah. Cellphone cuma satu punya si Kakak, dan dia sering telat bayar, maka ga bisa dihubungi. Maka siang itu, Gurunya, untuk satu hal, nelpon ke nomer telpon teman dekat kami, yang isinya minta Alma untuk segera daftar online karena dia ambil online summer class untuk bahasa Latin, dan diminta call back gurunya untuk menanyakan hal ini (saat ini anak-anak sedang libur summer break sekitar 3 bulan, masuk lagi ntar September).

Berita Gurunya nelpon ini sudah lambat aku baca, yaitu sepulang kerja, karena teman dekat kami ini hanya bisa memberitakannya lewat inbox FBku (dan aku cuma buka FB lewat laptop di rumah).

Bla..bla..bla..maka aku baru bisa minta Alma nelpon ke gurunya, esok harinya, pakai cellphone si kakak yang sore itu sudah dibayar abunemen-nya.

Alma, “Mau bilang apa, wong aku sudah daftar. Lagian, bukannya ini jam kerja, semua telpon guru akan di’silent…pasti ga diangkat…”
Dan banyak alasan lain.

Aku, “Whatever, karena gurumu kasih nomer telpon untuk di-call back, ya kamu harus telpon balik, jangan jadi menyepelekan dan ga sopan gitu…”

Alma, “Okay…”

Lalu dia masuk kamar, aku diem-diem ada di balik pintu kamarnya, untuk mendengarkan dia nelpon gurunya.

Aku rasa, selain dia diem gitu, sampai kelas 2 SMA ini dia juga belom pernah punya hape, jadi yakin banget dia minim kemampuan untuk bicara per telepon, apalagi soal dengan gurunya.

Daan…akhirnya, puji syukur dumateng Gusti Allah, moment Alma bertelepon dengan gurunya “normal”, “make sense” kata-katanya, ada “solusi”…, dan lengkap, dari greeting, menanyakan apa masalahnya, sampai Alma berthank you-thank you…

Ternyata Gurunya yang salah sangka bahwa Alma belom daftar online, sedangkan Alma sudah daftar online dan sudah ambil bukunya.

Satu step pelajaran berhubungan dengan orang lain buat Alma, terlewati. Besok-besok kasih tugas yang lebih “berat”..hixixixi…

 

*Karena ga punya smartphone, kami aman dari incaran pindaian si Pokimin…*

 

 

6 Comments to "Satu (lagi) Tahap Terlewati"

  1. Lani  17 August, 2016 at 02:33

    Mas DJ: libur panjangnya ambil secara sukarela……….hahaha……….krn mana ada di America libur sampai 3 bulan nutuk? ora ono mas…………..ora mungkin……..selain meliburkan secara sukarela sendiri………….

  2. Alvina VB  16 August, 2016 at 23:36

    Dian: begitulah suka-dukanya ngikutin perkambangan anak2 ya…..kl Dian kasih dukungan dan kepercayaan, for sure…Alma will be an amazing young lady.

  3. Dj. 813  16 August, 2016 at 16:32

    Hallo Dian . . .
    Libur Sommer sampai 3 bulan ( 12 minggu ). . . ? ? ?
    Hebat sekali, di Jerman hanya 6 minggu saja .
    Musim semi 2 minggu, sommer 6 Minggu, musim gugur 2 minggu dan musim dingin 2 minggu .

    Sallam manis dari Mainz .

  4. djasMerahputih  16 August, 2016 at 07:12

    Great mom…

    Nyusul para Khentirs.

  5. james  15 August, 2016 at 10:43

    mbak Lani kabarnya Terlewati

  6. Lani  15 August, 2016 at 10:03

    Halo para kenthirs…………apakabar?

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *