Tiga Kebijakan Anies Baswedan yang Layak Diteruskan

Handoko Widagdo – Solo

 

Ada tiga hal yang telah dikerjakan oleh Anies Baswedan yang menurut saya sangat baik bagi dunia pendidikan di Indonesia. Ketiga hal tersebut adalah: (1) Keterbukaan kepada publik, (2) Ekosistem pendidikan di sekolah dan (3) Budaya baca. Ketiga kebijakan tersebut, di samping kebijakan-kebijakan lainnya sangatlah baik untuk dilanjutkan oleh Menteri Pendidikan yang baru.

© Copyright 2010 CorbisCorporation

 

Keterbukaan publik

Anies Baswedan telah membuat Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan membuka diri untuk bisa berdialog secara terbuka dengan publik. Kelompok-kelompok masyarakat yang memiliki perhatian terhadap pendidikan di Indonesia bisa memberikan masukan, kritik dan klarifikasi dari Kemdikbud. Kelompok masyarakat seperti Kawal Pendidikan dan lain-lain bisa secara langsung bertemu dengan pejabat selevel Dirjen untuk mendialogkan perbagai isu tentang pelaksanaan pendidikan. Meski dalam pelaksanaannya masih pada taraf kelompok masyarakat ‘mengadili’ para birokrat Kementerian, namun upaya ini jika ditata dengan lebih baik akan bisa memberikan input yang besar kepada Kementerian untuk mengetahui keluhan dan keinginan masyarakat tentang kebijakan yang harus diambil.

Melalui kegiatan Kopi Darat yang diselenggarakan secara regular, isu-isu pendidikan bisa didialogkan bersama antara praktisi, masyarakat dan pejabat kementerian. Format dialog santai sambil minum kopi di perpustakaan Kemdikbud membuat prosesnya berjalan renyah. Pada forum Kopi Darat ini guru-guru di pelosok, kepala sekolah dan pengawas yang punya pengalaman menarik bisa sharing kepada para praktisi dan pengambil kebijakan pendidikan. Suara dari bawah bisa langsung sampai ke telinga para pemikir dan pengambil kebijakan.

Untuk memberi tahu publik tentang kondisi pendidikan di level nasional, provinsi maupun kabupaten, Anies  membuat “Neraca Pendidikan”. Melalui laman yang dikelola Kemdikbud ini kita bisa mendapatkan informasi tentang kinerja pendidikan, terutama tentang:

(1) Anggaran Pendidikan yang dialokasikan daerah untuk pendidikan (menurut urusan) dan yang diterima daerah dari pusat (transfer pusat ke daerah untuk bidang pendidikan),

(2) Jumlah, kondisi dan akreditasi Satuan Pendidikan,

(3) Jumlah peserta didik dan guru serta rasionya,

(4) Capaian Pendidikan (nilai Ujian Nasional, nilai Ujian Kompetensi Guru dan Indeks Integritas UN),

(5) Presentase Penduduk Tuna Aksara, dan

(6) lndeks Pembangunan Manusia (berdasarkan angka harapan lama sekolah dan rata-rata lama sekolah). Dengan disampaikannya informasi tersebut, masyarakat bisa menilai sendiri kinerja sebuah daerah tentang pendidikan. Masyarakat pada akhirnya bisa ‘menuntut’ pelayanan pendidikan yang lebih baik.

 

Sekolah Sebagai Komunitas

Ekosistem pendidikan yang selalu didengungkan oleh Anies Baswedan tak hanya berlaku di level pusat atau Dinas. Ekosistem pendidikan juga wajib dilakukan di level sekolah. Dalam buku yang berjudul “Antropologi Pendidikan” karya P.M. Laksono menengarai bahwa orang tua saat ini menganggap sekolah sebagai tempat penitipan anak. Orang tua cenderung mencari sekolah yang bisa memberi pelajaran ilmu pengetahuan, agama, perilaku dan bahkan menyediakan asupan gizi kepada anak-anaknya. Melalui ekosistem pendidikan di level sekolah Anies berupaya mengembalikan fungsi sekolah sebagai tempat mengasah calon-calon pemimpin bangsa bersama antara guru dan komunitas masyarakat setempat. Keterlibatan orang tua didorong sedemikian rupa supaya mereka semakin paham tentang apa yang terjadi di sekolah dimana anaknya belajar.

Melalui Direktorat Pendidikan Anak Usia Dini dan Pendidikan Masyarakat, Kemdikbud merancang program bagi orang tua supaya mereka bisa membantu proses belajar anaknya. Melalui workshop-workshop yang diselenggarakan, diharapkan orang tua menjadi semakin paham perannya dalam membantu anaknya belajar selepas dari sekolah.

Anies juga menganjurkan orang tua untuk sering-sering berkunjung ke sekolah. Salah satunya meminta orang tua mengantar anaknya saat hari pertama masuk sekolah. Diharapkan saat mengantar tersebut orang tua bisa berkomunikasi dengan kepala sekolah dan guru, serta bisa memperhatikan lingkungan sekolah dimana anaknya belajar.

Upaya Anies dalam “membuka kembali” partisipasi masyarakat dalam mendidik calon pemimpin bangsa ini merupakan sebuah terobosan yang jitu. Terobosan ini penting karena ada kecenderungan orang tua menyerahkan masalah pendidikan anaknya kepada sekolah. Jika ada yang salah terhadap anak, maka sekolahlah yang dipersalahkan.

 

Budaya baca

Satu lagi upaya Anies yang perlu dilanjutkan adalah pengembangan budaya baca di sekolah. Sebagai sebuah negeri yang memiliki populasi calon pekerja yang melimpah, Indonesia berharap bisa memanfaatkan bonus demografi ini. Untuk mempersiapkan calon pekerja yang kreatif dan inovatif, Anies menempuh cara mengembangkan budaya baca di sekolah. Anak-anak diminta untuk membaca buku non matapelajaran selama 15 menit setiap hari sebelum jam pelajaran dimulai. Melalui pembiasaan ini diharapkan anak-anak akan cinta membaca.

Membaca buku non matapelajaran sangat penting untuk mengasah kreativitas siswa. Sebab melalui bacaan fiksi maupun non fiksi maka ide-ide anak akan muncul. Ide-ide kreatif ini akan membuat anak-anak menjadi insan yang inovatif saat mereka memasuki dunia kerja.

Upaya Anies tidak berhenti kepada membuat Peraturan Menteri tentang pembiasaan membaca. Pak Menteri juga mengajak para penulis buku anak dan penerbit buku anak untuk memproduksi buku-buku bacaan yang baik. Anies juga menyediakan anggaran pembelian buku melalui Dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS).

Tiga kebijakan yang sudah dimulai oleh Pak Menteri ini sebaiknya dilanjutkan. Siapapun Menteri Pendidikannya.

 

 

About Handoko Widagdo

Berasal dari Purwodadi, melanglang buana ke berpuluh negara. Dengan passion di bidang pendidikan, sekarang berkarya di lembaga yang sangat memerhatikan pendidikan Indonesia. Berkeluarga dan tinggal di Solo, kebahagiaannya beserta istri bertambah lengkap dengan 3 anak yang semuanya sudah menjelang dewasa.

My Facebook Arsip Artikel

11 Comments to "Tiga Kebijakan Anies Baswedan yang Layak Diteruskan"

  1. Lani  17 August, 2016 at 02:55

    AL: itulah Indonesia…….kebanyakan partainya hanya mengejar kemenangan, yg bener2 memikirkan rakyat dan negeri ini sedikit sekali atau malah minus?

    Mereka hanya mengejar kekayaan sendiri2 dan klu bs sambil nyolong, duit rakyat, duit negeri ini digerogotin……..

    Mmg payah bener, negeri kaya raya tp ditangan yg salah. Moga2 kedepannya akan menjadi lebih baik diperlukan pemimpin2 nekad demi rakyat dan negeri ini agar menjadi baik

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.