Jembatan Emas

djas Merahputih

 

Bung Karno menyebut kemerdekaan sebagai sebuah jembatan emas. Di seberang jembatan itulah masa depan Indonesia. Sayangnya, gejala yang nampak setelah dua dekade awal kemerdekaan hingga beberapa tahun terakhir ini adalah, kita malah berjalan mundur sambil mempreteli satu demi satu tiang-tiang penyangga jembatan emas itu.

Kita telah menggadaikan kemerdekaan itu sendiri. Kemerdekaan yang ditebus dengan darah dan nyawa para pahlawan.

Kita seakan berjalan di tempat. Bangsa ini membangun sambil merobohkan, menanjak sambil menginjak, membangun gedung sambil merobohkan akhlak, membangun industri sambil menindas pekerja, membina prasarana sambil memusnahkan lingkungan. Hal ini telah diperingatkan sejak lama agar sedapat mungkin kita hindari, oleh bapak bangsa M. Natsir.

Kemerdekaan Indonesia adalah kemerdekaan seluruh rakyat. Rakyatlah yang seharusnya menerima manfaat terbesar dari sebuah kemerdekaan. Rakyat terdiri dari individu-individu berwujud manusia. Sehingga hakekat kemerdekaan semestinya adalah membangun manusia dan kemanusiaan, membina serta memberdayakan masyarakat untuk mandiri.

Rakyat hanya bisa berdaya jika ditopang oleh pendidikan jiwa sekaligus pertumbuhan raga yang sempurna. Negara berkewajiban mendidik serta mencerdaskan kehidupan bangsanya. Negara harus bisa hadir kapan dan di manapun rakyat membutuhkan. Kedaulatan negara tergambar dari cara sebuah pemerintahan mengelola kehidupan rakyat. Negara berdaulat jelas terlihat dari kontribusi negara terhadap gerak-gerik kehidupan setiap warga negara.

Kedaulatan negara berada di tangan rakyat, bukan di tangan para wakil mereka. Jika sebuah kekuatan mampu meyandera Presiden dan DPR, itu tidak berarti mereka dapat menguasai jiwa-jiwa merdeka rakyat Indonesia. Rakyat memiliki dayanya sendiri. Suara rakyat adalah suara Tuhan. Kalian bisa saja membeli suara mereka, namun tak kan pernah mampu merampas kemerdekaan di dalam jiwa-jiwa mereka.

Kini, setelah 71 tahun usia kemerdekaan, jembatan emas itu perlahan kembali menampakkan diri. Ia tak lagi sekedar khayalan. Jembatan emas itu hadir dalam jiwa anak-anak bangsa. Jiwa-jiwa merdeka dan penuh semangat bertebaran di seantero negeri.

HUT RI 71

Jika Bung Karno hanya butuh 10 pemuda untuk mengguncang dunia, maka kini Beliau bisa mendapatkan 10.000 pemuda dan pemudi dari seluruh penjuru negeri. Cahaya redup rembulan kini bertukar sinar cerah Sang Purnama. Jembatan emas itu ternyata bersemayan dalam diri pemuda dan pemudi Indonesia, yang mandiri lagi berhati emas.

Mereka siap mengguncang dunia…!!

 

DIRGAHAYU NKRI ke 71

*Diadaptasi dari sekeping artikel dalam buku KITA adalah LAUTAN

 

 

About djas Merahputih

Dari nama dan profile picture'nya, sudah jelas terlihat semangat ke-Indonesia-annya. Ditambah dengan artikel-artikelnya yang mengingatkan kita semua bahwa nasionalisme itu masih ada, harapan itu masih ada untuk Indonesia tercinta. Tinggal di Sulawesi, menebar semangat Merah Putih ke dunia melalui BALTYRA.

My Facebook Arsip Artikel

6 Comments to "Jembatan Emas"

  1. Lani  19 August, 2016 at 10:00

    Aku setuju sama pesan Al ke James……….tuan puteri yg di Canada mau menghilang krn dgn seabreg kesibukannya………..jd jgn dilupakan ya James

  2. djasMerahputih  19 August, 2016 at 09:58

    Nyusul para Kenthirs..

    Om DJ:
    Sepakat bahwa jiwa kejuangan pemuda pemudi Indonesia lebih alot di awal kemerdekaan, namun bukan berarti karakter mereka tak bisa lagi kita temui di masa depan. Pelurusan sejarah akan menghantarkan anak-anak muda pada pemahaman jati diri bangsa yang selama ini diputarbalikkan.

    Salam Kemerdekaan.

  3. Alvina VB  19 August, 2016 at 01:30

    Hadir….merdeka Djas!
    James: absen yg rajin yak…mau bolos dulu sebulanan…..he..he….

  4. Dj. 813  18 August, 2016 at 16:05

    Hallo Djjas . . .
    Terimakasih, satu ulasan yang bagus . . .
    10 pemuda yang bergabung dengan bung Karno, jauh lebih dasyat dari yang 10.000 sekarang .
    Saat itu jelas yang 10 adalah mereka yang berani berkorban untuk kemerdekaan Indonesia .
    Tapi yang 10.000 sekarang hanya mikir isi perut sendiri .
    Memang jauh lebih vanyak, lebih dari yang hanya 10.000 mungkin bahkan berjuta jemlahnya .
    Tapi, sebelum mereka sadar dan masih ingin memperkaya diri sendiri dan membeli budaya asing,
    sampai 100 tahun merdekapun, akan tetap sama.
    Dan Rakyat kecil lah yang menjadi korban atas tingkah laku wakit rakyat .
    Ini sekedar pikiran Dj. saja .

    Sekali lagi terimakasih dan Salam,

  5. herkamtoherlaniLani  18 August, 2016 at 12:07

    James: mahalo dan merdekaaaaaaaaaa!

  6. James  18 August, 2016 at 10:25

    hadir bang Djas, sambil menantikan para Kenthirs lainnya

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.