Pidato Si Mak 16 Agustus 2016

Dian Nugraheni

 

Merdeka itu seperti tubuh dan jiwa yang sehat. Artinya, tubuh dan jiwa “tidak berasa” apa-apa yang bersifat sakit, beban, atau gangguan, misalnya kepala tidak pusing, perut tidak mules, atau pikiran tidak bingung, tidak kehilangan semangat, dan seterusnya.

Itu artinya, tubuh dan jiwa mempunyai kesiapan yang prima, untuk melakukan hal-hal yang menjadi tujuannya ke depan, seperti menciptakan semangat untuk melakukan pekerjaan, bersekolah, dan seterusnya.

Pidato ini, sedikitnya, aku tujukan pada diriku sendiri, dan anak-anakku. kalau teman-teman lain berkenan membaca, sangat terima kasihlah aku.

Susunan pidato kali ini, sedikit banyak akan menyangkut kasus terkini yang menyangkut ex Menteri ESDM, AT, dengan segala lika-liku perjalanannya sampai yang bersangkutan dilantik menjadi menteri ESDM, kemudian terkuak bahwa yang bersangkutan ternyata adalah orang Indonesia yang sudah mendapat status kewarganegaraan Amerika, kemudian dia di “sue” oleh khalayak, sebagai tidak lagi berhak menempati posisi jabatan kenegaraan setingkat menteri, dan kemudian Presiden menyatakan pemberhentian yang bersangkutan.

Aku enggak tinggal di Indonesia, aku bukan politikus, selamanya aku golput dan tidak memihak siapa pun di Indonesia, kalau pun aku membahas hal-hal yang berkaitan dengan politik, maka pastilah aku punya concern atas masalah tersebut.

Tidak dipungkiri, bahwa teman-teman diaspora Indonesia, khususnya yang berada di Amerika, sedang giat memperjuangkan dikabulkannya Dual Citizenship oleh Indonesia, sehingga, bagi yang berkepentingan, dan bermaksud mengambil kesempatan menjadi warga negara US, sekaligus masih tetap bisa memegang kewarganegaraan “asli”nya, Indonesia.

Bila…, bila.., kasus ex menteri ESDM tersebut, dibiarkan berjalan, dengan yang bersangkutan secara lemah hanya mampu berkata, “yang di sana sudah saya kembalikan”, tanpa bisa menjelaskan secara rinci, kapan dia kembalikan, apakah ada hitam putihnya bila itu dimungkinkan, dan seterusnya. Atau, seperti apa kata para jenderal pensiunan yang dengan ngawur plus songong, yang seolah-olah mengatakan bahwa soal AT ini nggak boleh diganggu gugat, apa salahnya sih dwikewarganegaraan..bla..bla..bla…Pernyataan ini sungguh menganggap bangsa Indonesia semua goblok, bodoh, tak mampu berpikir, tidak kritis, dan seterusnya.

Dengan majunya jaman internet, apa pun bisa terekam, dan bisa dibahas secara terbuka. Maka model-model jadul yang cuma mengandalkan nafsu kapal keruk macam begitu, sudah usang..I’m so sorry, Paman Jenderal..!!

Bila ada yang aku sayangkan, secara pribadi, si AT ini katanya sudah 20 tahun tinggal di Amrik. Hei, Kawan, menurut pendapatku, Amrik ini bumi yang sangat tepat buat kita belajar hidup yang sesungguhnya. Di mana setiap aksi pasti ada reaksi secara logis, banyak hal diuji dengan pertanyaan, apakah ini make sense atau make no sense. Amerika, di mana orang-orang merasa bahwa mereka memang hanya imigran, semua menumpang di Amrik, maka sikap-sikap yang lebih mengemuka adalah soal toleransi, saling menghargai, jangan merugikan pihak lain, dan JUJUR…dijunjung tinggi di mana-mana.

Aku dan anak-anakku, sebagai imigran, sering kali “miss”, nggak berhasil mendapatkan suatu fasilitas, karena memang dianggap tidak “eligible” atau tidak dalam suatu keadaan yang memang layak untuk mendapatkan suatu hak. Misalnya, tidak jadi mendapat bantuan keuangan soal suatu hal, karena ternyata oleh negara, aku dianggap masih mampu untuk menanggulangi sendiri, berdasarkan jumah uang yang ada di tabunganku (lembaga di sini berhak memeriksa keuangan kita sampai tabungan dan lain-lain bila kita sedang apply sesuatu).

Banyak juga orang Indonesia di Amrik, yang berlagak seolah-olah bodo, nggak tau, dan bahkan nggak ngaku atau ngumpet-umpetin, sebenernya berapa pendapatan dia per tahun. Kenapa demikian..? karena orang-orang tersebut tetap mau dibilang low income, agar mendapat fasilitas-fasilitas yang memang disediakan negara bagi kaum tersebut.

Tapi bagi aku, dan apa yang aku ajarkan pada anak-anakku, “Jangan pernah berbohong, melanggar ketentuan, atau sengaja arrange sesuatu agar kalian mendapatkan hal-hal tersebut yang sebenernya kalian tidak berhak. Jangan pernah mau, dibeli oleh pihak mana pun, sehingga hal-hal yang menjadi kemerdekaan hakikimu, terkungkung, bahkan hilang, Terimalah mesti pahit, meski kita dianggap kalah. Sebab kekalahan yang seperti ini, tetaplah berasa lebih nikmat, dibanding bila kita mencoba arrange sesuatu yang sebenere kita ga berhak, kemudian berhasil…, maka akan seperti apa kalian merayakan hal itu..? Merayakan keberhasilan yang bukan hakmu, dan hati nurani protes di dalam sana..?”

Aku contohkah soal kasus ex menteri ESDM ini pada anak-anakku, “AT hebat, kata media massa…dia begini begitu dan seterusnya. dia juga ambil opportunity, untuk lebih settled dan berkembang dengan karirnya yang dia bangun di Amerika, maka dia membuat dirinya menjadi warga negara US. Tapi sayangnya, dia kurang jujur, dan kalau menurut Mamah sih, dia opportunist dalam hal ini, begitu ditawari menjadi menteri di Indonesia, dia langsung ambil kesempatan itu. Sebagai orang yang sudah puluhan tahun tinggal di Amrik, dan dia paham soal kewarganegaraan, itu suatu hal yang fundamental, dia harusnya tau dan bisa jelaskan sejak awal tentang keadaannya itu, bukan asal iya saja…kalau dia menggampangkan soal seperti itu, dia bisa rugi dan malu sendiri…”

agustus2016

Bla..bla..bla…Jujur itu nomor satu, bila kamu ingin hidup merdeka. Jangan pernah ngawur, curang, menghalalkan segala cara, atau main-main dengan kejujuran, baik dalam skala kecil maupun dalam skala luas. Misalnya, yang kalian coba bohongi adalah bangsamu sendiri, maka sehebat dan sedasyat apa pun kamu, akhirnya dunia akan lebih mengingatmu sebagai orang yang tidak jujur…”

 

Mau merdeka, maka jujurlah, Anak-anakku…jangan gadaikan itu..!!
North Thomas, Selasa, 16 Agustus 2016

 

(Alma, thank you gambarnya ya, kamu dengan cermat menggambarkan gesture kita masing-masing dengan sangat baik..hixixixi…Kita bertiga, Mamah, Adek Alma, dan Kakak Cedar harus tetap kompak..merrr…dhiii…kooooo….hhhhh..!!)

 

 

7 Comments to "Pidato Si Mak 16 Agustus 2016"

  1. Dian Nugraheni  19 August, 2016 at 21:33

    James, Cik Lani, Pak DJ, mbak Alvina, djasMerahPutih, thaanks banyak..jaga tetap merdeka yaa…salam kami bertiga dari Virginia, buat teman2 di semua penjuru mata angin..!!

  2. Lani  19 August, 2016 at 09:57

    kang Djas: aku acungi jempol pitulikur………….pas banget!

  3. djasMerahputih  19 August, 2016 at 06:58

    Kejujuran itu abadi. Hanya saja dalam kasus AT, kita tak tahu siapa sponsor kebohongan itu. Kayaknya sih bukan inisiatif pribadi AT, yah..

    Btw, pidato si MAK layak diacungi dua JEMPOLL… !!

    Hidup si MAKK.. (Makassar, Aussie, Kona/Kanada)

  4. Alvina VB  19 August, 2016 at 01:31

    Pidato si mak kl mau disingkat: Honesty is the best policy!

  5. Dj. 813  18 August, 2016 at 16:15

    Kemerdekaan Indonesia, adalah milik rakyat Indonesia .
    Jadi rakyatlah yang seharusnya boleh merasakan kemerdakaan tersebut .
    Rakyat juga bukan berarti yang hidup dikota besar saja .
    Tapi Rakyat Indonesia ada diiseluruh pelosok tanah yang dimiliki oleh bangsa Indonesia .
    Kkkemerdekaan yang sekarang hanya bisa dirasakan oleh sebahagian orang saja.
    Sedang yang dipelosok, mereka bisa makan saja sudah sangat bersyukur .
    Itukah yang dinamakan merdeka . . . ? ? ?
    Ataukah mereka bukan orang Indonesia . . . ? ? ?

    Terimakasih dan salam ,

  6. Lani  18 August, 2016 at 12:16

    James: mahalo dan salam kenthir tp merdekaaaaaaaa……….

  7. James  18 August, 2016 at 10:28

    1…..Pidato Para Kenthirs

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.