Tujuhbelasan di Rumah Dian, Singaparna 16 Agustus 2016

Handoko Widagdo – Solo

 

Kami sampai di sebuah desa di Kecamatan Singaparna sore hari. Perjalanan kami tempuh tak lebih dari satu jam dari Kota Tasikmalaya. Jalan-jalan yang kami lewati telah berhias dengan bendera merah putih di sisi kiri dan kanan. Pagar-pagar dan rumah-rumah serta gedung-gedung telah dicat ulang. Desa nan asri ini hanya 6 km dari puncak Gunung Galunggung. Pemandangan hamparan sawah yang bersambung dengan puncak Galunggung mengikat mata saya. Apalagi sinar mentari sore yang hampir redup membawa warna keemasan pada batang-batang padi yang baru saja ditanam. Sayang puncak Galunggung sedang berpelukan dengan awan, sehingga aku tak bisa menyaksikan keseksiannya yang menjulang.

singaparna (1)

Ruang Dian tak terlalu besar. Namun halaman belakangnya adalah lahan pertanian yang terintegrasi. Ada kebun cabe, pepaya dan paria. Kolam ikan patin dan ikan emas menghampar luas. Di atas kolam ada kandang ayam. Kotoran ayam langung turun ke kolam dan menjadi santapan lezat bagi para patin dan ikan emas. Agak jauh di belakang ada kandang kambing Garut. Kambing-kambing kekar dengan tanduk melengkung yang gagah.

singaparna (2) singaparna (3)

Kopi hangat menjadi teman ngobrol kami di ruang tamu yang tak perlu AC. Kami disuguhi gurame dan patin goreng yang disajikan dengan sambal serta lalapan Sunda yang nikmat nian. Ada juga tahu goreng dan tempe yang pedas menyengat lidah, sehingga cukup air liur untuk mengunyah nasi yang pulen. Tak terasa dua piring lenyap dari pandangan.

Selanjutnya kami bercengkerama ditemani teh bakar hangat, rengginang dan kue-kue yang lazim dihidangkan saat idul fitri. Di sepanjang jalan pulang obor dari bambu berbaris menghormat kepada kami. Obor-obor minyak tanah ini membuat suasana pedesaan menjadi kudus. Tenang. Beberapa anak-anak dan lekaki dewasa bersarung dan berpeci berjalan pulang dari mushalla dan masjid setelah menunaikan ibadah shalat maghrib. Suasana ini mengingatkanku pada ketenangan yang penuh tegang saat para pemimpin bangsa mempersiapkan proklamasi di hari berikutnya. Semua telah siap bertirakat untuk menjaga kemerdekaan yang sudah direbut.

Terima kasih Dian Rahadian yang telah memberi makna kemerdekaan kepadaku di saat aku jauh dari rumah dan keluarga. Merdeka dan teruslah berjuang melalui integrated farming yang dikau kembangkan.

 

 

About Handoko Widagdo

Berasal dari Purwodadi, melanglang buana ke berpuluh negara. Dengan passion di bidang pendidikan, sekarang berkarya di lembaga yang sangat memerhatikan pendidikan Indonesia. Berkeluarga dan tinggal di Solo, kebahagiaannya beserta istri bertambah lengkap dengan 3 anak yang semuanya sudah menjelang dewasa.

My Facebook Arsip Artikel

12 Comments to "Tujuhbelasan di Rumah Dian, Singaparna 16 Agustus 2016"

  1. Handoko Widagdo  24 August, 2016 at 22:07

    Merdeka Kang Sumonggo. Terima kasih Kangmas Djoko.

  2. Sumonggo  22 August, 2016 at 06:22

    Merdeka …

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *