Nasionalisme Haram??

Chandra Sasadara

 

Sebelum Felix, Kholil Ridwan dan lainya mengharamkan nasionalisme. Nasionalisme bahkan telah diharamkan oleh Ahmad Hassan jauh sebelum kita merdeka sebagai bangsa. Tulisan tentang haramnya nasionalisme oleh ulama organisasi Persatuan Islam (Persis) itu tersebar di Majalah Panji Islam dan Al Lisan pada tahun 1940-an.

Semua berpangkal dari kata “ashabiyah” yang mereka sejajarkan dengan nasionalisme. A. Hassan dalam tulisannya di kedua majalah tersebut banyak mengutip hadist-hadist yang melarang menyeru pada ashabiyah, mati membelah ashabiyah, dan menolong atas nama ashabiyah. Jika hal itu dilakukan, maka bangkainya adalah bangkai jahiliyah, bahkan para pelaku ashabiyah itu tidak dianggap sebagai golongan Nabi. Betulkan ashabiyah sama dengan nasionalisme?

Secara sederhana, nasionalisme adalah kehendak untuk bersatu (Ernest Renan). Nasionalisme juga bentuk persatuan perangai yang timbul karena nasib yang sama (Hans Kohn). Pengertian lebih luas, nasionalisme merupakan perpaduan faktor politik, ekonomi, sosial, dan intelektual (Louis Sneyder). Sedangkan ashabiyah adalah fanatisme berbasis suku, pemimpin klan, penghormatan kepada kelompok secara sempit diseertai dengan sikap antipati/penolakkan kepada kelompok lain. Dalam praktiknya, ashabiyah pada era pra Islam menimbulkan perang berlarut, perebutan sumber daya (oasis, binatang buruan, perdagangan dll), dan egoisme primodial.

Apakah nasionalisme seperti itu ada contoh? tentu saja ada. Setelah hijrah dari Makkah ke Madina salah satu yang dilakukan oleh Nabi adalah membuat perjanjian untuk menciptakan persatuan di Madina melawan agresi dan ancaman orang-orang Makkah. Bagi seorang Nabi sekalipun, menciptakan persatuan di tengah mental ashabiyah arab tidak mudah. Karena itu untuk melawan fanatisme suku, Nabi menciptakan konsep “Ummah” sebagai anti tesis dari konsep ashabiyah. Konsep persatuan (ummah) ini berbasis pada ikatan kepentingan untuk saling melindungi, menjaga kehormatan dan berbagi suka duka.

Begitu pentingnya konsep Ummah sehingga diletakkan pada pasal 1 Piagam Madina yang berbunyi: Innahum umatun wahidatun min duninass (sesungguhnya mereka satu ummat, lain dari manusia lainya). Siapa yang terikat dalam Piagam Madina? Mereka adalah Kaum Muslim dan sekutunya, Kaum Yahudi Madina dan sekutunya, dan Kelompok Nasrani dan sekutunya. Pada pasal 25 disebutkan: Kaum Yahudi dari Bani ‘Auf adalah satu umat dengan Mukminin. Bagi Yahudi agama mereka, dan bagi Muslim agama mereka. Pada pasal 35 ditegaskan: Kerabat Yahudi (di luar kota Madina) sama seperti mereka, maksudnya sama-sama berada dalam persekutuan dan wajib dilindungi. Pada pasal 39 Piagam Madina dikunci dengan klausul: Sesungguhnya Madina adalah tanah suci bagi warga yang disebut/dilindungi dalam piagam. Selengkapnya tentang isi Piagam Madina bisa dibaca dalam Kitab Siratu Al Nabi, Juz II karangan Ibnu Hisyam (Abu Muhammad Abdul Malik).

Konsep ummah model Piagam Madina tersebut compatible dengan konsep nasionalisme yang dibangun dan menjadi dasar persatuan Indonesia. Para pendiri bangsa yang terdari dari berbagai golongan, etnis, daerah, agama/kepercayaan, pendidikan dan latar belakang budaya mengikrarkan diri membentuk sebuah bangasa bernama Indonesia untuk mencapai kemerdekaan dan mempertahakan hak kebebasan. Sama seperti orang-orang Madina membangun persekutuan untuk melawan agresi orang-orang Makkah.

Penjelasan di atas menunjukkan bahwa ashabiyah sama sekali berbeda dengan nasionalisme. Ashabiyah merupakan ikatan berbasis kesukuan, sedangkan nasionalisme bebasis pada kesamaan nasib. Ashabiyah bertumpuh pada ikatan golongan, nasionalisme berpilarkan pada semangat kebersamaan. Karena itu ASHABIYAH tidak sama dengan nasionalisme tapi TRIBALISME.

Tribalisme merupakan kesetiaan mendalam terhadap suku, etnis dan kelompok disertai dengan penolakkan terhadap kelompok lain. Tribalisme ini musuh utama nasionalisme, sama dengan ashabiyah musuh utama ummah. Konsep ummah dan nasionalisme mengandaikan persatuan dan kerja sama sedangkan ashabiyah adalah akar perpecahan. Ummah dan nasionalisme tidak mendorong pada penyeragaman, sedangkan tribalisme dan ashabiyah mendorong pada penyeragaman.

Jadi, apakah masih ada yang menyamakan antara nasionalisme dengan ashabiyah? Masih ada yang mengharamkan nasionalisme?

 

 

7 Comments to "Nasionalisme Haram??"

  1. salafy  16 April, 2017 at 20:54

    Kalau umat muslim israel, berarti harus cinta nasionalisme ???

  2. Lubis  28 September, 2016 at 02:26

    selamat pagi, salam sejahtera buat kita semua.
    saya tertarik membaca artikel diatas ini, banyak sekali oknum maupun kelompok yang mengatasnamakan “Islam” tetapi mereka menutup mata dengan realitas dan bukti yang membuat mereka menutup hati mereka sendiri. Mungkin diatas salah satu contoh akan pembodohan diri dari para “oknum” tersebut. Banyak masyrakat Indonesia ini sangat gampang terbodohi dengan kondisi ini. Salam Nasionalis.

  3. J C  13 September, 2016 at 17:08

    Penulise pasti kapir iki… (termasuk sing komentar iki)

  4. Dj. 813  29 August, 2016 at 01:43

    Yang memiliki jiwa Nasionalis . . . .
    James . . . Yu Lani dan Djas . . . .
    Hahahahahahahaha . . . ! ! !
    Kenthir semuanya . . . ! ! !
    Salam nasional dari Mainz .

  5. djasMerahputih  27 August, 2016 at 07:24

    Hadir bang James.

    Nasionalisme sama dengan Ummah. Persatuan berbagai hal berbeda dengan sebuah ideologi bersama.

    Salam Kenthirisme…!!

  6. Lani  26 August, 2016 at 12:15

    James: Kona hadir tp yg di Can lagi menunaikan tugas

  7. James  26 August, 2016 at 09:37

    1……..hadir sambil menunggu kedatangan Para Kenthirs lainnya

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.