Festival Lima Gunung (1)

EQ – sedang menghirup udara segar pegunungan

 

Desa Keron, Krogowanan, Sawangan, Kab. Magelang, 19-24 Juli 2016

Cuaca siang hari ini sangat cerah. Udara pegunungan menyentuh kulit, menyejukkan pori-pori yang sebelumnya terbuka lebar oleh hawa panas kota Yogyakarta yang mulai mirip ibukota dalam hal kepadatan, macet dan polusinya.

Tanggal 19 Juli 2016, hari Selasa siang menjelang sore, serombongan besar, arak-arakan orang-orang dari komunitas Lima Gunung beserta para tamu undangan dan orang-orang lain berkirab naik mendaki lereng gunung Wukir di wilayah Magelang, menuju situs candi Gunung Wukir, yang menurut catatan sejarah adalah candi tertua di Jawa. Jauh lebih tua sebelum candi Borobudur dan Prambanan.

festival-lima-gunung01

Candi yang tinggal reruntuhan tersebut terasa penuh dengan aura kekuatan mistis. Acara kirab ini mengawali pembukaan Festival Lima Gunung XV. Sebuah Festival tahunan yang dikelola oleh komunitas Lima Gunung.

Sebelum saya melanjutkan cerita tentang pembukaan Festival Lima Gunung yang begitu khidmat, saya akan berkisah dulu tentang Komunitas Lima Gunung.

Komunitas Lima Gunung adalah sebuah paguyuban warga beberapa dusun yang tinggal di daerah yang dikelilingi oleh lima gunung di wilayah Magelang, Jawa Tengah, yaitu gunung Merbabu, Merapi, Sumbing, Andong dan Menoreh. Sebagian besar anggotanya adalah para petani yang juga giat melakukan kesenian di kelompoknya masing-masing di tiap dusun. Sebagian dari mereka, para “tokoh” Lima Gunung mempunyai sebuah sanggar kesenian.

Paguyuban ini diinisiasi oleh pak Sutanto, atau yang lebih terkenal dengan sebutan Tanto Mendut (lahir di Magelang, Jawa Tengah, 5 Februari 1954) adalah seorang komposer, seniman dan budayawan. Dia adalah pendiri sekaligus pemimpin Komunitas Lima Gunung yang sering menggelar perhelatan seni-budaya berskala internasional di atas gunung dengan selalu memberdayakan masyarakat di lima gunung. Sutanto adalah penerima penghargaan dari Yayasan Sains Estetika dan Teknologi atas kegigihannya memberdayakan masyarakat melalui kehidupan sosiokultural. Selain itu masih banyak lagi penghargaan lain yang diterimanya, baik nasional maupun internasional, sayangnya beliau tidak suka membicarakan hal ini.

Nama Mendut di belakang nama pak Tanto adalah sebutan yang menunjukkan tempat tinggalnya. Pak Tanto memang tinggal dan memiliki sebuah studio seni dan budaya yang berlokasi di wilayah Mendut, dekat dengan candi Borobudur. Pak Tanto sendiri sebenarnya adalah seorang musisi, komposer dan pencetus musik kontemporer, sebelum Slamet Abdul Syukur dikenal dengan komposisi musik kontemporernya, pak Tanto sudah lebih dahulu menciptakan komposisi-komposisi kontemporer, tidak hanya dalam hal musik namun juga dalam banyak hal lainnya.

Pak Tanto juga sangat menguasai berbagai macam hal yang berkenaan dengan antropologi, sejarah candi-candi dan berbagai macam kesenian serta kebudayaan daerah yang ada di Nusantara ini. Beliau bergaul sangat rapat dengan alm. Rendra, Gus Mus (Mustofa Bisri) dan Cak Nun.

Konsep-konsep hidupnya, bagi saya sangat kontemporer, susah dijelaskan, namun sangat nyaman ketika dijalankan tanpa banyak pikir. Beliau adalah guru dan mahaguru bagi saya. Ketika saya kuliah di Program Pasca Sarjana ISI Yogyakarta, pak Tanto adalah dosen paling saru (dosen yang begini ini pasti sangat cocok dengan kang Anung), paling pop art dan paling asyik menurut saya. Tidak banyak yang bisa memahami cara berpikirnya, tidak banyak yang mampu menahan emosinya ketika mendengar caranya bicara yang ceplas-ceplos dan terkadang saru atau vulgar.

Saya dan 2 orang teman saya yang bekas mahasiswanya di Pasca adalah termasuk muridnya yang masih bertahan dengan “mesra” (menurut istilah pak Tanto), sebab kami memang sangat mengagumi beliau. Darinya kami bertiga mendapat nama grup persaudaraan, yaitu grup Bohemian, sebenarnya tak lain adalah kelompok gelandangan atau hippies, sebab kami bertiga memang seringkali pergi-pergi kian kemari, pentas di sana-sini (terutama pentas musik, karena kedua anggotanya adalah musisi, sedang saya biasanya hanya ikut membantu pementasan dan ikut bergembira)  dengan menggunakan mobil merah kecil yang diberi nama bombomcar, sehingga mobil itu sudah sangat mirip dengan rumah kami bertiga, rumah gelandangan atau rumah kost-kost’an berjalan.

Meskipun usia Bohemian belum ada satu tahun, tapi kiprahnya di Lima Gunung sudah mulai diakui. Bahkan sudah termasuk dalam jajaran “tokoh” Komunitas Lima Gunung. Tentu saja karena kami adalah sahabat mesranya pak Tanto.

Dalam Komunitas Lima Gunung, Pak Tanto disebut sebagai Presiden Lima Gunung atau orang pertama. Sedang “ajudannya” atau orang kedua adalah Pak Ipang, seorang kepala Dusun dari desa Bandongan, Wonolelo, yang termasuk dalam wilayah gunung Andong, Jawa Tengah. Pak Ipang memiliki sebuah sanggar kesenian yang bernama sanggar Wonoseni. Kegiatannya adalah melatih anak-anak dan para pemuda untuk berkesenian, diantaranya adalah menciptakan berbagai kreasi koreografi tari rakyat lengkap dengan iringan tetabuhannya.

Sanggar Wonoseni sudah sangat sering mengadakan pentas di berbagai tempat di Indonesia, bahkan pernah juga pentas di Singapura dan Australia. Ketua Komunitas Lima Gunung saat ini adalah pak Supadi, yang berasal dari dusun Mantran, di wilayah gunung Andong. Pak Padi adalah juragan kobis, dengan rumah mewah bak kuil Athena, memimpin sebuah grup kesenian Mantran yang sudah terbang kian kemari.

Tokoh-tokoh lainnya adalah pak Riyadi, lurah desa Gejayan, di wilayah gunung Merbabu, dengan sanggar seninya yang mengolah kesenian Soreng atau tarian kesatria, dan tari Geculan bocah (tarian yang menceritakan tentang kehidupan para warok, ditarikan oleh anak-anak), pak Jono dengan sanggar Saujana yang berkreasi dengan topeng dan wayang serangga serta tarian Jingkrak Sundang, tari Topeng Ireng, Topeng Saujana dan Kukilo Gunung.

festival-lima-gunung02 festival-lima-gunung03

Tokoh Lain adalah pak Sitras Anjilin yang memimpin sanggar Tutup Ngisor. Pak Sitras adalah penari sepuh yang sangat piawai dengan pengetahuan ke-Jawa-annya. Pak Supadi dari desa Mantran, wilayah gunung Andong, Jawa Tengah,  adalah tokoh lainnya yang juga memiliki sanggar kesenian yang mencegangkan. Salah satu garapannya adalah Tari Leak Mantran, yaitu tarian yang memadukan dongeng Jawa dan Bali. Hebatnya adalah karena para penari ini, termasuk koreografernya belajar tari Bali melalui YouTube, tanpa pernah belajar tari Bali sungguhan di Bali atau mengundang pelatih tari Bali. Kostum buatan mereka juga benar-benar mirip dengan kostum tari Bali. Baik kostum penari putri, penari laki-laki, kostum Leak maupun kostum Rangda. Mereka mengolahnya dengan sangat piawai. Dari semua itu, tetabuhannya adalah gabungan tabuhan dengan suara Bali dan Jawa tapi tanpa perangkat gamelan Bali satu pun, namun bisa sangat menyatu dan sedap untuk dinikmati.

festival-lima-gunung04 festival-lima-gunung05 festival-lima-gunung06

Pak Sarwo Edi dari gunung Sumbing mempunyai sebuah sanggar yang sering menyajikan tarian para warok dengan unsur kesurupan.

festival-lima-gunung07

Masih banyak lagi tokoh-tokoh Lima Gunung yang bekerja bergotong royong untuk mewujudkan acara tahunan ini, seperti mbak Endah Pratiwi yang menjadi semacam sekretaris, sekaligus bendahara dan EO, dibantu oleh pak dalang Sih Agung, seorang dalang wayang kontemporer, guru SMA di Magelang, yang pertama kali dan satu-satunya memainkan wayang kulit uwong, yaitu wayang kulit yang diperankan oleh manusia betulan, tetapi dijejer dan dimainkan seperti wayang kulit. Wayang versinya disebut dengan nama “wayang ndesa kulit uwong”.

Lalu juga ada mas Irul, mas Bambang dan mas Agus yang menjadi pandega dalam mengurusi pameran lukisan, mulai dari pengumpulan karya, pembuatan katalog hingga membuat “gallery” yang akan digunakan untuk pameran. Mas Irul dan mas Bambang adalah pembuat topeng yang sangat handal dan masih sangat muda usianya. Topeng-topengnya sudah menjadi koleksi banyak orang baik orang Indonesia maupun manca negara. Saya adalah salah satu penggemar topengnya dan memiliki 2 buah topeng karyanya. Mas Agus adalah seorang pelukis batik yang mengkhususkan diri pada warna-warna alami. Studinya tentang bahan pengganti lilin malam dan penggunaan warna alam sampai ke Australia, membuatnya makin piawai mengolah pewarnaan alam untuk batik.

Orang-orang Lima Gunung adalah orang-orang yang unik dan penuh kejutan. Hampir tidak mengenal sistem birokrasi, namun memegang erat “unggah-ungguh”, tata krama, adat budaya dan sekaligus juga menginternasional.

Sebagai budayawan, melalui kegiatan-kegiatannya, Pak Tanto membangun sebuah paradigma berkesenian yang menstimulasi dimensi untuk hidup bersama masyarakat seni dalam menyikapi keadaan dengan pelbagai fenomena yang berkembang dalam masyarakat kontemporer. Mengedepankan unsur kemerdekaan yang dapat menarik perhatian masyarakat dan pemerhati seni yaitu dengan membuka wacana baru dalam bereksplorasi. Pak Tanto Mendut berhasil menumbuhkan kepercayaan masyarakat desa untuk berekspresi, yang kini telah mampu tampil dalam berbagai panggung kesenian di berbagai daerah di Indonesia, bahkan pentas di luar negeri.

Meski berhasil menjadi masyarakat seni, penduduk desa lima gunung tersebut tidak berganti profesi dan tetap menjadi petani. Festival lima gunung yang digagas Sutanto diselenggarakan setiap tahun, sejak tahun 2006 dengan melibatkan para penghayat kebudayaan, masyarakat dari lima gunung. Baik penampil maupun penonton diajak merayakan kemerdekaan berekspresi dan mengapresiasi. Dalam festival ini, penonton adalah tamu, bukan calon konsumen dengan perlakuan khusus. Semuanya diperlakukan sama rata, termasuk ketika mantan wakil presiden Boediono menyaksikan, juga ketika gubernur Jawa Tengah, pak Ganjar datang terlambat pada saat puncak acara FLG XV.

Beliau-beliau ini juga berbaur dengan penonton lain, duduk lesehan di atas tanah, menikmati sajian-sajian kesenian tradisional. Selain menggelar pertunjukan kesenian tradisional, komunitas ini juga menyelenggarakan pertunjukan musik, pameran seni rupa, dan festival jazz gunung, dan tentu saja ada sajian dangdut kontemporer, yang mengusung lagu-lagu dangdut berbahasa Indonesia maupun bahasa asing (Inggris, Perancis dan Latin).

festival-lima-gunung08

Selain acara kesenian dan berbagai macam pentas, Festival ini juga menggelar pameran kesenian yang diikuti oleh beberapa seniman lokal dari Magelang dan Yogyakarta, serta tentu saja para anggota Lima Gunung. Tema pameran seni rupa adalah “Lelaku”. Tema ini mempunyai makna bahwa kehidupan harus dijalani dengan apa adanya, pasrah sumarah tapi tetapi tetap giat berupaya mencapai segala hal yang diinginkan. Dalam pameran seni rupa ini digelar berbagai macam karya seni lukis, topeng kayu dan karya instalasi.

festival-lima-gunung09 festival-lima-gunung10

Festival ini, meskipun mengundang ratusan partisipan dari berbagai daerah, tapi semua kegiatannya diselenggarakan tanpa sponsor atau donatur dari mana pun, melainkan dibiayai secara swadaya. Tapi, setiap peristiwa budaya yang diselenggarakan, selalu saja menarik perhatian wisatawan dan wartawan dari berbagai negara yang setia meliput selama beberapa hari. Gotong royong yang sempurna. Sesuatu yang tidak bisa atau bahkan tidak mungkin dikerjakan oleh orang-orang kota manapun. Soal ketepatan waktu adalah kunci utamanya. Mereka adalah orang-orang yang menjunjung tinggi sang Kala.

Misalnya ada undangan rapat jam 9 pagi di studio Mendut, maka para tokoh Lima Gunung yang diundang akan berada di Studio Mendut tepat pada jam 9 pagi, bahkan beberapa diantaranya datang sebelum jam 9 pagi, padahal letak rumah mereka sangat berjauhan, bahkan ada yang harus menempuh perjalanan antar gunung. Paling dekat dari studio Mendut adalah desa Bandongan, Wonolelo yang berjarak kurang lebih 25 Km, dan alat transportasi yang mereka pergunakan sepeda motor biasa merek Jepang tanpa mesin turbo. Tidak ada alasan apa pun untuk sebuah keterlambatan. Disiplin sangat diutamakan dan dijalankan tanpa terasa sebagai sebuah beban sedikit pun.

Festival yang dihadiri oleh ratusan orang dari berbagai kota di Indonesia, bahkan banyak turis asing yang ikut hadir dan menikmati acara tersebut. Tumpah ruah, meriah. Sedikitnya 50 grup kesenian baik dari berbagai kelompok di Komunitas Lima Gunung, desa-desa sekitar Keron, maupun dari beberapa kota besar, ikut serta menggelar macam-macam pementasan dalam Festival Lima Gunung XV/2016.

Festival juga akan dimeriahkan dengan kirab budaya, performa seni, pameran seni rupa, peluncuran buku, dan pidato kebudayaan. Semuanya itu tanpa uang pendaftaran sama sekali. Ketika para penyaji acara ini sampai di desa Keron, tempat acara berlangsung, beberapa rumah penduduk sudah siap menjadi tempat transit mereka. Di tempat transit itu sudah tersedia berbagai macam makanan, cemilan, minuman (teh, kopi dan air mineral galon). Di situ juga para penyaji ini akan tinggal untuk sementara, ada yang langsung pulang setelah selesai tampil, namun ada juga yang menginap sehari semalam.

Sudah disediakan pula tempat untuk tidur, kamar mandi yang bersih dengan air pegunungan asli dari sumber mata airnya yang bersih sejuk dan berlimpah-limpah. Semuanya gratis. Tanpa biaya sepeser pun. Jika menginginkan makanan dan minuman yang berbeda, disekitar lokasi festival juga ada warung-warung tiban, yaitu warung-warung yang mendadak dibuka oleh masyarakat setempat. Warung-warung tersebut menjual berbagai macam makanan, cemilan dan minuman. Tukang jualan angkringan dan grobagan serta sepedaan juga banyak terdapat disekitar lokasi festival. Begitu pula penjual mainan anak-anak.

festival-lima-gunung11

Panitia juga membuat kaos dengan berbagai macam desain, ukuran dan warna untuk dijual sebagai suvenir.

Pak Jono (tuan rumah FLG XV ini), Susilo, Anton Prabowo, dan pegiat Sanggar Saujana Keron lainnya di kawasan antara Gunung Merapi dan Merbabu Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, menyebut “isu mripat” (mata) Festival Lima Gunung ditempelkan dalam momentum Lebaran 2016.

Oleh karenanya sejak sebulan sebelum Ramadhan dan sebulan penuh selama Bulan Puasa, mereka setiap malam bergiat membuat instalasi seni berbahan baku alam pertanian di kawasan itu.

Kerja bareng mereka, supaya ratusan batang bambu yang telah dihias dengan jerami dan aneka dedaunan kering menjadi berbagai motif instalasi seni, bisa rampung dan selanjutnya dipasang di dusun setempat sebelum tiba Hari Lebaran.

Dusun Keron, Desa Krogowanan, Kecamatan Sawangan, Kabupaten Magelang dengan Sanggar Saujana menjadi bagian dari seniman petani Komunitas Lima Gunung, sebagai tuan rumah Festival Lima Gunung XV/2016.

Ratusan batang bambu yang mereka kumpulkan dari dusun setempat secara gotong royong dibalut jerami dengan cara diikat tali, menjadi aneka bentuk yang eksotik dan tetap tak melepaskan diri dari nuansa instalasi seni yang alami.

Jerami sebanyak tiga rit mobil bak terbuka mereka peroleh dari sejumlah penggilingan padi di dusunnya dan desa-desa sekitarnya di Sawangan. Kecamatan Sawangan sebagai kawasan yang selain dikenal sebagai lahan pertanian hortikultura, juga tanaman padi.

Siapa saja pelintas jalan beraspal di Dusun Keron akan bisa melihat di ujung jembatan sungai dusun, berupa instalasi seni berbentuk gapura. Gapura serupa juga dipasang di jalan depan rumah Pak Jono, Ketua Sanggar Saujana Keron.

Begitu pengendara memasuki dua ujung dusun, akan terlihat di sepanjang tepi kanan dan kiri jalan, berbagai instalasi seni yang seakan hendak menggantikan apa yang akrab di mata setiap orang selama ini sebagai umbul-umbul konvensional dari bahan kain berwarna-warni.

Sejumlah penjor berupa bambu melengkung dengan dibalut jerami dengan masing-masing digantungi sejumlah kukusan, juga menghiasi beberapa tempat di tepi jalan. Lazimnya penjor berupa bambu melengkung dengan hiasan anyaman dari janur.

Jalan Dusun Keron dari pertigaan Dusung Nglumut, Desa Krogowanan menuju pertigaan Gerdu, bagian ruas jalan alternatif dari jalur utama Blabak, Kecamatan Mungkid, Kabupaten Magelang menuju Kaponan, Kecamatan Pakis (tanpa melewati objek wisata Bukit Ketep Sawangan). Dari pertigaan Kaponan itu, selanjutnya pelintas pengendara kalau belok kanan ke Kopeng, Salatiga, dan belok kiri ke arah Kota Magelang.

Cukup ramai lalu lintas kendaraan setiap hari melewati Dusun Keron. Dusun tersebut berpenduduk 89 keluarga atau sekitar 350 jiwa meliputi empat rukun tetangga dengan sebagian besar warga hidup sehari-hari sebagai petani hortikultura. Keron pada 2016 untuk kedua kalinya menjadi tuan rumah festival, sedangkan yang pertama pada 2011. “Target kami memang sebelum Lebaran, instalasi ini sudah dipasang, supaya menjadi ‘isu mripat’ siapa saja yang berlalu lalang melewati dusun kami untuk kepentingan berlebaran,” kata Sujono yang juga Ketua Panitia Lokal Festival Lima Gunung XV/2016.

Warga setempat memang hendak menarik perhatian secara seketika para pelintas jalan dusunnya. Mereka yang melewati jalan itu diajak untuk bertanya-tanya mengenai hal yang mungkin dianggap unik atau aneh karena berbagai hiasan instalasi seni di sepanjang jalan utama dusun selagi berlebaran.

Berbagai instalasi seni itu tidak ada yang mereka buat menggunakan bahan plastik atau kertas, supaya daya eksotik alami yang muncul menjadi kuat.

Sejumlah pelintas bersepeda motor dan menggunakan mobil memang ada yang menyempatkan diri menghentikan laju kendaraannya untuk bertanya tentang kemeriahan suasana dusun karena instalasi seni tersebut. “Penasaran kok banyak dipasangi hiasan seperti ini. Ternyata kami mendapat jawaban, kalau untuk festival. Katanya bulan ini,” kata Sumargo, seorang pelintas bersepeda motor di jalan di Dusun Keron dekat alur Kali Pabelan yang aliran airnya sambungan dari Kali Tringsing, berhulu di Gunung Merapi. Begitu pula sejumlah orang lainnya yang memang setiap hari biasa melewati jalan itu dengan mobil bak terbuka pengangkut, antara lain sayuran dan ternak, untuk dibawa ke pasar. Mereka juga menanyakan hal serupa terkait dengan pemasangan berbagai instalasi seni tersebut. “Kalau ada orang bertanya, maka maksud kami menebar ‘isu mripat’ itu mengena,” ujar Pak Jono yang juga salah satu petinggi/tokoh Komunitas Lima Gunung.

Anton Prabowo yang juga pegiat Sanggar Saujana Keron dan mahasiswa Jurusan Tari Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta mengatakan selama Bulan Puasa, para pemuda sanggar membuat instalasi seni itu setiap hari, setelah shalat tarawih. “Yang sudah dipasang sebelum Lebaran ini baru sebagian, masih akan dilanjutkan setelah Hari Lebaran,” ujarnya.

Jika biasanya warga setempat menandai kegembiraan merayakan Lebaran dengan menyulut mercon, pada tahun ini mereka sepakat tidak membunyikan petasan di dusunnya agar suasana eksotik atas instalasi seni untuk fetival, tidak dikotori oleh tebaran kertas sisa petasan di mana-mana. Para perupa dari Sanggar Dewata Indonesia (SDI) Yogyakarta juga akan membuat karya instalasi dengan objek berbagai pepohonan di dekat panggung utama Festival Lima Gunung XV/2016 di tepi Dusun Keron. “Mereka sudah survei beberapa waktu lalu,” kata Pak Jono. Pemasangan instalasi seni untuk tahap akhir mulai 15-17 Juli 2016 di berbagai tempat di dusun itu.

festival-lima-gunung12

 

bersambung…

 

 

3 Comments to "Festival Lima Gunung (1)"

  1. Dj. 813  31 August, 2016 at 01:22

    Mbak Sekar . . .
    Terimakasih sudah berbagi cerita yang menarik .

    Jadi ingat saat tahun 1982 kami main ke taman Seni di Ancol .
    Tahu-tahu anak kami ( si dewo ), diangkat pemain reok Ponorago dan dipanggul diatas topeng reok .
    Anehnya si Dewo yang penakut saat kecil, malah merasa aman dan tertawa .
    Ppadahal berdiri diatas cup mobil saja dia sangat ketakutan dan nangis .
    Tapi saat itu seolah dia sangat menikmati . . .

    Dan yang aneh lagi, saat kami sampai di Serabaya .
    Ada pawai reok lagi dan Dj. bilang sama Susi, jangan terlalu dekat, nanti dia diangkat lagi .
    Hahahahahahahaha . . . ! ! !

    Salam manis dari Mainz .

  2. Lani  30 August, 2016 at 10:42

    EQ: laporan yg sgt panjang dan msh bersambung………

    James: mmgnya kamu akan ikutan hadir?

  3. James  30 August, 2016 at 09:15

    1…..dikira Festival Tujuh Gunung seperti Bunga Tujuh Rupa, yah tetap saja termasuk kekayaan Nasional

    menunggu Kenthirs hadir di Festival

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *