Kegembiraan dalam Sebungkus Permen

Wesiati Setyaningsih

 

Waktu pelatihan di Kudus kemarin, ada teman yang cerita dia sering kasi hadiah permen buat muridnya. Nah, saya mau niru. Kayanya asik juga, pikir saya.

Maka kemarin saya terapkan di kelas XII. yang berani maju, saya beri hadiah coklat harga 500 rupiah. Permen murah gitu, tapi anak yang dapat senang luar biasa. Karena berpikir saya ingin memberi hadiah pada lebih banyak anak, kemudian saya beli permen biasa di Koperasi sekolah, 500 rupiah dapat tiga. Cuma, kok saya jadi nggak pede. Permen kecil gitu, ada relaxa, kopiko, fox, kecil-kecil gitulah. Apa mereka akan senang menerimanya?

permen

Tapi akhirnya hari ini saya bagi untuk anak-anak yang pekerjaannya benar semua. Wah, tanpa saya duga, mereka senang luar biasa. Apalagi di jam terakhir, jam kritis, kata teman-teman, berlangsung dari jam 13.15 sampai jam 14.45. Biasanya mereka sudah mulai ngantuk. Permen saya bagi lagi untuk yang pekerjaannya benar semua. Wah, yang salah satu minta juga.

“Loh Maam, saya cuma salah satu… Minta permennya, biar nggak ngantuk…”

Tapi aturan tetap aturan. Jadi meski mereka membujuk-bujuk, enggak saya kas.
“Habis ini ada soal lagi, kerjakan dengan hati-hati biar benar semua. Nanti dapat permen.”

Di materi kedua, ternyata yang benar semua cuma dua orang. Sementara banyak sekali yang salah satu. Biasa, anak-anak suka terburu-buru dan tidak teliti. Sementara permen masih banyak. Akhirnya yang salah satu boleh ambil permen satu, sementara yang benar semua dapat dua permen.

Waaaah.. Anak-anak itu girang luar biasa. Saya senang melihat kegembiraan mereka. Saya tidak menyangka benda yang murah begitu membuat mereka girang bukan kepalang. Hanya permen seharga Rp 500 dapat tiga!

Hari ini berakhir dengan bahagia. I love Monday. I love everyday. Terima kasih semesta.

 

 

About Wesiati Setyaningsih

Seorang guru yang tinggal di Semarang. Awalnya tidak ada niat untuk menjadi guru, tapi kemudian "kesasar" menjadi guru. Mencoba mendobrak "pakem baku" proses pengajaran, juga mendobrak ketidaklogisan pencekokan agama membabibuta di sekolah dan keseharian murid-muridnya. Sering dianggap "off-track" bahkan tidak jarang mendapat cap sesat karena sikapnya yang tidak seperti kebanyakan mainstream.

My Facebook Arsip Artikel

4 Comments to "Kegembiraan dalam Sebungkus Permen"

  1. Dj. 813  31 August, 2016 at 01:29

    Mbak Wesiati . . .

    Memang satu kebahagiaan kalau bisa memberi .
    apalagi anak-anak didik sendiri .
    Tapi setahu Dj. di Mainz, guru tidak diperkenankan untuk memberi sesuatu .
    Juga tidak diperkenankan untuk menerima hadiah, apalagi dari murid, pun dari orang tua murid .

    Ini yang Dj. tahu .
    Selamat berkarya .

  2. Wesiati  30 August, 2016 at 13:03

    Hihi… Matur nuwun dukungannya.

  3. Lani  30 August, 2016 at 10:34

    Wesi: yg penting memberi dgn tulus, ikhlas, jangan merasa tdk PD. Menurutku memberikan hadiah jgn dilihat dr harganya murah/mahal, klu tdk ikhlas buat apa?

    Apalagi murid2mu mereka sgt seneng krn merasa diperhatikan, dihargai oleh gurunya…….

    Selain guru nya baik jg perhatian sama anak2 muridnya itu yg penting!

    James: kamu ingin permen apa? mahalo sdh diingat jgn lupa mengingat yg dr Canada ya

  4. James  30 August, 2016 at 09:18

    1….sudah biasanya kalau anak itu diberi Permen, Coklat maupun Ice Cream, waduh mereka senangnya kuar biasa deh, kagak peduli macam gimanapun mereka senang

    menunggu para Kenthirs untuk bagian Permennya

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *