Festival Lima Gunung (2)

EQ – sedang menghirup udara segar pegunungan

 

Artikel sebelumnya:

Festival Lima Gunung (1)

 

Para seniman petani dari Padepokan Tjipto Boedojo Dusun Tutup Ngisor, Sanggar Bangun Budaya Desa Sumber, keduanya Kecamatan Dukun, Kabupaten Magelang dan seniman petani Dusun Dadapan serta Kopeng, keduanya dari Ketep, Kecamatan Sawangan, akan terlibat membantu warga Keron dalam pemasangan instalasi dan pembuatan dua panggung pementasan.

Para seniman Sanggar Saujana Keron juga membuat empat gunungan dengan bahan utama hasil bumi atau “pala kependhem”. Tema besar Festival Lima Gunung XV/2016 adalah “Pala Kependhem”.

Tema itu secara harafiah menunjuk kepada ketahanan pangan dari hasil pertanian yang terpendam tanah, antara lain singkong, ubi, tales, dan gembili.

Secara simbolis tema itu menunjuk kepada kekayaan bumi Nusantara (Jawa), sebagaimana tertulis dalam Prasasti Canggal (Ditemukan di Candi Gunung Wukir) tentang kesejahteraan, kemakmuran, keamanan, dan ketenteraman Jawadwipa pada masa lampau.

Gunungan “pala kependhem” bakal dipasang di empat tempat, yakni depan Masjid Al Hidayah perbatasan Dusun Keron dengan Nglulang, pojok dusun di wilayah RT4, tepi jalan di wilayah RT2, dan dekat panggung utama festival di wilayah RT1. “Untuk ‘isu mripat’ sebelum hari festival. Itu maksud kami memasang instalasi seni saat Lebaran tahun ini,” kata Sujono (pak Jono).

festival-lima-gunung13

Pala kependhem diwujudkan dengan berbagai macam umbi-umbian yang diletakkan di atas tampah bambu dan bakul-bakul anyaman bambu. Umbi-umbian tersebut diusung dan dipersembahkan kepada Dewi Sri sang Dewi kesuburan dan dewi bumi sebagai tanda terima kasih dan suka cita. Perlu dicatat bahwa festival ini sangat berbeda dengan merti bumi atau pesta syukur setelah panen. Festival ini adalah bentuk kolaborasi seni tradisi rakyat Lima Gunung dengan teknologi dan kepekaan hidup manusia.

Gubernur Jawa Tengah hadir pada puncak acara FLG XV pada tanggal 24 Juli 2016 setelah kirab penutupan. Kehadirannya disambut meriah namun tidak  berlebihan. Benar-benar apa adanya. Acara penutupan FLG XV menghadirkan tari topeng Losari yang sangat terkenal dan membawa aura magis, ditarikan sendiri oleh Nyi Nanik dan muridnya.

festival-lima-gunung14 festival-lima-gunung15 festival-lima-gunung16

Panggung yang dibuat untuk keperluan FLG XV ini ada 2 panggung yang berada di 2 tempat yang berbeda. Untuk tanggal 21-22 Juli 2016 seluruh acara ditampilkan di panggung Tela yang mengambil tempat lapangan voli, seberang rumah pak Jono Keron. Sedangkan panggung satunya adalah panggung Kimpul yang dibangun di bekas tanah sawah milik pak Jono.

festival-lima-gunung17 festival-lima-gunung18 festival-lima-gunung19 festival-lima-gunung20 festival-lima-gunung21festival-lima-gunung22

Yang menarik dari panggung FLG ini adalah perpaduan sempurna antara bangunan panggung dengan latar belakangnya. Back ground gunung yang menjulang gagah adalah lukisan alam yang tidak bisa dibuat oleh siapapun. Semuanya tampak begitu menyatu, harmonis dan berpadu sempurna dengan adegan tradisi budaya yang berlangsung di hadapannya.

festival-lima-gunung23 festival-lima-gunung24 festival-lima-gunung25 festival-lima-gunung26

Grup saya, Bohemian, menampilkan sebuah karya komposisi kontemporer yang diusung oleh mas Ikbal Lubys (pada gitar elektrik) dan mas Putut Prabu (pada Fujara-alat musik tiup dari Bratisvara), dengan conductor pak Ipang, orang kedua Komunitas Lima Gunung, sekaligus pengasuh Bohemian. Yang menarik adalah karena pak Ipang sesungguhnya sama sekali tidak tahu dan tidak paham bagaimana menjaid seorang conductor. Pekerjaan sehari-harinya adalah sebagai kadus desa Bandongan, nyambi mencari belut dan membantu istrinya membuka sebuah kios di rumahnya.

Namun begitu kedekatannya dengan pak Tanto bagaikan surat dengan perangkonya. Hampir tak ada spasi diantaranya, sehingga pak Ipang mendapatkan kesempatan untuk mengenal banyak pemikiran-pemikiran yang pop art, kontemporer dan mendalam secara filosofi Jawa ndesa. Pak Ipang dengan yakin mengenakan kostum jas lengkap, membawa sumpit mie ayam sebagai tongkat conductor-nya. Selama ini debutnya di Lima Gunung adalah sebagai tokoh semacam sunan yang mengenakan atribut kesunanan, pakaian putih-putih, ikat kepala putih, santun namun magis, membawa dupa dan bebungaan, mengucap doa rapal.

Ketika tiba-tiba beliau berdiri di panggung dengan kostum a la conductor “Luar Negeri”, dibarengi gaya panggung yang tak kalah hebatnya dengan Erwin Gutawa, maka hebohlah seluruh penduduk Lima Gunung. Pak Tanto sendiri tak kalah kaget, karena kami memang sengaja membuatnya menjadi sebuah kejutan. Musik yang dimainkan juga musik yang “sungguh-sungguh” digarap serius meskipun tanpa latihan sedikit pun. Pentas Bohemian kali ini sempat menjadi semacam fenomena di kalangan teman-teman Lima Gunung.

festival-lima-gunung27 festival-lima-gunung28

Puncak acara sekaligus penutupan FLG XV dilangsungan pada tanggal 24 Juli 2016 dengan didahului oleh kirab seluruh peserta Festival yang hadir saat itu. Saya beserta Bohemian tentu saja turut serta berjalan keliling desa dengan pakaian putih-putih. Warna putih memang menjadi semacam “warna wajib” bagi anggota Komunitas Lima Gunung ketika mengadakan kirab budaya di mana saja. Pak Tanto yang mencetuskan ide pakaian putih-putih ini dan hingga saat ini warna tersebut masih tetap menjadi warna penting dalam setiap kegiatan Komunitas Lima Gunung.  Kami menyebutnya dengan istilah “White Noise”.

festival-lima-gunung29 festival-lima-gunung30

Festival Lima Gunung XV berakhir pada tanggal 24 Juli 2016 pukul 24.00 wib dengan menampilkan pentas Ketoprak ndesa yang menampilkan lakon “Sumpah Madrim”  sebagai penutup seluruh kegiatan. Malam yang dingin di kaki gunung Merbabu, angin yang berayun-ayun diantara gemintang tidak menyurutkan para pemain maupun penonton untuk tetap bertahan menyaksikan pertunjukan terakhir malam itu.

festival-lima-gunung31

Kami menikmati sisa-sisa terakhir kebersamaan festival yang begitu indah dan hangat, sambil ngobrol di ruang tamu pak Jono, menyantap kimpul rebus, makan nasi dengan sayur lodeh yang gurih, ikan goreng dan tempe bacem yang maknyus. Kopi hitam dan teh panas menambah hangat suasana. Tampilan meja pendek di ruang tamu mirip dengan tampilan meja saat lebaran di kampung, penuh dengan aneka jenis makanan, yang malam itu tampak sudah berkurang banyak.

Pak Jono tampak berjalan-jalan sendiri di lapangan yang luas, mungkin sedang berpikir berapa banyak hal yang harus dikerjakan setelah festival usai. Beberapa pemuda membakar kayu-kayu dan jerami kering di tepi lapangan voli, ngobrol sambil menghangatkan diri. Saya dan beberapa teman mulai berkemas-kemas, meringkas kembali barang-barang yang cukup berserakan di sana-sini. Selimut, tas-tas di kamar tidur atas di rumah pak Jono, peralatan mandi di warung bu Ipang, charger, sepatu dan beberapa barang lain.

Adzan subuh masih belum terdengar ketika saya dan mas Putut Prabu harus beranjak ke Yogya kembali, sebab mas Putut menerima sms yang mengabarkan bahwa istri mas Putut muntah-muntah dan demam tinggi. Sementara mas Ikbal masih tinggal untuk membantu membenahi segala macam peralatan dan karya-karya kami yang dipakai untuk pameran. Teman-teman yang lain ada yang sudah meninggalkan desa Keron begitu acara ditutup, ada juga yang masih menikmati udara malam dan berniat pulang setelah membantu warga desa Keron membenahi segala hal usai festival.

Persaudaraan menjadi semakin erat, persahabatan menjadi semakin hangat dan ada juga yang bertemu jodoh. Sungguh sebuah festival yang tidak hanya dikelola oleh materi dan non birokrasi, namun lebih jauh dikelola oleh hati dan ketulusan.

Saat orang seperti pak Jono mengeluarkan biaya entah berapa puluh juta untuk menggenapi festival ini, maka beberapa hari setelahnya beliau dapat “job” mengerjakan kostum, topeng dan mobil karnaval berskala nasional di Solo, sementara topeng dan kostum karnaval mas Irul memenangkan juara satu pada pesta karnaval di Jawa Barat. Berkah-berkah yang tak akan surut menyambangi hati yang tulus dan kerja keras yang dilakukan dengan kesungguhan.

Komunitas Lima Gunung mengajari saya banyak hal mengenai hidup dan kehidupan. Dan Festival Lima Gunung, dari tahun ke tahun adalah bukti nyata bahwa keikhlasan, ketulusan, kecerdasan hati dan kraetifitas kerja otak melebihi segala politik, materi dan birokrasi tetek bengek yang sering kali menjebak dunia “kota” yang menganggap dirinya elit dan ekslusive.

Elit dan ekslusive model ndesa macam ini ternyata lebih nikmat, hangat dan tak ternilai harganya.

Salam crut dan merdeka jiwa…

Foto courtesy of (dicolong dari fesbuk milik):

Mas A’ari Kusuma

Pak Hari Antara

Pak Resi Jantir (pak Supadi)

Pak Tanto Mendut

Mbak Athika

Mas Iroel Mutaqin

Pak Ari KD

Pak Sawunggaling (pak Riyadi)

Mbak Boccha Apik (Mbak Siti Yo mas, Yo mas)

Dan foto kolesi saya sendiri, Sekar EQ

Check these out :

http://m.cnnindonesia.com/…/201607250…/festival-lima-gunung/

https://youtu.be/C_eH3stNzCY

https://youtu.be/rpD8VIzatNE

https://youtu.be/Q4u4sens5uo

https://m.youtube.com/watch?v=Bi7yN6Zp8YI&feature=share

 

 

12 Comments to "Festival Lima Gunung (2)"

  1. Lani  6 September, 2016 at 01:16

    EQ: Klu begitu jawaban ki lurah Baltyra salah tentunya kamu sdh baca respond dia atas komentarku ktk aku tanya kekamu kenapa topengnya tidak boleh menyentuh tanah, apakah ada magis nya………ternyata benar adanya……….

    Apakah semua topeng yg dipakai oleh penari topeng semua ada kesakralannya?

  2. EQ  5 September, 2016 at 15:24

    ci Lani, itu bukan topi…itu topeng yang dibungkus kain merah, untuk menari tari topeng…namanya juga tari topeng, bukan tari topi hahhahaha…tari topeng cirebon ini sangat terkenal di banyak dunia….atau mungkin kapan2 saya harus nulis tentang tari topeng cirebon ini ya…..hahhahaha….
    topeng itu dibungkus kain merah khusus dan memang tidak boleh menyentuh tanah, karena topeng tersebut sakral dan dianggap magis..usianya sudah sangat tua

    James….obros itu sebangsa kesenian kubro siswo…

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.