Sahabat Pena

Hennie Triana Oberst

 

Salah satu kegemaranku dulu adalah bersurat-suratan, istilahnya sahabat pena. Mungkin kalau sekarang sudah jarang ada orang yang mau bersusah payah berkirim surat dan mengirimkannya lewat jasa pos. Selain menunggu suratnya sampai, juga sedikit repot karena harus menempelkan perangko dan harus mengirimkannya ke kantor pos atau memasukkan ke kotak surat.

Dari masa di Sekolah Dasar dulu aku mulai gemar bersurat-suratan. Kemudian ikut kegiatan Pramuka, berpartisipasi di acara Jambore yang pesertanya dari berbagai daerah. Sudah pasti makin banyak kenalan dan sesudahnya kita saling berkirim surat.

Aku sudah lupa siapa saja yang pernah aku kirimi dan berkirim surat denganku. Pernah ikut berpartisipasi di kolom sahabat salah satu majalah remaja di jamanku. Di situ aku banyak dapat sahabat pena baru. Ada yang lama berlangsung saling bertukar cerita. Malah ada yang akhirnya bisa bertemu muka dan masih tetap berhubungan sampai saat ini, walaupun tentunya tidak bersurat-suratan seperti dulu, melainkan lewat SMS, email dan media sosial.

sahabatpena

Pernah juga aku berkenalan dengan seseorang melalui salah satu surat kabar. Seorang kolektor mata uang kuno dan bertempat tinggal di Kanada. Orang Indonesia yang sudah lama menetap di benua Amerika bagian Utara tersebut. Aku hargai sekali sewaktu ia mampir mengunjungiku ketika berada di Indonesia.

Kegemaran bersurat-suratan ini masih aku lakukan sampai saat ini, tetapi berganti media mengikuti kemajuan teknologi. Walau bagaimanapun rasanya lebih bahagia waktu menerima surat melalui pos dibanding melalui surat elektronik. Hanya saja kegiatan kita biasanya berubah mengikuti perkembangan yang ada.

Salam Sahabat Pena..!

 

 

Share This Post

Google1DeliciousDiggGoogleStumbleuponRedditTechnoratiYahooBloggerRSS

14 Comments to "Sahabat Pena"

  1. HennieTriana Oberst  13 September, 2016 at 18:40

    JC, hehehe iya dulu aku inget banget, sering beli kertas surat cantik-cantik dari seorang teman. Dia punya koleksi yang nggak ada di toko, karena papanya sering ke LN dan beli kertas surat yang cantik-cantik. Salah satunya memang ada yang jadian dengan sahabat pena

    Sering memang kalau kita ketemun langsung berbeda kesannya dengan surat-menyurat atau dunia maya seperti sekarang. Dari sahabat penaku yang banyak dulu, yang masih tersisa cuma 3 orang. Itupun pernah hilang kontak setelah masing-masing sibuk dengan keluarga. Tapi dari FB bisa terhubung lagi, sampai sekarang. Mereka ini aku sudah bertemu, dan pertemanan tetap berjalan.
    3-5

  2. J C  13 September, 2016 at 17:06

    Hennie, di satu masa aku punya beberapa sahabat pena. Sering setelah ketemuan bener, jadi renggang karena jaman itu tulis menulis dan kirim mengirim foto tidak mewakili orang sebenarnya. Beda dengan sekarang dengan teknologi saat ini…

    Dulu malah khusus ke toko buku cari kertas surat yang bagus-bagus, khusus untuk sahabat pena “beneran” atau yang bisa jadi “prospek pdkt” hahaha…malah kadang ada petikan puisi di kertas surat…

    5-3

  3. Lani  5 September, 2016 at 13:52

    Mas DJ: betul juga sih ngirit ora usah buang duit beli perangko, akan ttp kehilangan “seni” nya spt yg dikatakan oleh James………..senin menulis, seni nempel prangko, seni nunggu lama sambil dag-dig-dug suratnya sdh sampai/belum nya……..kdg sampai kuatir dibalas apa ndak ya………..hehehe……..

    Klu skrg ngetik, send…….mungkin hanya butuh wkt itungan detik sdh sampai mas…………inilah kemajuan tehnologi

  4. Hennie Triana Oberst  5 September, 2016 at 08:06

    Hallo mas Dj…hahaha..iya juga, surat dari orang yang spesial bisa dibaca berulang, sampai hafal titik komanya
    Dulu nungguin pak pos datang juga bikin hati berdebar.
    Schöne Grüße aus Shanghai!

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *