Les yang Bikin Bahagia

Wesiati Setyaningsih

 

Barusan di kolam renang bertemu teman guru bahasa Inggris dari sekolah tetangga. Sekolahnya sudah menjalankan K13 sejak lama. Sekolah saya sempat berhenti setelah pak Anies menjabat waktu itu, untuk dievaluasi, katanya. Habis itu ya jalan lagi, dengan perubahan yang tak terlalu berarti.

Kami ngobrol tentang kekurangan jam yang kami rasakan saat mengajar. Gimana nggak, bahasa Inggris dulunya lima jam seminggu (@45 menit), sekarang jadi dua jam seminggu. Banyak materi yang ingin kami sampaikan jadi nggak sempat. Saya yang biasanya sempat ngobrol panjang lebar dulu, sekarang jadi buru-buru. Sekali ngadain games aja, materi jadi nggak selesai. Padahal sudah waktunya ulangan harian.

les-privat

Sudah gitu materinya kebanyakan materi speaking, padahal yang keluar di Ujian Nasional itu listening dan reading.

Dia ngajar kelas XII, ngajar materi listening aja sampai hampir kelupaan, sementara waktunya ngejar cepet banget. Lantas kami ngrasani, kok malah agama dan pendidikan jasmani dari dua jam seminggu, jadi tiga jam seminggu. Padahal dua mapel itu malah nggak muncul dalam ujian nasional.

Sementara bahasa Inggris muncul dalam ujian nasional dan SBMPTN (tes tulis masuk perguruan tinggi). Sudah gitu, kayanya soal bahasa Inggris di SBMPTN jauh lebih sulit dari materi SMA. Anak yang kemarin dapat bahasa Inggris lima jam seminggu aja kepayahan. Apalagi sekarang dapat cuma dua jam?

Silakan bayangkan. Anak-anak kita itu sudah jadi korban sistim pendidikan yang kacau karena pendidikan dirancang berdasar kepentingan politik. Bukan kebutuhan masa depan anak-anak kita. Masak saya sebagai orang tua masih mau nuntut anak saya ngikutin maunya sekolah? Maaf aja. Biar aja sekarang hepi-hepi, nanti ngejar habis-habisan pas di kelas akhir.

Jadi, anak saya sekarang enggak les mapel. Toh dia masih kelas 8 SMP. Izza les musik.

Tadi di sekolah Izza ditanya temannya, “kamu nggak lez mapel?”

Izza bilang, enggak. Teman Izza yang lain menyahut, “Izza mah lesnya yang bikin bahagia.”

 

 

About Wesiati Setyaningsih

Seorang guru yang tinggal di Semarang. Awalnya tidak ada niat untuk menjadi guru, tapi kemudian "kesasar" menjadi guru. Mencoba mendobrak "pakem baku" proses pengajaran, juga mendobrak ketidaklogisan pencekokan agama membabibuta di sekolah dan keseharian murid-muridnya. Sering dianggap "off-track" bahkan tidak jarang mendapat cap sesat karena sikapnya yang tidak seperti kebanyakan mainstream.

My Facebook Arsip Artikel

8 Comments to "Les yang Bikin Bahagia"

  1. J C  13 September, 2016 at 17:24

    Untung semua bocah-bocahku ora les. Dan aku dulu ngelesi juga bikin bahagia murid-muridku kok…

  2. Wesiati  9 September, 2016 at 17:46

    Makasih ya komennya. Iya, di Indonesia kok orang tua suka pada panik napa ya?

  3. Sumonggo  9 September, 2016 at 05:03

    Saya suka les yang bikin bahagia dan kenyang …., lesehan ……

  4. Lani  8 September, 2016 at 23:46

    Wesiati: itulah aku yg jg tdk ngerti, sampai dibidang pendidikan di POLITISASI……

    Hopo tumon?
    Kdg aku berpikir negeri ini mmg sengaja ndak ingin maju? Yg ditekankan yg tdk praktis dan bermanfaat bagi masa depan anak2nya

    Mas DJ: aku setuju dgn komentar mas. Walau aku ora duwe anak dewe, tp kecenderungan di Indonesia ortu terutama mengejar anaknya hrs hebat disegala bidang, tp pendidikan utk bersosialisasi dilupakan spt yg mas katakan jd tdk ada tatakrama atau mengetahui hal2 yg lebih penting dr sekedar ke enceran otak tok!

    James: gimana pendptmu?

  5. Dj. 813  8 September, 2016 at 16:14

    Anak-anak di Indonesia banyak dituntut ini dan itu .
    Masih di TK sudah harus belajar bahasa Inggris dan entah apa lagi .
    Padahal bahasanya sendiri ( seperti Jawa ) dan bhs Indonesia sangat kacau .

    Tapi juga dalam pendidikan sosial sangat minim .
    Sehingga dalam pergaulan sering rusak .
    Sering terlihat anak kurang sopan kelakuan nya .

    Pokok nya Aljabar bagus , bahasa Inggris bagus , tatakrama tidak penting .
    Ini sangat kasihan sekali .

    Sebaliknya TK di Jerman ( umur 2 – 6 tahun ) tidak diajar soal berhitung atau membaca pun tidak .
    Mereka banyak diajar dalam hal sosial .
    Contoh yang mudah saja, yang lebih tua bisa bermain dengan yang lebih muda .
    Memberi tahu apa yang salah dan benar .

    Nah ya, mungkinn orang Jerman yang pendidikan nya salah .
    Hahahahahahahahaha . . . ! ! !
    Karena anak-anak TK di Jerman belum diajar berhitung .
    Kecuali yang umur 6 yang akan masuk SD diajari nulis 1 – 10 tok .
    Tapi mereka bisa telpon, bisa menyeberang jalan dengan benar , tahu apa itu polisi, perawat,
    pemadam kebakaran dan apa itu Pilot dan air port .
    Karena mereka diajak berkunjung dan bermain disana .

    Terimakasih dan salam

  6. James  8 September, 2016 at 15:15

    hadir untuk les sambil menantikan para Kentjirs

  7. maryati-stg  8 September, 2016 at 11:55

    Bener mbak..kita mah klo bisa ngasih les anak yg bisa buat mrk happy..

    Anakkku jg..dua2nya gak ada les mapel..mama papanya azah yg ngajarin di rmh..mrk gak mau diles mapel ke org lain..malah mrk seneng les musik, dwg dan taekwondo..

    Terimakasih Mbak [email protected]@..

  8. maryati-stg  8 September, 2016 at 11:51

    #1…@[email protected]

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *