Percikan Api Fajar

Handoko Widagdo – Solo

 

Judul: Percikan Api Fajar

Penulis: Benyamin Umba, August Kituai dan Jim Baital

Penyunting: Mike Greicus

Penterjemah: Kustiniyati Mochtar

Tahun Terbit: 1990

Penerbit: Yayasan Obor

Tebal: xviii + 202

ISBN: 979-461-059-3

percikan api fajar

 

Tiga novelet Papua Nugini yang berjudul “Percikan Api Fajar”, “Larinya Seorang Penduduk Desa” dan “Tali” menggambarkan perjumpaan budaya lokal Papua Nugini dengan peradaban Barat. Perjumpaan ini tidaklah mulus prosesnya. Banyak benturan yang terjadi, dimana seringkali budaya lokal menjadi pihak yang kalah atau dikalahkan. Dalam pengantarnya James Dananjaya mengatakan bahwa “Perubahan kebudayaan adalah suatu kejadian yang harus dialami oleh setiap bangsa… Apabila prosesnya terlalu cepat, akan memedihkan kehidupan anggota masyarakat bangsa sersangkutan.” Itulah yang tergambar dari ketiga novelet ini. Meski novelet-novelet ini ditulis oleh orang lokal, namun posisi orang-orang lokal dan kebudayaannya ditempatkan sebagai pihak yang inferior.

Dalam Percikan Api Fajar, Benyamin Umba secara gagah berani menyejajarkan hukum adat dengan hukum Eropa yang dianggap modern. Aglum adalah seorang tua yang saat mudanya jago perang. Aglum telah berhasil memenangkan berbagai perang suku. Tanawa adalah anak lelaki Aglum. Tanawa melarikan diri dari rumah dan bergabung dengan misi Kristen yang ada di luar desa. Aglum dan keluarganya dipersalahkan atas kematian-kematian beruntun yang dialami oleh masyarakat desanya. Berdasarkan seorang peramal, kematian-kematian tersebut diakibatkan karena kemarahan roh-roh leluhur akibat Tanawa yang melarikan diri dari kampung dan bergabung dengan orang Eropa yang menyebarkan agama Kristen. Aglum, istri dan adik Tanawa dibakar hidup-hidup di rumahnya oleh penduduk desa yang sepakat untuk menegakkan hukum adat supaya kutukan roh-roh leluhur bisa dihentikan. Demikian pula dengan Tanawa yang juga dibunuh di rumah sang misionaris.

Dalam kisah Percikan Api Fajar ini, Umba mau mengatakan bahwa pembunuhan dalam rangka menegakkan hukum adalah sah adanya. Bukankah hukum adalah bentuk praktis dari nilai-nilai yang diyakini oleh sebuah komunitas?  Meski kelihatan sadis, namun tindakan ini harus dibenarkan untuk melindungi kehidupan yang lebih luas.

Melalui Larinya Penduduk Desa August Kituai mau menunjukkan betapa tabrakan nilai-nilai desa (tradisional Papua Nugini) dengan peradaban kota (Eropa) membuat orang-orang lokal termarginalisasi. Ketakmampuan beradaptasi dengan peradaban baru tersebut membuat frustasi penduduk lokal. Kefrustasian tersebut dilampiaskan dalam perilaku mabok, seks dan kriminal. Aturan-aturan dalam peradaban baru membuat orang desa bingung dan tak bisa paham. Namun August Kituai berpendapat bahwa perubahan budaya tak bisa dihindari oleh orang Papua Nugini.

Kesulitan-kesulitan yang dihadapi hanyalah disebabkan karena kesalah-pahaman saja. Orang lokal harus belajar dan mengejar “ketertinggalan” budaya yang dihadapinya. Itulah sebabnya Kituai mengakhiri ceritanya dengan diterimanya Iso – si anak desa yang melarikan diri ke kota, sebagai pembantu rumah tangga. Iso diterima dengan baik oleh keluarga Eropa. Bahkan dianggap sebagai bagian dari keluarga. Inikah jalan yang harus ditempuh oleh masyarakat papua Nugini dalam menatap masa depannya?

Sedangkan Kisah Tali yang ditulis oleh Jim Baital adalah kisah anak Papua Nugini yang dibesarkan dalam budaya Eropa. Ayah dan ibu Tali bekerja sebagai pembantu rumah tangga di keluarga Eropa yang baik. Tali mendapatkan pendidikan barat. Ia memilih menjadi tentara daripada meneruskan sekolahnya. Padahal ia termasuk murid yang sangat pandai. Petualangannya menjadi tentara membuatnya tidak bahagia. Akhirnya Tali menikahi seorang perempuan yang sudah menikah dan memilih kembali hidup di desa. Saat Tali kembali ke desa, dia mengalami kesulitan menyesuaikan diri dengan nilai-nilai lokal. Karena frustasi dengan ketidakmampuannya menyesuaikan diri dengan budaya lokal membuat Tali menjadi seorang pemabuk dan menjadi seperti orang gila.

Tiga kisah ini ditulis oleh tiga penulis dengan pandangan terhadap benturan budaya berbeda-beda. Umba jelas berupaya menyejajarkan budaya lokal dengan budaya Eropa yang mendatanginya. Umba tak merasa bahwa peradaban Papua Nugini lebih rendah dari peradaban Eropa. Namun Umba mengingatkan bahwa orang lokal hanya punya parang, tombak dan panah, orang-orang Eropa punya senapan.

Ausgut Kituai lebih optimis terhadap perjumpaan dua budaya ini. Meski perjumpaan ini sulit dan mengakibatkan penderitaan yang sangat, namun perjumpaan tersebut harus dihadapi. Sebab peradaban Eropa akan membawa kehidupan yang lebih mudah bagi masyarakat Papua Nugini. Lagi pula Peradaban Eropa cukup ramah untuk bisa membimbing orang-orang Papua Nugini meningkatkan taraf hidupnya.

Jim Baital memperingatkan beratnya benturan budaya ini. Bahkan bagi anak yang sudah mendapatkan pendidikan barat sekalipun, perbenturan ini masih sangat berat untuk dilalui. Sayangnya Jim Baital tidak memberikan pendapatnya seterang dua penulis lainnya.

Kumpulan novelet Papua Nugini ini sangat baik untuk kita baca. Sebab sebagai sebuah bangsa yang beragam sukunya, perjumpaan antar budaya sering kali terjadi dalam kehidupan bernegara. Masih banyak suku-suku yang tinggal di hutan dan memiliki budaya sendiri yang berbeda dari suku-suku yang sudah terkoneksi secara global dengan komunitas-komunitas internasional. Nilai-nilai tradisional masyarakat yang tinggal di hutan ini adalah baik dan benar bagi mereka. Pemaksaan kepada mereka untuk “menyamakan” diri dengan kita adalah sebuah proses yang berbahaya. Termasuk melalui cara yang paling lunak sekalipun, seperti lewat pendidikan. Penggiringan budaya tetap saja sangat berbahaya.

 

 

About Handoko Widagdo

Berasal dari Purwodadi, melanglang buana ke berpuluh negara. Dengan passion di bidang pendidikan, sekarang berkarya di lembaga yang sangat memerhatikan pendidikan Indonesia. Berkeluarga dan tinggal di Solo, kebahagiaannya beserta istri bertambah lengkap dengan 3 anak yang semuanya sudah menjelang dewasa.

My Facebook Arsip Artikel

16 Comments to "Percikan Api Fajar"

  1. Lani  15 September, 2016 at 06:33

    Hand: Klu Lan Ing = anggrek betina-kah??? hahaha

  2. Handoko Widagdo  14 September, 2016 at 14:43

    Kalau Lan Ang itu anggrek jantan.

  3. Lani  14 September, 2016 at 13:04

    Hand: bisa jd artinya bunga anggrek………tp anggrek banyak macamnya lo………..jd anggrek apa hayo hehehe……….

    Tapi klu dlm bahasa Hawaii Lani bukan bersinggungan dgn bunga jauuuuuuuuuuh sekali bedanya…….bukan berarti bunga………

  4. Handoko Widagdo  14 September, 2016 at 10:13

    Lan itu kalau tidak salah artinya bunga anggrek.

  5. Lani  14 September, 2016 at 03:14

    Hand: jangan dikira nama Lani hanya aku lo di Kona/Hawaii……..lani itu nama pasaran dan disukai krn artinya……….mau tau?

  6. Handoko Widagdo  13 September, 2016 at 17:33

    kang Sumonggo, pembacanya jadi arang. Bukankah saat ini kita butuh banyak arang untuk membuat sate?

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.