Tiga Wanita yang Menangis untuk Sebuah Kematian

Nur Mursidi

 

(Solo Pos, Minggu 28 Agustus 2016)

SEPULUH tahun yang lalu, isak tangisku memecah gulita malam. Ada rasa hampa yang mengisi rongga dadaku, yang membuat kisah sedih terasa semakin mendidih dan kekal. Aku seperti patung yang dirayapi sepi dan dingin, masih menangis, dan terjaga sendiri. Hening seperti memadat meski detak jarum jam di dinding berdenyut ritmis bagai benda ajaib yang bernapas. Dan lelaki di sampingku masih meringkuk setengah telanjang, dan mendengkur. Temaram lampu kamar menyala redup, membingkai waktu seperti merambat dengan lambat. Tak lagi kuingat, bagaimana pesta pernikahan yang megah itu berakhir setelah orang-orang pulang.

Aku merasa letih ketika musik tak lagi berisik. Tenda mulai dilipat. Laki-laki itu –entah kenapa aku enggan menyebut dia suamiku– mengamit pinggulku, menggenggam tanganku dengan erat lalu menuntunku ke kamar. Setelah pintu kamar ditutup, tak ada sebait pengantar yang puitis saat dia melolosi pakaian pengantin yang menempel di tubuhku. Dalam sekejap, aku dibaringkan di ranjang pengantin yang wangi. Ada rasa perih yang menggumpal, membuat aku merasa kesakitan. Tapi aku pura-pura melenguh.

Di luar, gerimis turun dengan ritmis. Lelaki itu melenguh, diam, kemudian tersungkur lemas di sampingku, tertidur dan mendengkur. Dingin merayap. Hening. Hanya suara dengkur lelaki itu, detak jarum jam dan isak tangisku. Aku sedih dan menagis. Sebab di malam yang ganjil itu, malam yang seharusnya membuat mempelai pengantin bahagia, tapi malam itu justru menjadi kisah sedih dalam hidupku. Setelah malam itu, aku yakin, kisahku akan diliputi kesedihan yang kekal.

Dan semua kisah sedih itu dimulai dari pesta pernikahan yang ganjil. Aku menikah dengan lelaki yang tidak aku cintai. Itulah alasan, kenapa malam itu aku menangis.
***

MALAM itu, pesta pernikahan megah digelar. Pesta pernikahan Lusy dan Handoko. Sebenarnya, Lusy tidak ingin pernikahan itu berlangsung. Tapi Lusy tak kuasa. Tiga bulan sebelum pernikahan, Lusy sudah menutup hati, menutup pintu kamar rapat-rapat dan menutup telinga tentang cerita lelaki yang melamar Lusy. Tetapi Laksmi, Ibu Lusy, selalu mengetuk pintu kamar Lusy dengan lembut, mengantar makanan kesukaannya bahkan tak henti-henti merajuk.

“Lelaki ini serius melamarmu. Lalu, apa yang membuatmu tak mau membuka hati?”

“Bunda, bagaimana mungkin aku bisa menikah dengan lelaki yang tidak aku sukai?” Akhirnya, Lusy menjawab dengan jujur.

Lama. Dua wanita itu saling pandang.

Lusy merasa jengah kenapa Ibunya tega memaksanya menikah dengan Handoko tanpa alasan yang jelas. Padahal, Laksmi tahu Lusy sudah memiliki kekasih, Alex. Laksmi pun tahu, Lucy dan Alex berpacaran sudah tujuh tahun sejak mereka lulus SMA. Hingga suatu hari, Lusy dikejutkan dengan kedatangan lelaki berpakaian koboi, dan berambut gondrong yang meminangnya. Lusy bergidik, menutup pintu kamar dan tak ingin keluar meski Ibu dan ayahnya berkali-kali meminta Lusy menemui lelaki itu –yang diketahui bernama Handoko.

“Lusy,” ucap Laksmi lembut sambil membelai rambut putrinya yang tergerai di atas kasur “Ibu tahu Lusy ingin bertanya, kenapa Ibu ingin kau menerima pinangan Handoko…”

Lusy mengangguk.

“Baiklah, Lusy. Aku akan menceritakan semua ini. Saat kau berumur tujuh tahun, Ibu pernah ditolong dokter Cokro, ayah Handoko,” Laksmi akhirnya berkata jujur. “Waktu itu, Ibu merasa ajal ibu sudah dekat setelah dokter Cokro mendiagnosis Ibumu ini terkena kanker sirosis hati. Tapi dokter Cokro menolong Ibu, dan berjanji mencarikan donor buat Ibu bahkan mengantar ibu menjalani operasi di Tibet. Kamu masih kecil, waktu itu. Dan, Ibu tak pernah menceritakan rahasia ini padamu. Tapi, beberapa tahun kemudian, Ibu tahu bahwa pendonor hati itu ternyata adik kandung dokter Cokro yang kuliah di Tibet dan meninggal akibat kecelakaan. Jadi, Ibu merasa berhutang budi kepada dokter Cokro.”

Lusy termenung. “Jadi, Ibu menikahkan saya semata-mata untuk membalas kebaikan dokter Cokro?”

Laksmi mengangguk.

Lusy tak bisa menjawab.

Laksmi bangkit, meninggalkan kamar Lusy. Tapi di ambang pintu, Laksmi urung keluar, menoleh sekilas dan berucap “Kini Ibu sudah bercerita. Rasanya, setelah ini Ibu tidak akan memintamu lagi untuk menikah dengan Handoko. Jadi, pikirkan apa yang Ibu ceritakan.”

Lusy sudah bertekat tidak akan menerima lamaran Handoko. Tapi dua hari kemudian, Lusy tak berdaya ketika ia menjumpai Ibunya lunglai, tak berdaya dan harus dilarikan ke rumah sakit. Lusy tidak ingin Ibunya meninggal. Maka, tidak ada janji yang membuat Lusy bisa membuat Ibunya punya harapan kecuali ia berucap dengan gemetar, “Ibu harus sembuh, Lusy rela menikah dengan Handoko.”

Janji Lusy itu seperti mantra. Ibu Lusy perlahan-lahan sembuh. Dan setelah Ibunya sembuh, Lusy memenuhi janjinya. Ia menikah dengan Handoko, lelaki yang tidak ia cintai.
***

DELAPAN tahun yang lalu, jerit tangisku memecah gulita malam. Aku hanya bayi mungil yang meronta-ronta, dan menangis. Setelah sembilan bulan diam dalam rahim waktu, aku akhirnya dihembaskan kekuatan dahsyat yang menggulung semesta rumahku. Aku mencium aroma wangi, bau amis darah yang berleleran, dan desau angin yang asing. Maklum, sebelumnya, aku hanya mengenal gelap dan pekat.

Apakah aku sedih sewaktu lahir ke dunia? Aku hanya bayi mungil yang tak tahu kenapa aku harus lahir dan menangis. Aku hanya tahu, tatkala sepasang tangan kekar meraihku, membisikkan kata-kata yang merambat lembut, dan halus. Tengkukku seperti dialiri hawa dingin yang menentramkan. Tapi, aku hanya bisa mengingat masa laluku samar-samar. Aku menangis dan meronta-ronta lalu baru diam setelah sepasang tangan kekar itu menimang tubuh mungilku. Dalam pelukan tangan kekar itu, aku merasa damai.

Aku tumbuh, merangkak, dan berdiri dengan tergopoh-gopoh hingga akhirnya bisa berjalan. Dan sepasang tangan kekar itu selalu menceritakan dongeng-dongeng yang mengagumkan hingga aku menitikkan air mata. “Putriku, jangan engkau tumpahkan semua tangismu ketika kau sedih. Ada kalanya kau kelak membutuhkan air mata itu di saat kebahagiaan datang.”

Aku mengingat pesan yang tidak henti-henti dibisikkan di telingaku itu, hingga beberapa tahun kemudian, aku baru tahu jika pemilik sepasang tangan kekar itu adalah ayahku.
***

LUSY tak habis mengerti kenapa bayi yang ia lahirkan itu kerap menangis terlebih ketika terlalu lama ada di dekatnya. Bahkan, Lusy tidak habis pikir ketika bayi yang diberi nama Berta itu tumbuh dan mulai bisa bicara dengan lincah justru kerap sakit bersamaan ketika ayahnya sakit.

Semula, Lusy tak menyadari semua itu. Lusy baru terhenyak kaget tatkala Handoko mendapat tugas ke luar kota tiba-tiba menelpon. “Dari tadi, perasaanku tidak enak. Apakah benar Berta demam?”

“Bagaimana kau bisa tahu?”

“Sebab, aku sedang demam,” tegas Handoko.

Lusy diam, tak bisa berkata apa pun.

“Kapan Berta mulai demam?”

“Tidak lama setelah ayahnya pergi.”

“Dugaanku tak salah” ujar Handoko. “Tapi tak usah khawatir. Jika aku sembuh, perlahan-lahan Berta pasti sembuh.”

Tidak sampai enam jam, Handoko menelpon lagi. Dia mengabarkan demamnya sembuh. Sesaat sebelum Handoko menelpon, Lusy ingat betul panas Berta pun turun. Waktu itu, Berta masih berumur 4 tahun. Tapi sejak itu kala Handoko sakit, bisa dipastikan Berta sakit. Dan sakit yang diderita Handoko dan Berta selalu sama. Ketika Handoko sakit sariawan dan enggan makan, Berta pun sariawan. Saat Handoko atau Berta, salah dari mereka sembuh, salah satu yang lain ikut sembuh.

Kejadian-kejadian di luar akal sehat itu, kian membuat Lusy benci Handoko. Lusy merasa Berta lebih mencintai ayahnya daripada dirinya. Bahkan ketika Handoko mendapat tugas untuk ke luar kota dari kantor tempatnya kerja, Berta selalu bertanya: kapan ayahnya pulang? Sepanjang malam, selama Handoko di luar kota, Berta kerap tak bisa tidur. Padahal Lusy tergolong wanita yang hidup teratur, termasuk kebiasaan tidur tepat waktu, pukul sepuluh malam. Maka, Berta yang tak mau tidur sebelum ayahnya menelpon dan mendongeng, membuat Lusy keropotan. Celakanya, Lusy tak bisa mendongeng.

Lusy tambah kesal. Tahun berbilang. Usia pernikahan Lusy dan Handoko hampir sepuluh tahun berlalu. Tetapi, kedekatan Berta dengan Handoko, kian menambah Lusy sakit hati. Lusy merasa ia punya alasan membenci Handoko bahkan sepanjang pernikahan mereka. Apalagi, Handoko dan Lusy, banyak memiliki perbedaan. Handoko suka musik, seni dan tidak tertarik fasion. Sebaliknya, Lusy benci musik, seni, dan suka fasion. Tragisnya, Berta memiliki banyak kesamaan dengan Handoko.

Kelahiran Berta, perlahan-lahan, tidak menjadikan Lusy jatuh cinta kepada Handoko. Justru, Lusy semakin punya seribu alasan untuk membenci Handoko setengah mati.
***

HARI ini, aku terbujur kaku di rumah duka. Waktu seperti berhenti, dan membeku. Ruangan rumah duka penuh dengan aroma bunga. Tidak lama berselang, setelah aku dimasukkan ke rumah duka, Lusy dan Berta datang. Putriku menangis, memanggil-manggil namaku. Gema tangisnya terasa menyanyat ke segala ruangan. Aku tahu putriku terpukul dan merasa bersalah saat menjumpai sosok ayahnya mati dalam kecelakaan yang tragis. Dan istriku menangis tersedu. Setelah bertahun-tahun aku tidak pernah melihat Lusy menangis, apakah sekarang ia menangis demi aku? Apakah ia merasa kehilangan setelah aku tak lagi bernyawa?

Aku tidak lagi ingat, bagaimana mobil yang aku kemudikan itu menubruk trotoar ketika aku melaju kencang setelah Berta menelponku dan memintaku pulang karena ia habis dimarahi Lusy. Aku hanya ingat samar-samar dan setelah itu semua yang kulihat hitam pekat. Aku hanya merasakan ada sepasang tangan halus yang merogoh sukmaku. Apakah itu malaikat? Aku ragu.

Lusy mendekapku seperti tak ingin melepas kepergianku. Tapi sayang, semua itu sudah terlambat. Sekelebat, aku justru melihat bayangan seseorang berpakaian hitam di sekitar rumah duka. Rasanya, ia akan tetap di luar sana, dan aku tahu ia pasti menangis. Sebab aku mendengar dan mengenal betul isak tangis itu. Isak tangis yang membuatku merasa tenang dan damai.***

 

Condet, 2012-2016

*) N. Mursidi, cerpenis kelahiran Lasem, Jawa Tengah. Beberapa cerpennya telah dimuat di sejumlah media massa seperti Kompas, The Jakarta Post, Suara Pembaruan, Seputar Indonesia, Sinar Harapan, Republika, Jurnal Nasional, Suara Karya, Tabloid Nova, Majalah Femina, Majalah Anggun, Kedaulatan Rakyat, Minggu Pagi, Tribun Jabar, Batam Pos, Radar Surabaya, Surabaya Post, Surya, Lampung Post, Bengawan Pos, Solo Post, Inilah Koran, dan Tabloid Cempaka. Selain menulis cerpen, pria satu ini bekerja sebagai wartawan sebuah majalah di Jakarta.

 

 

About Nur Mursidi

Cerpenis kelahiran Lasem, Jawa Tengah. Beberapa cerpennya telah dimuat di sejumlah media massa seperti Kompas, The Jakarta Post, Suara Pembaruan, Seputar Indonesia, Sinar Harapan, Republika, Jurnal Nasional, Suara Karya, Tabloid Nova, Majalah Femina, Majalah Anggun, Kedaulatan Rakyat, Minggu Pagi, Tribun Jabar, Batam Pos, Radar Surabaya, Surabaya Post, Surya, Lampung Post, Bengawan Post, Solo Post, Inilah Koran, Suara Merdeka, dan Tabloid Cempaka. Dia bekerja sebagai wartawan sebuah majalah di Jakarta. Karya terbarunya: Tidur Berbantal Koran (Elex Media: 2013).

My Facebook Arsip Artikel

7 Comments to "Tiga Wanita yang Menangis untuk Sebuah Kematian"

  1. James  13 September, 2016 at 06:06

    Mbak Lani, sy temasuk jenis pria cengeng dan peka sekali ktn sejak kecil, jadi kalau nonton film drama saja sering nangis terbawa ceritanya tapi disamping itu memiliki sifat keras tegsd, skrg sih gak lagi

  2. James  13 September, 2016 at 06:01

    Wanita ke 3 itu mungkin ibunya Lusy yg anjurkan Lusy utk menerima Handoko sbg suaminya

  3. Lani  13 September, 2016 at 00:20

    James: pd dasarnya mmg menangis bs diartikan dua………..menangis krn sedih, dan menangis krn over joy/happy…………pernahkah kamu menangis??? dgn alasan apa?

  4. Swan Liong Be  12 September, 2016 at 17:36

    Iya,ya, siapa wanita ketiga, dalam cerita cuma ada Lusi, Berta dan pencerita ketiga kan alm,Handoko. Btw, ini aku punya pertanyaan yang OOT; dulu waktu ada mata pelajaran bahasa indonesia aku dapat pelajaran bahwa kata “sebuah” itu hanya dipergunakan untuk barang konkrit atau yang bisa dipegang seperti sebuah meja, sebuah kursi . Sekarang kok “sebuah” dipake untuk segalanyya, seperti diatas sebuah kematian atau sebuah cerita, bagiku aneh kedengarannya,moso “sebuah” juga dipake untuk hal abstrak?! apakah gak lebih baik pake kata “suatu”?
    Ini hanya opiniku soal tatabahasa meskipun aku bukan ahli bahasa lho!

  5. Awesome  12 September, 2016 at 11:52

    Koq 3?
    Berta, lusy, 1 lagi siapa?

  6. James  12 September, 2016 at 09:07

    1……menikmati membacanya

    sambil menunggu Para Kenthirs kalau ada yang menangis bahagia

  7. James  12 September, 2016 at 09:02

    1….menikmati membacanya

    sambil menunggu Para Kenthirs kalau ada yang menangis bahagia

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *