Identitas, Trend, di mana Self-respect?

Priscilla Ivana

 

Di jaman dimana semua orang ingin tampil beda, atau sekedar mau menunjukkan ini lah “aku”. Semakin bikin saya heran atau malah introspeksi diri apa saya sudah tua dan kuno.

Di satu sisi, golongan tertentu ingin menutup rapat-rapat dirinya (dari ujung rambut sampai ujung dasar alas kaki). Di sisi lain golongan yang bangga buka-bukaan (apa ndak masuk angin…)

self-respect

Golongan A, semua tertutup rapat meski sedang ke pantai atau mau berenang di mana saja. Ada yang dengan alasan agama, ada yang alasan keamanan dari sengatan jellyfish atau kemulusan kulit/kosmetik (trend facekini di China). Golongan B, bikininya makin irit kain makin bangga.

Bukan cuma masalah di pantai, tapi sampai juga trend artis – terutama dimulai dunia barat. Baju ketat, tunjukkan semua lekuk tubuh semenonjol mungkin. Semakin banyak cutouts, makin keren. Cutout dimana-mana, dari belahan paha yang makin tinggi, sampai belahan-belahan lainnya.

Saya juga perempuan, juga seorang ibu. Memang kodrat perempuan untuk hamil dan menyusui anak-anaknya. Tapi saya sedikit terusik bila melihat perempuan hamil yang berpakaian ketat sekali. Atau para ibu yang masih menyusui bayinya, berpakaian terbuka, dgn tanktop yang belahannya amat sangat rendah, dan jalan-jalan di mall.

Saya tidak ngerti, dimana lagi self respect dalam cara berpakaian? Saya juga tidak setuju cara dominasi pria atau entah golongan yang mengatur cara perempuan berpakaian. Tapi, apakah perlu berpakaian seketat atau seterbuka mungkin? Ego, korban mode atau korban kekinian?

 

 

9 Comments to "Identitas, Trend, di mana Self-respect?"

  1. Lani  14 September, 2016 at 13:01

    Hand: setuju dgn komentarmu empan papan. aku bisa bilang jangan pakai bikini kiwir2 klu tdk dikolam renang/dipantai hahaha………….bener opo bener??

  2. Handoko Widagdo  14 September, 2016 at 12:40

    Orang Jawa bilang ajining raga gumantung saka busana (harga diri tubuh kita tergantung dari pakaian yang kita kenakan). Jadi (menurut Orang Jawa) berpakaian hendaknya empan papan (sesuai dengan tempatnya). Jangan pakai jarik saat di pantai.

  3. J C  13 September, 2016 at 17:29

    “DASTER” ala padang pasir memang makin nge’trend di sini…

  4. Dj. 813  13 September, 2016 at 15:30

    Artikel yang bagus . . .
    Semua yang berlebihan memang kurang bagus dilihat mata .
    Apapun alasan nya.
    Terimakasih dan salam.

  5. Ivana  13 September, 2016 at 14:03

    Emang susah… dikembalikan ke masing2 pribadi aja… Bagian mana yang mau ditutupi, atau dipamerkan… kalo dinilai atau diliat orang ya jangan gampang tersinggung kekeke…

  6. Lani  13 September, 2016 at 09:38

    James: hahaha……..sampai kedahuluan ngga tau……….krn sibuk ngepot, salip sana sini agar bisa dpt nomer satu……….ngakak aku James………

  7. James  13 September, 2016 at 09:20

    eeiittss dah di dulian mbak Lani Kona toch ???

  8. James  13 September, 2016 at 09:20

    1…..agar kelihatan lain dari yang lain

    menunggu Para Kenthirs menjadi golongan buka2 an ???

  9. Lani  13 September, 2016 at 09:19

    Ivana: Jawabannya susah banget lebih baik dikembalikan ke person nya masing2 monggo yg ingin ditutup rapet-pet dr ujung kepala sampai ke ujung kaki……….biar jgn kepanasan, kulit tetep putih kinclong dan segudang alasan lainnya……..sebaliknya yg ingin berpakai seketat mungkin, dibelah sana sini, dirobek-robek halah bosone……..ya silahkan saja wlu kdg juga aku berpikir kok tdk risih, tdk malu dan mengapa tdk menghargai diri sendiri………

    Jd bagiku kesimpulannya apapun klu over dosis nampaknya mmg jd tdk pas……….

    Gimana pendapatmu James dan para kenthir lainnya????????

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *