Aku Pernah Tidak Diakui

Dian Nugraheni

 

Atau paling ga, diragukan, apakah aku anak si Bapak itu, atau bukan…

Daan..Gue take it easy sepanjang waktu, tuh.., gue ga peduli apakah gue anak dia, atau bukan, gue ga peduli juga, apakah dia Bapak gue, atau bukan. Ibu gue juga tenang-tenang aja…nggak pakai ribut….

Yang jelas, warna kulitku, tipis-tipisnya mukaku, rambut kriwilku, sepadan dengan apa yang Bapakku miliki. Kata orang, aku plek jibles, sama Bapakku itu. Ohh ya, akta kelahiranku juga dibilang aku anak Ibuku dan ada nama Bapakku itu.

Aku tau di mana Bapakku berada, tapi aku tak ingin mendatangi, merasa hidupku saat itu sudah “tercukupi” oleh lingkunganku yang hangat…

Bla..bla..bla..aku dewasa sudah….
Ketika aku harus melakukan penelitian untuk skripsi, kebetulan lembaga yang aku teliti ada di kota Bapakku berada. Ya cuek aja aku tinggal di rumah dia, meski iya sih, berasa asing, karena jarang banget ketemu sejak aku kecil..

Malam itu, Bapakku menghampiriku dengan berjalan di atas kursi roda. Pembantunya mengiring di belakangnya, kemudian meletakkan setangkap roti tawar semir blue band, segelas kopi, dan…satu pak rokok Gudang Garam filter lengkap dengan pemantik api.

Wajahnya, Bapakku itu, tersenyum dalam remang, dan bilang, “Hanya kamu, satu-satunya anak Bapak yang menuruni bakat Bapak merokok. Nahh, biasanya, kalau sedang banyak pekerjaan, lembur malam begini, Perokok, pastilah menginginkan segelas kopi, sekedar pengganjal perut, dan tentu saja, rokok….”

Glek..!! Menuruni bakat merokok..! Kenapa bukan bakat melukismu saja sih, Pak..? Hixixixi…nawar…

Berkata begitu, masih dengan senyum. Sepertinya senyumnya sedikit bangga, dan ada sirat haru di matanya. Aku cuma diam. Lalu kemudian Bapakku itu membelokkan kursi rodanya, beranjak keluar dari kamar yang kutempati. Adegan drama panjang tak terjadi.

Aku paham benar, sebenernya Bapakku menuduh aku bukan anaknya, waktu itu, karena dia sedang menutupi kelemahannya sendiri..bla..bla..bla..whatever it was…

Dan aku ga pernah disantuni Bapakku, dibiayain sekolah, kuliah, bahkan tak pernah tinggal serumah dengannya sejak kecil..

Di atas segalanya, aku ga perlu pengakuan, nggak pernah menanyakan apa pun soal ini. Nggak penting-penting amat sepertinya…

Diakui atau tidak, toh kita masing-masing punya kehidupan sendiri, dan sejak kecil aku merasa, bahwa aku bahagia dan “ayem” bila orang-orang yang aku kenal, atau dekat denganku, juga hidup bahagia, meski jauh di mana..

Aku tak pernah memeluknya, atau bergayut manja padanya, tak ada terjadi moment-moment itu. Tapi aku datang dan mengiringnya sampai pekuburan, ketika Beliau meninggal. Rasanya seperti melayat tetangga sebelah yang berpulang. Ga ada emosi apa pun…

Kami, aku dan Bapakku itu, bukan orang terkenal, jadi kami ga perlu ribet tes DNA untuk membuat suatu kepastian, kesimpulan, demi kepuasan keingintahuan khalayak rame…

 

*Bukan drama Korea, juga bukan kasus Montirmontor*

 

 

10 Comments to "Aku Pernah Tidak Diakui"

  1. J C  28 September, 2016 at 20:26

    Dian, tinggal bilang team PBK iso ora mlebu KompasTV…hihihi…

  2. Dian Nugraheni  26 September, 2016 at 00:00

    all teman2 semua, makasih semuanya yaa…perjalanan hidup masing2 dari kita, sungguh sangat berharga untuk membuat kita menjadi yang sekarang ini. Tentu saja tidak harus dipandang hidup sukses karena kita sudah kaya harta, tapi yang penting sudah semakin mampu menata rasa agar bisa menjalani hidup dengan lebih nyaman dan happy…

  3. Dj. 813  16 September, 2016 at 22:34

    Tidak diakui, tapi masih boleh bermalam dirumahnya . . . ? ? ?
    Malah diakui punya warisan perokok .
    Hebat sekali . . .
    Salam,

  4. Handoko Widagdo  16 September, 2016 at 15:45

    Cukup dibuktikan dengan sama-sama suka merokok. Cukup sudah.

  5. Lani  16 September, 2016 at 14:18

    James….sama lagi nih

  6. Lani  16 September, 2016 at 14:17

    “Menjadi anak siapa atau bukan, diakui atau tidak, that’s not big deal, karena yang harus kita sadari adalah, kita, sebagai individu, sebagai manusia, sebagai orang, berkewajiban untuk menjalankan tugas hidupnya, straight, lurus ke depan, berbuat yang terbaik. Nengok ke belakang itu cuma buat rekreasi, bercermin, dan untuk lebih memotivasi diri…bukan untuk termehek-mehek menyesali keadaan dan seterusnya..”
    +++++++++++

    Dian: aku setuju dgn komentar balik darimu……….

  7. James  16 September, 2016 at 10:00

    DN, you are not alone ! I got the same experience too, semakin lanjut usia maka akan semakin kuat memori lama itu, sangat Menyedihkan dan Menyakitkan tapi itulah kehidupan yang harus dihadapi meski masih harus terjadi disekitar hidup manusia

  8. Dian Nugraheni  16 September, 2016 at 05:51

    Sumonggo, haha..iya bener itu, sampai ada status yang cuma terdengar dan juga terdampar…

    Cik Lani, iya, aku liat postingan teman2 soal MT, tapi ga ngikutin banget. Aku juga ga bermaksud membeberkan aib keluarga(ku). Hanya, aku lebih melihat ke orang per orang. Dan ini adalah apa yang terjadi padaku. Dan aku ingin mengajak orang-orang yang punya kisah mirip denganku untuk, “take it easy!”

    Menjadi anak siapa atau bukan, diakui atau tidak, that’s not big deal, karena yang harus kita sadari adalah, kita, sebagai individu, sebagai manusia, sebagai orang, berkewajiban untuk menjalankan tugas hidupnya, straight, lurus ke depan, berbuat yang terbaik. Nengok ke belakang itu cuma buat rekreasi, bercermin, dan untuk lebih memotivasi diri…bukan untuk termehek-mehek menyesali keadaan dan seterusnya..

    Thaanks a lot semua yaa…salam teuteup semangaat..!!

  9. Sumonggo  16 September, 2016 at 04:50

    Dulu status sekolah ada tiga: terdaftar, diakui, disamakan.
    Salam syuper ……….

  10. Lani  16 September, 2016 at 01:57

    Dian: hahaha…………..apakah tulisanmu ini dipengaruhi krn kamu nonton you tube ttg penolakan MT keanaknya??????

    Hal2 spt itu diumbar, disebar luaskan diruang publik spt sdh tdk ada batasan sama sekali ant mana yg private dan konsumsi publik……….spt membuka aib sendiri…………tdk ada rasa hormat dan malu……….malah malu2-in saja…………

    Dian aku jg klu boleh dikatakan ada mirip2 dgn kamu hanya case nya beda……….tp biarlah kusimpan buat diriku saja

    James: kamu pasti lagi ngorok ya…………kkkkkkkk

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *