Idul Adha dan Kampanye Anti Ahok

Prabu

 

Senin kemarin, seluruh umat Islam di Indonesia merayakan Idul Adha, sebagai hari yang diingat kaum muslimin akan ketaqwaan Nabi Ibrahim AS atas perintah Allah SWT.

Nabi Ibrahim AS yang telah bertahun-tahun menanti kehadiran buah hati, akhirnya pada 10 Zulhijah, diuji Allah SWT untuk menyembelih putranya sendiri. Jelas, nabi galau. Mentaati perintah Allah SWT atau menyayangi putranya? Suatu pilihan dilematis. Namun, karena ketaqwaan yang kuat, Nabi Ibrahim AS melaksanakan perintahNya.

Akan tetapi Allah punya kehendak lain, ketika pisau siap menggorok leher sang putra, tiba-tiba berganti rupa seekor domba. (QS Al Shaffat 102-109).

Demikianlah ayat ini dipakai referensi oleh para pengkhotbah setiap saya mengikuti sholat Idul Adha sejak kecil, jomblo hingga beranak-pinak skrg ini.

Selesai sholat, ritual selanjutnya adalah potong domba dan sapi di tengah lapangan yang telah dipasang tenda ala kadarnya dengan disaksikan ratusan penonton baik tua, muda dan anak-anak. Itulah ritual pemotongan hewan qurban yang saya saksikan sejak kecil dulu. Sebagai anak kecil, adalah sebuah kebanggaan bisa bawa pulang beberapa kilo daging sapi. Tentu, ibu saya bisa masak daging qurban ini. Sebuah menu mewah yang tak mungkin diolahnya di hari-hari biasa.

Kini, ketika jaman internet mendera dan kebusukan serta fitnah sulit dibedakan, perayaan Idul Adha menjadi ajang kaum nyinyir menyuarakan isi hatinya.

Di Makkah, seorang WNI berpakaian ihram dengan bangganya memposting foto “Tidak ridho Ahok memimpin Jakarta”. Di posting lainya, masih di Makkah, sehari menjelang wukuf di Arafah, sejumlah calon haji ini dengan bangganya berfotoria sambil bawa poster “Kami Jemaah Haji Menolak Kafir sebagai Pemimpin”.

jemaah-haji

Padahal, sehari menjelang Idul Adha banyak kaum muslim puasa Arafah. Di samping memperbanyak zikir, sholat sunah, sedekah dan amal-amal sholeh lainnya. Dan, Insyaallah, amalan demikian bisa meninggikan derajat, menabung kebaikan dan menghapus dosa.

Jadi cukup dipertanyakan keimanannya, jika saudara-saudaraku yang sedang menunaikan ibadah Haji masih berkampanye soal anti Ahok. Sungguh, itu bukan ajaran Islam. Kecuali Islam kw.

Apa salah Ahok?

Apakah karena ia menggusur kampung prostitusi Kalijodo? Apakah karena ia melarang orang jualan hewan qurban di trotoar? Atau melarang motong hewan di sembarang tempat?

Anehnya, sudah ada larangan demikian pun, Idul Adha masih dibully. Mereka mengatakan, “Horeee Bloody Monday the end!” Ada juga yang meluapkan kegembiraannya, “akhirnya gue terbebas dari polusi tai kebo”.

Begitu pun, kabar di media mainstream. Para jurnalisnya mem’framing berita soal hewan kurban; yang kabur kek, berontak kek, menangis kek, hingga soal pemimpin Masjid Luar Batang yang menolak sapi sumbangan Ahok.

Memang masih banyak ritual memotong hewan qurban yang mengabaikan lingkungan sekitar. Buang limbah dan sisa-sisa potongan seenak udelnya. Idul Adha berlalu, tai kambing tak jua pergi. Emang enak?

Itu artinya semua, hari Idul Adha adalah hari penyiksaan. Hakekat qurban hilang ditelan kebencian.

Sudahkah Anda berkurban?

 

 

About Prabu

Sosok misterius yang sejak kemunculannya tidak banyak orang yang mengenalnya. Walaupun misterius, sosok satu ini sekaligus ramah dan sangat terbuka pertemanannya. Sang Prabu dan Permaisuri sering blusukan menyapa kawula BALTYRA.com dan menggebrak dunia, kebanyakan dengan coretan karikaturnya sekaligus artikel-artikelnya yang bernas, tajam dan berani.

My Facebook Arsip Artikel

Share This Post

Google1DeliciousDiggGoogleStumbleuponRedditTechnoratiYahooBloggerRSS

14 Comments to "Idul Adha dan Kampanye Anti Ahok"

  1. J C  28 September, 2016 at 20:27

    Wis mantep iki…haji’nya mabrur dan penuh barokah…

  2. Lani  19 September, 2016 at 23:56

    sori salah ketik BTP

  3. Lani  19 September, 2016 at 23:55

    EA. Inakawa: setuju dgn kata “mendukung” krn spt aku ndak punya KTP DKI ndak bs mencoblos BTP dan cukup mendukung, support doa saja dr jauh. Orang jujur, berani, bersih, tdk punya kepentingan pribadi hrs didukung siapapun itu orangnya latar belakangnya apa, yg penting WNI semua punya hak utk jd pemimpin di Indonesia, yg berdasarkan Pancasila, dan Bhineka Tunggal Ika

    Kang Djas: hahaha…….mmgnya Ahok ndak sama dgn BPT?

  4. djasMerahputih  19 September, 2016 at 16:59

    Kalo takut nggak kebagian kapling di surga gegara memilih pemimpin Kapir, mungkin karena nggak yakin amalan2 agamanya yg lain sanggup mengantarnya ke surga. Imannya belum mantap.. itu kata djas, sih..

    Salam Kenthir

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *