[Dewi & Murni] Olimpiade

Yang Mulia Enief Adhara

 

“Huaaaaaaaaaa!!!!!”, Dewi memekik 7 oktaf lalu jatuh mak tlepok di depan kamar mandi di kamarnya. Murni yang lagi main holahop di koridor, buru-buru mendatangi kamar Dewi.

Murni sejujurnya buta melek kalo urusan P3K, dia hanya melihat seonggok cucian kotor milik Dewi. Diambilnya selembar daster batik yang arona kecutnya langsung semerbak. Daster itu dilemparkan ke muka Dewi yang terlentang dengan mulut agak mangap.

Dewi langsung jengat dan duduk dengan wajah keunguan. “Aduh akyu pingsan, akyu kaget”, Gumam Dewi dengan suara pelan tapi kemayu

Murni langsung penasaran, “Kaget kenopo? Ndelok rupamu neng koco?”.

Dewi merangkak mendekati kulkas dan mengambil sebotol teh kemasan. Dia minum bagai pendekar mabuk. Setelah merasa segar, Dewi mulai bicara dengan antusias. “Mur!! Aku menang undian dari Bank Mandiin, juara pertama”.

Murni mencibir iri, “Ohh ngunu wae heboh, palingan oleh magic-com”.

Dewi bangkit dan bicara lagi dengan semangat, “Aku dapat tiket nonton pembukaan Olympiade di Brazil. Kabeh ditanggung sampe duit saku segala”, Pekik Dewi penuh suka cita.

Dengkul Murni koplok, ke luar negri gratis? Ke Jakarta aja dia baru 5 x. “Wiiii iku serius? Lha aku melu tho”.

Jelas Dewi menjeb karena nggak ada pilihan, hadiah yang didapat memang untuk 2 orang. Sempat sih terbesit dijidat Dewi ingin mengajak Anung yang sempat menggores luka di hatinya, tapi Gray Agustina jelas gak akan tinggal diam. “Lagian rugi pergi sama pacar orang, gak bisa ngapa ngapain”, Ujar Dewi dalam hati. Dan resmilah Murni bakal ikut ke Rio De Janeiro.

Kedua wanita ini segera sibuk mempersiapkan diri. Busana sexy jelas masuk urutan pertama, sepatu high heels, alat make up pokoknya keduanya bersumpah akan menjadi 2 kuntum bunga Asia yang bakal menghebohkan puluhan kumbang berdarah Latin.

Keduanya nggak pernah tau bahwa untuk mencapai Rio, mereka harus menempuh perjalanan hampir 35 jam dan itu jelas mimpi buruk bagi keduanya yang dasarnya kamso.

Murni memakai rok jeans mini, tank top hijau daun, jacket warna merah dan high heels warna emas. Wajahnya sudah penuh riasan yang menor. Dewi juga gak mau kalah, ia memakai hot pants warna kuning, tank top pink, syal bulu warna orange dan high heels warna turquoise.

Keduanya super duper korban mode, tapi mereka tampak sangat percaya diri dan merasa, tiap tatapan mata dari orang-orang, karena mereka cantik dan sexy.

Hari keberangkatan tiba, keduanya harus terbang ke Jakarta untuk kemudian lanjut ke Rio. Dewi nampak bingung, sementara Murni yang agak lebih eksis berjalan genit sambil menarik kopernya, seolah dia pramugari.

Bahkan Murni sok aksi saat ada cowok bertanya padanya, “Mbak, maaf, gate ke Bali sebelah mana ya?”

Murni memandang cowok sederhana itu dari atas kebawah, lalu bicara ketus, “Matamu picek? Apa aku keliatan kaya petugas informasi? Gak bisa liat ya kalo cewek cantik kekinian koyo aku iki lebih mirip pramugari? Talk to my band (hand)”, Ujar Murni seraya menjembrengkan 5 jarinya di depan muka cowok itu. Cowok itu cuma melongo mendapat perlakuan kasar seperti itu.

*****

Singkat cerita mereka sudah ada di Bandara Cengkareng dan sudah duduk manis dalam cabin Turkish Airlines yang akan membawa mereka ke Bandara Istambul Ataturk.

Pramugara berbicara dalam 2 bahasa, Inggris dan Turki dan kedua bahasa itu jelas tak dipahami Dewi dan Murni. Keduanya duduk bebas tanpa sabuk pengaman. “Ladies and gentlemen, the Captain has turned on the Fasten Seat Belt sign. If you haven’t already done so, please stow your carry-on luggage underneath the seat in front of you or in an overhead bin. Please take your seat and fasten your seat belt. And also make sure your seat back and folding trays are in their full upright position … Bla bla bla”

Dewi dan Murni malah sibuk menerka aneka tombol di kursi, keduanya asli blank. Hingga pramugara berwajah tampan menegor mereka, “Ladies, fasten your seatbelt please …”

Dewi langsung ngejawil Murni, “Ya Allah! Aku mati trus ketemu malaikat cowok, guantenge puol, tapi iku ngomong opo tho yo?”

Murni buru-buru memoles bedak dan bicara pelan, “Iku koyoe takon jenenge awake dewe”

Tanpa ragu Dewi mengulurkan tangan, “Aku Dewi Natasha Taslim”

Murni jengkel, “Jenengmu ganti neh Dul?”

Dewi cuek dan pramugara tampan itu menyambut uluran tangan Dewi sambil mengulang bicara, “Your seatbelt please”

Murni segera menyingkirkan tangan Dewi dan segera memperkenalkan diri, “Aku Kimora Murni Ghazali”, Dan anehnya Pramugara itu malah membungkuk berusaha meraih tali pengaman kursi untuk memasangkan di pinggang kedua cewek katrok itu, secara pesawat sudah di ujung runway siap untuk takeoff.

“Hiii cowok iki agresif iq, kok napsu bingit yo?”, Ujar Dewi dengan wajah sumringah bahagia.

Sementara Murni merem melek, “Ambuneeee wangi, aku koyoe cocok dadi pacare”

Dan selanjutnya pramugara dan pramugari dibuat repot oleh dua cewek Jogja itu. Selama 12 jam 15 menit keduanya puluhan kali muntah. Aroma obat gosok Caplang semerbak di cabin kelas ekonomi itu. Hingga mimpi buruk bagi crew Turkish Airlines itu berakhir di Istambul Ataturk. Di sini keduanya akan melanjutkan ke Sao Paulo Guarulhos. Selama 4 jam 40 menit transit, keduanya hanya duduk dengan wajah pucat. Mau jalan jalan takut kesasar, gak ono boso Jowo, apeeess!!!

*****

Dan sekali lagi mereka sudah duduk di cabin Turkish Airlines ke dua yang akan membawa mereka ke Sao Paulo dalam waktu 13 jam 30 menit. Baik Dewi dan Murni sudah frustasi. Perut mereka kosong, muntah pun sudah berasa pait tapi rasa mual itu selalu datang. Bahkan Dewi sempet meminta Murni mengerok pundaknya dengan koin 500-an.

Kaki mereka kram karena high heels yang mereka pakai. Sungguh andai mereka tau semua ini, tentu mereka memilih tetap di Jogja.

“Mur, kalo aku mati, kenang awakku seng apik e wae yo?”, Gumam Dewi dengan wajah pucat.

Murni yang gak kalah menderita menjawab lemah, “Tapi piye jal? Kenanganmu elek kabeh Wi”

Dan sekali lagi mereka akhirnya bisa menginjak bumi. Sao Paulo Congonhas nampak sibuk, tapi Dewi dan Murni terlalu lelah. Bahkan cowok cowok cakep yang gentayangan sudah tak lagi mampu membuat dua cewek ini kembali bersemangat.

“Iki kapan yo awake dewe tekan Olympiade?”, Tanya Murni dengan wajah sayu.

“Mbuhlah, aku kangen Jogja, yok balik wae”, Sahut Dewi.

Hingga mereka lagi-lagi harus masuk ke dalam pesawat. Gol Linhas Aereas akan membawa mereka ke Rio De Janeiro dalam waktu satu jam. Transit selama 3 jam 15 menit dilewatkan begitu saja. Bahkan sahabat mereka di Facebook yang tinggal di Sao Paulo,  Suyati Aichi Iyik, tak sempat mereka hubungi.

*****

Dan setiba di Rio De Janeiro Santos Dumont, keduanya sudah mirip zombie. Riasan luntur, rambut awut-awutan, berjalan gontai agak zig zag sambil menenteng high heels. Keduanya tiba-tiba tak sadarkan diri dan saat terbangun sudah berada di Rumah Sakit setempat. Untungnya pihak Bank Mandiin sangat bertanggung jawab mengurus keduanya.

olimpiade-rio

Murni terbangun dan langsung heboh, “Wiii tangi, awake dewe kan kudu nang Stadion delok pembukaan Olympiade”

Si Dewi membuka mata dan buru-buru duduk, “Lho? Kok di Rumah Sakit?”

Tak lama masuk Bu Nathalie perwakilan dari Bank Mandiin yang khusus mengurus kedua cewek ini selama ada di Rio, “Selamat sore, kalian sudah lebih sehat? Kalian sudah 2 hari pingsan dan syukurlah bisa kami tangani dengan segera”, Ujar Bu Nathalie dengan ramah.

Dewi melongoh, “Bu kalau gitu kita harus buru-buru ke pembukaan Olympiade”.

Bu Nathalie tersenyum, “Sayang sekali, pembukaannya sudah kemaren saat kalian pingsan berjama’ah dan sesuai hadiah yang kalian terima, lusa kalian harus kembali ke Indonesia”

Dewi tak bisa bicara, hanya ngowoh sambil komat kamit. Sementara Murni langsung pingsan lagi. Keduanya tak sanggup membayangkan mengulangi 35 jam yang menyiksa.

 

 

8 Comments to "[Dewi & Murni] Olimpiade"

  1. J C  28 September, 2016 at 20:36

    Huahahaha…

  2. Dewi Aichi  25 September, 2016 at 02:21

    Iya dong mas Sumonggo……..jelas itu…dukung, foto bareng, makan bareng ….Owi cakep hehe..

  3. Dewi Aichi  25 September, 2016 at 02:20

    Lani…rasah gumun wkwkwkkwkwkwwkw…..pentulise edan kok….

  4. Sumonggo  21 September, 2016 at 05:56

    Jangan pulang dulu ke Indonesia, dukung Owi-Butet ……

  5. Lani  21 September, 2016 at 00:35

    James: bukan hanya faktor usia krn aku hrs bangun jam 4 kmd olahraga pagi mau tdk mau hrs tidur early jd plg tdk hrs 6.5-7jam klu kurang dr itu badan jd merasa kurang fit………….

  6. James  20 September, 2016 at 16:05

    ci Lani, wah jam segini sudah 5 watt ? tapi iya memang bertambah usia waktu tidur akan maju, sy juga rata2 jam segitu sudah naik ke pulo kasur, kecuali kalau ada acara TV yang bagus baru agak malaman tidurnya

  7. Lani  20 September, 2016 at 14:31

    Enief: lamaaaaaaaa ndak mencungul sekalinya mencungul Dewi digarap lagi kkkkkkk………..

    James: aku sdh mau tidur nih……….tinggal 5 watts hahaha

  8. James  20 September, 2016 at 10:07

    1……Olimpiade Baltyra

    menunggu para Kenthirs selesai kerja dan relax

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.