Gerbang Kematian

Wesiati Setyaningsih

 

Saya sedang ada di sebuah seminar healing ketika saya bertemu teman saya ini. Saya sendiri ada di situ karena diajak adik saya. Yah, mumpung deket, kenapa nggak?

Nah, teman baru ini, kami baru kenal di situ, memandang saya enggak seperti penampilan saya. Jadi dengan berani dia mengajak saya sembahyangan.

Dia ini ikut aliran Budha, saya nggak ingat namanya, dan dia melihat saya tertarik pelajaran Budha. Tapi untuk ikut sembahyangan, saya mesti tau dulu apa isinya. Saya nggak mau meluangkan waktu untuk sesuatu yang tak terlalu saya pahami tujuannya.

“Aku sih mau aja,” kata saya. “Tapi itu isinya apa?”
“Mmm..” Dia agak bingung mencari kata-kata. “Jadi ceritanya setiap orang, apapun agamanya, ketika mati nanti akan melalui sebuah gerbang yang sama. Nah, sembahyangan ini tentang gimana caranya bisa lewat gerbang ini dengan selamat.”

Saya yang bingung sekarang. Dalam konsep pribadi saya, hasil formulasi saya sendiri dan tak ada orang lain yang perlu menyanggahnya, mati itu ganti alam. Nggak lewat gerbang segala. Tapi saya minta penjelasan lebih lanjut padanya. Siapa tahu saya jadi makin tertarik.

Eh, teman saya ini malah makin ragu. Kayanya emang ini karakter dia. Sejak awal bertemu, kesan ini sudah terlihat. Saya jadi ikut ragu. Maka saya bilang,

“Aku sih nggak terlalu peduli ya, ntar mati bakalan kaya gimana. Cuma selama masih hidup, aku terus menerus belajar let go. Ikhlas, kata agamaku. Biar pas saatnya nanti pas nyawaku dibawa ke alam kematian, aku rela pergi. Enggak lagi mikir, “lha anakku masih butuh aku. Muridku gimana?” Atau “ntar suamiku siapa yang ngurus?” Pokok rela pergi dari dunia ini.”

gerbang-kematian

Malah saya yang bicara panjang lebar. Dia mengangguk-angguk.

“Iya sih, kamu benar,” katanya.
“Lha ini belajar ikhlas aja kayanya belum lulus juga,” kata saya.
“Kalo kamu lulus habis itu kamu mati.” Dia tertawa. Saya ikut tertawa.

Demikianlah, gerbang kematian bisa lewat mana aja. Semasa saya masih hidup, rasanya lebih baik berpikir, kebaikan apa yang bisa saya lakukan. Biar pas mesti pergi nanti nggak nyesel. Nek saya kok gitu.

 

 

About Wesiati Setyaningsih

Seorang guru yang tinggal di Semarang. Awalnya tidak ada niat untuk menjadi guru, tapi kemudian “kesasar” menjadi guru. Mencoba mendobrak “pakem baku” proses pengajaran, juga mendobrak ketidaklogisan pencekokan agama membabibuta di sekolah dan keseharian murid-muridnya.

Sering dianggap “off-track” bahkan tidak jarang mendapat cap sesat karena sikapnya yang tidak seperti kebanyakan mainstream.

My Facebook Arsip Artikel

3 Comments to "Gerbang Kematian"

  1. J C  28 September, 2016 at 20:37

    Penjaga gerbang kematian pasti wedi sama Nyai Kona…

  2. Lani  20 September, 2016 at 14:35

    Wesiati: mmg itulah tujuannya sebisa, semampu mungkin berbuat kebaikan………dan kita akan merasa lega jk bs membuat org lain senang dan bahagia……….sptnya kebahagiaan semakin berlimpah…………

    James: aku sdh mencungul dan kamu benar tdk ada seorangpun bs menghindar dr kematian………….

  3. James  20 September, 2016 at 10:01

    1……kematian adalah suatu kejadian yang tidak dapat di elakkan oleh seorang manusia dimanapun

    sambil menantikan para Kenthirs muncul

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *