Kenangan Temu Pendengar Perdana Radio Taiwan International Siaran Indonesia 2009 di Yogyakarta

Liana Safitri

 

Kabar Gembira Tentang Temu Pendengar RTISI

Bulan Juni 2009, saya mendapat “kabar gembira” dari RTISI. Kabar gembira itu adalah, RTISI akan mengadakan acara temu pendengar di Indonesia. Kabar itu dikirimkan langsung dari Taiwan dalam amplop cokelat dengan tepian garis biru dan merah bersama info “Pengenalan dan Pencegahan Terhadap Flu Baru H1NI”.

Di bawah surat pemberitahuan terdapat formulir yang harus diisi bagi siapa saja yang ingin menghadiri acara temu pendengar tersebut. Formulir harus dikirimkan secepatnya sebelum tanggal 25 Juni 2009, ke alamat PO BOX 123-199, Taipei City 11199, Taiwan ROC.

Kabar gembira dari RTISI

Kabar gembira dari RTISI

Tentu saja, kabar itu benar-benar merupakan kabar gembira buat saya. Bagaimana tidak? Saya baru saja baru berhubungan dengan RTISI antara pertengahan atau akhir tahun 2008, tapi di tahun 2009 sudah ada acara temu pendengar PERDANA yang akan diadakan di Indonesia! Ibaratnya, orang baru berkenalan sudah mendapat undangan untuk datang ke rumah! Saya benar-benar ingin mengikuti acara itu. Karena jumlah peserta yang dibatasi, lalu pengiriman formulir juga harus cepat, saya memilih mendaftar melalui e-mail dengan kota Yogyakarta sebagai pilihannya—sesuai dengan tempat tinggal. Setelah mengirimkan e-mail, saya juga mengirimkan formulir lewat pos yang beralamat di kotak pos perwakilan Surabaya. Saya tahu, formulir itu akan sampai di “markas besar” RTI di Taiwan setelah berbulan-bulan kemudian—dan percuma. Tapi saya hanya ingin mengirimkannya.

 

Undangan Temu Pendengar

Undangan resmi dari RTISI saya terima pada pertengahan bulan Juli 2009 di dalam sebuah amplop warna putih yang dikirimkan langsung dari Taiwan, cap pos tertanggal 22 Juli 2009. Bersama surat undangan, dikirimkan juga lembar susunan acara dan kartu pos bergambar Yushan National Park-North Peak of Jade Mountain.

Susunan acara TP RTISI 2009 dalam dua bahasa, Mandarin dan Indonesia

Susunan acara TP RTISI 2009 dalam dua bahasa, Mandarin dan Indonesia

Susunan acara Temu Pendengar RTI

Susunan acara Temu Pendengar RTI

Temu pendengar di Yogyakarta diadakan pada hari Minggu, 2 Agustus 2009 di Novotel Hotel, Jalan Jenderal Sudirman No. 89. Untuk temu pendengar di Jakarta akan diadakan sehari sebelumnya, yaitu pada hari Sabtu, tanggal 1 Agustus 2009 di Sari Pan Pacific Hotel (Jayakarta Room), Jalan M.H. Thamrin No. 6, Jakarta, 10340.

Dengan rasa tidak percaya, saya membaca berulang-ulang undangan dan susunan acara tersebut, kemudian beralih pada notification. Alhamdulillah, betapa beruntungnya saya!

 

Selamat Datang di Acara Temu Pendengar Perdana RTISI!

Setelah berhari-hari menunggu dengan perasaan tidak sabar, akhirnya hari H pun tiba.

Hari Minggu tanggal 2 Agustus 2009, saya berangkat ke Hotel Novotel. Begitu sampai di hotel saya bertanya pada pegawai pria yang menyambut di depan pintu, di mana tempat diadakannya acara Temu Pendengar Radio Taiwan International Siaran Indonesia (selanjutnya disingkat TP RTISI) sambil menunjukkan undangan. Katanya tinggal naik tangga saja, dan di situlah ballroom lantai 2 tempat acara TP RTISI berlangsung. Saat akan menaiki tangga menuju lantai dua, terdapat sebuah papan penyambutan dengan tulisan berbunyi: Selamat Datang Para Peserta Temu Pendengar Perdana RTISI 2009. Dari papan penyambutan ini saja saya sudah bisa membayangkan akan semewah dan semeriah apa acara ini nantinya.

Waktu itu belum ada jam sembilan, jadi lobi masih sepi. Hanya terlihat satu dua orang sedang duduk atau berdiri. Saya sempat mengira salah tempat jika tidak mengintip ke dalam ruangan. Tergantung sebuah spanduk merah besar bertuliskan huruf kanji dan huruf latin warna putih, Temu Pendengar RTI Siaran Indonesia. Nah, sudah jelas, tidak mungkin salah! Tapi saya malah jadi tegang. Kok suasananya seformal ini?

Saya berdiri di depan kaca jendela, melihat pemandangan di luar hotel dari lantai dua. Berharap acara segera dimulai. Setelah itu seorang laki-laki memakai kemeja warna merah jambu duduk di balik meja penerimaan tamu. Ia sibuk membuka-buka kertas. Saya langsung menghampirinya. Laki-laki itu melihat saya, tersenyum, lalu berkata, “Sebentar, ya, Dik…”

“Ya…” Saya mengangguk sambil balas tersenyum dengan perasaan agak malu, kemudian menjauh dari meja penerimaan tamu. Laki-laki berkemeja merah jambu itu meninggalkan kursinya dan berbincang-bincang dengan seorang laki-laki berkacamata. Saya satu-satunya perempuan di tempat itu, hanya bisa berkata dalam hati, Ke mana sih, ini yang punya acara?

Satu per satu tamu undangan mulai berdatangan. Ballroom mulai ramai. Saya juga sudah berkenalan dengan beberapa teman perempuan. Mereka datang dari berbagai daerah di Indonesia seperti Ponorogo, Purwokerto, Semarang, Solo, Magelang, dan lain-lain. Ada yang mengeluh kalau undangan mereka belum sampai ke alamat rumah. Saya jadi heran, kalau undangannya belum sampai, bagaimana mereka tahu kalau mereka diundang? Ternyata soal kemungkinan undangan yang terlambat ini sudah diperkirakan oleh pihak RTISI. Jadi selain mengirimkan undangan, nama para peserta yang disetujui juga diumumkan di internet.

Jam sembilan, dimulailah penerimaan tamu. Semua orang menyerahkan undangan pada laki-laki berkemeja merah jambu tadi. Ada yang hanya menyodorkan undangannya, ada yang menyodorkan undangan beserta amplopnya. Saya memberikan undangan lengkap bersama seluruh isi yang kemarin dikirimkan—ada lembar susunan acara, kartu pos, dan catatan (Sengaja saya bawa semua, untuk berjaga-jaga). Laki-laki berkemeja merah jambu itu mengambil undangan di dalam amplop, merobek bagian penutupnya, mencari nama saya di daftar, dan memberikan tanda. Seorang laki-laki lain yang duduk di sebelah “si kemeja merah jambu” memberi saya suvenir di dalam amplop besar warna putih bertuliskan RTI, nomor undian doorprize, dan kartu identitas yang digantungkan di leher. Barulah setelah itu saya masuk ke ruangan tempat berlangsungnya acara.

T-shirt, salah satu suvenir TP RTISI 2009

T-shirt, salah satu suvenir TP RTISI 2009

Tampak sebuah ruangan yang sangat luas dipenuhi barisan kursi. Di depannya ada sebuah panggung besar dilengkapi meja dan kursi juga, lalu di sampingnya terdapat sebuah meja untuk meletakkan alat-alat dan OHP. Suasana di ruangan itu terang, dingin, tetapi nyaman. Seorang teman perempuan yang pada saat penerimaan tamu berdiri di depan saya, mengajak duduk bersama. Kami memilih tempat duduk di barisan nomor dua agar bisa melihat dengan jelas. Teman baru saya bernama Rince. Dia asli orang Bali, namun saat mengetahui RTISI akan mengadakan acara temu pendengar, langsung pergi ke rumah saudaranya yang tinggal di Yogyakarta dan mendaftarkan diri dengan alamat Yogyakarta.

Untuk persiapan serta menunggu para tamu undangan yang belum datang, laki-laki berkemeja merah jambu tadi memutarkan instrumental lagu-lagu Teresa Teng. Saya dan Rince mengobrol banyak. Tentang sejak kapan mulai mengenal RTISI dan suvenir apa saja yang didapat. Saya juga bercerita kalau selain RTISI, saya mendengarkan beberapa siaran radio luar negeri lain. Tapi memang harus saya akui, di antara semuanya, RTISI memberikan sambutan dan tanggapan paling baik. Misalnya pada acara temu pendengar yang terkesan “wah” ini. Kursi-kursi kosong terisi, dan dari sini dapat disimpulkan jika pendengar RTISI terdiri dari berbagai kalangan. Tua, muda, laki-laki, perempuan, semuanya berkumpul jadi satu di acara ini. Mereka datang bersama anggota keluarga atau teman. Saya sedikit menyesal. Kalau tahu sejak awal boleh datang dengan orang lain, saya pasti mengajak teman juga. Saya kira satu undangan hanya untuk satu orang.

Acara resmi dimulai. (Oya, karena acara ini sudah lama sekali, saya lupa urutan tepatnya. Susunan acara di selebaran pun tidak sama pesis dengan pelaksanaannya. Yang jelas saya berusaha menceritakan garis besar acara). Laki-laki berkemeja merah jambu tadi memegang mikrofon, mengucapkan selamat datang pada kami semua di acara Temu Pendengar RTISI, dan memperkenalkan diri sebagai salah satu penyiar RTISI. Tony Thamsir, namanya. Saya terkejut sekali. Oh, jadi “si kemeja merah jambu” itu penyiar RTISI? Saya kira dia adalah orang yang ditugaskan pihak hotel untuk mengurus acara ini! Habis, tidak ada apa pun yang memberi petunjuk bahwa dia adalah penyiar RTISI.

Selama ini saya hanya mendengar suaranya dari siaran radio, belum pernah melihat wajahnya. Tadi saya sempat menggerutu, ke mana yang punya acara. Saya tidak tahu kalau orang yang punya acara itu justru yang pertama kali saya temui dan menyapa saya di lobi. Diam-diam saya tertawa. Kak Tony lalu memperkenalkan kru RTISI lain yang juga datang ke Yogyakarta. Ada Kak Tommy Hartono (staf RTISI), Mr. Chang (Chief of Bao Chung Station—saya tidak tahu ini apa?), dan Mrs. Alice Kao (Chairwoman RTI, pimpinan RTI pada saat itu). Beberapa orang sempat protes, menanyakan kenapa Kak Maria tidak datang? Padahal sempat diumumkan sebelumnya bahwa Kak Maria Sukamto juga akan hadir di acara TP RTISI. Dengan sangat menyesal Kak Tony mengatakan kalau Kak Maria tidak bisa ikut karena sedang sakit.

Kami diputarkan DVD perkenalan para penyiar RTI dan sejarah berdirinya RTI sejak tahun 1928 hingga tahun 2000-an. Kemudian kata sambutan berturut-turut dari Mrs. Alice Kao, kata sambutan dari tamu, dan kata sambutan dari wakil pendengar. Setelah itu pembahasan pembentukan RTI Fans Club, pemilihan ketua, dan penyerahan tanda terima kasih dari RTI. Di susunan acara sebenarnya ada “Perkenalan Pendengar RTI” dan Kak Tony sebagai MC memberi kesempatan pada siapa pun yang ingin memperkenalkan diri. Tapi karena tidak ada yang mau alias malu, jadi acara dilanjutkan dengan hiburan dari pendengar. Seorang ibu memberikan hiburan dengan menari Jaipong, cukup lama juga durasinya. Mrs. Alice Kao sangat terkesan dengan tarian tersebut karena ini untuk pertama kalinya beliau menyaksikan tari tradisional Indonesia. Selanjutnya dua orang teman perempuan maju menyanyikan lagu Indonesia dua kali, salah satu yang saya ingat adalah lagu Bunga Citra Lestari yang berjudul Pernah Muda.

Di tengah-tengah acara saya sempat bertanya pada Rince, “Habis ini acaranya apa, ya?”
Rince lalu membuka lembar susunan acara dan memperlihatkannya pada saya. “Memang punya kamu ke mana?”
“Kutinggal di meja penerimaan tamu sama amplop dan kartu posnya,” kata saya.
“Kenapa ditinggal?”
“Aku kira mau diminta…”
“Yang diminta kan, cuma undangan, bukan semuanya! Diambil sana!”
Saya menoleh ke belakang, melihat ke arah pintu keluar. “Tidak apa-apa ya, aku ambil lagi?”
“Tidak apa-apa! Sudah, ambil saja!”
Saya berjalan ke luar ruangan menuju meja penerimaan tamu. Amplop dengan nama saya masih tergeletak di sana, jadi saya langsung ambil. Wah… untung tidak sempat dibawa kakak penyiar. Ini kan bisa untuk arsip sebagai bahan tulisan! (Kak Tony sempat melihat saya, tapi dia diam saja hihi…)

Acara dilanjutkan dengan tanya jawab. Kak Tony mempersilakan kami menanyakan apa saja atau menyampaikan saran dan kritik berhubungan dengan RTI. Sebagian pertanyaan dijawab langsung oleh Kak Tony, sebagian lainnya ditanyakan dulu pada Mrs. Alice Kao dalam bahasa Mandarin. Atau Mrs. Alice Kao akan menjawab sendiri dalam bahasa Inggris.

Ini adalah bagian yang paling seru dan ramai. Maski awalnya harus dipancing-pancing, selanjutnya semua berebut menunjuk tangan untuk mengajukan pertanyaan atau menyampaikan pendapat. Terutama pendengar RTISI yang masih muda-muda, ribut sekali. Kadang kami tertawa jika ada pertanyaan yang lucu. Seperti saat seseorang bertanya, kenapa acara Dapur Maria tidak ada lagi? Kak Tony sudah menjawab, karena Kak Maria sedang sakit, jadi acara itu untuk sementara ditiadakan. Eh, masih saja pertanyaan serupa diulang dua tiga kali. Salah satu teman laki-laki sempat berkomentar, “Acara Dapur Maria sedang di-stop, adanya dapur Mario!” Sebagian orang juga mulai kasak-kusuk ketika Mrs. Alice Kao berbicara menggunakan bahasa Mandarin dan Inggris. Bingung, tidak tahu apa yang dikatakan. “Uwislah, di ‘yes’ wae! Di ‘yes’ wae!” celetuk seseorang yang membuat Kak Tony tertawa. Jadi, Mrs. Alice Kao mau bicara pakai bahasa Mandarin atau Inggris, tetap saja Kak Tony harus mengartikannya dalam bahasa Indonesia. Pendengar lain yang mendengarkan siaran RTISI melalui gelombang SW mengeluh bahwa suaranya tidak jelas. Ada juga yang bertanya, kenapa balasan surat dari RTISI lama sekali.

Kemudian Kak Tony menjelaskan tentang betapa banyaknya pekerjaan di RTISI. Dengan jumlah staf hanya enam atau tujuh orang (kalau saya tidak salah ingat, ya), mereka harus siaran, menerbitkan buletin, dan membalas surat-surat dari pendengar satu per satu. Padahal katanya, surat yang sampai ke RTISI setiap bulan bisa mencapai enam ribu lebih. Saking banyaknya, diibaratkan kalau seseorang bisa tidur di atas tumpukan surat-surat itu (tumpukan surat pos, untuk surat elektronik mungkin lain lagi). Kabar yang menggembirakan adalah, pendengar RTI di luar negara yang menggunakan bahasa Mandarin sebagai bahasa nasional, jumlah terbanyak ada di Indonesia. Namun saya tidak heran dengan hal ini karena Indonesia sudah “menang” lebih dulu dari jumlah penduduk.

Selanjutnya adalah makan siang. Makanan dan minuman disiapkan di luar ruangan, dekat dengan meja penerimaan tamu. Jadi untuk mengambil makanan dan minuman kami harus keluar dulu, lalu kembali masuk ruangan untuk menyantapnya. Dalam hal ini saya menemukan sedikit masalah. Saya adalah seseorang yang tidak bisa makan daging dan ikan. Padahal sudah bisa dipastikan, dalam acara-acara seperti penting—apalagi di hotel—daging dan ikan adalah menu yang mendominasi. Saya sempat membisikkan masalah makan saya pada Rince, tapi tetap ke luar ruangan, ikut mengambil piring dan sendok, lalu mengantri. Kalau saya cuma diam saja pasti akan jadi pertanyaan orang.

Saya masih mempertimbangkan apakah akan makan atau tidak, ketika seorang ibu keluar dari antrian membawa sepiring penuh makanan. Di piringnya ada udang yang sangat besar, mengeluarkan bau amis yang membuat saya mual. Saya mundur dan meminta tolong pada Rince untuk melihat menu makanan. Hampir semua mengandung daging dan ikan, bahkan kue-kue. Biasanya orang selalu senang kalau diajak makan, tapi saya malah stres. Karena itulah saya lebih suka menghindari acara-acara umum. Tapi karena ini RTISI yang mengadakan acara, ya apa boleh buat! Saya langsung berbalik mau meletakkan kembali piring dan sendok, “Aku nggak usah makan, ah!”

Gumaman saya rupanya terdengar oleh seseorang (saya lupa siapa, tapi sepertinya dia salah satu staf RTISI) yang sedang mengawasi kami mengambil makanan. Orang itu langsung menegur, “Kenapa? Kenapa nggak makan? Makan aja, nggak apa-apa!” Saya terus didesak untuk makan, benar-benar membuat bingung. Masa saya harus bilang di depan banyak orang kalau saya alergi daging dan ikan?

Tepat pada saat itu Rince menarik tangan saya, “Liana, sini! Ini lho, ada pecel!” Hhh! Saya lega, di saat-saat seperti ini yang menyelamatkan saya adalah sayur-mayur!

Keakraban semakin terasa saat kami menyantap makan siang. Kak Tony makan sambil bercerita. Dia mengaku kalau sengaja mengambil pecel banyak-banyak karena suka makan pecel. Dan lagi mumpung ada pecel, sebab, katanya di Taiwan tidak ada pecel. Kalaupun ada, susah didapat dan rasanya tidak sama seperti pecel di Indonesia.

Kak Tony juga melaporkan jika ada hal yang sedikit mengecewakan dalam acara TP RTISI perdana ini, yaitu tidak semua orang yang mendaftar hadir. Sehari sebelumnya, Sabtu, 1 Agustus 2009 temu pendengar dilangsungkan di Jakarta. Dari sembilan puluh lebih peserta yang mengajukan diri, yang datang tidak sampai enam puluh orang. Syukurlah presentase kehadiran para peserta temu pendengar di Yogyakarta lebih banyak. Dari enam puluh empat pendaftar, yang hadir jumlahnya adalah… lupa! Yang jelas presentase kehadiran temu pendengar di Yogyakarta lebih banyak daripada di Jakarta. (Saya sempat berpikir, bukankah di surat pemberitahuan sebelumnya dikatakan kalau jumlah peserta temu pendengar tiap kota hanya dibatasi enam puluh orang? Tapi kok jumlah peserta di Jakarta yang diterima bisa sampai sembilan puluh lebih—meski akhirnya yang datang tidak sampai enam puluh? Ah… barangkali pihak RTISI merasa tidak enak mau menolaknya, ya… Hehe!). Acara TP RTISI ini sepenuhnya didanai oleh pemerintah Taiwan dan sudah dipersiapkan jauh-jauh hari (Dari yang saya baca, kegiatan ini sudah direncanakan setahun sebelumnya). Makanya, kami bisa mengikuti acara ini secara gratis, tidak dipungut biaya apa pun—kecuali transpot, tentunya. Jadi sebenarnya kalau banyak peserta yang tidak hadir, itu merupakan pemborosan—tempat, suvenir, dan makan.

Banyaknya peserta yang tidak hadir di temu pendengar sesi Jakarta kemarin, banyak juga makanan tersisa. Sampai-sampai makanan ini dibungkus dan dibagi-bagikan pada para tamu untuk dibawa pulang. Oleh karena itu, di acara temu pendengar sesi Yogyakarta kami sempat dipesan untuk makan banyak. Sayang kalau makanannya sampai terbuang. “Buat yang mau nambah, silakan nambah. Tapi setelah keluar ambil makanan masuk ke sini lagi, ya. Jangan langsung pulang!” Seloroh Kak Tony langsung disambut tawa oleh kami semua, karena memang ada beberapa orang yang pulang sebelum acara selesai.

Kak Tony kembali menawarkan pada kami, siapa yang mau maju ke depan untuk memperkenalkan diri atau sekadar bercerita. Tapi karena tidak ada yang mau, akhirnya Kak Tony sendiri yang bercerita sambil menunggu kami semua selesai makan. Kak Tony berbagi tentang pengalamannya saat pertama kali datang ke Taiwan (karena sebenarnya waktu itu dia tidak mau sekolah di Taiwan). Bagaimana dia menyesuaikan diri dengan kemampuan bahasa Mandarin yang terbatas, bagaimana dia memperbaiki nilai yang tadinya jelek jadi baik, lalu tentang kehidupannya di Taiwan. Cerita tentang Taipei 101, larangan merokok di Taiwan selama di atas kepala masih ada atap, lalu para TKW yang baru pertama kali kerja di Taiwan tapi tidak tahu kalau membuang sampah harus dipisah menurut jenisnya. Kasihan sekali karena TKW itu harus membayar denda beberapa ribu NT. Semua orang tertawa ketika Kak Tony setengah berbisik mengatakan bahwa orang Taiwan kalau pagi tidak pernah mandi. Masih ada lagi tentang proses pemilu 2009 bagi warga negara Indonesia yang tinggal di Taiwan. Banyak sekali yang diceritakan Kak Tony waktu itu, sampai-sampai dia berhenti untuk menatap kami sambil bertanya, “Kok dari tadi saya terus sih, yang ngomong?” Kami hanya tertawa. Ya, kalau kami tidak keberatan Kak Tony terus yang ngomong. Biasanya Kak Tony siaran melalui radio, anggap saja kali ini siaran langsung!

Selesai makan siang, seseorang naik ke panggung dan mengucapkan salam (sepertinya dia adalah orang yang tadi menegur saya waktu saya tidak mau makan), “Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh…” Bukannya menjawab, kami malah bengong. Saya tahu apa yang membuat orang heran, karena dalam hati saya sendiri membatin, Hah? Di acara radio Taiwan kok ada yang mengucap Assalamu’alaikum? Aneh! Karena tidak ada jawaban, orang itu menatap kami semua sambil bertanya, “Benar begitu, kan?”

Kami baru tersadar, serentak membetulkan, “Iya, iya benar!” Kemudian semua orang tertawa. (Malah tidak jawab jadinya!)

“Acara berikutnya adalah… pembagian doorprize!” Orang itu menyeret dua plastik besar berisi hadiah-hadiah doorprize ke atas panggung yang membuat semua orang berteriak-teriak riuh.

Pada saat pendaftaran kami diberi dua lembar nomor yang sama untuk undian doorprize. Sekarang kami harus memasukkan salah satu nomor itu ke dalam stoples kaca yang diedarkan untuk diundi. Stoples itu diletakkan ke atas meja. Kak Tony dan Mrs. Alice Kao berdiri di dekat meja untuk mengaduk-aduk stoples berisi nomor undian kemudian membacakannya. Orang yang nomornya dibacakan lalu naik ke atas panggung untuk menerima hadiah doorprize. Hadiah doorprize bermacam-macam. Ada buku agenda, topi, tas, bingkai foto, dan radio digital. Semula saya mengira jika radio digital adalah hadiah terbesar. Tapi ternyata, setelah hadiah-hadiah di dalam plastik habis, Mrs Alice Kao melepas kalung yang ada di lehernya. Kalung! Iya, dan itu membuat semua orang semakin heboh.

Kak Tony berusaha menenangkan kami dengan berkata, “Hadiah doorprize berikutnya adalah kalung. Terserah pada Bu Direktur, ya, kalungnya nanti akan diberikan pada siapa. Tapi karena ini kalung… yang dapat hadiah adalah peserta perempuan. Karena tidak mungkin kalung dipakai kali-laki. Nanti kalau yang punya nomor ternyata laki-laki, berarti batal dan harus diambil ulang.”

Kami yang perempuan-perempuan senang bukan main karena memiliki peluang lebih besar untuk mendapatkan hadiah kalung. Seorang laki-laki berteriak protes, “Kalau yang dapat kalung laki-laki lan, bisa dikasih ibunya, saudara perempuannya atau pacarnya!”

Akhirnya keputusan diubah. Tidak masalah jika yang nomornya keluar nanti laki-laki atau perempuan. Saya jadi kesal dengan anak laki-laki yang protes tadi!

Benar saja, nomor yang keluar berikutnya adalah milik laki-laki. Seorang laki-laki naik ke atas panggung diiringi tatapan iri semua orang, menerima kalung dari Mrs. Alice Kao. Sebelum duduk dia sempat nyeletuk, “Tempatnya mana?”

Kak Tony pun menjawab sambil tertawa, “Tidak ada tempatnya. Karena itu dilepas langsung…”

Lalu teman laki-laki lainnya menyahut dengan candaan, “Hei, kuwi tandane ora entuk di dol, Dab!”

Pembagian doorprize berakhir, dilanjutkan dengan foto bersama. Beberapa pendengar juga menyerahkan kenang-kenangan untuk RTI. Saya lagi-lagi menyesal karena tidak bisa foto. Saya tidak tahu kalau pada acara seperti ini ada sesi foto bersama. Dan pada saat itu saya belum punya ponsel berkamera, jadi hanya bisa menonton (jadi saya tidak punya foto acara ini, sayang sekali…). Tapi semua orang sempat diminta berkumpul di atas panggung untuk difoto. Inilah foto TP RTISI 2009 sesi Yogyakarta yang saya dapat dari internet.

Foto bersama TP RTISI 2009 di Yogyakarta

Foto bersama TP RTISI 2009 di Yogyakarta

Kecil sekali, ya? Masalahnya memang tidak ada yang lainnya lagi.

Bersama berakhirnya sesi foto bersama, berakhir pula acara TP RTISI pada pukul. Saat saya akan keluar dari ruangan, saya melihat banyak orang berkerumun di atas panggung. Rupanya mereka memperebutkan CD lagu-lagu Mandarin yang belum sempat dibagikan karena keterbatasan waktu. Saya kembali lagi ke panggung untuk ikut berebut dan mendapatkan CD instrumental Chinese Folk Song—pianist Eileen Huang. Saya keluar dari hotel Novotel pukul 14.00, jadi acara molor satu jam dari yang dijadwalkan.

Sampai di rumah, saya membuka amplop yang saya dapatkan sebagai suvenir TP RTISI. Dalam satu paket itu ada kaus, gantungan kunci, pulpen, dompet foto, dompet tas, dan lain-lain. Namun yang lebih berharga adalah kenangan indah tak terlupakan. Saya juga membawa kehangatan dan keramahan para staf RTISI dan teman-teman sesama pendengar.

Saya ingat waktu berbincang-bincang tadi Mrs. Alice Kao melalui Kak Tony sempat mengatakan bahwa, acara Temu Pendengar RTISI kemungkinan akan diadakan dua tahun sekali.

Semoga…

 

*Terima kasih kepada Kak Tony Thamsir, Kak Tommy Hartono, Mr. Chang, dan Mrs Alice Kao serta seluruh keluarga besar Radio Taiwan International’.

 

 

6 Comments to "Kenangan Temu Pendengar Perdana Radio Taiwan International Siaran Indonesia 2009 di Yogyakarta"

  1. J C  28 September, 2016 at 20:41

    Liana, membaca kisah serialmu kemarin-kemarin, aku selalu bertanya-tanya sendiri, apakah Liana pernah studi di Taiwan. Artikel ini merupakan salah satu jawabannya…hehehe…ternyata memang Liana sudah lama berinteraksi dengan urusan Taiwan…

  2. James  23 September, 2016 at 16:04

    sy lebih banyak mendengarkan Radio Station lokal saja

  3. Lani  23 September, 2016 at 09:51

    Liana: skrng mmg tdk harus/punya radio utk bs mendengarkan berita bisa lewat internet. Aku jg tdk punya radio apalagi TV hahaha………..ndeso tenan yo?

  4. Liana  23 September, 2016 at 07:18

    Mb Lani: Pendengar radio khusus radio Asia Timur. Saya dengerinnya lewat internet, malas kalau harus putar-putar gelombang. Lagian tidak punya radio SW,

  5. Sumonggo  23 September, 2016 at 05:01

    Sekali di udara tetap di udara …..

  6. Lani  23 September, 2016 at 02:52

    Liana: ternyata pendengar setia radio? Jd ingat duluuuuuuu sekali ktk msh di Indonesia

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *