Latihan Pramuka di Jamanku

Fire – Yogyakarta

 

Kabarnya di era Mendikbud baru kini, pramuka akan diwajibkan bagi seluruh siswa sekolah. Saya nggak begitu ingat, apakah di jaman saya dulu pramuka itu wajib apa nggak, yang jelas pramuka itu ada.

Waktu saya SD, seragam sekolah ada dua macam. Hari Senin sampai Kamis mengenakan baju putih dan celana merah. Hari Jumat dan Sabtu mengenakan baju coklat dan celana coklat, atau kita menyebutnya waktu itu dengan istilah pakaian pramuka.

Saya ingat, waktu itu kalo ada yang pake seragamnya nggak tepat, misal hari Jumat atau Sabtu, masih pake putih-merah, maka ada anak-anak jahil (ini jelas bukan saya) yang mengolok-olok, “Buta warna ….”, jahat banget eh … Kadang sampe anaknya nangis. Tapi ada juga anak yang sudah kebal karena sudah terbiasa “salah kostum” …. Tapi seingat saya Pak Guru dan Bu Guru nggak pernah mempermasalahkan itu semua, selama para murid masih pake baju dan pake celana. Eh, ada juga lho yang nggak pake celana, tapi pake rok …..

Kalo nggak salah waktu kelas 5, ada semacam “jambore” pramuka di tingkat lokal. Latihan pramuka sering diadakan waktu sore. Ketika dibentuk regu, kami berembug hendak memilih nama regu. Untuk siswa laki, nama regu berupa nama binatang, sedang untuk siswa perempuan berupa nama bunga. Lalu kami sepakat memilih nama regu macan. Minggu depan saat latihan pramuka lagi, rupanya banyak yang kesulitan memperoleh emblem regu macan tersebut di toko sekitar tempatnya tinggal. Ada yang dapatnya kancil, gajah, dsb. Bahkan ada yang karena pakaiannya lungsuran dari kakaknya, ya nama regu di baju-nya sesuai kakaknya dulu. Kalo kakaknya perempuan ya, bisa dapat regu melati, mawar, dsb. Konyolnya, ketua regu-nya juga kesulitan mencari bendera regu macan, dapatnya malah regu elang. Jadilah, regu kami yang secara “de-jure” adalah regu macan, memiliki anggota dari regu kancil, regu gajah, regu melati, dan regu mawar. Nggak tahu, kalo anak-anak jaman sekarang disuruh bikin regu, mungkin namanya, regu Naruto, regu Pokemon, regu Sun Go Ku.

Suatu kali kami latihan merayap di tali yang diikatkan pada dua batang pohon besar. Setelah latihan selesai, masih ada anak yang penasaran. Konyolnya, kali ini tali bukannya diikatkan pada pohon tapi pada tiang voli yang terletak di lapangan voli sekolah. Tentu saja, tiang yang hanya dirancang untuk menahan net voli tidak kuat menahan beban orang. Tiangnya patah, Pak Guru marah. Esoknya, mereka yang ikut “berpartisipasi” pada insiden tersebut mesti memperbaiki tiang voli.

Saya senang banget waktu orang tua membelikan atribut pramuka, di antaranya adalah topi pramuka dan tali pramuka. Nah, asesoris berupa tali pramuka inilah yang paling sering saya cantelkan di sabuk celana, meskipun saya nggak pernah mempergunakan tali pramuka tersebut sama sekali. Pokoknya kelihatan keren saja …. wakakak … Nggak tahu kenapa setiap kali diajarkan tali-temali saya nggak mudheng, taunya cuma simpul mati doang …

Tapi ada perlengkapan yang sangat bermanfaat meski nggak semua siswa memilikinya, yaitu buku saku pramuka. Mungkin tingkat urgensinya setara dengan buku Rangkuman Pengetahuan Umum, yang di jamanku kontribusinya dalam mencerdaskan kehidupan bangsa hanya kalah setingkat di bawah “buku Ini Budi” (maaf lupa apa ya nama judulnya?). Soalnya di buku saku pramuka ada daftar kode morse, semaphore, bermacam sandi pramuka.

Saya nggak tahu kenapa waktu itu kalo ada istilah sepatu pramuka maka yang diacu adalah sepatu warrior. Seolah sepatu warrior itu memang pramuka banget …. Tapi sepatu warrior memang tangguh, yang duluan berlubang biasanya posisi dekat jempol kaki dan kelingking. Dalam kondisi sepatu berlubang pun masih tetap terpakai, hanya sering kemasukan kerikil. Kalo mau dipaksa terus bisa sih, nanti dipensiunkan kalo sudah jebol sol-nya.

Dulu ada kegiatan yang namanya Persami atau perkemahan Sabtu-Minggu. Pas kakak kelas kami, tradisi itu masih ada, entah mengapa mulai kelas kami ditiadakan. Jadi Persami itu lokasi kemahnya ya di lapangan sekolah, dari Sabtu sore, sampai Minggu sore. Memang sih sebenarnya cuma pindah tidur doang, tapi bagi anak-anak itu sangat mengasyikkan. Saya ingat jaman itu ada komik lokal berjudul Hantu Hutan Kalang. Komik dengan gambar yang menarik itu bercerita mengenai rombongan pramuka yang berkemah di hutan dan menyelidiki misteri hantu yang meneror penduduk. Pokoknya nggak kalah seru sama cerita petualangan ala Lima Sekawan dan Sapta Siaga-nya Enid Bylton. Imajinasi saya dulu membayangkan kalo kemah pramuka bakal seasyik itu petualangannya. Sayang, jangankan kemah di hutan, kemah di depan kelas sendiri pun batal. Kebetulan saya masih nemu di internet cover buku komik tersebut, soalnya kalo komik kepunyaanku entah sudah berakhir di nama nasibnya.

cover-buku

Latihan pramuka nggak bisa dipisahkan dengan menyanyi. “Pak pung pak mustape”, “Pak dengkek duwe andheng-andheng gedhe”, dan berbalas lagu “sedang apa sekarang”, itu adalah lagu favorit di jamanku. Saya ingat temanku pada semangat nyanyi lagu Pak Dengkek kalo sudah sampe di bagian “neng isor …….” Nah, itu isi titik-titiknya diganti sendiri sesuai “imajinasi” mereka …. Yang sering jadi jengkel adalah anak-anak yang punya andheng-andeng (tahi lalat) soalnya kerap jadi sasaran …

Pada saat itu, banyak anak yang mengenakan atribut pramuka secara kurang lengkap. Ada yang pake topi pramuka tapi nggak pake setangan leher. Ada yang pake setangan leher tapi nggak pake duk, ada juga yang duk-nya cuma pake karet gelang. Kebanyakan juga bajunya polos tanpa atribut pramuka yang komplit. Tapi para pembina yang adalah Bapak dan Ibu guru kami nggak pernah mempermasalahkan hal tersebut, karena memang sebenarnya bukan itu yang terpenting.

Latihan pramuka di jamanku, minim atribut, tapi penuh kegembiraan.

NB: Ini gambar sebagian “peninggalan bersejarah” yang masih tersimpan.

gambar1 gambar2

 

 

About Fire

Profile picture'nya menunjukkan kemisteriusannya sekaligus keseimbangannya dalam kehidupan. Misterius karena sejak dulu kala, tak ada seorang pun yang pernah bertatap muka (bisa-bisa bengep) ataupun berkomunikasi. Dengan tingkat kreativitas dan kekoplakannya yang tidak baen-baen dan tiada tara menggebrak dunia via BALTYRA dengan artikel-artikelnya yang sangat khas, tak ada duanya dan tidak bakalan ada penirunya.

Arsip Artikel

Share This Post

Google1DeliciousDiggGoogleStumbleuponRedditTechnoratiYahooBloggerRSS

12 Comments to "Latihan Pramuka di Jamanku"

  1. Dj. 813  3 October, 2016 at 20:36

    Dj juga pernah ikutan Pramuka dan pulang dari cross Country ,
    Badan jentol-jentol .
    Hahahahahahahaha . . . ! ! !
    Terimakasih dan salam,

  2. Fire  30 September, 2016 at 05:30

    mbak alvina, jambore yg cibubur saya juga nggak ikut kok … kejauhan … wakakak ….. kalo kemah ke bumi perkemahan turi

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *