Surat Cinta Buat Ibu Walikota Surabaya, Tri Rismaharini

Prabu

 

Selamat malam bu Risma yang baik hatinya. Semoga ibu sekeluarga bersama warga Surabaya yang ibu pimpin selalu dalam lindungan Tuhan yang Maha Melindungi.

Ibu Risma. Malam ini saya geleng-geleng kepala melihat kemarahan seorang Walikota kepada anak buahnya. Terlihat di KompasTv, ibu sangat marah kepada PNS tua dgn mengatai, “g*blok” sambil menunjuk-nunjuk mukanya. Sementara PNS tua yang ahli IT, cuma tertunduk lesu tiada daya. Sungguh, kemarahan ibu, bukan hanya luapan kekecewaan akan birokrasi yang bertele-tele, namun telah jauh merendahkan martabat kemanusiaan. Coba ibu pahami, PNS tua yang notabene telah mengabdi puluhan tahun, ibu hinadina dan permalukan di depan umum. Padahal, sebagai Walikota, ibu cuma menjabat 5 tahun. Mestinya, bu Risma bisa marah secara elegan, simpati dan manusiawi.

Memang menjadi pemimpin itu tidak cuma modal dipilih secara mayoritas. Namun butuh akhlak mulia. Orang yang melepaskan kemuliaan akhlaknya, ia akan meluapkan marahnya bagai kuntilanak yang diputusin pacarnya.

Saya cuma menyarankan, semestinya ada cara cerdas sekaligus mulia, bagaimana mencari solusi dalam mengatasi perekaman e-KTP yang silang sengkarut di birokrasi yang ibu pimpin.

Yaitu, kumpulkan dalam satu ruang, para PNS yang punya wewenang dalam perekaman e-KTP. Lalu ajak dialog untuk menggali sebab musabab silang sengkarut birokrasi yang merugikan warga.

Sungguh, PNS tua yang ibu hinadina di depan umum, sebetulnya tdk g*blok spt yang ibu Risma tuduhkan. Cuma, pns tsb tidak punya wewenang untuk mengambil keputusan membuka blokir KTP. Sementara atasannya yang punya wewenang, cuma bisa diam atau pura-pura bodoh.

Dan itulah, penyakit mental birokrasi di sini. Banyak atasan yang punya wewenang tapi tidak memakai wewenangnya karena bermacam sebab. Pertama, ia menikmati scr materi adanya mafia birokrasi. Kedua, ia tak menggunakan wewenangnya, karena tersandera secara politik maupun hukum. Contohnya, budaya PNS yang memburu jabatan dengan cara menyuap, bukan krn prestasi. Maka, bisa ditebak, jika anak buah punya atasan seperti itu, niscaya akan tersiksa. Anak buah yang pintar dan berprestasi akan dihambat. Sekedar untuk bertemu Ibu Risma saja, prosedurnya tidak gampang, perlu lapor atasannya dulu.

risma-marah1

Jadi, ibu Risma betul-betul salah alamat meluapkan kemarahan kepada PNS yang tidak punya wewenang. Diomelin dengan kata-kata kebun binatang pun, percuma. Justru kemarahan akan menjadi bumerang dan kontra produktif. Karena, sesungguhnya mereka yang tak punya wewenang adalah malaikat yang menyejahterakan kita.

Anak buah bagaikan anak panah. Busur adalah atasan. Dan kapan serta ke arah mana anak panah dilepas untuk mencapai target, itu semua adalah keputusan pemanah.

Demikian, surat cinta ini buat Ibu Risma yang baik hatinya.

Kutulis dari lubuk hati terdalam, terutama buat para perempuan. Karena aku selalu teringat pesan ibuku, muliakan wanita. Dan kau akan hidup mulia.*

 

 

About Prabu

Sosok misterius yang sejak kemunculannya tidak banyak orang yang mengenalnya. Walaupun misterius, sosok satu ini sekaligus ramah dan sangat terbuka pertemanannya. Sang Prabu dan Permaisuri sering blusukan menyapa kawula BALTYRA.com dan menggebrak dunia, kebanyakan dengan coretan karikaturnya sekaligus artikel-artikelnya yang bernas, tajam dan berani.

My Facebook Arsip Artikel

7 Comments to "Surat Cinta Buat Ibu Walikota Surabaya, Tri Rismaharini"

  1. Dj. 813  3 October, 2016 at 20:44

    Mas Prabu yang baik hati . . . ( hahahahaha . . . )
    Maaaf ini sedikit pendapat Dj. saja .
    Dj rasa sudah mendarah mendaging.
    banyak kesalahan yang seharusnya tidak terjjadi .
    Mereka sudah biiasa kerja santai dan merasa tidak harus .
    Disini membutuhkan pimpinan yang extrim, karena kebanyakan dari mereka sudah kebal .

    Hanya yang aneh .
    Kalau ibu Risma yang marah-mara, tidak ada yang protest .
    Coba si A HOK yang berbuat demikian , pasti langsung ada saja yang protest .
    Bahkkan HAM pasti akan keluar dengan segala alasan nya .

    Hahahahahahahaha . . . ! ! !
    Dj salute, karena protestnya mas Prabu sangat halus .
    Salam manis untuk keluarga dirumah dan terimakasih .

  2. Lani  3 October, 2016 at 13:46

    James: penunggu Canada sdh pulang………sdh kluyuran dirumah ini

  3. James  30 September, 2016 at 06:04

    Hi Al dah balik santai di Baltyra lagi euy, tepok tangan sembari jingkrak2 untung aja gak sampal guling2an

  4. Alvina VB  29 September, 2016 at 21:24

    Gak herannn kang Prabu…saya barusan bertandang ke tanah air. Di Indonesia, terutama kota gedenya spt Jakarta, Surabaya, dsb… siapa aja bisa khilaf, meledak-ledak marah sampe salah alamat . Lihat aja di jalanan org udah stresss beratttttt, caci maki bisa keluar dgn gampangnya…..di kantoran pemerintahan apa lagi…… minta ampyunnnn masih acak kadut dan butuh waktu utk ditata dgn baik dan bank pemerintah apalagi birokrasinya setinggi Burj Khalifa. Belum lagi kl ngomongin politik di kantorannya…minta ampyunnnnn….masa ada ya 1 kantor pemerintahan lokal yg layak bikin surat cuman 1 org, didiktein pula ke bawahannya……(bukan bawahannya gak bisa….jaman kek gene, masih ada yg model spt ini, gak percaya sama kemampuan bawahannya atau ini ibu otoriter banget yak… sampe2 bang…tamunya juga ikutan diperlakukan kek anak buahnya, ikutan kerja pula, katanya kita kekurangan org bu….bah….(yg disalahin ternyata pak Ahok yg sering mecatin org). Jaman orba yg katanya dah lewat, ternyata…..cuman omongan di warung kopi doang bang…..dari pada kita meledak marah2 kek bu Risma bang…….mending kita cabut aza…..kaburrrrrrrrrrr…pulanggggg…..
    Ibu Risma: panjang sabarrrrrrrrr….jangan salah alamat lagi bu….

  5. J C  28 September, 2016 at 20:49

    Risma memang fenomenal…

  6. James  28 September, 2016 at 15:02

    marah sih boleh saja asal nantinya jangan lupa menambahkan Kasih, marah sekarang tapi jangan dibiarkan sampai besok

  7. Lani  28 September, 2016 at 12:01

    Kang Prabu: Tidak ingin membandingkan kemarahan antara pemimpin satu dan yang lainnya krn yg pasti mrk punya gaya sendiri2 bagaimana mrk melampiaskan kemarahannya.

    Mungkin perbedaannya adalah kemarahan santun dan tdk santun dlm artian menggunakan kata2 terutama memarahi diranah publik?

    Tapi kdg itu hal yg sulit dilakukan krn klu sdh marah/kelewat marah kepala ini spt kebakar………walau orang berkata “boleh marah akan ttp kepala hrs tetep dingin”

    Bagaimana menurutmu James??

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *