Dasar untuk Menerima yang Tak Masuk Akal

Juwandi Ahmad

 

Tidak sulit memahami mengapa seseorang bisa mempercayai hal-hal yang tidak masuk akal (menggandakan uang, menyembuhkan penyakit dengan cara yang aneh, dll), termasuk hal-hal yang mungkin, tapi menyalahi prosedur (dapat memasukan anak ke tentara, polisi, universitas, dan semacamnya).

Pertama, keinginan yang sangat, harapan yang terlalu besar, dan atau kebutuhan mendesak membuat orang mudah untuk tergoda, percaya. Dan itu artinya, mudah pula untuk dibohongi. Orang tua yang sangat ingin anaknya jadi tentara akan mudah percaya pada seseorang yang katanya bisa menjamin anaknya bakal diterima masuk tentara. Ia mau mengeluarkan uang untuk itu. Bahkan bila harus menjual tanah atau berhutang. Juga orang yang kehabisan cara untuk bebas dari penyakit, tapi masih dengan harapan yang besar untuk sembuh. Ia bahkan mau mencoba cara-cara penyembuhan yang ia sendiri meragukannya. Model penyembuhan yang aneh, tipu-tipu, setidaknya telah mendapatkan keuntungan dari mereka yang sekedar coba-coba.

Kedua, ini yang menarik. Orang cenderung menolak, meragukan hal-hal yang di luar nalar, bertentangan dengan akal sehatnya. Itulah mengapa segala sesuatu diupayakan untuk masuk akal agar dapat diterima, setidaknya diterima nalar. Maka orang mencari bukti-bukti, atau setidaknya, mengajukan penjelasan-penjelasan: seabstrak, semistik apapun itu.

Kembali ke persoalan bahwa orang cenderung menolak, meragukan hal-hal yang di luar nalar, bertentangan dengan akal sehatnya. Lalu, bagaimana bila hal-hal yang tak masuk akal itu begitu meyakinkan? Bahkan seseorang menyaksikannya dengan mata kepalanya sendiri, meskipun mungkin hanya tipu-tipu? Nah, ketika yang tak masuk akal tampak terjadi di depan mata, maka di situlah tahap dimana orang dibingungkan, dikacaukan pikirannya, antara hal yang tak masuk akal dengan kenyataan yang benar adanya (meskipun, sekali lagi, hanya tipu-tipu). Dan kita tahu, mereka yang bingung, yang kacau pikirannya akan sulit berpikir jernih. Dalam kondisi pikiran yang keruh itulah ia berusaha memahami. Apa yang dia lakukan? Mencari referensi, penguat, pembenaran. Ada dua hal disitu.

Pertama, mencari referensi, penguat, dan pembenaran untuk dapat menyimpulkan bahwa itu tak masuk akal, tak dapat diterima meskipun nyata terjadi di depan mata. Kedua, mencari referensi, penguat, dan pembenaran untuk dapat menyimpulkan bahwa meski tak masuk akal itu dapat diterima, sebab terjadi di depan mata.

dimas-kanjeng-taat-pribadi

Nah, celakanya, masyarakat kita memiliki lebih banyak referensi, penguat, dan pembenaran untuk khasanah ketidakmasukakalan, seperti kenabian, kewalian, karomah, kesaktian, dan semacamnya, ketimbang khasanah yang masuk akal. Dengan merujuk pada keyakinan itulah (meski sebenarnya bukan rujukan) orang bisa berpikir bahwa para penggada uang, penyembuh yang aneh, dan semacamnya adalah orang-orang linuwih, sakti, punya derajat kewalian, dan sejenisnya. Atau dengan kata lain, ada pemahaman, keyakinan-keyakinan bawah sadar yang bisa ditransfer atau menjembatani hal hal tak masuk akal untuk bisa diterima, dimuliakan, diagungkan. Dalam masyarakat semacam itu, semakin tak masuk akal, semakin tampak ajaib, justru bisa semakin dimuliakan.

 

 

9 Comments to "Dasar untuk Menerima yang Tak Masuk Akal"

  1. J C  20 October, 2016 at 16:47

    Dimas Kanjeng ini jelas kalah sama Nyai Kona. Bikini kiwir-kiwir dikrukupkan ke tumpukan duit dan emas batangan bukan saja berlipat ganda tapi sekaligus bikin seluruh bank di seluruh dunia bangkrut…

  2. Alvina VB  3 October, 2016 at 18:49

    Mas Juwandi: masuk akal atau tidak masuk akal, kembali pada pendapat masing-masing org sesuai dengan referensi dan latar belakang org tsb. Percaya atau tidak percaya itu juga pilihan orang masing-masing, yang penting jangan pernah maksain persepsi dan pendapatnya ke org lain….keep it for yourself….
    Saya rasa persepsi dan pendapat org pasti beda-beda dan semuanya kembali pada pemikiran dan pengalamannya secara pribadi, dan juga pengaruh dari keluarga, kerabat, dan masyarakat/lingkungan di mana org tsb tinggal. Banyak org di Indonesia latahan (walaupun punya pendidikan tinggipun gak menjamin) karena mereka tidak punya pendirian sendiri, jadi ya ikut aja apa kata org… walaupun itu tidak masuk akal.

  3. HennieTriana Oberst  3 October, 2016 at 13:39

    James, aku setuju dengan komenmu.
    Aku melihat yang nyata dan masuk akal saja.

  4. Dj. 813  1 October, 2016 at 19:37

    Dalam kitab suci orang Kristen ada Fiman yang ditulis .

    BERBAHAGIALAH ORANG YANG TIDAK MELIHAT TAPI PERCAYA .

    Salam Sejahtera dari Mainz .

  5. Lani  30 September, 2016 at 13:20

    James: aku setuju dgn komentarmu………menurutku pengobatan yg tdk sesuai/sembarangan ndak bikin sembuh malah koit cepet………

  6. James  30 September, 2016 at 13:07

    ci Lani, kalau menurut sy sih selalu melihat apa yang nyata saja, sebagai contoh menyantap singkong hitam dapat menyembuhkan Kanker, ternyata masih lebih banyak yang mati karena Kanker meski menyantap singkong hitam itu, contoh lain ada ramuan tradisional katanya Menyembuhkan Diabetes tanpa Obat Western, kenyataan orang itu mati karena tidak konsumsi Obat Western untuk Diabetes dan masih banyak contoh lain, ada satu pelajaran berguna sy lihat mata kepala sendiri, kalau ada orang punya problem dengan Jantungnya Jangan suka diberi Obat Tradisional campuran Garlic dan Ginger yg biasa digunakan untuk Wanita sehabis melahirkan yg katanya memberi kekuatan akan tetapi bagi orang dgn problem Jantung itu akan sangat mempercepat Kematian karena akan semakin memperparah kerja Jantungnya, semoga berguna info ini

  7. uchix  30 September, 2016 at 13:02

    ada doktor lho yg membela mati2an di tv katanya kriminalisasi

  8. Lani  30 September, 2016 at 12:22

    James: gimana menurutmu?

    Kang Djas: salam kenthir juga buatmu

  9. djasMerahputih  30 September, 2016 at 09:50

    Masuk akal atau tidak bergantung wawasan. Yang gaib juga bisa masuk akal jika wawasan ilmunya memadai.

    Salam Kenthir.

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *