Sastra Hindia Belanda dan Kita

Handoko Widagdo – Solo

 

Judul: Sastra Hindia Belanda dan Kita

Penulis: Subagio Sastrowardoyo

Tahun Terbit: 1983

Penerbit: PN Balai Pustaka

Tebal: 207

ISBN:

sastra-hindia-belanda

 

Perjumpaan saya dengan karya sastra Hindia Belanda tidaklah banyak. Beberapa buku karya sastra Hindia Belanda yang saya baca di antaranya adalah “Berpacu di Kebun Karet” dan “Kuli” karangan M. H Szekely – Lulofs yang merupakan novel pasangan dengan latar belakang yang sama namun dikisahkan dari dua sudut yang berbeda. “Si Benalu” tulisan Nescio yang berkisah tentang orang yang selalu menjadi beban orang lain, “Teriakan Kakatua Putih” tulisan Johan Fabricius yang berkisah sangat detail tentang pemberontakan Thomas Mattulesia, khususnya kejadian di benteng saat pasukan Mattulesia menyerbu. “Tjis” dan “Tjuk” himpunan cerpen-cerpen Vincent Mahieu yang menggambarkan Batavia tempo dulu.

Dalam buku karya Subagio Sastrowardoyo Vincent Mahieu memakai nama samara lain, yaitu Tjalie Robinson. Tentu saja saya juga membaca Max Havelaar sebuah novel yang dianggap berpengaruh sangat besar bagi jalannya sejarah kolonial di Indonesia. Saya juga membaca “Abad Bapak Saya” karya Geert Mak yang berlatar belakang kehidupan keluarga bapak dan ibunya saat bertugas di Hindia Belanda. Buku yang terakhir ini memang buku baru. Abad Bapak Saya terbit dalam Bahasa Indonesia pada tahun 2009. Namun karena latar belakang kisahnya adalah Hindia Belanda dan berkisah tentang jaman kolonial, maka saya memasukkan buku ini ke dalam golongan sastra Hindia Belanda.

Saya membaca semua karya tersebut dalam Bahasa Indonesia karena saya memang tidak bisa berbahasa Belanda. Namun saya beruntung karena penterjemah buku-buku tersebut adalah orang-orang yang sangat paham tentang masa yang diceritakan dan hampir semua dibesarkan pada masa kolonial. Setidaknya sebagian masa hidup para penterjemah ini adalah di masa kolonial. Saya harus berterima kasih kepada H. B. Jassin yang banyak menterjemahkan karya-karya sastra Belanda yang saya baca tersebut tersebut.

Buku ini membahas “Max Havelaar” karya Eduard Douwes Dekker (EDD) dalam dua bab pertama. Max Havelaar juga masih terus dipakai sebagai rujukan saat membahas penulis lainnya dan buku-bukunya. Subagio membahas Max Havelaar dari berbagai sudut. Ia memeriksa latar belakang kehidupan Edward Douwes Dekker dan pengaruhnya terhadap roman yang ditulisnya. Bahkan Subagio memeriksa buku-buku dan cerita-cerita rakyat di Hindia yang dibaca dan mungkin dibaca serta diketahui oleh sang penulis roman tersebut. Subagio menemukan bahwa pengaruh buku dan cerita rakyat yang diketahui oleh EDD banyak muncul dalam roman Max Havelaar.

Secara khusus Subagio juga menyoroti pengaruh Max Havelaar terhadap jalannya politik di Hindia Belanda. Novel ini diyakini telah mempengaruhi diakhirinya sistem tanam paksa di Hindia Belanda. Sepuluh tahun setelah roman ini terbit, Pemerintah Belanda mengubah Undang-Undang Agraria dimana peran swasta dalam perkebunan dikurangi. Protes EED yang keras tentang penghisapan tanam paksa di Lebak, yang dituangkan dalam buku ini telah menggemparkan masyarakat Negeri Belanda.

Buku lain yang dibahas adalah “Tanah Asal” karya Du Perron, “Bayangan Memudar” karya E. Breton de Nijs, “Sebuah Rumah Nun Di Sana” karya Beb Vuyk, “Taman Kate-kate” karya Maria Dermout, “Manusia Perbatasan” karya Willem Walraven, Sketsa-sketa yang dituangkan dalam cerpen-cerpen oleh Tjalie Robinson. Subagio Sastrowardoyo juga memasukkan “Atheis” karya Achdiat Kartamihardja. Roman Atheis adalah satu-satunya tulisan orang Indonesia yang masuk dalam bahasan Subagio secara utuh. Selain dari Achdiat Kartamiharja, Subagio juga menyinggung Soewarsih dan Sutan Takdir Alisjahbana. Tiga nama pengarang Indonesia ini dimasukkan karena dianggap pelanjut gaya sastra Hindia Belanda.

Penulisan sastra Hindia Belanda bertujuan untuk memberikan informasi tentang kehidupan di Hindia Belanda – yang merupakan daerah koloni, kepada orang-orang di Negeri Belanda. Karya-karya tersebut ditulis dalam Bahasa Belanda dan kebanyakan diterbitkan di Negeri Belanda. Para penulis memiliki pengalaman nyata hidup di negeri Hindia Belanda, namun mereka menuliskan pengalamannya menjadi sebuah buku saat mereka sudah tinggal di Negeri Belanda. Menurut Subagio tujuan penulisan ini mewarnai cara menulis para sastrawan Belanda. Mereka menulis untuk para pembaca orang Belanda.

Kisah Desa, yaitu cerita tentang orang-orang desa menjadi trend utama dalam roman-roman sastra Hindia Belanda. Subagio menengarahi bahwa cerita desa diinspirasi oleh gaya penulis-penulis Perancis. Contoh kisah Saijah dan Adinda dalam Max Havelaar adalah contoh nyata dari penggunaan model cerita desa dalam roman-roman sastra Hindia Belanda. Contoh lain (yang tidak dibahas secara khusus dalam buku ini), adalah kisah si Ruki, pemuda desa di daerah Priangan dalam novel Kuli karya Sezkely-Lulofs. Kisah orang desa dipakai oleh para penulis untuk menggambarkan sifat-sifat dan kehidupan orang Indonesia yang sesungguhnya. Kehidupan yang aman tenteram. Namun kehidupan yang aman tenteram itu menjadi berantakan karena kolonialisme. Penulis lain seperti Beb Vuyk dan Maria Dermont juga secara detail menggambarkan betapa asri dan indahnya desa di Hindia Belanda, meski tidak menghubungkan suasana desa ini dengan tragedy kemanusiaan seperti yang diungkap oleh Douwes Dekker dan Szekely-Lulofs.

Roman dengan gaya cerita berbingkai juga menjadi ciri sastra Hindia Belanda. Yang dimaksud dengan cerita berbingkai adalah cerita dalam cerita di sebuah buku. Roman Max Havelaar misalnya menyampaikan cerita tengtang kontroler bernama Max Havelaar dan kisah Saijah dan Adinda dalam cerita tentang Drooskoppel si pedagang kopi. Contoh lain adalah tokoh “saya” yang menceritakan kisah Hasan dalam roman Atheis.

Warna lain yang ditemukan oleh Subagio dalam roman Hindia Belanda adalah tentang pergumulan orang Belanda yang terbelah antara cinta Eropa dan rindu akan Hindia Belanda. Khususnya para penulis Indo seperti Rob Nieuwenhuys (E. Breton de Nijs), Du Perron dan Vincents Maheui menggambarkan pergumulan tersebut. Meski cara pandang mereka berbeda beda dalam pergumulan ini, namun mereka bergumul tentang hal yang sama. Du Perron sangat mengambil jarak dan menempatkan diri sebagai seorang cendekia yang dingin. Sementara Breton de Nijs memilih untuk menjadi Eropa tetapi menghargai tinggi kehidupan Hindia Belanda. Sedangkan Vincents Maheui bernostalgia dengan seluruh rindunya karena merasa 100% Indo.

Sumbangan terbesar sastra Hindia Belanda di bidang sastra menurut Subagio Sastrowardoyo adalah membawa gaya penulisan sastra baru di Negeri Belanda. Penulisan sastra di Negeri Belanda yang sudah kering karena terbebani dengan ‘kewajiban’ mengkhotbahkan nilai-nilai kebenaran dan kebaikan, telah diubah oleh para penulis dengan latar belakang Hindia Belanda ini. Warna kemanusiaan yang lebih dalam dari sekedar khotbah disuarakan dalam tulisan-tulisan sastra Hindia Belanda. Warna baru ini membawa kegairahan baru dalam dunia sastra di Negeri Belanda.

Mengapa Subagio Sastrowardoyo memilih judul “Sastra Hindia Belanda dan Kita”? Dalam kasus Max Havelaar jelas sekali bahwa sastra Hindia Belanda telah mengubah nasip “kita”. Roman ini begitu dahsyatnya sehingga mampu mempengaruhi politik Negeri Belanda untuk “meringankan” beban penduduk Hindia Belanda dari siksa tanam paksa. Memang Subagio tidak membahas secara rinci pengaruh politik ini, karena beliau memang bukan seorang pemerhati politik.

Sastra Hindia Belanda bercerita tentang Hindia Belanda dimana sekarang ini kita bermukim. Sastra Hindia Belanda juga mempengaruhi gaya penulisan sastra para penulis Indonesia seperti Soewarsih, Sutan Takdir Alisjahbana dan Achdiat Kartamihardja. Artinya sastra Hindia Belanda itu memang berhubungan dengan kita. Secara khusus – dalam satu bab, Subagio membahas keberlanjutan gaya penulisan sastra Hindia Belanda ini melalui roman berjudul “Atheis” karya Achdiat Kartamihardja. Subagio menunjukkan bahwa gaya roman berbingkai, cerita desa, penggunaan plot dan perenungan muncul dalam roman Atheis. Kemiripan lain antara Atheis dengan Max Havelaar adalah novel bercerita dari naskah yang ditulis oleh tokoh utama kepada narrator (Drooskoppel dalam Max Havelaar dan tokoh “Saya” dalam Atheis).

Bagi saya buku Subagio Sastrowardoyo ini memperkaya cakrawala saya dalam menikmati roman-roman dan karya sastra era Hindia Belanda. Saya menjadi bisa lebih menikmati karya-karya tersebut dari berbagai sudut. Terima kasih yang sebesar-besarnya untuk beliau.

 

 

About Handoko Widagdo

Berasal dari Purwodadi, melanglang buana ke berpuluh negara. Dengan passion di bidang pendidikan, sekarang berkarya di lembaga yang sangat memerhatikan pendidikan Indonesia. Berkeluarga dan tinggal di Solo, kebahagiaannya beserta istri bertambah lengkap dengan 3 anak yang semuanya sudah menjelang dewasa.

My Facebook Arsip Artikel

11 Comments to "Sastra Hindia Belanda dan Kita"

  1. Handoko Widagdo  3 October, 2016 at 21:04

    Avy dan Kangmas Djoko mari silakan simak menyimak.

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *