Selera yang (telah) Bergeser dan Goreng-goreng

Dian Nugraheni

 

Perkara lidah, memang gampang-gampang susah. Ini yang berkaitan dengan selera makan.

Sejak datang ke Amrik, si Mak dan si Adek bisa makan apa saja, baik makanan bule, spanish, ya juga masak makanan Indonesia lah di rumah. Lain dengan si Kakak yang harus Indonesian food. Nasi tentu saja, dan kesukaan dia ayam goreng.

Hampir setiap hari si Mak goreng ayam yang sebelumnya diungkep bumbu kuning. Kegiatan ini ga begitu cocok bagi orang yang hidup di apartemen, karena menggoreng ayam dengan memakai minyak banyak, uap panas minyaknya nempel di mana-mana, susah banget dihilangkan. Juga tentu saja boros, ga sehat makan ada minyak terus. Belom lagi bau masakan yang tajam, akan “muleg” di ruang apartemen, bahkan nempel di jaket-jaket yang digantung di deket living room. Itu dapur sudah pakai exhaust fan, apalagi kalau enggak…bisa bayangin kan..?

Bla..bla..bla…
Sekarang, sudah tujuh tahun lebih kami tinggal di sini. Dan, terutama si Kakak, seleranya sudah mulai lumayan fleksibel. Meski dia masih sangat mencari nasi setiap harinya, tapi sudah nggak keberatan dengan masakan yang serba simpel.

Serba simpel itu ya, sayuran di’steam atau direbus, kemudian dimakan dengan taburan salt pepper, dan bawang putih goreng. Begitu juga dengan daging ayam, daging sapi, ikan, dan udang, cuma di”goreng” tanpa minyak, atau kalau pakai minyak ya paling satu sendok makan untuk satu pan daging atau ikan, atau udang. Lalu, ya gitu deh, taburi salt pepper aja. Jadi semua bumbu sederhana, serba light. Meski ya, kadang kami masih suka goreng something, kayak udang ditepungin, bakwan sayuran, dan mendoan, tentu saja.

selera01 selera02 selera03

Untuk “teman” sayuran rebus, kadang juga dicampur dengan daging olahan macam Pastrami, Beef Brisket, Salami, daan beberapa macam daging asap lainnya, cuma porsi daging olahan ini, enggak banyak, cuma buat rasa-rasa lidah aja…

Sebenere ini yang enak si Mak, jadi ga usah ribet ungkep ayam, goreng ayam, dan seterusnya…

Tanpa minyak, atau disebutnya itu di-grill. Tapi sebenere kalau di-grill, itu di panggang di atas api terbuka, kayak kalau kita bakar sate di atas para-para dan dibawahnya ada bara.

Mungkin teman-teman di Indonesia yang baca postingan mbak Di soal memasak, sering bertemu dengan kata-kata digoreng, ditumis, tanpa minyak. Itu memang beneran tanpa minyak, dan hanya menggunakan wajan teflon aja. Artinya, dengan cara begitu, masakan sudah matang dan siap disajikan.

Beruntung kami di sini, toko groseri menjual segala macam jenis bentuk ikan, utuh, maupun fillet. Nah kalau yang biasa kami goreng tanpa minyak, tentu saja yang fillet.

Jadi teman-teman di Indonesia, bisa fillet sendiri ikan yang dibeli ya, lalu dimasak atau digoreng tanpa minyak. Kalau daging ya pilih bagian yang tidak alot, atau lekas empuk bila dimasak, tinggal potong sesuai selera ya…

Sebenere soal “menghindari” minyak ini, karena kami tinggal di apartemen, atau rumah “tertutup”, sehingga kalau goreng-goreng pakai minyak banyak, uap panasnya menempel di mana-mana. Juga setelah liat postingan-postingan teman di FB, terutama tentang Orang Utan yang kehilangan habitatnya karena hutan dibabat dan dijadikan hutan Sawit, lama-lama mbak Di kok merasa sangat bersalah pada para Orang Utan tersebut, sehingga kepikiran untuk sedikit demi sedikit “boikot” penggunaan minyak yang berlebihan. Juga tentu saja, akan lebih baik kalau kita nggak banyak-banyak mengkonsumsi minyak, ya..

goreng-goreng

Malam ini, mbak Di nge-grill Salmon, tanpa minyak tentu saja. Dan setelah hampir matang, baru dikasih sedikiit saja minyak (kira-kira satu sendok teh, cuma dicrut-crut aja), agar ada kesan digoreng. Bumbunya juga cuma garam, merica hitam bubuk, dan bawang putih bubuk. Bawang putih bubuknya, bila digrill memberi kesan gosong, membuat rasa ikan menjadi lebih gurih…

Silakan dicobain, ya…he..he…

 

 

7 Comments to "Selera yang (telah) Bergeser dan Goreng-goreng"

  1. Dj. 813  3 October, 2016 at 20:23

    Hhhhhhmmmm . . . Yummy . . . ! ! !
    Untung sekarang sambil tea time .
    Salam manis dar Mainz .

  2. Ivana  3 October, 2016 at 15:08

    Alasan saya juga sama… tinggal di apartment, kalo goreng2 ribet bersih2nya.
    Sekarang sudah hampir tidak pernah deep fry.

    Pernah tinggal di apartment yg penghuni sebelumnya jorok. Bau minyak bekas menggoreng nempel di tembok, lantai juga terasa lengket meski sudah berkali2 di-pel…

  3. J C  1 October, 2016 at 09:24

    Hehehe…bener Dian, karena tentang makanan dua-duanya jadi aku jadikan satu…

  4. James  30 September, 2016 at 13:30

    mbak Lani, sy sih segala macam makanan suka jadi ok saja, di rebus, di goreng, di grill, di steam hanya intake sugar and salt di limit saja demi kesehatan, jadi dalam keadaan daour strike ya sy tinggal beli di luar saja, apalagi sekarang ini kuantitas makannya kecil

  5. Lani  30 September, 2016 at 13:10

    James: soal makanan mah kamu kaga ngerti apa2 taunya tinggal sediakan mulut dan ngemplok hahaha………..

    Kang Djas: salam kenthir kembali………

    Dian: mmg klu tinggal di apt susah utk goreng menggoreng terutama deep fry minyaknya nyiprat kemana-mana klu tdk langsung dibersihkan nempel dan semakin kandel susah dibersihkan………..

    Mengurangi pemakaian minyak mmg menyehatkan………tp namanya wong Jowo kdg kok ya msh kangen makan goreng2-an………aku jg sdh menguranginya wlu tdk bs 100% tanpa minyak

  6. Dian Nugraheni  30 September, 2016 at 13:03

    JC, ini bukannya 2 postingan ya, dijadikan satu jadi agak kacau urutannya…

  7. djasMerahputih  30 September, 2016 at 09:55

    Hmm.. Jadi lapar lagi..

    Salam Kenthir

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *