[AMNESIA – The Future Story] Harapan dan Ancaman

djas Merahputih

 

Masa-masa Tak Terlupakan #5

Pesan dari leluhur tentang akan datangnya pertolongan itu segera menyebar dari mulut ke mulut, baik di kalangan para pekerja maupun penduduk pribumi lain di daerah asal mereka. Semangat hidup mereka bangkit kembali sehingga memberi pengaruh positif terhadap hasil kerja dan aktifitas kehidupan sehari-hari. Wajah-wajah ceria makin mudah dijumpai. Para pengawas pekerja paksa di perkebunan dan pekerjaan jalan, jembatan atau rel kereta api merasa sedikit aneh dengan keceriaan pekerja-pekerja mereka. Namun demikian, mereka lebih memilih untuk menikmati perkembangan positif tersebut dan tak merasa perlu untuk menanyakannya.

Demikianlah hari-hari terus berlalu, minggu berganti bulan, bulan berganti tahun dan masyarakat pribumi menanti dengan sabar saat-saat yang dijanjikan tersebut. Perlahan-lahan semangat untuk bangkit menyongsong hari bahagia semakin bergelora di hati anak-anak bahari. Sebagian dari mereka berhasil memanfaatkan peluang untuk meningkatkan taraf pendidikan mereka ke taraf yang lebih tinggi.

harapan-dan-ancaman-1Keturunan bangsawan murni Ratu Maava serta warga istimewa dari pejabat kenegaraan diperkenankan untuk memperoleh taraf pendidikan yang lebih tinggi, baik sekolah dasar di dalam negeri maupun ke sekolah tinggi di negeri asal para pendatang dari Barat ini. Kesempatan tersebut dimanfaatkan sebaik mungkin, terutama untuk membangun komunikasi dengan bangsa-bangsa di penjuru Ramnox lain. Hubungan dengan bangsa luar diharapkan akan membantu usaha-usaha mereka kelak untuk dapat membebaskan diri dari cengkeraman para penjarah.

“Pendidikan adalah kunci peradaban”, Offo memberikan penilaian.

“Sepertinya, cerita ini akan berbalik arah lagi”, tambah Sang Pangeran.

“Ayo, Ki. Teruskan lagi kisahnya..!”, dengan penuh rasa penasaran Ono meminta Ki Arkam segera melanjutkan kisah perjalanan bangsa Rasyie.

Ki Arkam kini meneruskan kisahnya.

Sementara itu perkembangan berbeda terjadi di belahan Ramnox berbeda. Tiga negara di wilayah Utara yang leluhurnya juga berasal dari Langit; Leruminanco, Spictovarinco dan Ra Punaipong (Ranai) mulai kehilangan kesabaran melihat sebagian manusia telah menginjak-injak kemuliaan leluhur dan bangsa mereka. Ketiganya bertekad untuk memurnikan kembali anak keturunan mereka dengan berusaha mengambil alih seluruh kekuasaan dari para pemimpin yang lancang. Perhatian para pemuda dan masyarakat pribumi lain segera saja tertuju pada hal tersebut.

harapan-dan-ancaman-2Berita-berita dari luar negeri berusaha diperoleh dengan berbagai cara. Kemenangan demi kemenangan negeri keturunan para Dewa segera disambut rasa suka cita di kalangan warga pribumi. Tentu mereka berharap agar berbagai penaklukan itu segera sampai ke wilayah Ra Sirhonesia, seperti telah dikabarkan oleh para leluhur di samudera luas.

Sambil mengamati perkembangan terkini di luar sana para pemuda terus berusaha menyiapkan diri secara bersama-sama untuk menyongsong hari yang telah lama dinantikan itu. Komunikasi dengan saudara-saudara mereka di seluruh pelosok negeri terus dibangun dan diselenggarakan sangat serius. Orang-orang tuapun tak kalah semangat memberikan dorongan dan bantuan seperlunya.

“Hebat, orang-orang tua tak kalah semangat. Padahal mereka tahu mereka tak akan lama menikmati kalaupun kemenangan itu akhirnya akan datang”. Sang Pangeran kagum dengan keterlibatan para orang tua menyemangati anak-anak muda.

“Mungkin sebagian mereka masih merasa muda atau ingin dianggap muda di depan para warga perempuan”, Offo menampik sambil tertawa lebar.

Ki Arkam ikut tersenyum dan kembali melanjutkan kisahnya.

Ketika mendengar suasana perang di luar sana semakin sengit dan dahsyat, para pemuda bangsa bahari dalam negeri Rasyie berusaha memanfaatkan kesempatan dengan mempersiapkan segala sesuatu agar dapat segera mengusir para penjarah dari negeri mereka serta mempersiapkan cikal bakal lembaga-lembaga pemerintahan ke depan.

Akhirnya saat itu datang juga, bala tentara Ranai  berhasil mengusir para penjarah Bangsa Bahari. Mereka disambut suka cita oleh rakyat dan para penduduk negeri. Pasukan pembebas terlihat sebagai pahlawan yang selama ini ditunggu-tunggu. Seluruh rakyat merasa lega.

Ki Arkam mengakhiri paparan. Ia masih akan melanjutkan ujung kisah bangsa Rasyie pada purnama berikut. Ki Arkam mohon pamit pada Sang Pangeran.

Sementara, Pangeran Soka sendiri kembali tenggelam dalam masalah senjata rahasia Rasyie. Sudah jelas hal itu bukanlah sebuah ancaman nyata bagi bangsa Amox, tapi mengapa para petinggi militer begitu bernafsu untuk mengobarkan peperangan. Malam terasa begitu panjang dan Sang Pangeran akhirnya tertidur di pangkuan Ki Sampan, kursi kerajaan.

*****

Masih lekat di ingatan Sang Pangeran tentang karakter murni bangsa Maskulin dan Feminin; Bangsa daratan yang maskulin gemar menunjukkan kehebatan dan keunggulan seperti halnya gunung membanggakan bentuknya yang menjulang ke angkasa. Ia bahkan lega dan bangga setelah melepaskan muntahan berupa cairan magma dan debu kering dari perut buncitnya. Tak peduli apakah orang sekitar menderita dan kesakitan oleh pertunjukan hebat itu.

Sedangkan bangsa bahari berkarakter feminin. Mereka lebih senang menari dan mengejar harmoni serta keseimbangan layaknya samudera menyapa pantai. Ia cenderung malas, bekerja adalah kegiatan sia-sia. Mencipta melodi dan harmoni gerak terbaik adalah persembahan mulia untuk para leluhur dan Sang Dewata.

Ra Sirhonesia adalah negeri feminin. Itulah argumen penting yang akan dilontarkan Sang Pangeran dalam raga Presiden Amox pada rapat kali ini. Suasana rapat berlangsung panas. Terlihat bahwa, hanya Sang Presiden dan wakilnya, Maysha, yang memiliki pendapat serupa; Belum waktunya mengobarkan peperangan.

harapan-dan-ancaman-3Berbagai alasan dan analisa terus dilontarkan pihak militer yang kemudian dibalas dengan argumen soft power dari Presiden Amorluxico. Sang Presiden berpendirian, untuk mengatasi ancaman dari sebuah negeri feminin cukup melalui jalur diplomatik. Tak perlu dengan senjata, apalagi dengan memicu perang yang tak perlu. Kondisi ekonomi dalam negeripun masih lesu.

“Peperangan justru akan lebih memperburuk kondisi ekonomi bangsa Amox”, tegas Sang Presiden.

Argumen Sang Presiden tak menyurutkan tekanan dari pihak militer.

Di bawah tekanan pihak militer, Sang Presiden akhirnya memutuskan untuk mengirim surat protes terakhir dengan nada penuh ancaman.  Surat ancaman ini akhirnya dibalas dengan ancaman pula. Sebuah hal yang berada jauh di luar perkiraan Sang Presiden.

“Mana mungkin sebuah negeri feminin memiliki keberanian seperti ini?”, Sang Presiden mengungkapkan kekesalannya dalam sebuah rapat darurat.

“Dugaan kami tidak meleset, Pak Presiden!”, seorang staf ahli menyampaikan pandangannya. “Sebuah kekuatan dari luar tentu telah menguasai negeri Rasyie hingga berani dan lancang untuk melontarkan ancaman pada negeri kita. Kita harus semakin waspada terhadap segala kemungkinan terburuk yang ada”.

“Memang betul, tapi undang-undang negeri kita mengharuskan sebuah ancaman nyata agar opsi ofensif bisa kita gunakan”.

Sang Presiden berkelit dan menganggap data dan informasi pihak intelijen masih perlu diuji serta didalami secara lebih rinci. Fakta akurat harus diperoleh. Saat ini, opsi ofensif memunculkan resiko sangat besar bagi ekonomi dalam negeri Amox. Konflik sosial sekecil apapun akan berpotensi menjadi besar dengan cepat ketika perekonomian negara dalam kondisi terburuk.

“Kita semua tak ingin negeri ini berantakan saat peperangan berakhir. Akan lebih bijak untuk mengulur waktu sambil memperkuat perekonomian dalam negeri kita sendiri”.

Alasan Sang Presiden segera mendapat tanggapan dari seorang petinggi senior pihak militer, “Mengulur waktu berarti menambah skala ancaman, Pak Presiden..!”.

harapan-dan-ancaman-4Maysha tak tega melihat wajah Sang Presiden yang nampak begitu tertekan. Maysha menduga, Sang Presiden menjadi sedikit lebih rapuh sejak kematian istri beliau dalam sebuah tragedi berdarah di kota Dullstricht. Andai sang istri masih mendampingi saat ini, mungkin wajah Sang Presiden tak perlu sampai setegang ini.

Pertemuan berakhir tanpa keputusan berarti. Sang Presiden bertahan pada pendapatnya. Pihak intelijen diminta untuk mencari bukti-bukti otentik dan rinci tentang senjata rahasia itu. Sebuah permintaan yang bukan saja sulit, tapi juga memerlukan waktu lebih lama. Pihak militer kelihatan gusar dengan kebijakan Sang Presiden.

Sebuah rapat kecil diadakan oleh para petinggi militer setelah rapat darurat tadi. Tak jelas agenda rapat di malam itu. Namun Ono dan Offo dalam wujud transparan berhasil memperoleh informasi penting untuk Sang Pangeran dari rapat kecil dan rahasia, oleh para petinggi militer Amox. Sebuah informasi yang akan mengungkap sebuah kekuatan besar di balik arogansi pihak militer Amorluxico.

*****

 

Beban dan Sebuah Rahasia #7

 

 

About djas Merahputih

Dari nama dan profile picture’nya, sudah jelas terlihat semangat ke-Indonesia-annya. Ditambah dengan artikel-artikelnya yang mengingatkan kita semua bahwa nasionalisme itu masih ada, harapan itu masih ada untuk Indonesia tercinta. Tinggal di Sulawesi, menebar semangat Merah Putih ke dunia melalui BALTYRA.

My Facebook Arsip Artikel

7 Comments to "[AMNESIA – The Future Story] Harapan dan Ancaman"

  1. djasMerahputih  26 October, 2016 at 13:53

    >JAMES
    Halo juga Bang James.. Have a nice day..!!

    >KANG JC
    Iya nih.. bakalan tambah rame kayaknya..
    Thanks sdh mampir..

  2. djasMerahputih  26 October, 2016 at 13:50

    Waduh, telat nih balasnya..

    >ALVINA
    Bacanya dari awal yah..?? (he he he, nyante aja..)

    >Om DJ
    Wah, berat ya..?? Tapi masih bisa dipukul sehelai bulu tuh..

  3. J C  20 October, 2016 at 16:48

    Semakin rame ini sepertinya…

  4. James  5 October, 2016 at 04:53

    halo gerombolan Kenthirs

  5. Dj. 813  4 October, 2016 at 22:19

    Artikel yang ciamik dan cukup berat , seperti beratnya batu-batu yang tersusun rapi yang harus disangga oleh 1 bulu burung, tapi bukan nya tidakmungkin .
    Terimakasih dan salam,

  6. Alvina VB  4 October, 2016 at 20:14

    Hadew….cerita2 sebelumnya blm sempet dibaca Djas…udah part 5 ya? yg ini musti nunggu dah….kl gak ceritanya gak nyambung.

  7. djasMerahputih  4 October, 2016 at 16:45

    Satoe:
    Pentulise.

    Absenin para Kenthir.

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *