Kenangan Temu Pendengar Radio Taiwan International Siaran Indonesia 2012 di Yogyakarta

Liana Safitri

 

Info Temu Pendengar

Sekitar bulan Oktober 2012 (yang saya ingat saat itu menjelang hari raya Idul Adha) saya menerimai buletin RTISI edisi tiga yang dikirimkan dari Taiwan dengan cap pos 12 Oktober 2012. Saat itu saya tidak merasakan sesuatu yang istimewa. Sudah biasa jika pulang dari kerja saya melihat surat-surat dari teman atau radio luar negeri tergeletak di meja belajar kamar. Baru melepaskan tas di punggung dan belum berganti baju, saya sudah merobek plester yang menutup buletin RTISI untuk melihat isinya. Saya sekadar membuka-buka buletin itu dan pada halaman lima menemukan judul yang membuat tersentak.

 

Temu Pendengar Radio Taiwan International Siaran Indonesia 2012 di Indonesia

Di bawah judul terdapat sebuah foto acara TP RTISI tahun 2009 lalu yang diadakan di Jakarta.

Foto TP RTISI Perdana 2009 sesi Jakarta yang terpajang di buletin

Foto TP RTISI Perdana 2009 sesi Jakarta yang terpajang di buletin

Dengan tidak sabar, saya meneruskan membaca.

3 tahun berlalu, kini RTISI kembali akan menjumpai para pendengar yang berada di Indonesia.

Temu pendengar tahun ini akan diadakan di 2 kota, yakni:

1. TP Jakarta, 10 November 2012

2. TP Yogyakarta, 11 November 2012

Bagi pendengar yang ingin mengikuti kegiatan ini, segera daftarkan diri Anda sebelum 31 Oktober 2012, dengan mengirim pesan SMS (seperti contoh di bawah) ke no: +886-975-284208.

Ketik Nama / daerah tempat tinggal / kota TP yang ingin diikuti / jumlah yang ikut

Contoh: SantiLestari/Palembang/TPJakarta/3orang

Selain temu kangen & ramah tamah, seluruh peserta juga dapat menikmati jamuan makan siang & pembagian souvenir. (Kegiatan bersifat gratis / tidak dipungut biaya). Untuk tempat dan jam pelaksanaan selengkapnya akan diumumkan di dalam acara, facebook, & kiriman email langsung.

Pendaftaran juga dapat dilakukan melalui:

Email: [email protected]           Facebook: rtisi

Pos biasa: P.O Box 123-199 Taipei 11199, Taiwan

Kami tunggu loh, kehadirannya!

Begitu membaca pengumuman ini, saya kembali menggendong tas lalu ke luar rumah berjalan menuju warnet dengan tak lupa membawa buletin RTISI. Tentu saja, saya bermaksud mendaftarkan diri untuk mengikuti acara TP RTISI melalui e-mail. Saya bersyukur bahwa buletin itu tidak terlambat diterima. Sebab waktu itu saya belum punya laptop atau pun ponsel canggih yang bisa membuat saya terhubung ke internet setiap saat. Jadi saya memang agak ketinggalan informasi berkaitan dengan RTISI. Setelah mengirimkan e-mail ke permohonan ke RTISI agar bisa mengikuti acara temu pendengar di Yogyakarta, saya membuka facebook. Benar saja, di fb RTISI semua orang sedang ramai membicarakan acara temu pendengar.

Salah seorang teman pendengar radio luar negeri yang saya kenal melalui fb—namanya Edi—juga memberitahu tentang hal ini melalui SMS. Katanya kota Yogyakarta terpilih sebagai kota kedua acara TP RTISI karena memenangkan survei. Banyak yang memilih kota Yogyakarta, sedangkan kota Solo hanya beberapa orang. Edi sendiri mengikuti survei itu dan memilih kota Yogyakarta. Edi belum pernah mengikuti acara semacam ini, dia menanyakan banyak hal pada saya yang sudah pernah mengikuti TP RTISI di tahun 2009. Akhirnya kami janjian untuk datang ke acara itu bersama jika permohonan kami disetujui RTISI.

Sampai di rumah saya merasa tidak tenang. Bagaimana kalau e-mail mengalami trouble dan surat permohonan saya tidak sampai? Bagaimana kalau… (kalau sedang cemas, saya memang suka berpikiran macam-macam). Kemudian keesokan harinya saya juga mendaftar melalui SMS, untuk berjaga-jaga. Dan barulah saya merasa tenang karena pendaftaran melalui SMS langsung mendapat balasan. Permohonan disetujui, saya terdaftar sebagai peserta TP RTISI 2012 (Barangkali inilah yang membingungkan panitia temu pendengar, sehingga di daftar hadir tertulis nama saya diikuti angka 3—yang artinya mengajak tiga orang. Padahal saya hanya mengajak satu orang. Maaf, ya…).

Beberapa hari kemudian saya menerima undangan TP RTISI  melalui e-mail yang juga disebarkan melalui facebook dan website RTISI.

 

Di Tempat yang Sama, untuk Acara yang Sama

Hari Minggu tanggal 11 November 2012 pukul 10.00 saya berangkat ke lokasi acara TP RTISI, hotel Novotel. Awalnya saya memang mengajak seorang saudara sepupu untuk mengikuti acara ini, sayangnya menjelang hari H dia mengabarkan kalau tidak bisa ikut karena harus hadir di pesta pernikahan temannya. Acara TP RTISI yang kedua memang bertepatan dengan “musim nikah” karena tanggalnya termasuk cantik, 11-11-2012. Sebenarnya anggota keluarga saya sendiri juga ada yang melangsungkan pernikahan pada hari itu dan saya diundang. Tapi saya nekat kabur, lebih memilih datang ke TP RTISI daripada pernikahan keluarga (Sampai saya diomeli keluarga, tapi… siapa yang peduli! Keluarga masih bisa bertemu di lain hari, sedangkan staf RTISI hanya bisa saya temui di hari itu). Pada TP RTISI pertama, saya melihat beberapa pendengar memberikan kenang-kenangan dan berfoto bersama. Kali ini saya ingin menggunakan kesempatan sebaik-baiknya. Saya membawa suvenir untuk RTISI yang sudah dipersiapkan sejak membaca pengumuman temu pendengar. Tentang isinya… rahasia, ya. Saya juga bertekad jika harus bisa berfoto dengan para penyiar RTISI.

Kembali ke tempat yang sama untuk acara yang sama setelah tiga tahun

Kembali ke tempat yang sama untuk acara yang sama setelah tiga tahun

Karena sebelumnya saya sudah pernah mengikuti acara serupa di tempat yang sama, saya tidak gugup lagi. Saya menunggu Edi di depan pintu masuk hotel, sempat missed call juga karena khawatir pendaftaran sudah dimulai. Tak lama setelahnya tampak dua orang laki-laki berusia dua puluh tahunan mendekati saya. Salah seorang dari mereka yang bertubuh lebih tinggi bertanya, “Liana?”

“Ya,” jawab saya. Itulah pertama kalinya kami bertemu langsung sejak berteman satu tahun di fb. Yah, sepertinya saya harus berterima kasih pada RTISI, karena secara tidak langsung RTISI-lah yang mempertemukan kami (Saya tidak mau bertemu dengan sembarang orang—apalagi kalau hanya kenalan lewat dunia maya—di sembarang tempat tanpa maksud yang jelas. Setidaknya pada pertemuan pertama waktu itu kami ada di acara umum).

Kami bertiga lalu masuk hotel. Untuk sekadar memastikan saya bertanya pada resepsionis hotel, di mana tempat berlangsungnya TP RTISI. Ternyata masih sama seperti dulu, hanya perlu naik tangga ke lantai dua.

Di lobi lantai dua rupanya sudah banyak orang yang datang. Sebentar kemudian pendaftaran resmi dibuka. Saya mendaftar paling dulu, nomor satu. Saat itu di belakang meja pendaftaran ada seorang laki-laki berbaju cokelat dan seorang wanita berbaju hitam. Laki-laki berbaju cokelat itu bertanya apakah saya sudah mendaftar. Saya jawab sudah, maka saya hanya perlu mencari nama saya di daftar dan tanda tangan di samping kolom alamat. Selesai tanda tangan laki-laki berbaju cokelat memberikan nomor untuk undian doorprize dan sebuah memo berukuran besar dengan terselip pulpen. Katanya, “Ini suvenirnya.”

Saya sempat heran sekali. Apa suvenirnya “cuma” ini. Maksud saya, kok beda sekali dengan TP RTISI pertama yang suvenirnya seabrek dan bermacam-macam jenisnya. Saat itu tanpa sengaja mata saya melihat deretan tas berlogo RTI yang tergeletak di lantai. Dan saya tahu, itulah suvenir yang “sebenarnya”. Kemudian ketika melewati seorang wanita berbaju hitam, saya diminta membubuhkan tanda tangan pada selembar kertas besar yang sudah dihias-hias menggunakan spidol hitam. Otomatis tanda tangannya juga harus besar. Edi melewati proses pendaftaran sama seperti saya. Yang berbeda hanyalah temannya. Karena dia belum mendaftar, jadi dia harus menuliskan nama dan kota tempat tinggalnya pada kertas dengan kolom-kolom kosong, baru membubuhkan tanda tangan. Setelah mendaftar kami dipersilakan duduk.

Registrasi ulang

Registrasi ulang

Tanda tangan yang besar

Tanda tangan yang besar

Suvenir dari hotel, memo dan pulpen

Suvenir dari hotel, memo dan pulpen

Suasananya tidak terlalu berbeda dengan TP RTISI 2009. Kursi berwarna kuning diatur berderet-deret sedemikian rupa, di depan ada meja dan kursi untuk MC, sekaligus untuk meletakkan laptop dan berbagai perlengkapan, ada juga OHP. Saya melihat Kak Tony yang memakai baju kotak-kotak berwarna oranye biru—satu-satunya staf RTISI yang saya kenali karena sudah pernah bertemu sebelumnya—sedang mempersiapkan sesuatu. Dulu, di tahun 2009, selesai mengikuti acara temu pendengar saya keluar dari hotel ini sambil berdoa, semoga RTISI menyelenggarakan acara temu pendengar lagi. Saya sungguh tidak menyangka doa itu akan terkabul. Tiga tahun kemudian saya benar-benar berada di tempat yang sama, untuk acara yang sama. Bisa bayangkan betapa senangnya saya? Rasanya seperti bertemu dengan teman lama… Selama menunggu acara dimulai, ada seorang laki-laki dengan tubuh agak gemuk dan berkacamata tebal yang mondar-mandir membawa kamera, potret sana potret sini. Saya Waktu kameranya mengarah pada saya, saya menundukkan kepala sambil bertanya-tanya dalam hati. Siapa sih, orang ini?

 Selamat datang di Temu Pendengar RTI Siaran Indonesia

Selamat datang di Temu Pendengar RTI Siaran Indonesia

Kursi-kursi siap menanti

Kursi-kursi siap menanti

Sebelum acara dimulai

Sebelum acara dimulai

Perlahan-lahan kursi mulai terisi penuh. Kak Tony berdiri di belakang meja MC bersama seorang wanita berbaju hitam penerima tamu dengan tangan memegang mikrofon, memberikan kata sambutan. Kira- kira seperti ini. “Selamat pagi semua! Saya Tony Thamsir. Selamat datang di acara Temu Pendengar Radio Taiwan International Siaran bahasa Indonesia. Sebelumnya acara serupa sudah pernah kami adakan pada tahun 2009 di dua kota, yaitu Jakarta dan Yogyakarta. Mungkin ada beberapa orang yang hadir di sini dulu pernah ikut…”

Lalu Kak Tony mulai memperkenalkan para staf RTISI yang terbang ke Indonesia bersamanya demi acara ini. Wanita berbaju hitam yang yang berdiri di samping Kak Tony adalah Kak Farini Anwar. Sedangkan laki-laki dengan tubuh agak gemuk, berkacamata hitam yang tadi mondar-mandir membawa kamera tadi? Dia adalah Mr. Carlson Huang, wakil manajer divisi programming. Karena pimpinan RTISI berhalangan hadir, jadi Mr. Carlson Huang-lah yang menggantikannya. Laki-laki berbaju cokelat yang melayani proses pendaftaran, saya tidak tahu siapa—sebab tidak diperkenalkan.

Mungkin dia adalah pendengar RTISI yang membantu dengan sukarela. Pada saat itu ada juga beberapa peserta yang datang terlambat dan baru melakukan pendaftaran. Kak Tony sempat berkata, “Nanti yang datang terlambat mungkin tidak mendapat suvenir, ya!” Saya bersyukur karena mendaftar di urutan pertama. Soal suvenir yang kemungkinan kurang memang sudah disinggung sebelumnya dalam surat undangan yang disebarkan. Berdasarkan pengalaman acara TP RTISI 2009 presentase yang hadir tidak sampai 55%, jadi untuk TP kedua ini panitia hanya menyiapkan segala sesuatunya setengah dari jumlah pendaftar. Iya, daripada pemborosan.

 Kak Farini Anwar dan Kak Tony Thamsir

Kak Farini Anwar dan Kak Tony Thamsir

Memandu acara dengan gembira

Memandu acara dengan gembira

Penuh perhatian

Penuh perhatian

Mr. Carlson Huang juga memberikan sambutan dalam bahasa Indonesia menggunakan teks (karena tidak bisa bahasa Indonesia). Dia mengawali dengan sapaan, “Dàjiā hăo!— 大家好!” Artinya, “Halo semua!” Tidak langsung dijawab. Selama beberapa saat suasana sunyi sebelum terdengar gumaman “Hao!”. Saya melihat Kak Tony diam-diam menahan tawa. Itu karena sapaan Dàjiā hăo!— 大家好! Seharusnya juga dijawab Dàjiā hăo! Tapi Mr. Carlson Huang terus melanjutkan berpidato. Pidatonya panjang sekali, sampai berlembar-lembar kertas. Saya tidak ingat isinya apa saja. Yang jelas RTISI mengucapkan terima kasih atas dukungan yang diberikan para pendengar di Indonesia.

Mr. Carlson Huang memberikan sambutan

Mr. Carlson Huang memberikan sambutan

Para peserta mendengarkan

Para peserta mendengarkan

Kemudian kami diputarkan DVD yang menunjukkan kegiatan penyiar-penyiar RTISI sehari-hari dan acara temu pendengar yang diadakan di Taiwan. Kalau saya tidak salah ingat, Kak Tony berkata, temu pendengar di Taiwan itu dihadiri oleh ratusan peserta. Selanjutnya DVD sering menampilkan gambar para penyiar menyantap makanan dalam suatu acara. “Dari tadi gambarnya makanan terus. Lihat makanan enak-enak jadi bikin laper, ya?” komentar Kak Tony. “Kerja di RTI memang sering ada acara makan-makan, karena orang Taiwan tuh seneng banget makan, Pak, Bu! Orang Jawa kan, filsafatnya ‘makan nggak makan yang penting kumpul’. Tapi kalau orang Taiwan dibalik, ‘kumpul nggak kumpul yang penting makan’!” Meledaklah tawa kami semua.

Sebenarnya DVD yang diputar itu sudah diperbanyak dan akan dimasukkan ke dalam paket suvenir temu pendengar. Tapi lalu panitia teringat bahwa pemutaran DVD di Indonesia dengan di Taiwan menggunakan teknologi yang berbeda. Jadi DVD itu batal diberikan sebagai suvenir, sedang diperbaiki, disesuaikan dengan teknologi pemutaran DVD yang biasa digunakan di Indonesia. Sayang sekali, padahal kalau bisa mendapatkan DVD itu kan lumayan, untuk kenang-kenangan. Acara dilanjutkan dengan tanya jawab atau mendengarkan saran dan kritik dari para pendengar. Siapa pun yang ingin bertanya atau berkomentar diberikan mikrofon, diminta menyebutkan nama dan kota, lalu Kak Tony akan menjawabnya. Kalau dibandingkan dengan acara TP RTISI sebelumnya, sepertinya yang tahun 2009 lebih mewah dan meriah. Tapi TP RTISI kali ini justru terasa lebih akrab karena tidak formal sekali.

Kak Tony sempat bertanya dari mana saja asal peserta temu pendengar selain kota Yogyakarta. Yang membuat heran adalah ada peserta dari Jakarta. “Oh, dari Jakarta? Kami kemarin juga mengadakan temu pendengar di Jakarta, lho, Pak. Bapak tahu, tidak?” tanya Kak Tony. Bapak itu menjawab tahu. Lalu Kak Tony bertanya lagi, “Kenapa tidak ikut yang di Jakarta, Pak? Kenapa malah pilih ikut temu pendengar di Yogyakarta? Kan jauh…” Bapak tersebut menjawab kalau dia lebih suka di Yogyakarta daripada di Jakarta.

Tidak tahunya Kak Tony sependapat. “Suka di Yogya? Sama, Pak. Saya juga lebih suka di Yogya.” Tentu saja pengakuan ini langsung disambut tawa kami semua. “Yah… ketahuan, deh!” Kak Tony bilang kalau dia suka gudeg Yogya. Tapi pada saat bersamaan juga ingin makan roti mandarin khas Solo. “Di sini ada yang dari Solo?” Saat seorang bapak mengacungkan tangan, Kak Tony lalu berseloroh, “Bapak tidak bawa (roti mandarin), ya?” Semua yang hadir kembali tertawa dan saya berkata dalam hati, Kalau cuma roti mandarin aku juga sering makan, setiap kali ada orang hajatan. Rasanya sampai bosan, jadi malah tidak pernah beli.

 Kak Tony Thamsir

Kak Tony Thamsir

Hal lucu lainnya adalah ketika ada seorang bapak protes, kenapa RTISI memutarkan lagu dangdut. Bukannya tidak boleh, sih, hanya saja rasanya aneh. Kalau mau mendengarkan lagu dangdut, ya, buat apa repot-repot mendengarkan radio sampai ke Taiwan? Radio lokal di Indonesia juga banyak memutarkan lagu dangdut. Saya sependapat dengan peserta yang satu ini. Kami mendengarkan radio Taiwan karena ingin mendapatkan sesuatu yang “beda”. Gara-gara RTISI memutarkan lagu dangdut, bapak tersebut ditertawakan anaknya—sebab biasanya si bapak tidak pernah mendengarkan lagu dangdut.

“Pak! Bapak lagi dengerin apa, sih?”

“Lagi dengerin radio Taiwan.

“Radio Taiwan kok, ada lagu Cinta Satu Malam?”

Ruangan kembali riuh oleh suara tawa. Kak Tony juga tertawa, lalu berkata sambil bercanda, “Yah, kalau lagunya sih, tidak apa-apa. Yang penting ‘Cinta Satu Malam’-nya jangan, ya, Pak?”

Memang sejak beberapa bulan yang lalu, di acara hiburan, selain memutarkan lagu Mandarin, RTISI juga memutarkan lagu-lagu Indonesia. Kebijakan tersebut diambil mengingat RTISI didengarkan oleh banyak orang, tidak hanya para pendengar di Indonesia, tapi juga warga Indonesia yang tinggal di Taiwan. Mungkin kami yang tinggal di Indonesia sudah terbiasa mendengarkan lagu Indonesia. Untuk orang Indonesia yang tinggal di Taiwan, mereka tidak bisa mendengarkan lagu Indonesia setiap hari. Jadi RTISI berusaha memenuhi kebutuhan dua kelompok pendengarnya secara seimbang. Mau jenis musik dangdut atau pop, lagu Indonesia diputar selang-seling dengan lagu Mandarin. Begitu juga dengan berita. Selain menyiarkan berita tentang berbagai peristiwa yang terjadi di Taiwan, RTISI juga sering mengabarkan banyak hal yang terjadi di Indonesia.

Salah seorang pendengar RTISI termuda yang hadir, seorang laki-laki berusia tujuh belas tahun juga diminta memberikan kesan pesannya. Setelah itu ada seorang ibu warga negara Indonesia yang sudah tinggal di Taiwan selama bertahun-tahun, ikut bercerita. Intinya, ibu tersebut merasa nyaman tinggal di Taiwan. Kak Tony pun menanggapi bahwa jumlah warga negara Indonesia yang berada di Taiwan saat ini menduduki jumlah tertinggi kedua setelah penduduk asli. Ada juga seorang ibu lain yang memperkenalkan bisnisnya pada para peserta—dan ikut mengajak berbisnis. Pendengar lain membagikan selebaran tentang cara membuat radio FM bisa menangkap gelombang SW, sekaligus menjelaskan caranya.

Acara dilanjutkan dengan pemberian suvenir dari pendengar. Rupanya beberapa orang yang bermaksud memberikan suvenir sudah “melapor” pada saat penerimaan tamu. Jadi nama mereka mungkin diberi tanda dan dipanggil pada sesi ini. Saya ragu-ragu, apakah akan langsung maju setelah semua orang yang memberikan suvenir selesai, atau lebih baik menunggu di akhir acara dan menyerahkannya secara pribadi pada penyiar? Sementara saya sedang berpikir, satu per satu orang menyerahkan suvenirnya. Ada yang memberikan kain batik hasil karya sendiri, ada yang memberikan kerajinan perak, ada yang suvenirnya dibungkus rapat dan tidak boleh dibuka… Ada juga seorang bapak dari Bantul yang memberikan makanan. “Saya tidak membawa suvenir apa-apa, tapi saya hanya bisa memberikan makanan khas dari daerah saya… geplak!” Semua orang tertawa.

 Suvenir dari seorang pendengar untuk RTI

Suvenir dari seorang pendengar untuk RTI

Namun Kak Tony menerima geplak dalam plastik putih yang diberikan bapak tersebut dengan gembira. “Terima kasih, Pak! Aduh, Bapak tahu aja kalau kita-kita suka makan!” Semua orang tertawa lagi (Nah, ya, jadi benar dong kata Kak Tony, soal filsafat orang Taiwan yang dibalik itu, ‘kumpul nggak kumpul yang penting makan’ hehe…).

Ah, pokoknya kalau ikut acara temu pendengar itu bawaannya mau ketawa terus, ya iya! Habis seneng terus, sih. Saya termasuk orang yang jarang sekali tertawa, di rumah juga tidak pernah tertawa. Tapi kalau ikut TP RTISI pasti tertawa. Mungkin ini juga karena MC-nya yang luwes bicara dan bisa menciptakan suasana yang nyaman.

Acara dilanjutkan dengan undian doorprize. Kak Tony mengatakan jika mulai tahun ini RTISI tidak mengeluarkan buku agenda—yang bisanya dibagikan pada para pendengarnya setiap awal tahun bersama kelender. Jadi buku agenda dijadikan hadiah doorprize. Selain buku agenda, yang dijadikan hadiah doorprize ada bermacam-macam (saya lupa detailnya apa saja…). Ada seorang ibu yang mendapat VCD Jolin Tsai, kipas angin kecil, dan hadiah terbesar adalah alat pemutar MP3 yang harganya beberapa ribu NT.

Setelah pembagian doorprize kami akan makan siang. Tidak seperti TP RTISI 2009 lalu yang makan siangnya di ballroom, makan siang kali ini kami diminta turun ke lantai satu lalu berjalan ke restoran hotel. Namun sebelum makan siang ada sesi foto bersama. Kak Farini meminta bantuan beberapa orang untuk melepas spanduk RTI yang terpasang di dinding agar bisa kami pegang untuk foto bersama. Waktu itu suasana ribut sekali, semua orang mencari posisi untuk foto bersama. Saya melihat Kak Tony sedang membereskan barang-barang. Jadi saya hampiri dia. Dengan agak gugup, saya menyerahkan kotak suvenir, “Kak, ada yang ketinggalan!”

Kak Tony mengangkat kepala. Melihat saya membawa sesuatu, dia agak terkejut. Keluhan “Aduh…” sempat terlontar, mungkin menyesal karena saya tidak mendapat kesempatan memberikannya di awal untuk difoto pada saat penyerahannya. Tidak tahunya di belakang saya juga ada teman perempuan lain yang tidak sempat memberikan suvenir. Dengan malu-malu orang itu menyerahkan suvenirnya. Kak Tony tambah terkejut, “Oh, ada lagi? Aduh… aduh… terima kasih, ya!”

Kami foto bersama. Semua orang membentuk barisan, ada yang duduk, ada yang berdiri, sebagian lagi memegang spanduk RTI. Setelah dipotret beberapa kali, kami membubarkan diri. Saat itu Kak Farini berteriak, “Yang sudah selesai difoto, boleh ambil suvenir!” Mengingat perkataan Kak Tony tadi bahwa tidak semua orang akan mendapatkan suvenir, saya langsung menuju meja penerimaan tamu tempat suvenir dibagikan. Saya berebut bersama para peserta lain untuk mendapatkan suvenir, Dan alhamdulillah, dapat! Saya menjinjing tas warna hitam dan merah berlogo RTI dengan penuh kemenangan, melihat banyak sekali peserta yang mengeluh kecewa karena tidak kebagian.

Kak Tony lalu berkata bahwa bagi siapa saja yang tidak mendapatkan suvenir boleh mengirimkan e-mail agar nanti suvenirnya bisa dikirimkan ke alamat rumah masing-masing dari Taiwan. Tapi kan mendapatkan suvenir dari kiriman rasanya tetap beda dengan mendapatkan suvenir langsung dari acara. Teman saya, Edi. saja tidak dapat karena dia tidak mau maju (Dalam acara-acara seperti ini sifat agresif memang sangat diperlukan).

Saya ada sedikit saran untuk RTI. Lain kali suvenirnya dibagikan pada orang yang sebelumnya sudah mendaftar melalui e-mail atau SMS saja, sedangkan orang yang “mengekor” atau yang diajak si pendaftar tidak perlu diberi suvenir. Untuk pembagian suvenir sebaiknya dilakukan pada saat registrasi ulang (sama seperti saat TP RTISI 2009), agar jangan sampai rebutan dan suvenirnya tidak akan kurang. Soalnya RTI kalau kasih suvenir tidak tanggung-tanggung, satu paket sekaligus (sampai saya berpikir, barangkali RTI punya pabrik souvenir sendiri?). Jadi misalkan suvenir kurang akan pasti repot sekali. Harus menunggu kiriman dari Taiwan, seperti kata Kak Tony tadi.

Tas saya yang semula berisi kotak suvenir untuk RTI kini kosong, berganti dengan tas suvenir dari RTI. Sambil menjinjing tas itu, saya bersama rombongan beberapa orang turun ke lantai satu dan berjalan menuju restoran. Di tempat yang luas itu tampak meja dan kursi berderet-deret, siap ditempati. Bermacam hidangan makanan dan minuman sudah terhidang di meja-meja saji yang tersebar di seluruh restoran, tinggal ambil saja. Para pelayan restoran juga sepertinya telah bersiap sejak tadi. Masalahnya, restoran masih sepi. Saya menoleh ke kanan kiri, bertanya ke mana sebagian orang yang lain.

Ternyata mereka masih di atas, sibuk minta foto dengan kakak-kakak penyiar. Wah… saya kok malah jadi lupa minta foto sendiri? Akhirnya, setelah semua orang hadir di restoran, saya sibuk mencari-cari kesempatan untuk berfoto dengan para penyiar. Tak lama kemudian saya melihat para staf RTI berkumpul jadi satu di sebuah meja, sedang menyantap makanan masing-masing. Saya lalu mengumpulkan segenap keberanian, mendatangi mereka untuk minta foto. Saya tahu ini memang tidak sopan (orang lagi makan malah ditodong, dimintai foto bersama), tapi kalau tidak cepat-cepat, saya khawatir tidak ada kesempatan lagi.

Setelah makan siang pasti acara berakhir. Untunglah para staf RTI yang baik dan ramah itu bersedia memenuhi permintaan saya berfoto bersama. Saya mengucapkan terima kasih pada mereka semua lalu segera kembali ke tempat duduk. Barulah kali ini saya bisa makan dengan tenang. Tentu saya memilih makanan yang “aman”, bebas dari daging dan ikan!

Foto hasil nodong di restoran yang mengecewakan karena baterai ponsel hampir habis

Kak Tony Thamsir, Kak Farini Anwar, dan yang paling kanan… (tidak tahu!)

Dan waktu saya duduk, saya justru melihat banyak orang mulai mendatangi meja kakak-kakak penyiar ini untuk minta foto juga (Kenapa tidak dari tadi? Benar-benar tidak punya inisiatif, cuma ikut-ikutan!).

Saya keluar dari Novotel pukul 14.00.

Sampai di rumah saya membuka tas suvenir dari RTI. Ada t-shirt, bingkai foto kecil dalam bentuk gantungan kunci, dompet besar dan kecil, stiker bergambar buah-buahan, kartu pos, sumpit, obeng, alas gelas, peta ROC, dan lain-lain yang tidak bisa saya sebutkan satu per satu karena terlalu banyak. Semuanya memiliki logo RTI.

Seketika itu juga saya merasa bahwa logo RTI telah dicap dalam hati saya…

T-shirt bergambar naga, salah satu suvenir TP RTISI 2012

T-shirt bergambar naga, salah satu suvenir TP RTISI 2012

Peta ROC

Peta ROC

Suvenir TP RTISI 2009 dan 2012

Suvenir TP RTISI 2009 dan 2012

Suvenir TP RTISI 2009 dan 2012

Suvenir TP RTISI 2009 dan 2012

 

Catatan:

Ponsel saya waktu digunakan untuk memotret baterainya hampir habis, jadi saat foto dicetak hasilnya tidak bagus. Foto-foto ini sebagian saya ambil dari facebook RTISI. Selain itu karena saya tidak suka memajang foto diri di internet, yang saya tampilkan di sini adalah foto para staf RTISI serta suvenir oleh-oleh dari temu pendengar RTISI tahun 2009 dan 2012 yang sudah dicampur jadi satu.

Ini adalah foto lain yang lebih jelas, saya ambil dari facebook RTISI. Para staf RTISI bersama beberapa pendengar.

temu-pendengar-radio-taiwan-21 temu-pendengar-radio-taiwan-22

*Terima kasih kepada Kak Tony Thamsir, Kak Farini Anwar, Mr. Carlson Huang serta seluruh keluarga besar Radio Taiwan International.

 

 

Share This Post

Google1DeliciousDiggGoogleStumbleuponRedditTechnoratiYahooBloggerRSS

6 Comments to "Kenangan Temu Pendengar Radio Taiwan International Siaran Indonesia 2012 di Yogyakarta"

  1. Liana  21 October, 2016 at 09:10

    Mbak Lani: Tidak tiap tahun. Suka2 radionya.

  2. J C  20 October, 2016 at 17:25

    Liana, selalu asik menyimak ceritamu. Sekarang aku paham dari mana dirimu belajar Taiwan Mandarin plus tulisannya…hehehe…

  3. Lani  11 October, 2016 at 00:35

    Liana: jadi pertemuannya tdk diadakan tiap tahun?

  4. James  10 October, 2016 at 13:58

    kapan ada Radio Indonesia Internasional Siaran Taiwan nya ?

  5. Liana  10 October, 2016 at 12:19

    Beda tahun. Kemarin tahun 2009, yang ini tahun 2012.

  6. Lani  10 October, 2016 at 12:16

    Liana: apakah ini seri artikel yg sama jilid 2?

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *