Melatih Ifan Berkomunikasi

Yeni Suryasusanti

 

Mungkin terdengar sepele. Kecuali mengalami keterbatasan seperti Tuna Wicara, bukankah setiap hari semua manusia bicara? Nyatanya, cukup banyak terjadi kegagalan komunikasi (istilah kerennya miskomunikasi), baik di dunia kerja, di lingkungan masyarakat, bahkan di lingkungan keluarga inti di rumah.

Apa sih penyebab kegagalan ini? Penyebab paling utama adalah ketidakmampuan memilih kata-kata yang tepat utk menjelaskan maksud kita. Bisa juga karena kita ingin terburu-buru bercerita atau sedang grogi, sehingga kata-kata berhamburan tak terkendali. Atau di saat emosi melanda, yang menyebabkan intonasi suara yang berperan besar menggeser fokus pembicaraan.

Saya memutuskan melatih Ifan berkomunikasi dengan cara yang sangat sederhana: memintanya menuturkan cerita tentang kesehariannya. Selain untuk mengetahui harinya, saya bisa mengajarkan penggunaan kalimat yang benar, intonasi suara yang tepat dan kronologis yang baik dalam bercerita.

Sejak dulu, Ifan adalah anak yang suka asyik dengan dunia dan pikirannya sendiri, memilih berdiam diri jika tidak ditanya daripada menceritakan keseruan harinya. Biasanya, anak perempuan yang lebih suka dan butuh bercerita dibandingkan anak laki-laki pada umumnya. Di samping itu, saat masih batita, Ifan mengalami keterlambatan bicara. Btw, jangan dibandingkan dengan Fian yang bawelnya luar biasa ya, yang berhenti mengoceh atau bernyanyi hanya saat dia tidur hahaha…

Mengorek Ifan agar menceritakan kesehariannya membutuhkan kesabaran dan kegigihan. Keputusan saya resign bekerja 1,5th yang lalu menyebabkan waktu saya cukup utk melakukannya di luar waktu Ifan belajar dan mengerjakan PR.

Sore ini, setelah Ifan mandi saya memanggilnya. “Sini duduk di sebelah bunda, ceritakan seluruh hari abang sejak turun dari busway,” pinta saya.

Ifan pun mulai bercerita, dengan sesekali saya sela utk memperjelas kronologis dan mempertanyakan maksud kalimatnya. Ifan sering sekali menggunakan frasa “kalo nggak salah” dalam ceritanya.

“Kenapa ‘kalo nggak salah’? Maksudnya apa nih? Benar, salah atau nggak ingat? Bunda nggak mau yang nggak jelas gini ah…” protes saya.
“Jiahhh bunda, abang takutnya salah karena lupaaa…” jawab Ifan sambil nyengir.
“Gunakan kalimat “seingat Ifan” kalo gitu…,” usul saya.

Ifan menurut, melanjutkan cerita, dan mengganti seluruh frasa “kalo nggak salah” dengan “seingat abang“…

Saya menjelaskan pada Ifan tujuan saya melatihnya berkomunikasi, mengoreksi frasa yang digunakan agar Ifan tidak menggunakannya hanya karena terbiasa, juga menjelaskan tentang pentingnya penekanan intonasi suara. Saya juga menekankan bahwa menguasai tehnik berkomunikasi yang baik, benar dan tepat sasaran, bisa menghemat waktu yang terbuang akibat harus menjelaskan ulang maksud kita jika lawan bicara tidak paham, dan menghemat energi yang bisa terbuang krn konflik akibat miskomunikasi.

Kemampuan komunikasi sangat bermanfaat di dunia kerja, di lingkungan masyarakat, dan terutama di keluarga khususnya dalam hubungan suami, istri dan anak. Karena komunikasi yang baik merupakan awal dari pemahaman.

communication

Dan kita bisa mengajari anak-anak kita dengan menyediakan waktu 15-30 menit saja setiap kalinya

Yah… bukankan Rasulullah menyuruh kita mengajarkan anak-anak berenang, memanah dan satra? Ifan sudah pernah belajar berenang, tapi saya belum mampu mengajarkan memanah, juga sastra. Tapi, setidaknya saya mulai dengan mengajarkan bahasa…

Bismillah, semoga Allah mudahkan segalanya…

 

 

4 Comments to "Melatih Ifan Berkomunikasi"

  1. J C  20 October, 2016 at 17:30

    Sependapat dengan artikel ini plus komentar-komentarnya…

  2. Bagong Julianto  14 October, 2016 at 21:05

    Komunikan dan komunikator yang nyambung bikin komunikasi gayeng…

  3. Alvina VB  14 October, 2016 at 07:55

    Setuju dgn Oom SLB, emang komunikasi langsung sama orgnya lebih bagus dan lebih bisa dilihat dari mimik dan body languagenya gimana. Utk org tua yg masih sempet ngomong2 spt mbak Yeni, lebih bagus utk kejiwaan anak2nya. Bandingkan aja anak2 yg suka diajak bicara baik2 sama org tuanya dan anak2 yg suka bicara cuma sama nanny/pembantunya.

  4. Swan Liong Be  14 October, 2016 at 00:47

    Justru jaman sekarang komunikasi antar perorangan lebih penting, dimana sekarang anak² muda pada pake smartphone dan sudah tidak memperdulikan bahasa yang bagus, pokok partner bicara ngerti apa yang dimaksud; juga singkatan² yang dipake membuat orang lebih malas untuk memperhatikan bahasanya. Dijerman kemampuan bicara atau menulis secara baik makin lama makin pudar. saya masih ingat dahulu waktu disekolah rendah pelajaran menulis bagus dan baik masih diperhatikan banget.

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.