Aku Hanya Sedang Merindu

Juwandi Ahmad

 

Awan, gerimis, mengantar hujan. Sekejab saja tanah debu membentuk wajah bulan. Dari balik jendela bunga-bunga putih berguguran. Menyusuri rindu berlebih seperti jemari kitari tasbih. Memasuki hari ketuju kali tuju, aku ingin bertutur padamu tentang musik: di sini, di halaman rumah kita, dengan sirsak, dengan srikaya, dan dengan markisa yang kutahu jumlah daunnya.

Seorang Guru berkata padaku, bila agama mesti hilang dari muka bumi, maka musiklah yang dapat menggantikan perannya. Mengapa bukan filsafat, sains, atau risalah kebaikan? Mengapa musikus, bukan filsuf, ilmuwan, dan bukan pula penutur kebajikan?

Musik membuka, menghidupkan, menyingkap nalar-batinmu. Dan Tuhan pelan-pelan hadir di sampingmu dengan senyum termanis dan kelembutan yang membuat seluruh pengalaman bahagia sepanjang hidupmu: tumpah! Musik mengaliri batinmu, menerangi gugusan semesta jagad raya di kepalamu yang karenanya: Tuhan tak lagi dapat bersembunyi.

Tidak. Tuhan tidak suka lagu. Ia hanya suka musik, irama, nada-nada. Sebab saat musik berbunyi, engkau dan Dialah yang akan bernyanyi. Musik apakah yang Ia sukai? Musik yang membuatmu sungguh merasa sebagai bagian semesta jagad raya yang menakjubkan! Itu mengusik sisi romantik-Nya. Dan itulah yang membuat-Nya tidak tahan untuk tidak menghampirimu. Seperti dulu kukatakan padamu ketika senja mulai tenggelam: Dia lebih mudah tersentuh dibanding seorang gadis yang tak mengetahui sesuatu pun selain bahasa cinta.

Kunyalakan cinta dan rindu terbaikku diantara gugusan jagad raya. Cinta dan rindu yang jauh sudah kutagih pada-Nya dengan sedikit ancaman: berhentilah bergurau denganku. Dan diantara gugusan nama di dinding Ka’bah, Ia tersenyum, menyambutmu, meyakinkanmu, dengan cara yang mudah dan indah, seindah anak-anak yang tertawa, mengejar kapuk-kapuk randu merekah yang berguguran.

 

11 Oktober 2014

 

 

8 Comments to "Aku Hanya Sedang Merindu"

  1. J C  20 October, 2016 at 17:46

    Seakan bukan dirimu Gus Wan yang menulis seperti ini…

  2. Bagong Julianto  14 October, 2016 at 20:52

    Jadi terngiang…..Purnama Merindu…..

  3. James  14 October, 2016 at 12:04

    Ci Lani, masih spring disini, summer nya nanti mulai Desember s/d Februari semoga gak terlalu panas lah, kan rindu para Kenthirs sudah addicted ?

  4. Lani  14 October, 2016 at 10:32

    Al: kamu bakal kedinginan………di Kona msh 80F

  5. Alvina VB  14 October, 2016 at 07:40

    Wah….lagi kena apaan mas Juwandi merindu dan menulis bak pujangga…he..he…
    James: hadir….sedang merindu matahari soalnya 2 hari belakangan ini mendung dan ujan, baru kena imbas dari hurricane Matthew. Sudah summer ya di tempatmu? Di sini dah mulai dingin lagi…

  6. Lani  14 October, 2016 at 01:34

    James: nampaknya kamu merindu para kenthirs lainnya kkkkkkkk

  7. Dj. 813  13 October, 2016 at 14:32

    Waaaaaaaw . . . .
    Kata demi kata yang tersusun sangat indah . . .
    Jadi ingat saat kecil, mengejar kapuk dari randu yang berterbangan .

    Kalau ingat hat itu, bisa tertawa sendiri, karena masa yang sangat indah tanpa stress . . .
    Hahahahahahaha . . . ! ! !
    Terimakasih mas Juwandi .
    Salam,

  8. James  13 October, 2016 at 11:52

    1…..hadir lagi menantikan para Kenthirs lainnya

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.