Nyanyian dari Langit – Mengingat Mbak Tie

Ki Ageng Similikithi

 

Lebih lima puluh tahun lalu. Kami bernyanyi riang. Bertepuk. Bersorak. Berlari. Bersembunyi. Di manapun angan angan terbang. Melayang tak bertepi. Tak terhalang bukit. Tak terbatas lautan. Hanya gembira dan bahagia. Langit dan awan, bukit, gunung dan lembah adalah padang pengembaraan angan yang tak ada batasnya. Tiba-tiba saja dia muncul. Seolah datang dari langit, dari balik awan. Gadis kecil berpakaian warna lila. Dia menyanyikan lagu indah. Lagu tentang cinta, tentang kasih, kasih ibu.

” Salam sayang adik adikku. Aku kakakmu. Namaku Atie. Aku datang menengokmu. Ingin main bersamamu“.

Rambutnya keriting halus. Wajahnya bersih lembut. Kugapai tangannya. Ingin kupeluk tubuh mungilnya. Dia menjauh, makin menjauh. Semakin samar, dia menghilang di balik awan. Menghilang di langit. Ke ketiadaan yang abadi. Aku terlolong menangis terbangun dari mimpi. Ibuku hanya berbisik, memeluk dan membujukku agar tenang. Saya minum air putih dan tidur kembali. Saya tak mempersoalkan kembali tentang mimpi itu. Hari-hari berlalu wajar. Walau saya kadang teringat mimpi itu, dan nama gadis kecil itu, mbak Tie.

Suatu saat kemudian pagi pagi saya dan adik saya makan kueh moho warna warni merah putih. Kami belum bersekolah saat itu. Duduk duduk di dasar pintu menghadap ke timur. Ke arah tratag rambat yang menuju ke dapur. Ibu saya biasanya diam saja. Tiba-tiba dia teriak dari dalam kamar.

“Nggak boleh duduk di pintu itu. Pindah ke ruang depan”. Tak habis pikir saya oleh karena pintu itu jauh lebih strategis. Masih di dalam ruangan belakang ke arah dapur. Pintu depan langsung menghadap ke luar. Rasanya tidak aman untuk kami. Setiap kami duduk di pintu itu ibu saya selalu melarang tanpa saya ketahui sebabnya. Beberapa waktu kemudian saya coba bertanya mengapa kami tak boleh duduk di pintu itu. Dengan singkat dia mengatakan.

“Kakakmu Tie, dulu setiap pagi selalu duduk di pintu itu makan kueh. Melihatmu di pintu itu, selalu membuatku sangat merindukannya”.

Ibu akhirnya bercerita bahwa kakak saya itu bernama Woro Hadiati. Dia anak kedua. Mungkin lahir sekitar tahun 1939. Dia meninggal dalam umur sedikit di atas dua tahun. Karena difteria. Ibuku tak pernah lagi bercerita tentang mBak Tie. Mungkin terlalu sibuk mengasuh kami semua. Kami bersembilan sesudah meninggalnya mBak Tie. Bapakku juga tidak pernah menyinggung atau menceritakan tentang kakak saya. Tak ada gambar, tak ada foto, tak ada cerita yang tersisa. Saya berjumpa dengannya dalam mimpi. Mimpi tentang langit. Hanya itu ingatan yang tersisa. Ketika dia datang dengan nyanyian dari langit. Bapak ibuku sibuk dengan irama hidup sehari-hari. Juga kami menjalani kehidupan yang hangat sejak masa kanak kanak. Banyak terlupa sosok mBak Tie.

Kami selalu menikmati langit, menikmati gunung dan bukit, dan lembah yang indah. Ambarawa adalah lembah yang sangat indah bagiku. Dua gunung sejoli, Telomoyo dan Gajah Mungkur selalu teguh di hadapan pandangan kami seolah menjadi pelindung yang abadi. Kami bersaudara hanya tinggal di Ambarawa sampai tamat SMP. Sesudah itu harus berpencar untuk meneruskan sekolah masing-masing. Dan sampai akhirnya memang harus hidup dengan keluarga masing-masing. Kisah tentang kakak saya Woro Hadiati seolah tenggelam dalam perjalanan hidup masing-masing.

Saya pernah mendengar Bapak menyinggung mbak Tie, sewaktu kami mengunjungi makamnya. Makam kecil sendirian di atas bukit. Dia mengeluh

“Singkat sekali umurmu nDuk. Belum sempat menimang dan mencumbumu. Sendirian engkau di sana, sepi sekali”. Saya masih ingat sewaktu saya di SMP, ibuku juga pernah berucap. Ibuku duduk di muka rumah memandang ke dua gunung jauh di sana. Pandangannya menerawang ke langit lepas.

“Seandaninya kakakmu Tie masih ada, mestinya dia sudah berkeluarga ya. Saya sudah punya cucu”.

Kebetulan waktu itu belum lahir satu orang cucupun. Di luar peristiwa peristiwa kecil itu, kami semua selalu hening terdiam tentang mbak Tie. Dia berada jauh di sana, di langit, di balik awan. Bapak dan ibu tidak pernah bercerita, tidak pernah mengucap apa apa tentangnya. Hanya kisah masa lalu yang telah tenggelam dalam perjalanan waktu.

Di awal tahun 1982, saya berangkat menyelesaikan tahap akhir program doktor di Newcastle (UK). Ibu menginap di rumah di Yogya beberapa hari menjelang kami berangkat sekeluarga. Pas saya pamit, dia memelukku erat-erat dan berkata

“Hati-hati ya. Saya pengin menunggumu kembali”.

Saya tak bisa berbincang lama-lama. Hening. Beberapa bulan kemudian pagi-pagi sekali saya ditelpon kalau ibu dalam keadaan gawat di rumah sakit. Lemah jantung. Hati saya berdesir keras, mungkin kami tak akan bertemu lagi. Benar. Beberapa hari kemudian saya ditilpun kakak saya kalau ibu sudah pergi selamanya. Beberapa saat sebelum kepergiannya dia berpesan.

“Saya masih ingin menunggumu semua. Tetapi kakakmu Tie kasihan. Dia sendirian di sana berpuluh tahun. Tempatkan saya di sisinya ya”.

Sesuai permintaanya ibu dimakamkan di samping makamnya mBak Tie. Makam mungil di atas bukit. Moga-moga dia tidak kesepian lagi. Selang kira-kira dua belas tahun sesudah kepergian ibu, bapak juga meninggalkan kami dan cucu-cucu selamanya. Meninggal dengan sangat tenang. Tiga hari sebelum kepergiannya, dia nampak sehat sekali dan datang ke rumah saya di Yogya diantar adik saya. Tak biasanya dia salaman dan memeluk saya. Sesudah pamitan dan menuju mobil, dia kembali dan memeluk dan menjabat tangan saya. Di Ambarawa beberapa hari terakhir dia selalu minta adik-adiknya kumpul di ruma. Tepat pada tanggal 1 Syura. Siang hari setelah makan siang istirahat tidur. Ternyata pergi selamanya dalam tidur. Adik dan kakak saya tak percaya kalau dia sudah tak ada ketika menjenguk kamarnya sesaat kemudian. Yang saya ingat waktu itu, ketika di Yogya dia bilang

“Jika saya meninggal, makamkan saya di samping kakakmu Tie. Dia sendirian di sana menungguku puluhan tahun”.

Mereka bertiga istirahat berdampingan di bukit Penggung. Hening, sunyi dan damai. Anak saya Moko menyusul kemudian, dibaringkan sedikit di bawahnya. Jasad mereka beristirahat selamanya. Moga-moga mereka selalu bersama dan berbahagia di sana. Mereka mungkin tak akan kesepian lagi. Bersama dalam damai dan kehidupan yang abadi.

Nyanyian dari langit. Ternyata kasih ibu dan bapak terhadap anak tak akan lekang oleh waktu. Tak akan hilang dalam perjalanan waktu. Walau tak pernah terucapkan lagi, kisah tentang mbak Tie, ibu dan bapak akhirnya minta beristirahat di sampingnya di akhir perjalanan hidupnya.

Nyanyian tentang kasih untuk Mbak Tie dan Moko tersayang. Untuk Bapak dan Ibu. Nyanyian yang abadi. Nyanyian dari langit.

Salam damai
Ki Ageng Similikithi

 

 

8 Comments to "Nyanyian dari Langit – Mengingat Mbak Tie"

  1. J C  20 October, 2016 at 17:44

    Membaca cerita pak Ki Ageng Similikithi membawa nuansa yang sulit digambarkan dengan kata-kata…sekaligus menimbulkan rasa kengiluan di hati…luar biasa!

  2. Dj. 813  15 October, 2016 at 17:44

    Hallo Ki . . .
    Matur Nuwun . . . .
    Bukan mbak Tie kaka Dj. kan . . .
    Hahahahahahahaha . . .
    Kaka Dj. nama panggilan nya juga mbak Tie .
    Tapi cucunya sudah banyak dan masih sehat hidup di Semarang .
    Walau umurnya sudah 76 tahun tapi masih kekar dan kuat jalan kaki .

    Salam manis untuk Nyi dirumah .

  3. Lani  15 October, 2016 at 09:29

    Ki Ageng: Memang begitulah dari tidak ada, kemudian ada, dan kembali tidak ada……..artikel diatas mengingatkan diriku akan suami tercinta almarhum……….yang sdh pergi mendahului diriku………

  4. Budiono Santoso  15 October, 2016 at 06:06

    @Bagong Yulianto… Terima kasih. Hidup adalah perjalanan. Di ujung jalan sana Sang Kala, penguasa waktu akan menyambut kedatangan kita.

    @Betty… terima kasih sudah sempat membacanya. Salam damai

    @Hennie Triana Oberst…..Bahagia dan damai yang abadi. Matur nuwun

    @James. Kenangan yang selalu tersimpan sangat dalam di lubuk hati. Salam damai

  5. James  15 October, 2016 at 05:38

    a deep memory that we have to remember

  6. HennieTriana Oberst  14 October, 2016 at 21:57

    Mereka bahagia sudah bersama lagi di sana.

  7. Betty  14 October, 2016 at 21:54

    Kisah nyata yg menyentuh hati membuat saya pagi2 mbrebes … hiks …
    RIP for all of them

  8. Bagong Julianto  14 October, 2016 at 20:06

    Mengenang yang tlah berpulang sering memacu rasa kasih sayang bagi yang masih ada.
    Pada saatnya, semua akan pulang dan berkumpul dengan Yang Maha Punya.
    Salam damai selalu kagem Ki AS…
    Suwunnn.

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *