Salut untuk Polres Wonosobo

Nia

 

Sebagai bidadari kaya wajib hukumnya punya SIM A (kalo mobilnya minjem aja). Nah mumpung ada waktu agak lama di Indonesia jadi saya kursus nyetir sekalian bikin SIM A.

Kali ini kursusnya di Salatiga karena lebij murah drpd di Wonosobo. Ini bukan karena sama miskin ya… tapi irit *ingat saya ini bidadari kaya yang sederhana.

Les 14x 1 jam. Hasilnya lulus. Kali ini saya anggap lulus beneran karena saya berani nyetir tanpa khawatir membahayakan pemakai jalan lainnya.

Balik ke Wonosobo saya langsung fotokopi e-KTP trus pagi-pagi ke kantor pelayanan SIM polres Wonosobo yang sekarang menempati kantor sementara di Mendolo karena Polres sedang direnovasi.

Di ruang tunggu sudah banyak yang antri. Dekat situ saya lihat loket 1, 2, 3. Saya ke loket 1. Adek polisi yang ganteng dan ramah memberitahu saya untuk cek kesehatan dan sidik jari di ruang di bagian belakang kantor.

Masuk situ saya ditanya mas-mas yang juga sopan dan sabar mempersilakan saya memberikan fotokopi e-KTP ke ibu petugas. Ibu itu tanya tinggi badan saya lalu menulis di lembar fotokopi e-KTP.

‘Duduk dulu mbak nanti kalo kosong masuk.’

Belum sempat saya tanya masuk ke mana tau-tau terdengar suara:

‘MASUK!’

Si ibu menyuruh saya masuk ruang kecil di balik ruang tunggu. Ada 1 petugas berseragam polisi dan 2 petugas sipil. Saya diminta ke petugas polisi.

‘Ini angka berapa?’ Tanya pak polisi menunjuk gambar untuk tes buta warna.

’40 ribu mbak’ kata pak polisi ‘bayarnya di sini’ lanjutnya.

Lalu saya geser ke meja petugas sipil untuk sidik jari telunjuk kanan 3x dan foto. Petugas itu memberikan print out di kertas kuning untuk mendaftar bikin SIM A. Gak bayar.

Keluar dari situ saya diminta ke meja ibu-ibu yang menawarkan asuransi.

‘Mau beli sekarang atau nanti kalo sudah jadi SIM nya?’ Tanyanya.

Saya bayar 31 ribu. Entah wajib ato gak tapi yang saya baca di internet syaratnya beli asuransi.

Abis itu lalu antri sidik jari. Mas-mas yang tadi nyapa saya ternyata petugas yang merekam sidik jari.

Tinta dioleskan ke papan panjang lalu satu-satu jari saya ditempelkan ke papan bertinta itu.

‘Lap dulu mbak.’ Kata si mas menunjuk lap pel dibawah meja.

Lalu dia memberi kode-kode sidik jari dan menulis di kartu yang harus saya simpan.

‘Jangan sampai hilang. 10 ribu.’ Katanya.
‘Langsung ke loket 1 di depan mbak’ lanjutnya.

Saya jalan ke loket 1 sambil deg-degan. Sumpe proses tadi berlangsung cepet banget. Dari sini ke situ ke sono. Saya sampe grogi. Kalo biasanya saya bersungut2 dengan pelayanan lemot kali ini saya justru kepontal-pontal.

Di loket 1 petugas memberi formulir isian data permohonan SIM A. Gratis. Ada 3 atau 4 meja lengkap dengan bolpen bertinta dan contoh isian formulir. Abis itu saya serahkan formulir ke.loket 2.

‘Ada sertifikat kursus nyetir mbak?’ Tanya adek polisi.

Saya serahkan fotokopi sertifikat.

‘Pinarak dulu mbak’

‘Gimana pak?’

‘Pinarak dulu.’

‘Pinarak??’

‘Tunggu dulu mbak. Monggo duduk di kursi itu.’

Oalahhhh… lemoottt… pinarak itu mangsupnya disuruh menunggu kikiki… (*jowo abal-abal)

Kali ini nunggu agak lama. 20 menit kali ya. Lalu nama saya dipanggil untuk tes teori.

Pak polisi menjelaskan cara tes. Dari 30 soal minimal benar 21 kalo mau lulus. Saya benar 28. Yang paling tinggi di kelas hehehe… salah 2 yaitu soal boleh gak nyalip kalo markanya yang 1 putus-putus dan satunya lagi nyambung. Saya jawab gak boleh eh ternyata boleh. Kalo yg 1 lagi saya gak rumangsa salah. Mungkin salah mencet tombol.

Abis tes kami dibagi kertas hasil tes. Baru deh saya lihat wajah pak polisi yang ngetes. Kok kayak anak pak RW saya ya… ragu-ragu karena udah lama banget gak ketemu.

Pas keluar dari ruang tes saya nekat nanya. ‘Putranya pak B?’ Dan ternyata benar.

Abis tu nunggu lagi agak lama. Udah siap buat tes praktik tapi yang punya sertifikat gak perlu tes praktik. Nama saya dipanggil untuk membayar administrasi. 350 ribu. Lalu nunggu lagi untuk foto.

Abis foto pak polisi memberi tahu ‘nunggu 2 menit mbak.’

Dan 2 menit kemudian nama saya dipanggil dan SIM A saya pun jadi.

Total jendral gak ada 2 jam saya urus SIM A. Di kantor sementara aja kinerja polisi-polisi dan petugas sipil di sana bisa cepat dan alurnya jelas. Meja-meja mereka tuh cuma kayak meja sekolahan lho. Kecil-kecil tapi difungsikan dengan baik. Saluuttt…

Oya disediakan aqua gelas untuk pengunjung.

 

 

About Nia

Don't judge the book by its cover benar-benar berlaku untuk Nia ini. Posturnya sama sekali tidak menggambarkan nyalinya. Blusukan sendirian ke seluruh dunia dilakoninya tanpa gentar. Mungkin hanya North Pole dan South Pole yang belum dirambahnya. Catatan perjalanannya memerkaya wawasan bahwa dunia ini benar-benar luas dan indah!

My Facebook Arsip Artikel

Share This Post

Google1DeliciousDiggGoogleStumbleuponRedditTechnoratiYahooBloggerRSS

6 Comments to "Salut untuk Polres Wonosobo"

  1. J C  20 October, 2016 at 17:49

    Memang banyak peningkatan pelayanan publik yang lebih baik sekarang…

  2. Alvina VB  17 October, 2016 at 05:14

    Salut utk Polres Wonosobo. Polres DKI musti studi banding ke Wonosobo dulu dah kl mau belajar cepet ngelayanin publik tanpa korupsi, he..he….

  3. Dj. 813  15 October, 2016 at 17:53

    Menyenangkan baca cerita kalau semua lancar dan cepat .
    Tterimakasih dan salam manis dari Mainz .

  4. Lani  15 October, 2016 at 09:34

    Miss ngaing-ngaing: jadi total bayarnya berapa? aku kira gratissssss-tisssss………bayar jg ndak apa2 asal tdk dipungli…….pelayanan serba cepat sampai keponthal-ponthal……….itu pasti meniru gaya Ahok………yg ingin serba cepat, tapi jujur……….jgn malah lemot tp nyolong………..

  5. James  15 October, 2016 at 05:47

    wah hebat masih ada para Petugas yang jujur dan bertugas dengan baik sesuai peraturan yang berlaku dan bekerja cepat singkat tidak berbelit-belit atau tunggu mengharapkan suap, acungan jempol untuk Polres Wonosobo

  6. Bagong Julianto  14 October, 2016 at 20:16

    Nanti mungkin lebih seru lagi saat ngurus SIM B….
    Siapa tahu?!

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *