Smiiileee…Beibeh!

Dian Nugraheni

 

Musim Gugur, langit kelabu yang gloomy, dan hati yang sedikit mati, ketika pagi ini aku berangkat kerja, dan turun di stasiun Foggy Bottom, Washington DC area.

Tubuh dan pikiranku serasa kosong, terserah saja, ketika tangga berjalan mengangkatku dari stasiun bawah tanah menuju mulut pintu stasiun yang berbatasan dengan beranda rumah sakit George Washington.

Dari bawah, sebenernya sudah terdengar seorang pengamen perempuan menyanyikan sebuah lagu berirama jazzy. Suaranya yang santai dan manis terdengar indah lewat pengeras suara. Ahh, di sampingnya pasti ada pemuda hitam yang bermain musik tiup, saxophone.

Sepasang pengamen ini selalu mangkal di mulut stasiun Foggy Bottom setiap Kamis pagi, bergantian dengan para pengamen lain, di hari-hari yang lain.

Sepasang pengamen itu, aku sudah cukup hapal dengan mereka, tapi yang membuatku terkejut adalah, begitu aku sampai di mulut pintu stasiun, dan akan melompat dari tangga berjalan, tepat di hadapanku, agak ke samping kanan sedikit, ada seorang perempuan yang sedang berjoget santai mengikuti irama lagu yang dimainkan oleh si pengamen.

Aku terkejut, mungkin karena sepanjang jalan, aku melamun. Dan bukan hanya terkejut, tubuhku pun limbung ke samping kanan hampir jatuh, ketika perempuan yang sedang nikmat meliuk-liukkan tubuh itu menopangku, dan bilang, “Comee…smileee…smileee, beibeh…!”

Aku, “ohh, thank You, maaf, aku masih ngantuk..hampir jatuh…”

Si perempuan tetap tersenyum dan tetap meliuk-liukkan tubuhnya yang aromanya cukup nggak enak, kemungkinan besar dia adalah homeless.

Aku pandang sejenak wajah dan senyum tulusnya. Gerak tubuh dan senyumnya tetap merayuku untuk tersenyum.

Lalu aku ikutan tersenyum, tapi tiba-tiba mataku membasah. Aku membungkuk hormat kepada perempuan compang-camping yang tetap senyum dan menari, serta tetap memandangiku seolah ingin menghiburku.

Sekali lagi aku membungkuk hormat, “thank you…”

Lalu aku berbalik menengok kepada sepasang pengamen, lelaki pemain saxophone, dan seorang perempuan hitam tengah baya yang manis, dengan suara dan lagunya yang manis. Kembali aku bungkukkan badanku sambil tersenyum, dengan tangan kanan mendekap dada di mana terletak jantung hatiku, “Thank you…”

Dan si pengamen perempuan yang manis itu, membalas ucapanku di antara lagu yang sedang dia nyanyikan, “thank you, darling…” Sambil mengerling dan tersenyum, manis.

Pengamen di Amerika, tidak pernah ngider dari satu orang ke orang lain buat minta uang. Mereka ngamen, menyanyi, menari, sesuai gerak hati, berbagi keindahan, berbagi senyum dan kasih sayang, tak peduli, penonton yang lewat atau berhenti di hadapannya, ngasih uang atau enggak di ember yang dia sediakan dan diletakkan di depan tempat dia ngamen itu…

Terimakasih untuk hari Kamis pagi yang manis…

_Maaf ga ada foto, hari ini lupa bawa kamera.._

 

 

6 Comments to "Smiiileee…Beibeh!"

  1. J C  20 October, 2016 at 17:50

    Ikut smillleeeee ah…

  2. Lani  20 October, 2016 at 14:14

    Al: ya iyalah………..hidup cuma sekali dan singkat lagi………..mosok dibikin sulit buat apa??? Klu sudah game ndak bs smile lagi lo…………hahaha

  3. Alvina VB  20 October, 2016 at 00:06

    Se-7 James n mbakyu Lani: SMILE……..don’t worry….be happy…..
    Thanks for sharing, Dian…

  4. Dj. 813  19 October, 2016 at 01:41

    3 . Beibeh . . .
    Hahahahahahahahaha . . . ! ! !

  5. Lani  18 October, 2016 at 23:12

    James: you’re right………..keep smiling and be happy…………

    Dian: mungkin kamu msh ngantuk hingga susah utk bikin smiley diwajahmu………..butuh kopi?

  6. James  18 October, 2016 at 14:22

    1……smilleee

    mari para Kenthirs smile for today, no worries be happy

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *